Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pesta Ulang Tahun Alden


__ADS_3

Alden sudah membagikan undangan pesta ulang tahun yang akan digelar malam ini di sebuah restoran yang ada di kota Massachusetts. Semua teman-teman sekelasnya di undang dalam acara ulang tahunnya, tak terkecuali Tifanny.


"Aku malas datang," Tifanny merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya.


"Fann, kau tidak datang ke pesta ulang tahun temanmu?" Tanya David yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar anaknya.


"Mengapa papa tahu?" Tifanny merasa heran karena ia tidak memberitahukan perihal undangan malam ini, kecuali kepada Meghan.


"Clara baru saja berangkat. Bersiaplah, Nak! Kau harus datang!" David tersenyum kepada putrinya.


"Aku malas, Pa. Aku di rumah saja."


"Datanglah, Fann! Berbaurlah dengan yang lain! Temanmu yang papa tahu hanya Elora. Lihatlah Clara! Dia supel terhadap siapa pun. Belajar lah dari dia! Dia bisa mengakrabkan diri dengan siapa pun," tutur David.


Tifanny pun berdecak pelan mendengar ucapan ayahnya.


"Datang ya? Papa akan mengantarmu," bujuk David.


"Tumben sekali papa ingin mengantarku," Tifanny tersenyum kecut.


"Fann, papa sedang malas berdebat denganmu. Ayo segeralah bersiap-siap! Papa tunggu di bawah!" David ke luar dari kamar Tifanny.


Tifanny pun bangun dengan malas dan segera bersiap untuk pergi ke pesta Alden. Tifanny merasa malas karena harus bertemu dengan Nino. Pasti pemuda itu ada di pesta sahabat karibnya. Setelah selesai bersiap, Tifanny segera turun ke bawah.


"Putri papa cantik sekali!" Puji David yang melihat penampilan Tifanny.


Tifanny hanya tersenyum kecil mendengar pujian ayahnya. Malam ini, Tifanny menggunakan dress berwarna abu dengan rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Tak lupa ia pun memakai mantel miliknya. Tifanny pun membawa mantel milik Nino yang ia pakai saat malam menyedihkan itu, karena ia belum sempat mengembalikannya.


"Ayo kita berangkat!" David menuntun tangan putrinya.


"Meghan mana, Pa?" Tifanny menyapu ruangan mencari keberadaan Meghan.


"Meghan di kamarnya sedang belajar. Jangan di ganggu!"


Tifanny pun mengangguk. Mereka segera pergi ke restoran tempat diadakannya pesta.


"Fann, bagaimana hubunganmu dengan Nino?" David memecahkan kesunyian di antara mereka.


"Ya, begitu saja. Hanya berteman biasa. Mengapa papa menanyakan Nino?" Tifanny sedikit terusik ketika mendengar nama Nino.


"Papa tidak melihat pemuda itu menemuimu lagi. Papa senang jika kalian hanya berteman, memang sebaiknya seperti itu. Kasihan Clara!" Jawab David sembari terus melajukan mobilnya menuju tempat pesta.


"Lagi-lagi karena Clara," lirih Tifanny dalam hatinya.


"Papa tenang saja, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Nino," Tifanny menatap pemandangan kota dari kaca mobil.


Mereka pun kembali terdiam hingga akhirnya tidak terasa sampai di pelataran restoran tempat dirayakannya pesta.


"Bersenang senanglah, sayang!" Seru David sebelum Tifanny ke luar dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan!" Ucap Tifanny.


"Pulangnya papa jemput lagi ya?"


"Terserah papa," jawab Tifanny pendek.


David pun segera pergi dari pelataran restoran itu. Tifanny memperhatikan sekitar. Saat Tifanny akan berjalan masuk, suara dua orang memanggilnya. Tifanny menoleh, ternyata itu adalah Elora dan Justin.


"Kau datang?" Tanya Justin dengan wajah yang berbinar.


"Iya," Tifanny tersenyum.


"Kau sangat cantik!" Puji Justin ketika melihat penampilan Tifanny.


"Justin benar. Kau sangat cantik!" Elora ikut memuji ketika melihat Tifanny.


"Kalian berlebihan. Ayo kita masuk!" Ajak Tifanny.


Mereka pun berjalan masuk dengan beriringan. Terlihat restoran sudah penuh oleh para tamu undangan. Sebagian besar tamu undangan ini adalah teman-teman kampus Alden, baik itu dari teman sekelas, teman sejurusan maupun teman yang berbeda jurusan.


Tifanny memperhatikan bagian dalam restoran. Ketika menatap sudut restoran, ia melihat Alden, Kai, Arabella, Clara dan Nino. Nino sendiri tengah menatap ke arahnya dengan tatapan dingin.


Setelah pengakuan Tifanny beberapa waktu yang lalu, Nino maupun Tifanny sudah tidak pernah saling menyapa satu sama lain. Nino maupun Tifanny merasa di permainkan dan disakiti oleh masing-masing pihak.


"Mengapa aku harus bertemu dengannya? " Batin Tifanny ketika melihat Nino.


"Ya, inikan ulang tahun sahabatnya. Sudah pasti dia ada di sini," Tifanny menghembuskan nafasnya pelan. Lalu ia segera mengakhiri tatapannya itu.


Mereka pun duduk bertiga dan menunggu acara di mulai. Tak berapa lama, acara pun segera di buka. Tampak seorang MC membuka acara, Alden dipersilahkan untuk meniup kue, lalu memberikannya kepada seseorang. Karena kedua orang tuanya berada di Inggris, Alden memberikan kue itu kepada kedua sahabatnya yang tak lain adalah Nino dan juga Kai. Alden pun disuruh untuk memberikan kata-kata kepada tamu yang hadir.


Setelah Alden selesai berbicara, MC pun mempersilahkan para tamu undangan untuk mencicipi makanan yang sudah di sediakan.


"Akhirnya, aku sangat lapar!" Tifanny mengelus perutnya. Elora dan Justin yang mendengar hanya tertawa.


Tifanny pun segera berjalan ke arah stand makanan. Gadis itu mengambil beberapa macam makanan dan langsung melahapnya.


"Jangan mempermalukanku!" Seru seseorang dari belakang. Ternyata itu adalah Clara.


"Kau seperti tidak diberi makan saja oleh papa," Clara menatap tajam saudara tirinya.


Tifanny tidak mendengarkan ocehan Clara, ia masih sibuk memakan makanan yang tersaji di stand makanan.


"Saudaramu tidak diberi makan, Cla?" Tanya Nino yang berjalan mendekat ke arah Tifanny dan Clara.


"Entahlah, honey. Aku tidak tahu," Clara melingkarkan tangannya di perut Nino.


Hati Tifanny pun merasa panas melihat adegan itu, tetapi ia tak menunjukan eksperesinya.


"Lagi pula mengapa aku harus merasa cemburu? Nino sudah mempermainkanku," Tifanny berbicara di dalam hatinya sembari terus memakan makanan yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Aku ingin melihat sejauh mana kau menahan rasa cemburumu," Nino menatap Tifanny.


"Honey, kau mau makan apa? Ingin aku suapi?" Nino berkata dengan lembut kepada Clara. Clara pun bagaikan diangkat ke langit ke tujuh dan seolah diberi kesempatan kedua untuk menjadi kekasih Nino.


"Aku ingin itu!" Clara menunjuk stand spaghetti. Nino pun segera mengambil spaghetti itu.


"Ini untukmu, honey!" Nino memberikan piring spaghetti dan mencium pipi Clara sambil melihat ke arah Tifanny.


"Honey, kau ini sangat agresif!" Clara tersenyum senang saat Nino menciumnya.


Tifanny pun menatap Nino dan Clara. Ia langsung menghampiri mereka berdua.


"Bagus, dia datang. Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan menarikku agar menjauh dari Clara? " Nino tersenyum. Kemudian ia segera menyuapi Clara dengan spaghetti yang ada di tangannya.


"No?" Panggil Tifanny.


"Yess berhasil! Dia cemburu."


"Apa?" Jawab Nino dengan dingin.


Tifanny membuka tasnya, kemudian ia mengeluarkan mantel milik Nino.


"Itu mantelmu! Aku kembalikan," Tifanny menyerahkan mantel itu ke tangan Nino.


"Sial*n!" Umpat Nino dalam hatinya.


"Aku sudah tidak membutuhkan mantel itu. Mantelku sudah bersentuhan dengan tubuhmu, jadi aku tidak mau memakainya lagi. Buanglah!" Titah Nino dengan tajam.


"Dengarkan itu! Dia tidak mau memakai bekas tubuhmu!" Clara tersenyum sinis.


"Baiklah jika kau tidak mau. Aku bisa memberikannya kepada orang yang membutuhkan," dengan tenang Tifanny memasukan mantel itu kembali ke dalam tasnya.


"Fann?" Justin mendekat ke arah Tifanny.


"Iya?"


"Ayo kita duduk kembali! Akan ada penampilan dari band terkenal. Band yang menyanyikan lagu Bad Liar," papar Justin.


"Wah, aku sangat suka lagu mereka. Ayo Justin!" Tifannya tampak sangat antusias.


"Sebentar, Fann!" Justin memperhatikan wajah Tifanny.


"Ada apa?"


Dengan cepat, Justin mengelap sudut bibir Tifanny dengan tangannya.


"Bibirmu belepotan oleh makanan," Justin tertawa. Tifanny pun tampak malu.


Nino geram melihat pemandangan yang ada di depannya. Niat hatinya untuk membuat Tifanny cemburu tidak berhasil dan malah ia sendiri yang terbakar cemburu.

__ADS_1


"Berani-beraninya dia menyentuh gadisku! " Dada Nino seakan terbakar.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih...


__ADS_2