
Setelah David ke luar, Tifanny mengatur nafasnya. Ia sudah ingin menangis karena ayahnya sendiri lebih percaya perkataan orang lain dari pada perkataan anak kandungnya. Ya, David memang terlalu cinta kepada Belinda, sehingga dulu ia rela meninggalkan kebahagiaan keluarganya yang sudah terjalin dengan begitu harmonis.
"Aku ingin segera ke luar dari rumah ini," Tifanny mengipas-ngipaskan tangannya agar air mata tidak turun dari matanya.
"Apa aku ke luar saja dari rumah ini dan mencari beasiswa? Atau aku mengajukan beasiswa saja ke kedutaan Inggris?" Tifanny berbicara sendiri.
Saat berusia 18 tahun, Tifanny memang lebih memilih kewarganegaraan Inggris sebagai kewarganegaraan nya. Tifanny bertekad akan kembali lagi ke negara Ratu Elizabeth itu setelah dirinya lulus kuliah. Berdiam diri di Amerika Serikat pun Tifanny memakai F-1 Student Visa, yaitu visa pelajar internasional. Jadi, saat dia sudah selesai dengan kuliahnya, Tifanny diwajibkan untuk kembali ke negara asalnya.
"Tapi aku rasa itu berat, biaya kuliah di Harvard University selama setahun membutuhkan 54,561 dollar (RP. 643,8 juta). Berarti untuk semester depan aku membutuhkan uang USD 27,280 (RP. 321,9 juta)."
"Walau pun misal aku mengusahakan dan mendapat beasiswa, bagaimana dengan kebutuhan sehari hariku? Dan bagaimana dengan Meghan? Tak mungkin aku meninggalkannya di sini," lanjut Tifanny, kemudian ia memejamkan matanya. Keinginannya dan kenyataan tidak sejalan saat ini.
Tifanny berdiri dan menggantungkan handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya. Saat ia akan terduduk, Tifanny melihat ke arah jendela, Ia melihat bayangan seseorang di balkon kamar miliknya.
"Siapa itu? Jangan-jangan perampok," Tifanny mengambil payung yang ada di kamarnya.
"Fann!" Seseorang mengetuk kaca kamar Tifanny.
Tifanny berjalan mendekat dan membuka gorden kamarnya sedikit untuk mengintip.
"Nino?" Tifanny menbulatkan matanya ketika melihat Nino di atas balkon miliknya.
"Kau sedang apa?" Tifanny membuka jendela kamarnya.
"Biarkan aku masuk dulu!" Bisik Nino.
"Ya sudah cepat!" Tifanny melihat keadaan sekitar.
__ADS_1
Nino pun segera masuk ke kamar milik Tifanny melalui jendela kamar.
"Bukannya kau sudah pulang? Mengapa masih ada di sini? Dan mengapa kau nekat naik ke kamarku?" Tanya Tifanny dengan pelan.
"Tadi aku tidak langsung pulang, aku khawatir kau disiksa ibu tirimu dan Clara, jadi di tengah perjalanan aku kembali lagi ke sini. Kau tidak apa-apa kan? Kau baik baik saja? Bagian mana yang dipukul oleh ibumu?" Nino mengambil tangan Tifanny dan memeriksanya.
"Tidak, mereka tidak melakukan apa pun padaku," Tifanny menarik tangannya.
"Bagaimana kau bisa naik ke sini?"
"Aku membawa tali. Talinya aku simpan di luar."
"Kau ini nekat sekali! Bagaimana jika ada yang melihatmu?"
"Aku kan hanya khawatir padamu," Nino mengerucutkan bibirnya.
Tifanny mengambil handuk yang tergantung dan berdiri di depan Nino.
"Ini agar rambutmu segera kering," Tifanny menggosokan handuk itu ke rambut Nino dengan lembut.
Nino memperhatikan wajah gadis yang ada di hadapannya.
"Kau kedinginan?" Tanya Tifanny.
"Iya, aku kedinginan."
"Pakailah jaketku," Tifanny memberikan jaket almamater kampusnya.
__ADS_1
"Tidak usah. Ini pasti kekecilan," Nino menolak kemudian ia memperhatikan kamar Tifanny. Ia melihat foto Tifanny bersama dengan wanita yang mungkin saja itu adalah ibunya.
"Fann?"
"Iya?"
"Apakah itu ibumu? Dia sangat cantik, mirip denganmu."
"Iya, itu ibuku," Tifanny tersenyum lirih.
"Kau rindu padanya?" Nino menatap mata Tifanny yang berkaca-kaca.
"Tentu saja aku merindukannya," Tifanny memukul pelan dada Nino.
"Aku harap ibumu mendapat kebahagiaan yang lebih baik sekarang."
"Mama pasti sedang berada di tempat terbaik," Tifanny memaksakan senyumnya. Ia mengingat semua penderitaan ibunya sebelum meninggal. Tifanny ingat bagaimana ibunya setiap hari menangis karena ayahnya memilih untuk meninggalkan mereka. Barulah setelah ibunya meninggal, David kembali lalu membawa Tifanny dan Meghan.
"Kemarilah!" Nino berdiri dan menarik Tifanny ke dalam pelukannya.
"Kau ingin menangis? Menangislah!" Nino mengelus rambut Tifanny dengan lembut.
Tifanny pun menangis di pelukan Nino. Ia memang sangat membutuhkan orang untuk berbagi rasa sakit hatinya saat ini.
"Tolong jangan menjauhiku!" Bisik Nino.
"Apakah sekarang aku yang terjebak dalam permainan yang aku buat sendiri?" Nino berkata dalam hatinya sambil terus memeluk Tifanny.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment, fav, atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...