Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Archie


__ADS_3

"Dok!!" Teriak Nino saat Tifanny tidak kunjung membuka matanya.


Dokter pun menghampiri Nino dan juga Tifanny. Dokter segera memeriksa kondisi Tifanny. Tak lama, Tifanny pun menggerak-gerakan matanya.


"Tuan, istri anda hanya kelelahan," ucap Dokter kepada Nino. Nino pun langsung bernafas dengan lega.


"Mana anakku?" Gumam Tifanny dengan wajah yang sangat pias ketika ia berhasil membuka matanya.


Perawat yang ada di dalam ruangan membawa bayi yang masih merah itu untuk segera dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Tifanny tersenyum saat bayinya berhasil mengh*sap ASI.


"Terima kasih untuk kebahagiaan yang sangat besar ini," Nino mencium kening Tifanny dengan penuh kasih sayang.


"Tuan, Nyonya dan bayi anda harus di rawat inapkan setidaknya 24 jam sampai dengan 48 jam (1-2 hari). Ini bertujuan untuk mengecek dan memantau kondisi ibu dan bayinya," papar Dokter kepada Nino.


"Iya, Dok," Nino mengangguk.


Tifanny pun dipindahkan ke ruangan perawatan setelah Nino mengurus semua adiministrasinya.


"Anak papa sekarang sudah menjadi ibu," mata David berkaca-kaca ketika ia sudah berada di dalam perawatan putri sulung dan cucu pertamanya.


"Rasanya seperti kemarin saat mamamu melahirkanmu. Mamamu sempat mengalami pendarahan sesudah melahirkanmu. Papa kira di hari itu papa akan kehilangannya. Pada akhirnya, mamamu tidak bisa melihat kelahiran cucu pertamanya," air mata pun lolos dari mata David ketika mengenang momen istrinya saat melahirkan Tifanny.


"Sudahlah, Pa. Jangan bersedih! Mama juga pasti sekarang bahagia di sana," Tifanny mengusap tangan ayahnya.


"Kak Fanny benar, Pa. Mama sudah bahagia. Jangan bersedih lagi!" Meghan ikut menenangkan ayahnya.


"Paa harap begitu," David akhirnya tersenyum.


Tak lama Arley dan Eliana pun datang dan masuk dengan tergesa ke dalam ruang perawatan Tifanny.


"Bagaimana keadaan Tifanny dan mana cucuku?" Seru Eliana saat ia masuk ke dalam ruang perawatan menantunya. Matanya pun terfokus kepada ranjang bayi yang ada di sebelah ranjang Tifanny.


"Tifanny dalam keadaan stabil. Itu cucumu, Mom!" Nino menuntun tangan Eliana menuju ranjang bayinya. Eliana pun terharu ketika melihat cucu pertamanya.


"Boleh mommy memangkunya?" Eliana menoleh kepada Tifanny. Sedangkan Arley berdiri di samping Bobby dan Meghan.


"Iya, Mom," Tifanny mengangguk.


Eliana pun menggendong cucunya dengan ekstra hati-hati.


"Dia sangat mirip denganmu ketika kau bayi," Eliana menoleh ke arah Nino.


"Iya, dia mirip denganmu," Arley membenarkan.


"Tentu saja. Aku kan ayahnya," Nino mencebikan bibirnya.


"Oh iya, kau sudah memberikannya nama?" Tanya David.


"Nino sudah ada nama, Pa. Namanya Archie Walsh," timpal Nino sembari tersenyum.


"Archie? Nama yang bagus kak," Meghan tersenyum.


"Mama suka namanya," Eliana tersenyum sembari terus menatap cucunya yang diberi nama Archie itu.


****


Bobby sudah tiba di kota Birmingham untuk menjenguk keponakannya yang baru saja melahirkan. Bobby memang langsung pergi dari kota Cambridge ketika diberitahu jika Tifanny akan melahirkan.


Sebelum ke Rumah Sakit, Bobby terlebih dahulu datang ke rumah Hannah dan juga Steve untuk mengajak Bianca menjenguk Tifanny bersama-sama. Alden pun ikut serta untuk menjenguk bayi sahabatnya itu.


"Fann?" Bianca berlari mendatangi ranjang Tifanny dan memeluknya.


"Selamat ya! Sekarang kau sudah menjadi seorang ibu," ucap Bianca lagi dengan girang.


"Terima kasih, Bi!" Tifanny membalas pelukan sepupunya.


"No, hasil cetakanmu bagus juga ya?" Alden memperhatikan Archie yang tengah tertidur di ranjangnya.


"Kau pikir anakku kue!" Semprot Nino saat mendengar celotehan Alden.

__ADS_1


"Kapan kau akan menjadi seorang ayah?" Tanya Nino lagi.


"Hey, kau tidak ingat apa kata Kai? Peraturan pertama adalah jangan menanyakan perihal anak kepada pasangan yang belum memilikinya!" Alden berkata dengan ketus.


Bobby pun hanya tertawa mendengar ocehan menantunya.


"Yang pasti jangan terlalu dipikirkan dan stress ya! Dan yang utama selalu berdoa dan juga berusaha agar kalian pun segera diamanahi anak," kata Bobby dengan bijak.


"Kalau berusaha sudah pasti. Setiap malam berusaha. Iya kan, Ca?" Alden menoleh ke arah istrinya.


Bianca pun tidak menanggapi pertanyaan Alden. Ia berjalan ke arah ranjang Archie.


"Siapa namanya, Fan?" Bianca tersenyum memperhatikan bayi yang chubby itu.


"Namanya Archie," jawab Tifanny.


"Hallo Archie. Ini tantemu," Bianca memelankan suaranya.


"Archie, ini om mu. Kelak jika kau sudah besar, pasti kau akan tampan sepertiku," Alden menyahuti.


"Mengapa kau selalu saja narsis?" Nino mendelik kesal ke arah Alden.


"Memang aku tampan. Iya kan, Ca?" Alden tampak meminta tanggapan Bianca.


"Terserah kau saja!" Bianca menghiraukan Alden dan asik memperhatikan Archie yang tengah tidur dengan nyenyak.


"Oh iya, tadi Kai menelfonku jika dia akan ke sini sebentar lagi," beri tahu Alden kepada Nino.


"Iya, Den. Terima kasih kalian sudah nenyempatkan untuk hadir menjenguk Tifanny dan Archie ya?" Nino menatap bergantian kepada Alden, Bianca dan Bobby.


"Kau ini bicara apa? Sudah seharusnya aku ada saat keponakanku melahirkan," jawab Bobby.


"Sudah besar pasti kau akan menjadi playboy seperti ayahmu," Alden mengajak Archie berbicara.


"Kau tahu berapa banyak gadis yang tergila-gila dengan ayahmu? Dulu saat SMA dan kuliah, hampir semua gadis yang diincar ayahmu selalu bertekuk lutut," cerita Alden lagi yang membuat wajah Tifanny langsung ditekuk seketika.


"Sayang, jangan dengarkan Alden ya? Lebih baik kau mendengarkan musik untuk membuatmu rileks," Nino mengeluarkan headset miliknya dan memasangkannya kepada telinga Tifanny.


"Mantan kekasih papamu yang tercantik namanya adalah tante, Aww!!" Alden berteriak saat Bianca mencubit pinggangnya.


"Mengapa kau mencubitku?" Tanya Alden kepada istrinya.


"Supaya bibirmu itu berhenti bicara seenaknya!" Gerutu Bianca dengan gemas.


"Fann, bagaimana proses kelahiran Archie? Dan bagaimana rasanya melahirkan?" Bianca mengalihkan topik.


"Pertama perutku terasa sangat mulas dan sakit. Aku kira itu hanya kontraksi palsu," Tifanny menjelaskan dengan raut bahagia. Moodnya yang buruk kembali membaik setelah ia mengingat perjuangan melahirkan putra pertamanya.


"Syukurlah," Nino bernafas lega.


Setelah menjenguk Archie dan Tifanny, Alden, Bobby dan Bianca pun pulang. Di perjalanan mereka pun membahas mengenai membuat toko kue.


"Pa, bagaimana jika papa dan Bianca yang menjadi pembuat kuenya?" Alden memberikan usul.


"Itu berarti papa harus resign dan juga pindah ke kota ini?"


"Iya, Pa. Jika papa tidak keberatan, Bianca akan meminta izin kepada Tifanny untuk menempati atau menyewa rumahnya yang Bianca tempati sebelum menikah. Setelah usaha kita maju, Bianca akan membelinya kepada Tifanny. Nanti Bianca akan membicarakannya jika Tifanny sudah keluar dari Rumah Sakit," Bianca memberikan ide.


"Baiklah, sayang. Kapan toko kue kalian akan didirikan?" Tanya Bobby lagi.


"Kebetulan mama mempunyai sebuah tempat yang sudah lama tidak dipakai. Dulu mama membuatnya untuk mencoba-coba membangun usaha butik. Kita bisa memakainya untuk dijadikan toko kue," jelas Alden.


"Sewa saja ya? Mama kan membuatnya dengan uang," Bianca memberikan saran.


"Iya, Ca. Kita sewa saja," Alden tersenyum.


Setibanya di rumah, Alden langsung mengemukakan keinginannya kepada Hannah.


"Apa? Di sewa? Pakai saja bekas butik itu untuk kalian! Itung-itung sebagai kado pernikahan dari mama," kata Hannah saat Alden meminta izin memakai bangunan butiknya.

__ADS_1


"Benar, Ma?" Alden tampak tidak percaya.


"Iya, sayang. Mama senang kau ada niatan membuka usaha sendiri. Semoga bisnismu dapat lancar dan berkembang ya. Bobby tolong dampingi mereka!" Hannah menoleh ke arah besannya.


"Iya, Han."


"Jadi, kapan papa akan pindah?" Bianca menatap ayahnya.


"Setelah Tifanny memberikan izin mengenai rumahny," terang Bobby.


"Baiklah, Pa."


Malam harinya...


"Alden?" Bianca menusuk-nusuk pipi suaminya. Alden kini tengah terlelap dalam tidurnya.


"Hemm," Alden bergumam dengan suara yang serak.


"Aku lapar," bisik Bianca.


"Lapar? Ke dapur saja!" Alden memeluk guling yang ada di tangannya.


"Aku ingin kau yang mengambilnya untukku," kata Bianca lagi.


"Tidak seperti biasanya kau seperti ini. Biasanya kau mengambil sendiri ke dapur jika lapar," Alden membuka matanya.


"Iya, bagaimana lagi? Aku ingin makan," Bianca merengek.


"Kau ingin makan apa?" Alden berusaha mengusir kantuk yang menyerangnya.


"Apa saja tapi makannya harus disuapi oleh tanganmu," Bianca berkata dengan semangat.


"Baiklah. Sebentar!" Alden pun meninggalkan kamar dan berlalu ke dapur.


Tak lama Alden pun datang dengan membawa piring berisi makanan dan segelas air mineral.


"Suapi!" Pinta Bianca dengan manja.


Alden pun menyuapi Bianca dengan mata yang sudah tidak bisa diajak berkompromi.


"Kau ini niat menyuapiku tidak?" Bianca berkata dengan jengkel saat makanan yang ada du tangan Alden mengenai pipinya.


"Maafkan aku, Ca!" Alden memfokuskan matanya.


"Ayo makan lagi!" Alden hendak menyuapi Bianca lagi.


"Sudahlah. Aku sudah tidak lapar. Kau makan saja!" Bianca berlari ke kasur dan menyelimuti tubuhnya sampai kepala.


" Ca, sayang? Maafkan aku!" Alden menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.


"Padahal aku hanya ingin disuapi olehmu. Bukan yang lain," terdengar isakan Bianca dari dalam selimut.


"Ca, kau menangis?" Tanya Alden dengan ekspresi terkejut.


"Kau jahat!" Bianca semakin terisak.


"Jangan menangis, Ca! Maafkan suamimu yang tidak berguna ini!" Alden memeluk Bianca.


"Menjauhlah tanganmu kotor!" Teriak Bianca.


"Aku tidak akan menjauh sebelum kau memafkanku!"


"Aku tidak mau memaafkanmu!!"


"Sebenarnya kau kenapa? Akan datang bulan?" Alden bertanya dengan hati-hati.


"Dasar laki-laki!! Selalu saja tidak peka!!" Raung Bianca lagi.


"Ya ampun, dia kenapa?" Alden merasa kebingungan.

__ADS_1


Terus ikuti cerita Novel ini ya readers, karena beberapa episode lagi novel ini dan novel author yang berjudul Pernikahan karena Dendam akan segera tamat. Jangan lupa dukung author dengan memberikan like, komentar, bahkan hadiah dan juga vote jika kalian mempunyai poin. Terima kasih. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan 😍😘😘


__ADS_2