
20 Desember....
"Ingat No! Hari ini adalah terakhir batas waktu taruhan kita. Mau tidak mau, Tifanny harus jadi kekasihmu hari ini jika kau ingin menang," Alden menelfon dan mengingatkan dari sambungan telfon.
"Tenang saja, malam ini Tifanny akan menjadi kekasihku," Nino berkata dengan tenang, meski hatinya tengah was-was sekarang.
"Datanglah ke restoran seafood yang ada di tengah kota! Aku akan mengajak Tifanny ke sana," lanjut Nino.
"Oke, aku akan mengajak Kai untuk datang dan menyaksikan akhir dari taruhan kita," timpal Alden dari balik telfon.
"Iya. Oh iya Den-"
"Ya sudah, aku harus bersiap siap kalau begitu," Alden memotong pembicaraan.
"Anak ini! Padahal aku ingin memberi tahu jika Tifanny tidak boleh sampai tahu perihal taruhan ini," Nino menatap layar ponselnya.
"Nanti saja aku berbicara dengan mereka, aku harus bersiap siap sekarang. Aku tidak mau membuat Tifanny menunggu," Nino tersenyum dan masuk ke kamar mandi.
Nino dan Tifanny memang sudah janjian untuk pergi ke restoran seafood terkenal yang ada di kota Massachusetts, Amerika Serikat. Setelah bersiap, Nino segera melajukan mobilnya menuju rumah Tifanny.
Selama menyetir, Nino terus tersenyum. Ia memutar lagu milik yang berjudul Falling di tape mobilnya.
"My last made me feel like I would never try again,
But when I saw you I felt something I never felt,
come closer ! I'II give you all my love,
If you treat me right baby, I'II give you everything," Nino bernyanyi mengikuti suara Treyor Daniel yang bergema di mobilnya.
"Terjemahan lagu:
Hubungan terakhirku membuatku merasa aku tidak akan pernah mencobanya lagi,
__ADS_1
Tapi saat aku melihatmu aku merasakan sesuatu yang tak pernah ku rasakan, mendekatlah! Akan ku berikan seluruh cintaku padamu,
Jika kau memperlakukanku dengan benar, sayang kan ku berikan segalanya untukmu."
"Ya, aku akan memberikan segalanya untukmu. Kau adalah wanita yang pertama yang membuatku berhasil melupakan Odelia," Nino bergumam sembari terus menyetir menuju ke rumah Tifanny.
Sementara itu, di rumahnya Tifanny merasa was was karena ia tidak mempunyai dress untuk acara bersama Nino malam ini.
"Aku harus pakai yang mana? Aku jarang sekali membeli baju," keluh Tifanny ketika melihat lemari pakaiannya.
"Kakak, pakai saja yang ini!" Meghan menunjuk dress berwarna biru muda.
"Ini dress lama kakak. Jika ada pesta selalu saja kakak memakai yang ini."
"Tidak apa-apa, kak. Kan kak Nino belum pernah melihat kakak memakai dress ini," timpal Meghan kemudian.
"Kau benar. Baiklah, kakak akan memakai dress ini," Tifanny segera mengambil dress itu dan memakainya.
Setelah memakai dressnya, Tifanny langsung duduk di meja rias yang ada di kamarnya. Tifanny memoles wajahnya dengan make up sederhana.
"Iya?" Tifanny menyentuh tangan adiknya yang tengah melingkar di pinggangnya.
"Kakak suka kak Nino kan?" Meghan melepaskan pelukannya dan berdiri di belakang Tifanny.
"Ngomong apa sih kamu sayang?" Tifanny membalikan badannya menghadap ke arah Meghan.
"Meghan tahu, kakak suka kak Nino. Meghan rasa malam ini kak Nino akan memgungkapkan perasaannya kepada kakak," Meghan menerawang.
"Dari mana kau tahu?" Tifanny mencubit gemas pipi adiknya.
"Kak, Meghan sudah kelas 1 SMA. Dari pesan teks yang dikirimkan kak Nino, terlihat jelas jika kak Nino akan mengungkapkan perasaannya kepada kakak malam ini," Meghan berucap dengan nada yang serius.
Tifanny pun tak menjawab dan hanya memandang Meghan.
__ADS_1
"Kak, jika kakak suka kak Nino terima saja dia jadi kekasih kakak! Selama ini dia sangat baik dan tulus kepada kita. Jangan berfikir semua laki-laki sama seperti papa! Kakak sudah hampir lulus kuliah, wajar saja jika kakak sekarang berpacaran. Apa salahnya kakak memulai suatu hubungan dengan seorang pria?" Cerocos Meghan panjang lebar.
"Tapi-"
"Sekarang Meghan tanya perasaan kakak, apa kakak suka kak Nino?" Potong Meghan.
"Kakak," Tifanny menyatukan kedua telapak tangannya yang basah. Ia sendiri pun tidak naif, saat membaca pesan Nino yang akan berkata sesuatu malam ini, Tifanny bisa mengerti jika laki-laki itu akan mengutarakan perasaan padanya.
"Jangan menolak kak Nino jika kakak memang menyukainya! Jangan hiraukan papa, kak Clara dan Mama Belinda! Lakukanlah apa yang membuat kakak bahagia! Tidak semua pria sama seperti papa," Meghan mengingatkan.
"Baiklah, sayang. Kakak akan mengingat pesanmu," Tifanny mengelus tangan adiknya.
****
Nino menunggu di depan gerbang rumah Tifanny karena ia malas sekali harus berdebat dengan Clara dan Belinda. Tak lama, gerbang terbuka. Nino melihat Tifanny memakai dress berwarna biru muda. Nino pun segera ke luar dan menemui gadis yang mulai ia cintai itu.
"Kau sangat cantik!" Puji Nino ketika melihat Tifanny.
"Kau sedang merayuku?" Tifanny mencubit tangan Nino.
"Tidak. Aku hanya berkata kebenaran. Tunggu sebentar!" Nino segera masuk kembali ke dalam mobilnya, tak lama ia ke luar lagi dengan membawa mantel yang sangat tebal. Nino memakainkan mantel itu di tubuh Tifanny.
"Aku lupa jika ini musim dingin," Tifanny menadahkan kepalanya dan menatap salju yang turun.
"Aku pun heran karena kau tidak memakai mantel. Kau bisa terkena hipotermia! Atau kulitmu memang setebal badak?" Tanya Nino dengan usilnya.
"Bukan setebal badak, tetapi setebal kulit gajah."
"Jika kau melucu seperti ini, kau tambah cantik!"
"Kau akan terus merayuku di sini atau kita pergi sekarang?" Tanya Tifanny kepada Nino yang sedari tadi tersenyum menatapnya.
"Oh iya, aku lupa. Mari tuan putri! Silahkan masuk!" Nino membuka pintu mobilnya untuk Tifanny. Tifanny hanya tertawa melihat sikap Nino yang belakangan ini semakin manis kepadanya.
__ADS_1
Bohong jika Tifanny tidak mempunyai perasaan terhadap Nino. Kebersamaan yang mereka lalui selama beberapa bulan ini, kembali menghidupkan hati gadis itu mengenai cinta yang sesungguhnya. Tifanny berfikir jika cinta tidak semuanya menyakitkan.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...