Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Masa Lalu


__ADS_3

Tifanny memandangi wajahnya di depan cermin. Ia baru saja memoles wajahnya dengan make up. Malam ini ia akan makan malam bersama Nino, David dan juga Meghan untuk merayakan hari ulang tahunnya.


Tifanny mengenakan gaun berwarna ungu muda selutut untuk acara malam ini. Terdengar bunyi mobil Nino di halaman rumahnya. Rupanya suaminya itu baru saja pulang.


"Kak?" Meghan masuk ke dalam kamar Tifanny.


"Iya, sayang?" Tifanny menoleh dan menatap Meghan yang masih belum bermake up.


"Kakak cantik sekali! Aku jadi ingat ketika kakak akan pergi makan malam dengan kak Nino saat dulu di Amerika," Meghan tersenyum.


Tifanny pun memutar ingatannya saat makan malam beberapa tahun silam. Tifanny tersenyum saat mengingat Nino menyanyikan sebuah lagu untuknya.


"Kakak, ingat juga?" Tanya Meghan dengan riang.


"Tentu saja. Kakak tidak hilang ingatan. Mengapa kau belum bersiap-siap?" Tifanny memperhatikan penampilan Meghan.


"Papa bilang ada operasi di rumah sakit. Papa memintaku untuk datang belakangan bersama papa. Papa takut aku mengganggu kakak dan kak Nino," Meghan mengerucutkan bibirnya.


Sebenarnya Meghan berbohong, David tadi menghubunginya jika ia belum menemukan kado yang pas untuk Tifanny, maka dari itu David memutuskan untuk berkeliling mencari kado terbaik.


"Sayang, kau bisa ikut kakak dan kak Nino, nanti papa bisa menyusul!"


"Tidak. Meghan tidak mau. Nanti dimarahi papa. Kakak saja duluan dengan kak Nino!" Meghan menolak.


"Kau yakin?" Tifanny merasa ragu.


"Tentu saja, kak. Kakak jangan khawatir! Meghan pasti menyusul dengan papa," Meghan meyakinkan.


"Baiklah," Tifanny mengambil tasnya.


"Kakak tunggu di sana ya!" Tifanny mengelus tangan Meghan.


"Iya, kak. Nanti aku menyusul dengan papa. Ayo segeralah berangkat!" Meghan mendorong Tifanny.


"Sayang, ayo-" Nino menatap wajah Tifanny saat ia membuka pintu.


"Kau kenapa?" Tifanny melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nino.


"Kau sangat cantik!" Puji Nino sambil tersenyum.


"Gombal!" Tifanny mencubit pelan tangan Nino.


"Benar. Aku tidak bohong. Ayo kita berangkat!" Nino menggandeng tangan istrinya dengan mesra.


"Oh iya, Meghannya ketinggalan!" Nino tertawa dan berbalik kembali menatap Meghan.


"Ya begitulah orang kasmaran. Lupa waktu dan tempat," Meghan tertawa.


"Kak, aku dan papa akan menyusul. Papa masih di rumah sakit," jelas Meghan kepada Nino.


"Tapi kalian akan datang kan?" Nino memastikan.


"Tentu saja, kak. Masa iya kak Fanny ulang tahun kami tidak datang."


"Kalau begitu kakak tunda saja ya? Kita tunggu papa!" Ucap Nino kepada Meghan.

__ADS_1


"Jangan, kak!" Kakak dan kak Fanny pergi saja!" Meghan menarik tangan Nino dan Tifanny.


"Ayo segeralah berangkat!" Meghan terus menarik tangan kedua kakaknya sampai pintu depan.


"Kalau begitu kunci pintunya sebelum papa datang ya? Kakak tunggu!" Nino tersenyum dan mengelus rambut Meghan.


Tifanny tersenyum menatap pemandangan yang ada di depan matanya. Nino memang memperlakukan Meghan seperti adiknya sendiri.


"Sayang, ayo!" Nino menggandeng tangan Tifanny menuju mobil. Mereka pun berangkat untuk sampai di restoran tujuan mereka.


Sesampainya di restoran, Nino menggandeng tangan Tifanny menuju tempat VIP yang sudah ia reservasi sebelumnya. Tifanny dan Nino tampak mengobrol ringan sesekali mereka tertawa bersama, mereka tidak tahu seseorang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Sayang, aku ke toilet dulu!" Nino berdiri dari duduknya.


"Jangan lama-lama, sayang!" Tifanny menggenggam tangan Nino seperti berat untuk melepaskan suaminya.


"Sayang, aku hanya ke toilet," Nino tertawa. Nino pun pergi ke toilet yang ada di area restoran.


Tifanny memainkan ponsel milik Nino yang masih ada padanya untuk menghilangkan sepi. Tiba-tiba seseorang mendatangi mejanya.


"Selamat malam, Nona!" Ucap seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di depan Tifanny.


"Selamat malam. Anda siapa ya?" Tifanny memperhatikan wanita cantik yang ada di depannya.


Tifanny memperhatikan mata wanita itu sembab seperti habis menangis. Ia adalah Odelia. Odelia memang datang ke restoran ini bersama sahabatnya. Ia ingin mencurahkan semua beban hidupnya kepada sahabatnya itu.


"Aku Odelia. Kau istri Nino?"


Tifanny begitu tersentak mendengar nama Odelia.


"Kau?"


"Iya, ada apa ya?" Tifanny merasakan sesuatu yang tidak nyaman.


"Aku ingin berbicara langsung pada intinya saja. Aku masih menginginkan Nino. Bisakah kau melepaskannya untukku?" Tanya Odelia dengan tidak tahu malu.


"Nona? Anda rupanya sedang tidak sehat. Mohon untuk segera pergi dari hadapan saya!" Tifanny menatap Odelia dengan tajam.


"Aku masih mencintai Nino dan aku yakin Nino juga masih mencintaiku. Ku mohon biarkan kami bersatu!" Pinta Odelia lagi. Ia memang memutuskan untuk mengejar Nino lagi. Odelia masih sangat yakin Nino masih mencintainya.


"Nona, anda gila dan tidak tahu malu ya? Anda tidak mengenal saya dan sekarang terang-terangan meminta suami saya. Di mana otak anda?" Tifanny menggebrak meja hingga pengunjung lain menoleh ke arah mereka.


"Suami saya sudah tidak mencintai anda lagi. Bukankah anda sudah meninggalkannya dan menikah dengan pria lain?" Tifanny berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang memuncak di dadanya. Ia seolah tidak habis pikir ada wanita yang blak-blakan seperti Odelia.


"Kau sangat percaya diri sekali. Aku adalah wanita pertama yang Nino cintai," Odelia tersenyum sinis.


"Hentikan, Del!" Seseorang memotong pembicaraan mereka. Tifanny menoleh dan melihat Nino menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.


"Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu," Odelia tersenyum senang.


"Sayang, aku ingin berbicara dulu dengan Odelia. Bisakah kau tunggu di mobil dulu?" Nino menatap Tifanny dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.


Tifanny sangat berat mengiyakan permintaan suaminya. Pikirannya sudah berlarian ke sana ke mari. Tifanny takut Nino kembali memutuskan untuk bersama Odelia lagi.


"Aku mohon! Berikan aku waktu untuk berbicara dengan Odelia! Ini kunci mobilnya," Nino memberikan kunci mobil miliknya.

__ADS_1


Tifanny pun pergi dari sana dengan wajah yang sedih. Tifanny masuk ke dalam mobil dan menangis di sana. Sedangkan Odelia merasa menjadi pemenangnya.


"Langsung saja. Apa maumu?" Nino terduduk dan menatap Odelia dengan tak ramah.


"No, maafkan aku! Aku menyesal sudah meninggalkanmu dan memilih suamiku. Aku sudah memutuskan untuk bercerai dengannya. Aku ingin kembali lagi bersamamu. Aku sadar aku masih mencintaimu dan aku akan meninggalkan apapun agar bisa bersamamu," Odelia mengambil tangan Nino dan memegangnya.


Nino tampak tertawa mendengar keinginan Odelia.


"Kau ingin tahu jawaban dariku?" Nino melepaskan tangannya.


"Kau pasti mau kembali padaku kan? Aku cinta pertamamu," Odelia tampak bersemangat.


"Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa untuk kembali kepadamu," Nino berucap dengan wajah yang serius.


"Kau bercanda?" Odelia tertawa.


"Semenjak aku menikah, aku sudah tidak pernah memiliki perasaan apapun kepadamu. Sebagai seorang pria, aku hanya berpikir realistis saja. Aku tak akan pernah mencintai wanita yang sudah mencampakanku."


"Aku tahu jika istrimu hanya sebatas pelarian saja. Kau ingin membalasku kan? Kau seben-"


"Cukup, Del! Aku mencintai istriku. Apapun akan aku lakukan untuknya. Dia yang merubahku. Semenjak dengannya aku sudah tidak pernah melihat dan tertarik pada wanita lain," tutur Nino dengan tegas.


"Kau pasti berbohong! Kau tidak akan pernah melupakanku!" Odelia terus menyangkal.


"Aku sudah jatuh cinta dengannya semenjak aku kuliah. Tetapi aku terlalu naif untuk mengakui semuanya. Aku memaksanya menikah denganku karena aku ingin menghindari perjodohan dari mommy, tetapi sesungguhnya jauh dari itu, aku menikahinya karena memang aku masih jatuh cinta padanya."


Odelia menatap mata Nino, ia melihat kesungguhan di mata biru itu.


"Sungguh, sedetik pun aku sudah tidak pernah menginginkan dan memikirkanmu lagi. Tolong jangan pernah ganggu kedamaian rumah tanggaku! Karena aku sudah bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang," sambung Nino.


"Lalu, bagaimana dengan aku cinta pertamamu? Kau yakin sudah tidak ada rasa di dalam hatimu?" Odelia masih berharap.


"Aku tidak butuh cinta pertama. Yang aku butuhkan adalah cinta terakhir. Tolong hiduplah dengan baik dan bahagia tanpa bersinggungan dengan rumah tanggaku!"


"Kau serius mengatakannya?" Mata Odelia berkaca-kaca.


"Tentu saja. Aku tidak ingin kehilangan istriku. Aku tidak akan menukarnya dengan apapun apalagi denganmu yang hanya masa lalu untukku," tegas Nino lagi.


Odelia diam dalam waktu yang cukup lama.


"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Tetapi bisakah kita berteman?" Tanya Odelia dengan penuh pengharapan.


"Tidak bisa. Jika aku berteman denganmu, istriku tidak akan pernah nyaman dengan hal itu. Sebaiknya kita memang tidak usah berhubungan lagi, Del!!"


Odelia tersenyum, setitik air matanya jatuh kembali. Ia begitu menyesali semua yang telah berlalu. Andai waktu bisa diputar, Odelia tidak akan melepaskan Nino dari hidupnya.


"Baiklah. Aku doakan kau selalu berbahagia dengan istrimu," Odelia memaksakan senyumnya.


"Terima kasih. Aku berharap demikian untuk kebahagiaanmu," Nino tersenyum. Akhirnya Odelia bisa mengerti keputusannya.


"Baiklah, aku pergi!" Odelia berdiri dan menjauh dari meja Nino.


"Del, kau mau ke mana?" Sahabatnya mengejar Odelia.


Odelia segera masuk ke dalam taksi. Ia seolah lupa jika ia datang bersama sahabatnya.

__ADS_1


"Nino, andai waktu bisa diulang kembali! Tetapi semuanya sudah terlambat. Aku memang sudah tidak mempunyai celah untuk masuk ke dalam hidupmu lagi. Yang akan aku lakukan sekarang adalah bercerai dengan Sean dan hidup kembali seperti dulu. Semoga aku bisa menemukan pria sepertimu lagi," Odelia menyeka air matanya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2