
Nino mengajak Tifanny olahraga di area perumahannya. Olahraga berupa jalan sehat dan lari pagi.
"Nino, aku lelah!' Tifanny bernafas dengan terengah-engah.
"Fann, kita baru saja berolahraga selama sepuluh menit," Nino terlihat bugar dengan outfit olahraganya.
"Aku benar-benar lelah," Tifanny mengusap keringat yang membasahi anak rambutnya.
"Ya sudah, kita istirahat dulu di sana!" Nino menunjuk ayunan yang ada di area taman perumahannya.
"Kau benar-benar lelah?" Nino memperhatikan wajah Tifanny yang meringis.
"Iya, sudah lama aku tidak berolahraga."
"Nah itulah akibatnya jika kau jarang berolahraga, Fann!" Nino mengusap keringat di kening Tifanny dengan tangannya.
"Ya, kau pun tahu sendiri kemarin-kemarin aku sibuk mencari uang."
"Kalau begitu mulai dari hari ini, setiap hari kau harus menyempatkan untuk berolahraga ya?" Nino menyerahkan botol minuman mineral kepada istrinya. Tifanny pun langsung meminum air itu.
"Ayo kita jalan santai lagi!" Nino berdiri dan menarik tangan Tifanny.
"Nino, besok aku sidang proposal. Kau datang ya?" Tifanny menoleh ke arah Nino yang berjalan di sebelahnya.
"Bagaimana ya?" Nino berpura-pura berpikir.
"Masa istrimu akan sidang, kau tidak datang," Tifanny mengerucutkan bibirnya.
"Iya, nanti aku datang sayangku," Nino mencubit hidung Tifanny sambil tertawa.
"Ulangi lagi!" Pinta Tifanny dengan ceria.
"Apanya?"
"Kau memanggilku apa tadi?" Tifanny melepaskan tangan Nino dan berdiri di depannya.
"Fann bukan?" Tanya Nino.
"Bukan, itu yang tadi," Tifanny masih memancing.
"Yang mana?" Nino berpura-pura kebingungan.
"Panggilan yang kau ucapkan saat di rumah Justin itu lho," Tifanny masih bersemangat.
"Aku tidak ingat," Nino menggelengkan kepalanya.
"Kau menyebalkan," gerutu Tifanny dengan wajah yang masam. Kemudian Tifanny berjalan cepat meninggalkan Nino.
"Tunggu sayang!" Nino berteriak. Tifanny pun menghentikan langkahnya dan berbalik lagi ke arah suaminya. Ia tersenyum senang saat Nino memanggilnya dengan kata sayang.
__ADS_1
"Ulangi!" Tifanny ikut berteriak.
Nino pun berjalan cepat mendatangi istrinya.
"Jangan meninggalkan aku lagi, sayang! Nanti jika aku tersesat bagaimana?" Nino menangkup pipi Tifanny dengan hangat.
"Kau tidak akan tersesat, kau bukan anak kecil!" Tifanny tertawa menatap wajah Nino. Ia merasakan hidupnya lengkap sekarang, bersama suami yang selalu memperlakukannya dengan baik dan berkumpul dengan ayah dan adiknya tanpa harus memikirkan lagi kondisi ekonomi.
"Aku sudah mengatakannya. Sekarang, panggil aku sayang!" Perintah Nino dengan lembut.
"Tidak mau," Tifanny menolak.
"Aku tidak mau tahu, kau harus memanggilku sayang!" Nino merengek.
"Tidak mau, wlee!" Tifanny menjulurkan lidahnya kemudian ia berlari lagi meninggalkan Nino.
"Awas kau ya!" Nino terkekeh dan mengejar istrinya lagi.
****
"Besok kita beli sepeda ya? Nanti olahraganya bersepeda," ujar Nino saat mereka sudah sampai di rumah.
"Terima kasih, sayang," Tifanny meminum air mineral yang ada di botol milik Nino.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Kau ini memang istriku yang menyebalkan," Nino menggelitik perut Tifanny.
"Nino hentikan! Itu menggelikan," Tifanny berusaha menghindar dari Nino.
"Ehem," David tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya.
"Pa?" Sapa Tifanny saat melihat setelan kerja ayahnya yang sudah rapi.
"Papa mau berangkat?" Tanya Nino kepada ayah mertuanya.
"Iya, sebentar lagi papa berangkat. No, bisakah papa berbicara pada Fanny sebentar?"
"Oh iya, silahkan Pa! Nino ke atas dulu untuk siap-siap kerja," Nino kemudian naik ke atas tangga untuk sampai di kamarnya.
"Ada apa, Pa?"
"Emm, begini, Fann. Apa papa boleh meminjam uangmu?" David mendudukan dirinya di depan putri sulungnya.
"Untuk apa, Pa?" Tifanny merasa heran tiba-tiba ayahnya meminjam uang.
"Papa hanya butuh simpanan. Papa kan baru bekerja beberapa hari, papa belum memiliki gaji," timpal David.
"Berapa, Pa?"
__ADS_1
"5000 Poundsterling (100 juta rupiah)," David memelankan suaranya.
"Untuk apa papa meminjam uang sebesar itu?" Tifanny tampak kaget mendengar jumlah uang yang disebutkan ayahnya.
"Papa ingin membeli jam tangan baru, Fann."
Tifanny pun tampak berpikir dan menimbang-nimbang.
"Baiklah, Pa. Tapi nanti Fanny izin dulu kepada Nino ya? Bagaimana pun Tifanny menyimpan uang Nino, Tifanny harus terbuka padanya termasuk mengenai keuangan."
"Baiklah, sayang. Nanti kabari papa. Kalau begitu papa berangkat dulu," David berdiri dari duduknya dan langsung pergi bekerja menuju rumah sakit.
Tifanny pun menemui suaminya di kamar.
"Nino?" Panggil Tifanny saat melihat Nino sedang memasangkan dasi di lehernya.
"Iya, sayang?"
"Biar aku pakaikan," Tifanny merebut dasi dari tangan suaminya dan mulai membuat simpulnya dengan rapi.
"Papa bicara apa padamu?" Nino tampak penasaran.
"Emm, begini," Tifanny tampak ragu untuk mengatakannya. Dia sangat malu karena bagaimanapun Nino sudah berbaik hati telah menanggung semua kebutuhan keluarganya.
"Ada apa?" Nino terlihat semakin penasaran.
"Papa ingin meminjam uang. Apa boleh? Jumlahnya 5000 pounds, papa bilang dia ingin membeli jam tangan baru," Tifanny menundukan wajahnya.
"Hanya itu? Kalau begitu berikan saja, jangan ada kata meminjam! Itu tidak baik, apalagi papa orang tua kita," Nino tersenyum.
"Kau tidak keberatan?" Tifanny masih merasa malu kepada suaminya.
"Tentu saja tidak. Papa juga harus menunjang penampilannya kan sebagai tenaga medis. Temani papa untuk membeli jamnya ya?"
"Sayang, mengapa kau sangat baik?" Tifanny menghambur memeluk suaminya.
"Selama aku masih bisa dan mampu, maka aku akan memberikan apapun untukmu dan untuk keluarga kita," Nino membalas dekapan istrinya.
"Setelah aku lulus kuliah, aku akan membantumu mencari uang ya?"
"Tidak. Kau hanya cukup diam di rumah dan menyiapkan keperluanku. Itu sudah cukup," Nino melepaskan pelukannya.
"Aku pun mulai berpikir untuk membuat usaha sendiri," Nino berkata dengan serius.
"Kalau begitu mari kita berjuang dari 0 untuk mewujudkannya, aku akan selalu ada di sampingmu!"
"Iya, jadilah penyemangatku selalu!" Nino mencium lembut kening istrinya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1