Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Sweater Nino


__ADS_3

"Aku bukan gadismu!" Tifanny mendorong tubuh Nino agar menjauh darinya.


"Kau mau ke mana?" Nino menyusul langkah Tifanny yang berjalan menjauhinya.


"Aku mau pulang," Tifanny terus berjalan meninggalkan Nino.


"Dengan baju seperti itu?" Tanya Nino yang membuat Tifanny langsung menghentikan langkahnya.


"Benar juga. Bagaimana jika Meghan dan Bianca melihat aku memakai baju seperti ini," Tifanny melirik seragam yang tengah ia kenakan. Sementara baju yang ia pakai saat berangkat tadi di tinggalkan begitu saja di loker karyawan.


"Ayo ikut denganku! Aku mempunyai baju cadangan di mobil," Nino berjalan mendekati Tifanny.


"Aku tidak mau," Tifanny menolak.


"Ya sudah, pulang saja dengan baju sepertu itu! Aku pulang ya? Bye!" Nino berpura pura melambaikan tangannya sambil tersenyum simpul. Kemudian, Nino berjalan menjauh dari Tifanny.


"Dia pasti akan menghentikanku. Aku hitung sampai tiga. Satu, du-"


"Nino antarkan aku pulang!" Tifanny berteriak. Tifanny segera berjalan mendekat ke arah Nino.


"Bukannya kau tidak mau aku antar pulang?" Nino tersenyum menatap wajah grogi Tifanny.


"Aku berubah pikiran. Ayo cepat!" Tifanny menarik tangan Nino.


Tifanny dan Nino pun masuk ke dalam mobil untuk pulang.


"Mana baju yang kau janjikan?" Tagih Tifanny.


"Itu di jok belakang. Ada sweater milikku dan celana olahraga," Nino menunjuk kursi penumpang.


Tifanny pun segera pindah ke belakang untuk mengganti bajunya yang teramat sesak.


"Jangan mengintip!" Tifanny memperingatkan.


"Siapa juga yang akan mengintip?" Jawab Nino sambil memperlihatkan jalanan di depan.


Tifanny pun mulai membuka bajunya.


"Aku ingin melihat sedikit," batin Nino sambil membenahi kaca spion tengah mobilnya.


"Aku bilang jangan mengintip!" Tifanny melempar bantal kecil yang ada di dalam mobil ke arah kepala Nino.


"Sedikit tidak boleh? Kan nanti jika kita sudah menikah aku akan melihat semuanya."


"Awas saja jika kau mengintip! Aku akan mencongk*el mata birumu itu!" Ancam Tifanny dengan suara yang menggelegar.


Nyali Nino pun seketika menciut. Ia memilih untuk memperhatikan jalanan lagi dari kursi pengemudi.

__ADS_1


"Sudah," kata Tifanny saat ia sudah berhasil mengganti bajunya.


"Pindahlah lagi ke depan!" Nino menoleh ke arah belakang.


"Aku duduk di sini saja."


"Jika kau duduk terus di sana, aku tidak akan menjalankan mobilnya."


"Ya, aku pindah," Tifanny mengalah dan segera pindah duduk ke depan. Tifanny pindah sambil memegangi celananya.


Nino memperhatikan Tifanny yang memakai sweater dan celana miliknya. Sweater dan celana miliknya tampak sangat kedodoran di tubuh Tifanny yang kecil.


"Pakai ikat pinggangku! Nanti celanamu melorot!" Nino melepaskan ikat pinggang yang tengah ia pakai. Tifanny pun menerimanya dan mengikat pinggangnya dengan sabuk itu agar celananya tidak turun ke bawah.


"Jadi? Apa kau sudah menyerah? Kau mau menikah denganku kan?" Tanya Nino saat di dalam perjalanan menuju rumah Tifanny.


"Mengapa kau mau menikah denganku?" Tifanny menoleh ke arah Nino yang mulai menyetir.


"Kau mau tahu alasannya?" Jawab Nino.


"Iya. Aku ingin tahu."


"Jadi begini, kedua orang tuaku menjodohkan aku dengan seorang wanita-"


"Lalu jika kau dijodohkan, mengapa kau memintaku menikah denganmu?" Tifanny memotong ucapan Nino.


"Alden? Lalu?"


"Kedua orang tuaku kemungkinan besar akan menghentikan perjodohan itu jika aku sudah memiliki pilihanku sendiri."


"Jadi, kau ingin menikahiku agar kau tidak di jodohkan dengan wanita itu?"


Tifanny merasa kecewa dengan jawaban Nino. Ia berfikir Nino mengajaknya menikah karena Nino menyukai bahkan mencintainya. Wanita mana yang tidak percaya diri jika seorang pria tiba-tiba datang dan mengajak menikah


"Tepat sekali. Sebenarnya aku tidak ingin menikah, tetapi kedua orang tuaku malah menjodohkanku." Aku Nino.


"Mengapa kau tidak mau menikah?" Tifanny merasa penasaran.


"Karena wanita yang pernah ku cintai sudah meninggalkanku dan menikahi orang lain," Nino mengecilkan suaranya.


"Odelia?"


"Mengapa kau tahu?" Nino tampak kaget.


"Ketika kau mabuk dan datang ke rumahku, kau menyebut nama Odelia," Lagi lagi Tifanny merasa kecewa. Entahlah apa yang dirasakan Tifanny saat ini.


"Jadi, kau mau menikah denganku?" Tanya Nino saat mobilnya berhenti tepat di depan rumah Tifanny.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mau. Lagi pula kau hanya menjadikan aku pelarianmu saja. Terima saja perjodohan itu!" Tifanny membuka pintu mobil Nino dan segera ke luar.


"Tidak akan pernah. Jika kau berubah pikiran, kau tahu nomor telfonku!" Nino berteriak.


"Aku akan memastikan kau yang akan datang mencariku," Nino menatap tajam punggung Tifanny yang masuk ke dalam rumah.


***


Tifanny masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat Bianca dan Meghan sedang duduk di meja makan.


"Bianca kenapa?" Tanya Tifanny kepada Meghan saat melihat Bianca menelungkupkan wajahnya di atas meja.


"Kak Bi sedang galau," jawab Meghan. Kemudian tatapannya beralih memperhatikan tampilan kakaknya.


"Baju siapa itu kak?" Meghan berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Tifanny.


"Baunya seperti baju laki-laki," Meghan mengendus baju yang dipakai oleh kakaknya.


"Teman kakak meminjamkan bajunya untuk kakak. Tadi baju kakak terkena tumpahan kopi," Tifanny berbohong.


"Ya ampun, kemampuan berbohongku semakin baik. Maafkan kakak, Meghan! Tidak mungkin kakak mengatakan jika kakak baru saja bekerja di tempat karaoke dan hampir dilecehkan oleh pria tua," keluh Tifanny di dalam hatinya.


"Oh begitu. Kalau begitu kakak cepat ganti baju ya? Setelah itu makan malam dulu," Meghan langsung percaya ucapan kakaknya.


"Iya," Tifanny segera masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Setelah memakai piyamanya, Tifanny segera bergabung dengan Bianca dan Meghan di meja makan.


"Bi, kau kenapa?" Tifanny mendudukan dirinya di samping Bianca.


"Fan, mengapa ya orang-orang kaya selalu merendahkan orang-orang kecil seperti kita?" Bianca masih menelungkupkan wajahnya di meja.


"Ada yang menghinamu?" Tifanny langsung menangkap ke arah mana pembicaraan Bianca.


Bianca meluruskan tubuhnya dan menatap Tifanny.


"Fann, ada seorang pria yang menghina profesiku. Bahkan dia sengaja mengotori lantai saat aku bersih-bersih. Jujur saja aku down," cerita Bianca dengan sendu.


"Mengapa harus down?" Tifanny tersenyum.


"Kau tidak ju*l diri. Pekerjaanmu pun tidak merugikan orang lain, bahkan menguntungkan dan membantu orang lain. Bayangkan jika profesimu tidak ada! Bi, jangan berkecil hati hanya karena orang lain menghina profesimu! Kau lebih baik dari pada anak-anak orang kaya yang menghabiskan uang mereka untuk hura-hura dan hal yang tak penting lainnya," Tifanny menasehati panjang lebar.


"Iya, Fann. Aku hanya sedang mellow saja," Bianca merasa lebih baik mendengar kata-kata Tifanny.


"Pokoknya bekerjalah sebaik mungkin ya? Jangan pernah dengarkan orang yang merendahkanmu! Kau lebih baik dari orang yang menghinamu itu! Kau mandiri dan tidak merepotkan kedua orang tuamu, pekerjaanmu pun baik," Tifanny memberikan semangat.


"Terima kasih, Fann?" Bianca tersenyum kepada sepupunya.


"Ya sudah ayo kita makan! Meghan lapar!" Meghan segera mengambil piring dan juga sendok.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2