Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Kado Untuk Tifanny


__ADS_3

Setelah kepergian Odelia, Nino langsung pergi dengan terburu-buru ke arah parkiran karena tadi Nino menyuruh Tifanny untuk menunggu dalam mobil miliknya.


"Ke mana Tifanny?" Nino memperhatikan mobil yang kosong dan terkunci.


"Fann?" Nino menggedor kaca mobil tetapi ia tidak melihat ada tanda-tanda istrinya di dalam.


"Ada apa ya, tuan?" Seorang petugas keamanan mendekat ke arah Nino.


"Tadi istri saya masuk ke dalam mobil. Apakah bapak melihatnya?" Tanya Nino kepada petugas keamanan restoran.


"Oh Nona Tifanny?"


"Iya, Pak. Itu istri saya," jawab Nino dengan cepat.


"Istri tuan tadi menitipkan kunci mobil ini. Lalu, dia pergi dari sini. Anda benar kan tuan Nino?" Petugas keamanan memastikan.


Wajah Nino langsung memucat mendengar pernyataan itu. Ke mana Tifanny pergi, begitu pikirnya. Lalu, Nino mengeluarkan tanda pengenal miliknya dan petugas kemanan itu langsung memeriksa tanda pengenal milik Nino.


"Kalau begitu ini kunci mobil milik tuan!" Petugas keamanan menyerahkan kunci mobil milik Nino yang dititipkan oleh Tifanny tadi.


"Terima kasih, Pak," Nino masuk ke dalam mobil dengan resah dan pergi dari sana.


"Ke mana kamu, Fann? Mengapa kamu pergi?" Nino mencari keberadaan istrinya di setiap sudut jalanan menuju restoran.


"Pasti kamu mengira aku dan Odelia ada apa-apa," Nino semakin resah karena tidak kunjung melihat istrinya.


Setelah 20 menit menyusuri jalan, Nino melihat Tifanny yang tengah berjalan dengan gontai di area jalanan yang sepi.


"Ya tuhan! Bagaimana jika ada orang jahat?" Nino bergumam saat melihat Tifanny tengah berjalan menunduk di jalanan yang sangat sepi.


Nino langsung menghentikan dan ke luar dari dalam mobilnya.


"Sayang, aku mencarimu!" Nino memeluk Tifanny dari belakang.


"Lepaskan aku!" Tifanny melepaskan tangan Nino dari pinggangnya. Suaranya terdengar sangat parau.


"Sayang, aku-"


"Apa?" Tifanny membalikan tubuhnya. Nino melihat wajah istrinya penuh dengan air mata.


"Kau kembali lagi kan kepada Odelia?" Tifanny berteriak.


"Kau akan menceraikanku dan menikah dengan Odelia?" Tifanny menangis tersedu dan memukul dada Nino.


"Sayang, ayo kita masuk ke dalam mobil!" Nino menarik tangan Tifanny untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Aku tidak mau," Tifanny memberontak dengan sekuat tenaga.


"Aku bilang masuk!" Wajah Nino terlihat serius.


"Tidak. Aku tidak mau ikut denganmu. Di dalam mobilmu ada Odelia kan?"


"Kau ini kenapa?" Nino langsung menggendong Tifanny menuju mobilnya.


"Lepaskan aku! Kau jahat! Kau akan meninggalkanku," Tifanny memukul-mukul dada Nino lagi. Tetapi suaminya tidak memperdulikan pukulan itu. Nino langsung memasukan Tifanny ke dalam kursi penumpang dan ia pun ikut masuk.


"Aku mau ke luar!" Tifanny berteriak dan berusaha ke luar dari dalam mobil.


"Sayang, tenanglah! Mengapa kau sangat emosional?" Nino menangkup pipi Tifanny.


"Siapa yang tidak emosional saat suaminya meminta istrinya pergi meninggalkan ia berdua dengan mantan kekasihnya?" Jawab Tifanny lirih.


"Aku minta maaf, tadi aku hanya ingin menyelesaikan semuanya," Nino menghapus air mata di pipi Tifanny dengan tangannya.

__ADS_1


"Memangnya kau berpikir apa?"


"Aku berpikir kau kembali lagi kepada Odelia. Iya kan?" Tuduh Tifanny lagi.


"Kalau iya bagaimana?" Nino berniat mengusili Tifanny.


"Kau jahat! Bagaimana dengan aku? Kau bilang pernikahan kita akan seterusnya dan bukan hanya 9 bulan," Tifanny menangis lagi mendengar pertanyaan Nino.


"Tapi aku ingin kembali kepada Odelia. Jadi, bagaimana? Apakah kau akan melepaskanku?" Nino semakin tertarik untuk menggoda Tifanny.


"Apakah jika aku berkata jangan, kau akan merubah niatmu?" Suara Tifanny terdengar bergetar.


"Emm bagaimana ya?" Nino berpura-pura berpikir.


"Bagaimana dengan aku? Aku sudah-" Tifanny menghentikan kata-katanya.


"Sudah apa? Sudah jatuh cinta padaku?" Nino mengusap pipi Tifanny dengan pipinya.


"Dengar! Aku tadi hanya meminta agar Odelia tidak mengganggu rumah tangga kita," Nino berterus terang.


"Kau berbohong!" Tifanny menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Nino.


"Tidak. Aku tidak berbohong. Aku hanya menginginkanmu sekarang, bukan yang lain. Aku sudah tidak menginginkan Odelia atau siapapun itu. Percayalah padaku!"


Hening beberapa saat, Tifanny terus menatap mata Nino untuk mencari kebenaran di sana.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena aku-" Nino menggantung kata-katanya.


"Aku apa?" Tifanny tampak tidak sabar mendengar lanjutan perkataan suaminya.


"Karena aku mencintaimu," tutur Nino dengan lembut.


"Benarkah?" Tifanny memastikan.


Tifanny hanya diam. Selama ini ia pun merasakan bagaimana perlakuan Nino yang selalu membuatnya istimewa, tetapi Tifanny selalu menyangkal itu. Ia tidak ingin salah mengartikan kebaikan dari suaminya.


"Aku mencintaimu," Nino mendekatkan wajahnya.


****


"Ayo kita pergi lagi ke restoran itu! Pasti papa dan Meghan sudah sampai di sana," Nino merapikan rambut Tifanny dan memasangkan mantel miliknya di tubuh Tifanny.


Tifanny hanya mengangguk dan menyeka keringat di wajahnya. Mereka pun pindah ke kursi depan dan berangkat lagi menuju restoran.


Sepanjang jalan, Tifanny terus menyenderkan kepalanya di bahu Nino. Ia sungguh tidak ingin kehilangan suaminya. Nino hanya tersenyum melihat tingkah Tifanny.


"Itu mobil papa," Nino memperhatikan mobil David yang sudah ada di area parkiran restoran. Mereka masuk ke dalam restoran dan melihat Meghan dan David sudah duduk di kursi yang Nino pesan tadi.


"Kalian ke mana saja?" Tanya David dengan cemas.


"Tadi kami jalan-jalan sebentar sambil menunggu Meghan dan papa," Nino mendudukan dirinya di depan David. Tifanny pun ikut terduduk dengan wajah yang canggung.


"Kak Nino dan kak Fanny kenapa? Kenapa berkeringat seperti itu?" Meghan menyipitkan matanya.


"Kalian seperti kelelahan. Kalian yakin akan melanjutkan dinner ini?" David tampak cemas.


"Tentu saja, Pa. Kan ini hari ulang tahun Tifanny. Kami tidak kelelahan, kami tadi-"


"Kepanasan," potong Tifanny cepat.


"Di mobil sangat panas," Tifanny berkata dengan cepat.


"Masa sih kak? Kan mobil kak Nino AC nya sangat dingin," Meghan terlihat bingung.

__ADS_1


"Sudah jangan diributkan lagi!" David menyela.


"Sayang, putri papa! Selamat ulang tahun," David berdiri dan memeluk Tifanny yang tengah terduduk.


"Ku harap kau selalu bahagia, terutama dengan suamimu. Maafkan papa yang belum bisa jadi ayah yang bai!" David menciumi rambut Tifanny.


"Terima kasih, Pa," Tifanny balas memeluk ayahnya. David pun terduduk kembali di kursinya.


"Ini kado dari papa. Pakailah!" David menyerahkan sebuah kotak. Tifanny membuka isinya dan melihat jam tangan yang lumayan mahal.


"Pa, ini pasti mahal!" Tifanny menatap David.


"Papa kan sudah bekerja," David tersenyum.


"Terima kasih, Pa."


"Aku pakaikan," Nino mengambil jam tangan itu dan memakaikan di tangan istrinya.


"Kak, ini hadiah dari Meghan!" Meghan menyerahkan kotak yang lumayan besar.


"Meghan menabung untuk membeli itu," sambungnya.


"Sayang, kau tidak usah repot-repot. Terima kasih ya?" Tifanny begitu terharu.


"Ini hadiah dariku, sayang!" Nino mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.


"Ini apa?"


"Itu voucher liburan ke Jerman. Ayo kita liburan ke sana! Ayo kita pergi liburan sebelum sidang konprehensifmu dilaksanakan!" Nino mengetahui jika Tifanny ingin sekali pergi ke negara itu.


"Nino terima kasih," Tifanny langsung memeluk Nino.


David dan Meghan pun hanya tersenyum menatap Tifanny.


"Oh iya, Nino ini uang yang papa pinjam waktu itu!" David menyerahkan amplop yang tebal kepada Nino.


"Tidak apa-apa, Pa. Mengapa papa mengembalikannya?"


"Ini memang uangmu dan dulu papa kan berkata jika papa meminjam. Ambilah!" Timpal David.


"Tidak. Nino tidak merasa meminjamkan. Simpan saja untuk keperluan papa!" Nino menolak.


"Tapi-"


"Simpan saja, Pa untuk keperluan kuliah Meghan! Nino tidak akan menerimanya," Nino menolak lagi.


"Baiklah. Terima kasih, ya? Oh iya satu lagi. Sepertinya papa akan mencicil sebuah perumahan untuk papa dan Meghan tempati," David memandang Nino dan Tifanny bergantian.


"Maksud papa? Papa akan meninggalkan Tifanny dan Nino?" Tanya Tifanny dengan gurat kesedihan di wajahnya.


"Begini Fann, kalian pun pasti memerlukan sebuah privasi dalam menjalani sebuah rumah tangga. Tidak baik jika kalian hidup bersama kami, tidak akan ada privasi dalam rumah tangga kalian," jelas David.


"Kami tidak memerlukan privasi, Pa. Malah Nino senang ada yang menemani Tifanny selama Nino bekerja."


"Nino benar, Pa. Jika Nino tidak ada di rumah, Tifanny akan kesepian. Jangan pergi dari rumah ya?" Tifanny menggenggam tangan David.


"Tapi Fann-"


"Fanny tidak membutuhkan privasi. Fanny membutuhkan kalian. Kita jangan terpisah lagi," Tifanny semakin menggenggam tangan David dengan erat, seolah takut akan berpisah kembali dengan ayahnya.


"Baiklah, Fann. Papa dan Meghan tidak akan pergi," David memutuskan. Tifanny pun tersenyum senang mendengar keputusan ayahnya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2