Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengantarkan Laporan


__ADS_3

Tifanny sedang menghabiskan waktu istirahat siangnya bersama Cathy di kantin kantor. Mereka berbincang dengan hangat mengenai pekerjaan dan juga topik lainnya. Saat mereka sedang asik mengobrol, Sean datang dan langsung terduduk di kursi yang ada di depan Tifanny.


"Hallo Nona Tifanny!" Sean tersenyum semanis mungkin.


"Hallo tuan Sean!" Cathy menjawab.


"Aku tidak berbicara padamu," Sean mendelikan matanya.


"Nona Tifanny apakah aku boleh makan di sini?" Sean menaruh nampan yang berisi menu makan siangnya di atas meja.


"Silahkan saja, tuan! Kami sudah selesai makan siang dan akan segera kembali ke ruangan," Tifanny berdiri dari duduknya.


"Tolong temani aku makan dulu ya?" Ucap Sean dengan manis.


"Maaf, tuan! Saya ada deadline pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Permisi!" Tifanny meninggalkan Sean diikuti dengan Cathy.


"Sialan!" Sean menggebrak meja.


Tepat sesudah makan siang, Nino diminta oleh ayahnya untuk datang ke sebuah perusahaan untuk membicarakan perihal rencana kerja sama yang sudah dibahas sebelumnya. Nino disambut dengan sukacita karena perusahaan tersebut memang sangat membutuhkan kerja sama ini untuk kemajuan perusahaannya.


"Anda putra dari tuan Arley Walsh?" Seorang pria berahang tegas menjabat tangan Nino dengan hangat.


"Iya, saya putra dari tuan Arley. Perkenalkan saya Nino Walsh. Anda tuan Sean?" Nino memperhatikan raut wajah rekan kerja sama perusahaan ayahnya.


"Iya. Silahkan duduk!" Timpal Sean dengan ramah.


Pertama kali datang, Nino sangat terkejut karena ia datang ke perusahaan tempat istrinya bekerja. Nino sebisa mungkin bersikap profesional dan tidak mencari istrinya walaupun ia ingin sekali menemui Tifanny.


"Tuan, saya sangat berharap sekali kerja sama ini bisa berjalan dengan lancar. Semua orang tahu keluarga anda adalah pemilik perusahaan teknologi terbaik di kota ini. Saya ingin jam tangan yang kami produksi bisa tampil dengan kekinian dengan memasukan teknologi yang sedang berkembang saat ini," Sean jelas tidak ingin melepaskan kesempatan yang ada.


"Memangnya apa yang ingin anda bubuhkan di jam tangan keluaran perusahaan ini?" Nino bersikap seprofesional mungkin.


"Rencananya saya ingin membubuhkan sebuah GPS dan juga pemutar musik di jam tangan yang kami buat dan tentu saja kami tidak bisa melakukannya sendiri. Kami membutuhkan perusahaan anda untuk mewujudkan hal itu," jawab Sean.


"Saya cukup tertarik. Akan tetapi, untuk masalah kontrak, saya tidak mungkin menandatanganinya karena itu adalah kewenangan dari ayah saya."


Sean tampak kecewa mendengar ucapan Nino. Ia sudah sangat ingin mendapatkan kerja sama yang dapat menguntungkan perusahaannya.


"Tidak bisakah sekarang, tuan?" Sean tampak merajuk.


"Tidak. Itu bukan kapasitas saya. Saya di sini hanya untuk memastikan teknologi seperti apa yang anda butuhkan untuk produksi jam tangan anda," tegas Nino.


"Baiklah kalau begitu. Saya yang akan datang ke perusahaan anda untuk bertemu tuan Arley besok," Sean mengalah.


Nino pun mengangguk.


"Sepertinya aku pernah melihat pria ini. Tetapi di mana?" Nino tampak mengingat-ngingat.


"Tuan, sebentar!" Sean beranjak dari duduknya dan membuka salah satu lemari kecil yang ada di ruangannya.


"Mari kita minum-minum untuk merayakan perkenalan kita!" Sean membawa sebotol wine merah dan dua gelas di tangannya.


"Apa yang dia rencanakan? " Nino tampak waspada.


"Saya sudah berhenti minum, tuan," Nino menolak.


"Mengapa? Udara sangat dingin! Ayolah ini untuk menghangatkan tubuhmu," Sean memaksa.


"Tidak. Saya sudah berhenti minum secara total."


"Dia sangat sulit sekali untuk didekati," Sean bergumam di dalam hatinya.


Di tempat yang lain, salah seorang staff masuk ke dalam ruangan Tifanny dan meminta agar ia mengantarkan rekapan laporan keuangan perusahaan selama satu bulan ke ruangan Sean.


"Mengapa harus aku yang mengantarkan?" Tifanny merasa bingung.


"Tadi sesudah makan siang, tuan Sean menyuruh agar kau yang mengantarkannya ke ruangannya bukan yang lain," tutur staff itu.


"Baiklah, terima kasih," Tifanny menghela nafasnya.


"Hati-hati, Fan! Aku dengar pernah ada yang dilecehkan di dalam ruangan tuan Sean," Cathy memperingati.


"Kau menakutiku," wajah Tifanny berubah menjadi pucat.


"Cepatlah antar dan jangan kau tutup pintunya! Jika dia menunjukan gerak gerik yang mencurigakan, segeralah lari ke luar," Cathy memberikan nasehat.


"Aku mulai takut bekerja di sini," Tifanny bergumam. Ia pun segera melangkahkan kakinya untuk sampai di ruangan pribadi atasannya itu.


Tifanny mengatur nafasnya saat ia sudah ada di depan ruangan Sean.


"Untung aku membawa semprotan lada," Tifanny mengeluarkan semprotan lada dari saku blazernya dan memasukannya kembali.


Tifanny pun mengetuk pintu ruangan yang ada di lantai 11 itu.

__ADS_1


"Masuk!" Perintah Sean dengan berwibawa.


Tifanny masuk ke dalam ruangan Sean. Ia begitu kaget ketika melihat suaminya ada di sana.


"Mana laporan yang ku minta?" Sean menadahkan tangannya ke arah Tifanny.


Nino memperhatikan Tifanny dan tersenyum menatap wajah istrinya.


"Ini, tuan!" Tifanny memberikan sebundel kertas yang berisi laporan keuangan kantor.


"Kalau begitu saya permisi, tuan," Tifanny segera pergi dari ruangan Sean.


Nino menatap kepergian Tifanny sampai istrinya itu menghilang dari balik pintu.


"Tuan, mengapa anda tersenyum? Sepertinya anda menyukai karyawan saya?" Tanya Sean dengan penasaran.


"Iya. Dia sangat cantik dan anggun," jawab Nino tanpa memberitahukan jika Tifanny adalah istrinya.


"Anda menyukainya? Dia adalah karyawan baru di sini. Saya pun menyukainya. Bagaimana jika kita ajak dia bersenang-senang, tuan?" Sean menyeringai jahat.


"Maksud anda?" Nino mulai merasa was-was.


"Aku atasannya. Aku bisa meminta dia untuk melayani kita berdua. Tentu tidak akan sulit. Tinggal aku naikan gajinya menjadi 10 kali lipat, pasti dia akan mau, atau aku bisa memakai cara lain," Sean mulai berbicara blak-blakan.


"Berani-beraninya dia berkata seperti itu? " Nino mengepalkan tangannya geram. Ia sudah sangat ingin menghajar pria yang ada di hadapannya.


"Bagaimana tuan Nino? Anda tertarik? Jika anda tertarik, saya akan atur waktunya," Sean meneguk wine yang ada di dalam gelasnya.


"Saya tertarik tuan Sean," Nino tersenyum licik.


"Tetapi biarkan wanita itu yang datang sendiri. Jangan menjebaknya!" Pinta Nino lagi.


"Itu bisa diatur. Aku akan menyuruhnya untuk mengantarkan dokumen penting ke apartemenku. Kita bisa menunggunya di sana. Setelah itu, aku akan membayarnya untuk tutup mulut," Sean berbicara tanpa tahu rasa malu.


"Saya tidak menyangka anda seperti itu tuan Sean," Nino tertawa dan bertepuk tangan.


"Kapan rencananya? Aku sungguh tidak sabar," ucap Nino lagi.


"Tuan Nino, anda pun ternyata tipe pria seperti saya?" Sean tersenyum senang. Merasa ia akan mendapatkan hati Nino guna keberlangsungan perusahaannya.


"Weekend saja bagaimana?" Tawar Sean.


"Boleh. Weekend aku akan datang ke apartemenmu," Nino tersenyum dengan ekspresi yang tak terbaca.


Alden melirik Bianca dari kaca spion tengah mobilnya. Saat ini mereka sudah tiba di kota Birmingham dan sedang berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang dari Bandara ke rumah kediaman orang tua Alden.


Alden menyetir mobil, Cassie duduk di sebelahnya. Sedangkan Bianca duduk di kursi penumpang. Alden memang memarkirkan mobilnya di parkiran bandara sebelum mereka berangkat ke Norwegia. Sejak semalam, Bianca tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Alden maupun kepada Cassie.


Alden terlebih dahulu mengantarkan Cassie ke rumahnya. Setelah mengantarkan Cassie, Alden pun masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Kau tidak ingin pindah?" Alden memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


Bianca tidak menyahut. Ia menatap kosong kepada salju-salju yang turun dengan lebat hari ini.


"Aku berbicara padamu. Kau pikir kau siapa? Aku ini majikanmu. Aku seperti seorang supirmu sekarang," Alden menggerutu. Bianca tidak bergeming, bibirnya masih terkunci rapat.


Dengan kesal, Alden mulai melajukan mobilnya. Ia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, berharap Bianca akan mengeluarkan sepatah dua patah kata. Akan tetapi, gadis itu masih terdiam.


Lagi-lagi Alden melirik kaca spion tengah mobilnya. Ia menatap Bianca yang menyenderkan kepalanya sambil menatap pemandangan dari kaca mobil.


Saat sudah tiba di halaman rumah, Alden turun dari mobil tanpa menunggu Bianca turun.


"Bawakan semua barang-barangku!" Perintah Alden dengan dingin. Alden pun langsung masuk ke dalam rumahnya.


Bianca pun membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Ia mulai mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil milik Alden. Saat Bianca masuk, ia tengah melihat Alden tengah disidang oleh Hanah dan juga Steve.


"Di mana perasaanmu? Kakakmu sangat menyayangimu. Tetapi kau malah memutuskan untuk memacari wanita kurang ajar itu. Kau tidak tahu betapa malunya kami. Undangan sudah disebarkan dan yang terpenting dari itu bagaimana perasaan kakakmu? Pernikahan di depan matanya hancur sudah," air mata mengalir dari mata Hana yang sudah sembab.


"Mengapa mama hanya memikirkan kak Aiden? Kalian tidak pernah memikirkan perasaanku!" Alden berteriak.


"Kalian selalu pilih kasih kepadaku!!" Alden berteriak kembali.


"Jaga bicaramu!" Steve menampar pipi anak bungsunya itu.


"Bahkan hanya demi kak Aiden papa menamparku?" Alden memegangi pipinya.


"Selama ini kasih sayang yang kuberikan padamu kau anggap apa? Aku tidak pernah lagi memberikan satu sen pun uang untuk kakakmu. Tetapi kepadamu, aku mati-matian memenuhi segala keinginanmu yang hedonis itu. Kau ingin mobil keluaran terbaru aku belikan!!" Steve berteriak.


"Sekarang kau mau keluarga kita dihancurkan oleh wanita ular seperti Cassie?" Hanah berkata dengan geram.


"Jauhi wanita itu! Sampai mati pun kami tidak akan pernah merestuimu dengan wanita licik itu. Kami membencinya!" Perintah Steve dengan amarah yang meletup-letup di dadanya.


"Tidak akan. Aku sudah memimpikan untuk bersamanya selama ini," Alden ke luar dari rumah dan berlari menuju mobilnya.

__ADS_1


"Bi, tolong ikuti dia!" Pinta Hanah kepada Bianca dengan berlinang air mata.


Bianca pun mengangguk. Bianca langsung menghampiri Alden yang tengah berdiri di samping mobilnya.


"Mana kunci mobilku?" Alden berkata dengan dingin.


Bianca tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam kursi pengemudi.


"Jangan ikuti aku! Keluar!" Alden berusaha mengeluarkan Bianca dari mobilnya.


Bianca hanya diam dan tidak terpengaruh. Bianca segera menutup pintu mobilnya. Alden pun mengalah, ia masuk ke kursi penumpang.


"Aku tidak mau berdekatan denganmu lagi," kata Alden dengan sinis.


"Antar aku ke rumah Cassie!" Lanjutnya.


Bianca pun mengemudikan mobil berwarna hitam itu ke kediaman Cassie. Alden tampak menelfon Cassie, Cassie pun ke luar dari rumahnya.


"Honey? Kau datang? Kau tidak lelah?" Cassie masuk ke dalam mobil. Ia duduk di samping Alden dan menyenderkan kepalanya di bahunya pria itu.


"Tidak, aku tidak lelah. Temani aku ya?" Alden mengecup ranbut Cassie sambil melirik kepada Bianca.


Bianca tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Ia terus menatap fokus kepada jalanan yang ada di depannya.


"Baiklah. Kita akan ke mana?" Cassie memeluk Alden dengan begitu posesif.


"Ayo kita ke apartemenku!" Alden lagi-lagi melirik Bianca.


"Baiklah," Cassie tersenyum senang.


"Ayo kita bersenang-senang!" Seru Alden dengan nyaring.


"Kau ini! Kita baru jadian selama dua hari," Cassie mencubit gemas tangan Alden.


Alden menciumi rambut Cassie dengan sengaja. Ia ingin tahu apakah Bianca akan melarangnya seperti tempo hari.


"Honey, jangan di sini! Lihat itu ada supirmu!" Kata Cassie dengan menekankan kepada kata supir.


"Oh iya, aku lupa," Alden menarik sudut bibirnya ke atas.


"Tolong berhenti di depan! Aku harus membelikan makanan untuk kekasihku. Di apartemenku tidak ada makanan sama sekali," Alden menendang jok Bianca.


Bianca pun menghentikan mobilnya.


Alden ke luar dan membeli makanan. Cassie pun memperhatikan Bianca yang terduduk di depan.


"Nona Bianca?" Panggil Cassie.


"Iya?" Bianca menoleh.


"Jujur saja, sebagai kekasih Alden aku merasa risih dengan keberadaanmu di sini. Sepertinya Alden sudah tidak memerlukanmu lagi. Sekarang ada aku yang akan setia di sampingnya dan menemaninya. Kau tahu? Keberadaanmu sangat mengganggu privasi kami. Aku seperti dimata-matai saja olehmu. Bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu ini? Ini sungguh sangat mengganggu hubungan kami. Jika kau mau, aku akan memberikanmu uang," ungkap Cassie dengan blak-blakan.


"Anda tidak perlu melakukan itu, Nona! Karena ini adalah hari terakhir saya bekerja sebagai asistennya. Saya sudah memikirkan ini secara matang-matang dari semalam. Saya pun menyadari jika kehadiran saya tidak akan membuat nyaman kalian yang sedang kasmaran," jawab Bianca dengan datar.


"Baguslah. Ternyata kau cukup pintar untuk membaca situasi. Gadis yang pintar," Cassie tersenyum senang.


Tak berselang lama, Alden pun masuk dengan membawa dua kantong berisi makanan.


"Honey, suapi aku!" Pinta Cassie dengan manja.


Alden pun menyuapi Cassie sampai tidak terasa jika mobil yang mereka tumpangi sudah berada di halaman apartemen.


"Kau pulanglah naik taksi! Aku tidak ingin diganggu," perintah Alden dengan ketus.


Bianca pun hanya mengangguk. Ia melepas safety belt yang melingkar di tubuhnya dan ke luar dari dalam mobil.


"Dia sedang berpuasa berbicara?" Cassie tertawa.


"Dia memang aneh," Alden menatap Bianca.


Bianca berjalan ke luar dari halaman apartemen dan mencegat taksi untuk pulang. Mata Alden terus memandanginya dari kaca mobil. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Ia melihat Bianca menyetop taksi dan masuk ke dalam taksi itu.


"Mengapa ini sangat menyakitkan?" Cairan bening yang sedari tadi Bianca tahan akhirnya melompat. Bianca menangis dengan tersedu.


"Aku salah sudah jatuh cinta padamu," tangis Bianca semakin menjadi.


"Nona, anda baik-baik saja?" Supir taksi Bianca merasa panik mendengar penumpangnya menangis seperti itu.


"Aku baik-baik saja. Maaf ya, Pak?" Bianca berkata dengan parau.


"Tidak apa-apa, Nona."


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2