Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Bunga Gardenia


__ADS_3

Sepulang bekerja, Nino membeli sebuket bunga Gardenia untuk Tifanny. Nino memang berangkat bekerja karena ada hal penting yang harus ia urus di kantor. Untungnya ada Meghan dan David yang menjaga Tifanny di Rumah Sakit.


"Sayang?" Nino tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang perawatan istri dan anaknya.


"Kau sudah pulang?" Tifanny tersenyum menatap buket bunga Gardenia berwarna putih yang ada di tangan suaminya.


"Sudah. Maafkan aku karena hari ini aku tidak bisa menemanimu!" Nino menyeka keringat yang sedikit membasahi keningnya.


"Tidak apa-apa. Kau sudah makan?" Tifanny memperhatikan raut wajah Nino yang terlihat kelelahan. Pasalnya Nino memang langsung terburu-buru ke Rumah Sakit saat pekerjaannya sudah selesai.


"Belum. Oh iya, ini untukmu!" Nino memberikan bunga Gardenia yang ia beli.


"Bunga ini melambangkan kesetiaan dan rasa cintaku untukmu," Nino mengambil tangan Tifanny dan menciumnya.


"Kau ini selalu saja gombal!" Tifanny tertawa dan mengambil buket bunga yang diberikan oleh suaminya.


"Tidak gombal. Itu benar-benar dari lubuk hatiku. Aku akan selalu setia dan jatuh cinta padamu sampai kita menua dan bertemu di kehidupan selanjutnya," Nino menatap Tifanny dengan serius.


"Kak Nino jago gombal ya?" Meghan tertawa.


"Untung papa sedang ke kantin. Kalau ada papa, pasti papa tertawa juga," lanjut Meghan masih sembari tertawa.


"Meghan, kau belum merasakan apa yang kakak rasakan. Lihat saja jika nanti kau sudah jatuh cinta, kau akan seperti kakak!" Ucap Nino pada adik iparnya.


"Meghan tidak boleh berpacaran dulu! Dia harus menamatkan kuliahnya dulu," potong Tifanny.


"Sayang, jangan mengekang adik kita seperti itu! Kuliah kedokteran sangat lama, apalagi menjadi dokter spesialis. Biarkan saja Meghan memilih jalan hidupnya, asal dengan pria baik-baik. Iya kan Meghan?" Nino menoleh kepada adiknya.


"Kak Nino benar, kak. Jadi dokter kan lumayan lama. Meghan ingin nikah muda," Meghan tersenyum membayangkan dirinya menikah muda.


"Sayang, pikiranmu terlalu jauh. Fokus dulu saja kuliah ya?" David menyambar obrolan mereka. Ia baru saja masuk ke dalam kamar perawatan putrinya.


"Iya, Pa," Meghan mengalah.


"Sayang, mana Archie?" Nino berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ranjang Archie.


"Dia baru tidur. Jangan mengganggunya!" Ucap Tifanny kepada Nino.


"Tapi aku ingin menggendongnya. Boleh ya?" Nino memasang wajah memelas.


"Sayang, bajumu belum diganti. Tanganmu pun belum di cuci. Kau yakin ingin menggendong Archie?"


"Baiklah, sayang. Aku tidak akan menggendongnya dulu," Nino mengalah. Ia pun duduk lagi di samping Tifanny.


"Sayang, kau pasti lapar kan? Makanlah ini!" Tifanny mengambil buah-buahan yang ada di sampingnya.


"Sayang, biar aku saja yang mengupas!" Nino mengambil alih apel yang akan Tifanny kupas.


Nino mengupas apel yang ada di tangannya dan dengan hati-hati menyuapi Tifanny dengan apel yang sudah bersih dari kulitnya.


"Sayang, kau kan yang lapar?" Kata Tifanny sembari mengunyah apel yang disuapi oleh Nino.


"Ya sudah kita makan bersama saja ya. Papa dan Meghan mau?" Nino menawarkan.


"Tidak, kak. Pa, dari pada kita mengganggu lebih baik kita berjalan-jalan saja yu di Rumah Sakit ini?" Meghan menoleh ke arah ayahnya.


"Ayo, sayang! Papa akan menunjukan hal-hal yang penting agar kau sedikit belajar ilmu kedokteran di Rumah Sakit ini," David menyetujui.


"Kak Nino, kak Fanny? Meghan dan papa keluar dulu. Ayo, Pa!" Meghan menggandeng tangan ayahnya.


Tifanny dan Nino pun tersenyum menatap Meghan yang sekarang sangat dekat dengan David.


"Sayang, aku belikan ini juga!" Nino memberikan bungkusan plastik kepada Tifanny.


Tifanny pun membuka plastik itu. Ia pun melihat isinya yang ternyata adalah pembalut.


"Aku belikan karena khawatir stokmu menipis di sini," Nino berkata dengan enteng.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak malu membelinya?" Tifanny merasa aneh dengan tingkah suaminya.


"Tentu saja tidak. Untuk istriku kenapa aku harus malu?"


Tifanny pun tidak menjawab. Ia membaringkan tubuhnya dan membelakangi Nino.


"Sayang, kau kenapa?" Nino merasakan gelagat mencurigakan dari istrinya.


"Sayang?" Nino berdiri dan mengguncang tubuh Tifanny sedikit.


Nino berjalan ke arah Tifanny menghadap. Ia melihat mata istrinya berkaca-kaca.


"Kau kenapa?" Nino merapikan rambut Tifanny yang sedikit menutupi wajahnya.


"Kau pasti sering membelikan pembalut untuk mantan pacarmu kan? Mengapa kau begitu terbiasa membeli hal yang seperti itu?" Tifanny berkata dengan jengkel.


"Sayang, aku tidak pernah membelikan mantan pacarku barang seperti itu. Aku memang pernah ikut membelikan seorang wanita pembalut tetapi bukan mantan pacar. Dia adalah istri Kai, Alula. Setelah Alula melahirkan, Kai memintaku dan Alden untuk pergi ke Super Market dan membeli pembalut untuk istrinya," Nino menjelaskan dengan begitu lembut. Ia memahami jika Tifanny tengah cemburu.


"Mengapa kau ikut untuk membelinya?"


"Karena Kai membawa kami ke Super Market. Aku tidak tahu dia akan membeli apa, eh ternyata membeli pembalut. Ya sudah, aku dan Alden membantu membelikannya, tentunya dengan bermodal internet juga. Kami tidak tahu yang cocok untuk perempuan yang seperti apa. Jadi, pada akhirnya kami membeli semua merk," Nino menceritakan masa lalunya saat berbelanja bersama Kai dan juga Alden.


Tifanny pun tertawa mendengar penuturan suaminya.


"Mengapa kau tertawa?" Nino mencubit pipi Tifanny dengan gemas.


"Habisnya kalian konyol sekali. Dari kuliah selalu saja bertiga. Membeli hal seperti itu pun bertiga," Tifanny masih tertawa.


Nino pun mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Tifanny.


"Aku senang melihatmu tertawa. Semoga aku tidak akan pernah membuatmu dan Archie bersedih," Nino menciumi seluruh wajah istrinya.


"Kau tidak pernah membuatku bersedih," Tifanny menggelengkan kepalanya.


"Aku harap begitu. Aku harap selalu membuat kalian bahagia," Nino menempelkan keningnya di kening Tifanny.


****


"Alden?" Bianca mendatangi suaminya yang sedang asik dengan tontonannya.


"Ada apa?" Sahut Alden tanpa menoleh ke arah Bianca.


Bianca pun duduk di samping Alden. Ia mengambil remote TV dan mematikannya.


"Ada apa, Ca? Aku sedang menonton," Alden hendak mengambil remote itu kembali dari tangan Bianca.


"Alden, aku rindu papa. Aku ingin ke kota Cambridge," Bianca memasang wajah memelas ke arah suaminya.


"Ca, bukankah kau akan berbicara dulu kepada Tifanny perihal rumah? Setelah berbicara padanya, nanti juga papa, mama dan yang lain akan pindah ke kota ini," timpal Alden sembari mengambil cemilan yang ada di atas meja.


"Tapi aku ingin bertemu papa. Aku ingin rambutku di usap oleh papa," Bianca merengek.


"Ca, kau seperti anak kecil saja!"


"Apa? Anak kecil? Kau tidak merasakan rasanya jauh dari orang tua," mata Bianca sudah tergenang oleh cairan bening.


"Kau benar-benar tidak mengerti aku. Aku rindu papa," Bianca menangis.


"Ca, jangan menangis! Hey, maafkan aku!" Alden hendak menjangkau wajah Bianca.


"Kau jahat!" Bianca berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamar.


"Ada apa?" Hannah yang melihat Bianca berlari sambil menangis mendekati putra bungsunya.


"Bianca ingin ke kota Cambridge, Ma. Dia bilang rindu papanya."


"Ya sudah. Tunggu apa lagi? Antarkan istrimu ke kota Cambridge!" Hannah memberikan perintah.

__ADS_1


"Tapi, Ma-"


"Tidak ada tapi-tapian. Kau bilang mencintai istrimu kan? Baru saja dia minta untuk di antar ke kota Cambridge, kau sudah tidak mau," sindir Hannah sembari mendudukan dirinya di samping Alden.


"Kan papa Bobby juga nanti datang ke kota ini, Ma. Papa Bobby akan datang untuk mencoba mendirikan bisnis toko kue bersama Alden," Alden mengelak.


"Tapi istrimu rindu ayahnya sekarang. Kau tidak kasihan pada dia? Bianca sudah lama hidup sendiri dan jauh dari keluarga. Wajar kan bila dia rindu kedua orang tuanya?" Hannah membela Bianca.


"Baiklah, Ma. Alden akan mengantarkannya ke kota Cambridge," Alden berdiri dari duduknya.


"Nah itu putra mama," Hannah tersenyum puas mendengar ucapan Alden.


"Sayang?" Panggil Hannah saat Alden akan berjalan menuju kamarnya.


"Iya, Ma?"


"Apa akhir-akhir ini ada yang aneh dengan istrimu?" Tanya Hannah penuh selidik.


"Iya, Ma. Bianca menjadi sangat aneh. Setiap makan, dia ingin disuapi oleh tangan Alden. Setelah disuapi, makannya dimuntahkan lagi, lalu marah-marah tidak jelas, tiba-tiba menangis, tiba-tiba moodnya baik. Oh iya, tengah malam pun Alden sering dibangunkan olehnya. Bianca meminta Alden mengantar ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tapi itu sangat sering sekali," Alden mengadu kepada ibunya.


"Turuti saja semua kemauannya ya?" Hannah menitipkan pesan.


"Iya, Ma. Alden susul dulu Bianca," Alden berpamitan dan berjalan kembali ke arah kamarnya.


"Aku harus melapor kepada papa," Hannah berlari menuju kamarnya.


"Pa?" Hannah berteriak.


"Ada apa?" Jawab Steve yang sedang menonton berita di dalam kamarnya.


"Sepertinya kita akan segera memiliki cucu!!" Teriak Hannah dengan suka cita.


"Cucu? Maksudmu kita akan menggendong anak kecil lagi, seperti ini?" Steve memeragakan saat menggendong bayi.


"Iya. Kita akan dapat bayi dari anak kita," Hannah memegang tangan suaminya dengan gembira.


"Yeaay! Kita akan punya bayi lagi. Sudah lama sekali aku tidak menggendong bayi. Aku berharap bayinya kembar saja, jadi aku bisa menggendongnya dengan kedua tanganku. Seperti ini," Steve memeragakan menggendong dua bayi sekaligus di tangannya.


"Eh, tapi mama tahu dari mana?" Steve bertanya serius kepada istrinya.


"Bianca sudah menunjukan dirinya hamil. Ayo kita pergi ke apotek dan membeli tespack! Otak putra kita tidak akan sampai ke sana, jadi kita yang harus berinisiatif," Hannah mengambil tasnya.


"Ayo, Ma! Kita beli semua merk tespack!" Steve menyetujui.


Sementara itu Alden pun masuk ke dalam kamar, ia melihat Bianca tengah terduduk dengan wajah yang murung.


"Ca, ayo kita pergi ke kota Cambridge!" Ajak Alden yang membuat raut wajah Bianca bersinar seketika.


"Alden, terima kasih!" Bianca mendekat ke arah Alden dan berjinjit untuk mencium suaminya.


"Iya, Ca. Apapun akan aku lakukan untukmu," Alden tersenyum senang melihat Bianca yang gembira kembali.


Setelah bersiap-siap, Bianca dan Alden pun pergi ke kota Cambridge. Perjalanan terasa sangat seru karena Alden dan Bianca terus mengobrol sepanjang perjalanan. Saat tiba di gerbang kota Cambridge. Tiba-tiba Bianca bersender dengan lesu.


"Ca, kau baik-baik saja?" Alden bertanya dengan khawatir.


"Aku ingin pulang saja. Aku rindu kamar kita," jawab Bianca yang membuat Alden dongkol seketika.


"Tapi, Ca. Ini sudah sampai di kota Cambridge. Katanya kau ingin ke rumah papa?"


"Sekarang tidak. Lagi pula papa kan akan datang ke kota Birmingham. Jadi, untuk apa kita ke sini?" Jawab Bianca dengan enteng.


"Tapi, Ca kita sudah jauh-jauh ke sini," Alden berusaha membujuk Bianca. Minimal mereka sampai di kediaman Bobby terlebih dahulu.


"Aku ingin pulang, Alden. Aku rindu kamar kita. Aku rindu berbaring di kasur kita," Bianca merengek lagi.


"Iya, Ca. Ayo kita pulang!" Alden mengalah. Ia memutar kembali mobilnya menuju kota Birmingham.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa dengan Bianca? Sifatnya sangat aneh akhir-akhir ini. Apa dia kemasukan setan? Atau dia terkena guna-guna oleh ilmu sihir atau semacamnya? " Batin Alden sembari melirik ke arah istrinya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2