Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengirim Pesan


__ADS_3

Semenjak kejadian Tifanny terjatuh di Beacon Hill, Nino melarang Tifanny beraktifitas ke luar rumah. Bahkan Nino memindahkan kamar mereka menjadi di lantai satu agar istrinya tidak perlu turun dan naik tangga. Nino juga memperkerjakan asisten rumah tangga untuk menghandle semua pekerjaan rumah yang biasa Tifanny lakukan.


"Aku bosan," Tifanny berguling ke sana ke mari. Pekerjaannya sekarang hanya berdiam diri di kasur tanpa melakukan aktivitas apapun.


"Aku ingin mencari udara segar," Tifanny keluar dari kamarnya dan mengendap-endap berjalan ke luar rumah. Nino memang meminta asisten rumah tangganya melapor jika Tifanny berusaha keluar dari rumah.


"Akhirnya aku bisa keluar," Tifanny menghirup dalam-dalam udara segar di pekarangan rumahnya.


Tifanny berjalan dari halaman rumahnya, ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area perumahan tempat tinggalnya. Ketika ia melewati rumah Kai, Tifanny mendengar suara teriakan.


"Suara apa itu?" Dengan cepat Tifanny berjalan menghampiri rumah Kai.


"Kai?" Tifanny mengetuk pintu dengan keras setelah ia menyalakan bell.


Kai pun terlihat membuka pintu dengan wajah yang panik.


"Fann? Tolong aku! Alula akan melahirkan," seru Kai dengan wajah yang sangat resah sambil menggendong Jasper.


"Kalau begitu mengapa kau tidak membawanya ke Rumah Sakit?" Tifanny tak kalah panik.


"Aku sedang menelfon ambulance. Jasper juga tidak ada yang menggendong," Kai terlihat semakin panik.


"Biar aku yang menggendong," Tifanny mengambil Jasper dari tangan Kai.


"Ayo kita bawa istrimu ke Rumah Sakit!" Lanjutnya.


Kai pun berlari masuk ke dalam rumah dan kemudian ia terlihat membopong tubuh istrinya.


Tifanny membawa Jasper masuk ke dalam kursi penumpang. Begitu pun dengan Alula yang di dudukan di kursi penumpang.


"Berbaringlah! Semoga akan menetralisir rasa sakitnya," ucap Tifanny.


Alula pun berbaring dan menjadikan paha kanan Tifanny sebagai bantal. Sementara Jasper di dudukan di paha kiri Tifanny.


"Sakit!!" Rintih Alula sambil memejamkan matanya.


"Tahanlah, Al!" Tifanny menyeka keringat yang membasahi dahi Alula.


"Cepatlah, Kai! Istrimu sangat kesakitan!" Teriak Tifanny kepada Kai yang fokus menyetir.


"Aku panik," tangan Kai tampak bergetar ketika memegang kemudi.


"Santailah! Tarik nafasmu! Jangan panik!" Tifanny memberikan aba-aba.


Kai pun berusaha untuk bersikap tenang. Dengan pasti, ia menambah laju kecepatan mobilnya agar segera sampai di Rumah Sakit.


Setelah sampai di Rumah Sakit, Kai segera membopong tubuh istrinya. Dengan sigap, tenaga medis pun segera membawa Brankar dan membawa Alula.


"Kai, aku di sini dulu. Aku tidak bisa membawa Jasper masuk ke dalam area Rumah Sakit. Dia masih sangat kecil," ucap Tifanny sambil menggendong Jasper. Ia kini berada di area depan Rumah Sakit.


Kai mengangguk. Ia pun berlari menyusul para staff medis yang membawa istrinya.


"Aku telfon dulu mommy agar ada yang menjaga Jasper. Kasihan Tifanny, apalagi dia sedang hamil," gumam Kai saat Alula dibawa masuk ke dalam ruangan bersalin.


Kai menghubungi keluarganya dan keluarga istrinya. Dokter pun memberitahukan jika tindakan operasi Caesar akan dilakukan karena jarak kehamilan yang cukup dekat antara anak pertama dan anak kedua. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir hal yang tidak di inginkan. Kai pun dengan cepat mengurus segala administrasi untuk tindakan operasi istrinya.


"Sayang, jangan tendang perut aunty ya?" Ucap Tifanny dengan lembut karena Jasper terus menggerakan kakinya ke arah perutnya.


"Jasper?" Teriak seorang wanita. Rupanya itu adalah orang tua Kai dan juga orang tua Alula yang sudah tiba di Rumah Sakit.


"Fann? Terima kasih karena sudah menjaga cucu kami," Sofia mengambil alih Jasper dari tangan Tifanny.


"Sama-sama, Tante," balas Tifanny.


"Sofi, lebih baik aku saja yang menjaga Jasper," kata ibu dari Alula.

__ADS_1


"Baiklah. Aku masuk dulu untuk menemui Kai," timpal Sofia. Ia menyerahkan Jasper kepada orang tua Alula.


Jasper pun dibawa pulang oleh ibu dari Alula. Tifanny pun ikut masuk untuk memastikan keadaan istri temannya.


"Bagaimana, Kai?" Tanya William kepada putranya.


"Sebentar lagi akan dimulai operasinya, Dadd," jawab Kai dengan wajah yang cemas.


"Tenanglah, sayang! Istrimu akan baik-baik saja," Sofia tampak menenangkan Kai.


Kai pun mengangguk kemudian ia menoleh ke arah Tifanny.


"Fann, terima kasih karena sudah membantuku tadi," tutur Kai dengan tulus.


"Sama-sama, Kai. Kita kan berteman dan bertetangga."


Alula pun sudah dibawa ke dalam ruangan operasi untuk segera dilakukan operasi caesar.


"Aku jadi deg-degan. Apa nanti aku melahirkan normal atau dengan prosedur operasi juga?" Tifanny menatap pintu ruang operasi.


Operasi pun dilakukan, Kai dan keluarganya juga Tifanny terduduk di kursi tunggu.


"Fann, minumlah! Kata Kai kau sedang hamil," Sofia memberikan air mineral kepada Tifanny.


"Terima kasih tante," Tifanny mengambil air itu dan meminumnya.


"Fann, aku telfon Nino saja ya? Agar dia menjemputmu ke sini," Kai tampak khawatir. Apalagi ia tahu jika Tifanny baru keluar dari Rumah Sakit.


"Tidak apa. Aku ingin melihat bayinya. Di rumah aku bosan," jawab Tifanny yang masih terduduk.


"Baiklah," Kai mengangguk kemudian ia melanjutkan mondar-mandir di depan pintu ruangan operasi.


Beberapa saat kemudian, perawat membuka pintu. Mereka membawa Alula dan bayinya menuju ruang perawatan.


Kai, dan yang lainnya pun mengikuti langkah perawat itu.


Mata Kai berkaca-kaca saat melihat anak keduanya. Rasanya seperti kemarin ia menimang Jasper saat baru terlahir ke dunia. Tifanny, Sofia dan William pun tersenyum melihat kebahagiaan itu.


"Kau mirip sekali dengan ibumu, Nak," bisik Kai saat melihat wajah anaknya.


"Dia lucu sekali," Tifanny mendongkak untuk melihat wajah bayi itu.


"Selamat ya, sayang?" Sofia mengelus rambut putranya.


"Kau namakan siapa, Kai?" Tanya William.


"Aku namakan Kimberly Allen," tukas Kai.


"Nama yang cantik," timpal Tifanny sambil menatap kepada bayi Alula dan Kai.


****


Waktu yang Alden nanti-nantikan pun tiba. Ia melihat Bianca beberapa kali menghubunginya dan mengirimkannya pesan.


"Alden, aku minta maaf untuk kejadian waktu itu," bunyi pesan yang dikirimkan Bianca.


"Yess! Akhirnya dia yang menghubungiku lebih dulu," Alden kegirangan di dalam kamarnya.


"Aku biarkan saja," Alden menyimpan ponselnya.


Setelah tahu Alden tak kunjung membalas pesannya, Bianca pun menghubungi Aiden untuk mengetahui keadaan Alden.


"Dia ada di rumah," jawab Aiden saat Bianca menghubunginya.


"Kalian ada masalah apa?" Tanya Aiden.

__ADS_1


"Tidak ada. Kalau begitu terima kasih untuk informasinya kak," Bianca menutup panggilan telfonnya.


"Aku memang sudah keterlaluan padanya," Bianca menghembuskan nafasnya pelan.


Hari telah berganti, Alden tak jua menjawab panggilan Bianca.


"Sepertinya memang kau tidak ingin berhubungan denganku lagi," Bianca tersenyum getir.


"Baiklah. Aku tidak akan mencarimu lagi," tekadnya. Ia pun memblokir nomor Alden.


"Kenapa seharian ini dia tidak menghubungiku? Apa aku keterlaluan padanya?" Alden melihat layar ponselnya dengan panik.


"Aku telfon saja," Alden mencoba menghubungi nomor Bianca tetapi nomornya tidak bisa dihubungi.


"Jangan-jangan nomorku di blokir," resah Alden saat ia tidak melihat foto Bianca di aplikasi chatting berwarna hijau.


"Ceklis satu," Alden semakin panik karena ketakutannya semakin benar.


"Aku harus menemuinya," Alden mengambil kunci mobil miliknya di atas nakas. Tapi saat ia sudah di halaman rumahnya, Alden urung untuk berangkat.


"Mengapa dia jadi yang marah ya?" Alden bertanya-tanya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Aiden saat melihat adiknya seperti kebingungan.


"Tidak. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Alden dengan lemas.


"Kemarilah! Ceritakan semuanya kepada kakak!" Aiden terduduk dan mengajak Alden untuk duduk.


Alden pun menceritakan semua permasalahannya dengan Bianca kepada kakaknya itu.


"Jadi, kau akan menyusulnya?" Aiden memperhatikan raut wajah bingung adiknya.


"Sepertinya tidak, kak. Aku heran mengapa jadi dia yang marah," Alden tampak tidak mengerti.


"Ego kalian sama-sama tinggi," Aiden tertawa.


"Oh iya kak. Aku ingin meminta maaf karena sudah menyakiti hati kakak dengan bersama Cassie," Alden menatap wajah kakaknya dengan sendu.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kakak bersyukur kau sudah menyadari semuanya dan kakak bersyukur tidak jadi menikah dengannya," Aiden menepuk bahu adiknya.


"Terima kasih, kak. Aku masuk dulu!" Alden berdiri dari duduknya.


"Kau tidak jadi mendatangi Bianca?" Aiden berteriak.


"Tidak. Aku butuh waktu untuk merenung dulu," sahut Alden. Ia pun masuk ke dalam kamarnya.


"Dua orang bodoh sedang jatuh cinta memang merepotkan," Aiden menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya kali ini aku harus membantu mereka," Aiden tersenyum saat sebuah ide melintas di kepalanya.


Tengah malam, Aiden mengirimkan pesan kepada Bianca dengan nomornya yang baru yang sengaja ia beli sore hari tadi.


"Ca, ini aku Alden. Besok aku akan pergi ke luar negeri dan tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini. Aku berharap kau bahagia dan menemukan pendamping hidup yang baik. Tidak sepertiku. Besok aku akan berangkat pukul 12. Selamat tinggal!" Aiden mengetik pesan itu dan mengirimkannya kepada nomor Bianca.


Aiden pun mengetik pesan teks lagi.


"Alden, setelah semua yang telah kita lalui, aku tidak menyangka harus mengucapkan kalimat perpisahan kepadamu. Besok pukul 12 aku akan pergi ke luar negeri. Aku menemukan sebuah pekerjaan di negara lain dan gajinya lumayan besar. Aku harap kau menemukan wanita yang baik untukmu," Aiden mengirim pesan yang ia ketik kepada nomor adiknya.


"Selesai. Aku mengantuk," Aiden pun merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tertidur.


Pagi harinya, Alden dan Bianca yang membaca pesan itu pun membelalakan matanya. Hati mereka tampak tak karuan ketika membaca pesan yang itu.


"Jangan tinggalkan aku lagi!" Bianca langsung menangis dengan tersedu ketika membaca pesan itu.


"Tidak. Dia tidak boleh pergi," teriak Alden di dalam kamarnya.

__ADS_1


Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Pernikahan Karena Dendam 🤗


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2