
Hari ini Alden mengundang Nino dan Kaivan datang ke rumahnya. Semenjak Kai memiliki anak, mereka memang jarang untuk berkumpul bersama. Kai sudah menerima pernikahannya dan mencintai istrinya yang bernama Alula. Kai dan Alula pun sudah dikaruniai anak laki-laki bernama Jasper Allen.
"Kai, tumben kau bisa ke luar rumah!" Tanya Alden kepada Kai.
"Iya, biasanya kau akan dikurung oleh istrimu," Nino tertawa meledek.
"Malah aku yang memaksanya untuk menahanku supaya tidak pergi bertemu kalian," jawab Kai dengan jujur.
"Mengapa bisa begitu?"
"Istriku sedang bertemu dengan kedua sahabatnya, makanya aku di usir dari rumah," Kai membaringkan tubuhnya di kasur Alden.
"Jadi, sebenarnya kau tidak niat bertemu dengan kami?" Tanya Nino kepada Kai.
"Bukan begitu, hanya saja ketika kau sudah menikah, yang akan jadi prioritasmu adalah anak dan istrimu. Sehari pun kau tidak akan mampu kehilangan momen bersama istri dan anakmu. Makanya menikahlah! Agar kalian tahu rasanya!" Kai memandang Nino dan Alden bergantian.
"Dulu saja kau mengamuk ketika akan menikah dengan Alula," Alden berdecak pelan.
"Kau ingat ketika Kai berkata dia akan membuat Alula menderita?" Nino mengingatkan sembari tertawa.
"Diamlah! Itu tidak lucu," Kai terbangun dan memukul bahu Nino.
"Mengapa kau tidak mengajak Jasper ke mari?" Tanya Nino.
"Jasper ingin bersama Alula."
"Ngomong-ngomong soal pernikahan. Sahabat kita akan segera menyusulmu Kai," Alden melirik kepada Nino.
"Siapa?" Tanya Kai penasaran.
"Nino di jodohkan oleh kedua orang tuanya," Alden membocorkan.
"Siapa wanita itu? Dia Tifanny? Alden kan dulu sempat bercerita padaku jika kau bertemu lagi dengan gadis itu."
"Bukan. Dia teman masa kecilku. Kau ingat saat aku meminta bantuan Alula untuk memilihkan tas? Nah tas itu untuknya, mommy menyuruhku membelikan tas itu untuk temanku itu."
__ADS_1
"Jangan ingatkan itu! Aku jadi mual mendengarnya. Aku teringat di hari itu, ketika Alula mengidam dan menyuruh kita untuk memakai baju spongebob. Rasanya harga diriku langsung jatuh ke level terbawah," Alden memandang Kai dengan kesal.
Alden teringat kejadian dulu saat Nino meminta Alula memilihkannya tas, di mana kejadian itu berujung Alula meminta Kai, Nino dan Alden untuk memakai baju spongebob. Mereka pun terpaksa mengiyakan karena Alula sedang mengidam.
"Namanya wanita sedang mengidam ya seperti itu," Kai terkekeh melihat wajah Alden.
"Jadi, dia teman masa kecilmu itu? Kau mau menikah dengannya?" Kai mengalihkan pandangannya kembali kepada Nino.
"Sejujurnya aku tidak mau. Aku hanya ingin menikah dengan Odelia atau Tifanny," Nino menyenderkan tubuhnya di sofa dan melihat langit-langit kamar Alden.
"Kau ini sungguh pria yang tidak memiliki pendirian! Pilih saja Tifanny atau Odelia!" Gerutu Alden.
"Bukan begitu, hanya saja aku belum banyak menghabiskan waktuku dengan Tifanny. Bahkan aku terpisah dengannya selama 3 tahun. Sementara dengan Odelia, aku menghabiskan waktuku dari SD sampai dengan kelas 1 SMA. Dia cinta pertamaku," Nino membayangkan wajah Odelia dan juga wajah Tifanny secara berbarengan.
"Lupakan Odelia! Dia hanya memberikanmu harapan palsu!" Kai memberikan saran. Nino hanya diam mendengar ucapan Kai.
"Dan aku pikir kau sudah move on dengan Tifanny. Ingat kita hanya menjadikan dia taruhan?" Kai mengingatkan.
"Kau tidak perlu mengingatkan. Aku masih mengingatnya. Sejujurnya dia masih kekasihku sekarang," Nino bergumam yang terdengar oleh Alden dan juga Kai.
"Kalian ingat saat aku menyatakan perasaanku padanya malam itu? Malam itu kan aku sudah resmi berpacaran dengan Tifanny, tetapi kalian keburu merusak kebahagiaanku."
"Salah kau sendiri, kau tidak terbuka pada kami," Alden menolak untuk disalahkan.
"Lalu, maksudnya dia masih kekasihmu?" Kai tampak tidak mengerti.
"Setelah kejadian itu. Baik aku maupun Tifanny tidak pernah berkata putus. Berarti aku masih kekasihnya kan?" Tanya Nino dengan raut wajah gembira.
"Mana ada kekasih yang terpisah selama 3 tahun tanpa memberi kabar satu sama lain," Alden meledek.
"Jangan menyakitinya lagi! Terlebih kau akan menikah dengan gadis lain!" Kai mengingatkan.
"Tidak. Aku akan mencari cara agar tidak di jodohkan dengan wanita pilihan mommy," Nino tampak membulatkan tekadnya.
"Bagaimana denganmu, Den? Kau sudah memilih wanita yang akan menemani sisa hidupmu?" Tanya Nino.
__ADS_1
"Aku belum berpikir ke arah sana. Menikah? Bahkan konsep itu tidak ada di dalam pikiranku. Aku masih ingin bersenang-senang!" Jawab Alden.
"Kali ini siapa wanita yang kau kencani?" Kai menyipitkan matanya.
"Aku sedang mengencani seorang wanita yang cantik. Dia seorang jaksa muda di kota ini. Bodynya Wooww! Seperti ini!" Alden menggerakan tangannya menggambarkan bentuk tubuh wanita itu.
"Jaksa muda? Aku jadi teringat Fiona. Tapi mana mungkin. Jaksa muda di kota ini sangat banyak," Nino menepis kecurigaannya kepada Fiona.
"Kau jangan sembarangan meniduri wanita. Jika kau terkena penyakit bagaimana?" Kai menasehati sahabatnya.
"Tenang saja, Kai. Ada pengaman. Pelayanannya memuaskan. Setiap akhir pekan, dia selalu datang ke apartemen pribadiku. Dia yang selalu menawarkan dirinya sendiri," Alden bercerita dengan bangga.
"Lalu, apakah kelak kau akan menikahi wanita itu?" Tanya Nino.
"Haha, kau gila? Hey, No! Walau pun aku laki-laki berengs*k, tapi aku ingin mendapatkan seorang istri yang baik-baik, bukan wanita yang sudah terjam*h banyak pria. Ya, seperti Alula dan Tifanny lah," Alden tersenyum.
Nino dan Kai yang mendengar langsung memelototkan matanya kepada Alden.
"Maksudku wanita baik-baik seperti mereka. No, jika kau jadi menikah dengan wanita pilihan ibumu. Aku akan mendekati Tifanny jika aku siap menikah," Alden tampak menggoda Nino.
"Awas saja jika kau mengganggunya!" Nino menatap Alden dengan geram.
"Kau ini serius sekali? Aku hanya bercanda. Nah, ini pacarku menelfon. Sebentar ya?" Alden berdiri dan ke luar dari kamar untuk menerima telfon. Tak lama, Alden langsung masuk kembali menemui Nino dan Kai.
"Tuh apa aku bilang, wanita ini yang menyodorkan tubuhnya untukku! Dia mengajakku berkencan ke hotel! Sepertinya dia memang tergila gila padaku," Alden bercerita dengan blak-blakan.
"Aku jadi ingin melihat kekasihmu itu," ucap Nino.
"Nanti aku akan mengenalkanmu padanya, No. Bagaimana jika akhir pekan kita dinner bersama?"
"Aku tidak bisa. Aku harus membantu Alula menjaga Jasper," Kai langsung menolak.
"Ya sudah. Aku akan mengenalkan kekasihku padamu, No," Alden menatap Nino.
"Baiklah, akhir pekan kita dinner," Nino menyetujui.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...