
Nino menemani Tifanny wisuda hari ini. David, Meghan, Eliana dan Arley pun turut menghadiri wisuda Tifanny.
"Sayang, selamat ya?" Nino memeluk Tifanny setelah rangkaian wisuda telah usai.
"Terima kasih, sayang," Tifanny membalas pelukan suaminya.
"Akhirnya putri papa bisa wisuda. Maafkan papa! Seharusnya kau di wisuda tiga tahun yang lalu," giliran David memeluk putri sulungnya. David menangis mengingat perlakuannya dulu saat di Amerika.
"Tidak apa-apa, Pa. Memang waktunya Fanny wisuda sekarang," Tifanny mengelus punggung David.
"Kak? Selamat ya? Doakan Meghan juga bisa lulus dan wisuda seperti kakak," Meghan menyerahkan bunga yang ia beli untuk kakaknya.
"Terima kasih, sayang."
"Setelah ini mari kita makan malam bersama!" Ajak Eliana kepada keluarganya.
"Mommy benar. Ayo kita makan malam!" Dukung Arley.
"Ayo, makan malamnya di rumah Nino dan Tifanny saja ya?" Nino menimpali.
"Baiklah. Sekalian mommy dan daddy ingin menginap di rumahmu," tandas Eliana.
Tifanny, Nino dan keluarganya pun pulang setelah puas berfoto di lingkungan kampus. Tak lupa mereka mampir terlebih dahulu di studio foto untuk foto keluarga.
Malam harinya....
"Fann, setelah ini apa rencanamu?" Tanya Arley ketika mereka berkumpul di meja makan.
"Fanny ingin bekerja Dad," jawab Tifanny kepada ayah mertuanya.
"Sayang, aku tidak setuju kau bekerja. Bukankah aku sudah mencukupi segala kebutuhanmu?" Nino menoleh ke arah istrinya.
"Kau tidak boleh membatasi istrimu. Kasihan Tifanny. Pasti dia akan bosan di rumah," Eliana mengingatkan.
"Benar apa kata ibumu. Istrimu pasti bosan di rumah. Biarkan dia berkarier terlebih dahulu. Setelah hamil, Tifanny harus resign dari pekerjaannya. Bagaimana?" Arley memberi opsi kepada Nino.
"Bagaimana pendapat papa?" Nino meminta saran dari ayah mertuanya.
"Papa terserah kepada Tifanny dan kepadamu saja. Bagaimana pun Tifanny harus mendapatkan izin dari suaminya karena sekarang dia sudah mempunyai keluarga dan bukan seorang gadis lagi," David menengahi.
"Sayang, boleh kan? Setelah aku hamil, aku akan resign," Tifanny menatap wajah Nino dengan penuh harap.
Nino pun tampak berfikir lama.
"Baiklah, asal jangan sampai terlalu lelah ya?" Nino menyetujui.
"Sayang, terima kasih," Tifanny tersenyum senang.
Nino pun berusaha memaksakan senyumnya karena di hatinya masih sedikit ada rasa tidak setuju. Nino takut waktu kebersamaannya berkurang karena istrinya bekerja.
****
"Aku ketiduran," Alden mengerjap-ngerjapkan matanya.
Tubuhnya masih menempel dengan tubuh Bianca.
"Suhu tubuhnya hangat," Alden merasakan suhu tubuh Bianca yang menghangat.
"Lebih baik aku segera pakai baju. Aku takut dia menerkamku hidup-hidup jika tahu aku menghangatkannya dengan cara seperti ini," Alden diam-diam ke luar dari dalam sleeping bagnya.
Saat ia berusaha membuka sleting sleeping bag miliknya, tangan Alden tak sengaja menyentuh sesuatu. Wajahnya langsung memerah seketika.
"Aku tidak sengaja ya, Ca?" Gumam Alden saat ia tak sengaja menyentuh bagian atas tubuh Bianca.
"Mengapa ada saja gangguan jika aku akan bertaubat?" Gerutu Alden. Tangannya segera membuka sleeping bag yang membungkus tubuhnya dan Bianca.
Setelah berhasil ke luar, Alden langsung memakai pakaiannya kembali.
"Ini jam berapa?" Alden mencari jam tangan miliknya.
"Sudah jam 2 siang. Aku dan Bianca lama sekali tertidur," sambungnya.
"Aku pakaikan lagi baju dia atau tidak ya?" Alden menatap tubuh Bianca yang tengah berada di dalam kasur yang berbentuk kepompong itu.
"Ah tidak. Nanti aku khilaf," Alden membuang jauh-jauh ide gilanya.
"Ca, Bangunlah! Anginnya sudah berhenti. Salju juga turun tidak terlalu tebal seperti tadi," Alden menggoyangkan tubuh Bianca yang masih ada di dalam sleeping bag.
"Kita di mana?" Bianca membuka kedua matanya.
"Kau tidak ingat kejadian tadi? Kau tertimpa bola salju. Jadi, aku memutuskan untuk membawamu berlindung di dalam tenda lagi," Alden berusaha membuat Bianca ingat.
"Oh iya, aku ingat. Pantas saja tubuhku sakit-sakit," Bianca meringis.
"Aku harus meregangkan otot-ototku," Bianca membuka sleting sleeping bag itu sampai pinggang dan mendudukan dirinya.
__ADS_1
"Pegal sekali!" Bianca menggerak-gerakan leher dan tangannya. Ia masih tidak sadar jika tubuhnya tengah dalam keadaan polos sekarang.
Alden menatap Bianca tampak berkedip, ia berusaha keras untuk menelan salivanya.
"Ca, pakai bajumu!" Alden menundukan kepalanya. Wajahnya merah seperti kepiting yang baru saja direbus.
Bianca pun menundukan wajahnya. Ia melihat tubuhnya yang polos. Bianca segera mengintip ke dalam sleeping bag. Ia melihat bagian tubuh bawahnya juga tidak terbalut apapun.
"AAAAA!!!! Apa yang kau lakukan padaku?" Bianca berteriak sekeras mungkin dan melihat Alden dengan emosi yang meletup-letup.
"Aku bisa jelaskan, Ca," Alden hendak menjelaskan.
"Dasar pria mesum! Kau memanfaatkan aku yang tengah tidak berdaya?" Bianca mendekati Alden dan memukulinya.
"Ca, tubuhmu!" Alden menutup matanya.
Bianca pun segera mengambil pakaiannya.
"Awas saja jika kau mengintip!" Dengan terburu-buru Bianca memakai pakaiannya kembali.
"Kau menodaiku? Iya kan?" Bianca melanjutkan lagi memukuli Alden.
"Ca, tenanglah!" Alden memegangi tangan gadis itu.
"Aku melepaskan pakaianmu karena pakaianmu basah dan dingin. Kau ingat kan tubuhmu terkubur oleh salju? Aku terpaksa membukanya, jika kau masih memakai baju itu kau akan mati kedinginan. Tubuhmu tadi sedingin es, maka dari itu aku melepaskan pakaianmu dan memasukanmu ke dalam sleeping bag itu," jelas Alden.
"Lalu selama aku tidur di dalam sleeping bag, apa yang kau lakukan?" Bianca masih belum puas.
"Aku juga tertidur, tetapi tidak di dekatmu," Alden berkata dengan gugup.
"Aku terpaksa berbohong. Jika kau tahu, aku pun membuka bajuku dan ikut masuk ke dalam sleeping bag itu, aku yakin kau akan membunuhku. Biarlah itu menjadi rahasiaku, karena aku pun tidak melakukan apapun kepadamu," batin Alden.
"Benar seperti itu?" Bianca memastikan.
"Benar. Aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu. Jika aku melakukan sesuatu, tentu kau juga akan merasakannya," Alden menggaruk rambutnya.
"Saat melepas bajuku kau tidak memperhatikan tubuhku kan?" Bianca menyipitkan matanya.
"Tentu saja tidak. Aku hanya melihat tanda lahir di tengah-tengah d*damu saja," Alden menjawab dengan polos.
"ALDEENN!!!" Bianca berteriak dan memukuli kembali tubuh Alden.
"Ampun, Ca!" Alden tertawa dan ke luar dari tenda.
"Ke mari kau bocah nakal!" Bianca ikut ke luar dari tenda dan mengejar Alden.
"Dia cantik sekali," Alden menatap Bianca.
"Wajahnya imut," Bianca pun menatap intens Alden yang berada di bawah tubuhnya.
"Ca, se-sebaiknya kita pulang segera. Aku khawatir anginnya berhembus kencang kembali," kata Alden dengan terbata.
"Ba-baiklah," Bianca pun menjawab dengan gugup.
"Keadaanmu sudah membaik kan? Tidak ada yang sakit?" Alden memeriksa tubuh Bianca.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Naiklah ke punggungku! Aku yakin tubuhmu masih lemas. Untung saja kau masih sadar setelah tertimpa bola salju sebesar itu," Alden berjongkok di depan Bianca.
"Tidak. Aku baik-baik saja," Bianca tersenyum melihat tingkah Alden yang menurutnya sangat manis.
"Kau yakin?" Alden merasa ragu.
"Aku yakin," Bianca mengangguk.
"Baiklah, ayo kita pulang!" Alden menggandeng tangan Bianca. Lagi-lagi jantungnya berdetak tak karuan.
"Aku harus benar-benar pergi ke dokter," Alden bergumam di dalam hatinya.
Bianca tersenyum melihat tangannya digenggam erat oleh Alden.
"Alden?" Panggil Bianca.
"Ada apa?" Alden menoleh.
"Itu tenda dan sleeping bagnya tidak kau bawa?"
"Biarkan saja. Itu sebagai penanda jika kita pernah ke sini. Jika di film UP rumah Tuan Fredricksen akhirnya berada di Paradise Falls. Maka di sini, tenda kita ku tinggalkan di gunung salju yang ada di desa Reine," jawab Alden sambil memulai berjalan kembali.
"Apakah kelak kau ingin hidupmu seperti tuan Fredricksen?" Bianca memandang Alden yang berjalan di sampingnya.
"Maksudmu menerbangkan rumahku dengan balon dan pergi ke Paradise Falls bersama bocah kecil yang seorang anggota pramuka?" Alden tampak tidak mengerti.
"Bukan, bukan itu. Maksudku apakah kau ingin seperti Tuan Fredricksen yang menemukan cinta sejati dan akhirnya kematian yang memisahkan mereka?" Tanya Bianca dengan penuh keingin tahuan.
__ADS_1
"Cinta sejati? Memang cinta itu ada ya?" Alden menoleh ke arah gadis yang ada di sampingnya.
"Tentu saja."
"Cinta? Yang seperti apa itu cinta?"
"Cinta itu ketika kau bahagia melihat orang yang kau cintai bahagia. Kau tidak rela ia bersama orang lain dan tidak akan menggantikan posisinya dengan wanita mana pun. Kau akan berusaha untuk membahagiakan pasangan yang kau cintai. Seperti Tuan Fredicksen yang berusaha mewujudkan impian istrinya meski istrinya itu sudah tiada, yaitu pergi ke Paradise Falls," Bianca mendeksripsikan cinta dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Apa perasaanku pada Cassie adalah cinta? " Alden membatin dalam hatinya.
"Hey, mengapa kau jadi melamun?" Bianca membuyarkan lamunan Alden.
"Tidak. Aku hanya ingin cepat sampai ke rumah."
"Hari ini kita akan makan apa? Aku lapar, tetapi aku bosan makan ikan Cod terus menerus," keluh Bianca.
"Kasihan gadis ini. Baiklah, aku akan memasak sesuatu untukmu," Alden bertekad di dalam hatinya.
"Kalau begitu ayo percepat langkahmu!" Alden menggusur tangan Bianca.
"Pelan-pelan!" Bianca tampak berusaha menyeimbangkan langkah kaki Alden yang besar-besar.
"Aku pamit sebentar ya? Kau hangatkan diri saja di perapian," kata Alden ketika mereka sudah sampai di rumah. Alden pun menyalakan perapian yang ada di dalam rumah untuk menghangatkan Bianca.
"Kau mau ke mana?"
"Aku ingin pergi sebentar."
"Jangan lama-lama ya? Aku takut," Bianca menatap Alden dengan resah.
"Iya. Tunggu sebentar. Tidurlah lagi!" Alden pun ke luar dari dalam rumah dan pergi ke pasar yang ada di sekitar desa Reine.
Di pasar, Alden membeli banyak bahan untuk memasak. Setelah membeli semua kebutuhan memasaknya, Alden pun bergegas pulang dengan wajah yang ceria. Ia sudah tidak sabar ingin memasak makanan selain ikan Cod untuk gadis berambut blonde itu.
"Ca?" Alden masuk ke dalam rumah. Ia melihat Bianca tengah tertidur di depan perapian yang menyala.
Alden pun berjongkok dan memperhatikan wajah Bianca yang terlelap.
"Tidurlah! Aku akan memasak untukmu," Alden mengusap pipi Bianca dengan lembut.
"Mengapa aku tersenyum?" Alden menepuk pipinya.
"Sudahlah, lebih baik aku segera memasak," Alden membawa belanjaannya ke dapur.
"Aku akan memasak makanan khas Norwegia untukmu, Ca. Aku buat Smoked Salmon saja," Alden mengeluarkan ikan salmon yang baru saja ia beli beserta bumbu-bumbunya.
Setelah Smoked Salmonnya matang, Alden memasak makanan kedua yaitu Farikal. Farikal adalah masakan khas dari Norwegia ketika musim dingin. Berisi daging kambing dan kubis yang dijadikan sup panas.
Setelah semua tersaji, Alden membawa meja dan juga kursi makan ke luar dari rumah. Kemudian ia menata semua masakannya. Alden membawa Bianca makan di luar rumah, agar gadis itu bisa merasakan sensasi makan di tempat lain.
"Ca? Bangunlah! Bukannya kau lapar?" Alden menepuk pelan pipi Bianca.
"Sekarang waktunya makan? Kan aku belum memasak," Bianca bangun dan mengucek matanya.
"Aku sudah memasak," ujar Alden dengan senyumnya.
"Benarkah? Pasti kau memasak ikan Cod?" Bianca mulai bosan dengan ikan itu. Ikan Cod adalah ikan yang sangat umum ada di desa Reine karena semua nelayan pasti menangkap ikan itu.
"Ayo kita lihat saja!" Alden menarik tangan Bianca ke luar dari rumah. Sementara Bianca bingung karena Alden membawanya keluar bukan ke dapur.
Bianca memperhatikan meja dan kursi yang sudah di tata juga hidangan yang telah siap di atas meja.
"Kau yang melakukan semua ini?" Bianca tersenyum senang.
"Iya. Tentu saja," Alden mengangguk.
Bianca pun duduk. Ia langsung mencicipi Smoked Salmon dan Farikal buatan Alden.
"Ini sangat enak," Bianca tak henti melahap makanan yang ada di piringnya.
"Pelan-pelan! Nanti kau tersedak," Alden tersenyum melihat Bianca makan dengan lahap.
"Aku tidak menyangka kau bisa memasak. Belajar dari mana?"
"Aku belajar dari kakek. Kan ayah dan ibu dari papa adalah penduduk asli desa ini," timpal Alden.
"Kau sungguh-sungguh hebat!" Puji Bianca lagi. Mereka pun menghabiskan makanan yang ada di piring mereka.
"Aku kenyang," Bianca mengelus perutnya.
"Aku bereskan terlebih dahulu kursi dan mejanya," Alden mengangkut kembali kursi dan meja ke dalam rumah, sementara Bianca masih berdiri di luar.
Tak berselang lama, salju turun dengan lebat kembali. Angin pun berhembus dengan sangat kencang.
"Ca?" Alden berlari ke arah Bianca dan memayungi kepala Bianca dengan tangannya.
__ADS_1
Bianca menatap wajah pria yang tengah memayunginya. Alden memperhatikan setiap sudut wajah gadis yang ada di hadapannya. Hembusan angin yang menerpa membuat Alden terbuai, ia memajukan wajahnya dan mencium bibir asisten pribadinya itu.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...