
David tengah memeriksa keadaan Tifanny karena Nino mengatakan Tifanny seperti sedang sakit. David meluangkan waktunya untuk mengurus putrinya dan tidak pergi bekerja ke Rumah Sakit.
"Pa, papa bekerja saja! Fanny akan baik-baik saja sendirian di rumah," Tifanny berkata dengan lemah.
"Tidak apa-apa. Sudah lama sekali papa tidak merawatmu ketika kau sakit. Lagi pula Nino bekerja dan Meghan pun kuliah. Terakhir papa merawatmu saat sakit ketika usiamu 9 tahun," David tampak mengenang masa lalunya.
"Fanny bukan anak kecil lagi, Pa."
"Apa yang kau rasakan, Nak?" Tanya David sambil terduduk di kursi yang ada di kamar Tifanny.
"Badanku sangat lemas dan letih juga nafsu makan menurun. Ingin makan sesuatu tapi tidak tahu apa," gumam Tifanny pelan.
David mengecek suhu tubuh anaknya dengan termometer juga mengecek tekanan darah Tifanny dengan alat tensi.
"Semuanya normal," David membereskan peralatan medisnya.
"Kapan kau terakhir datang bulan, Nak?" Tanya David hati-hati.
"Fanny tidak ingat," Tifanny menggelengkan kepalanya.
"Tapi memang bulan ini Fanny belum datang bulan," lanjutnya.
"Sepertinya putri papa akan jadi seorang ibu," David menyimpulkan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Maksud papa?" Tifanny tampak kaget.
"Lebih baik kamu melakukan tespack dulu ya?" Pinta David.
"Tespack? Maksud papa Tifanny hamil?"
David menganggukan kepalanya.
Perlahan senyum terlukis di wajah Tifanny. Ia begitu mengharapkan jika perkataan ayahnya benar.
"Papa yakin Fanny hamil?" Tifanny membangunkan tubuhnya.
"Papa yakin. Mamamu juga dulu seperti ini saat mengandungmu dan Meghan. Lemas, letih dan tidak mau makan," jelas David.
"Papa pergi ke apotek saja ya? Papa akan belikan tespack untukmu," David bangkit dari duduknya.
"Tidak apa-apa, Pa?" Tifanny tampak tidak enak.
"Tidak apa-apa, papa kan membelinya untukmu. Papa berangkat dulu ya? Jangan ke mana-mana! Tetap diamlah di kasurmu!" David keluar dari kamar putrinya dan berangkat ke apotek terdekat.
Beberapa saat kemudian, David datang kembali ke dalam kamar Tifanny dengan membawa bingkisan plastik kecil.
"Papa belikan 3 tespack untukmu," David menyerahkan bingkisan itu.
"Pa, terima kasih ya?" Tifanny tersenyum bahagia. Ia merasakan lagi bagaimana rasanya diperhatikan oleh ayahnya.
"Iya, sama-sama. Besok saja cobanya saat kau bangun di pagi hari ya? Agar hasilnya dapat lebih akurat," David memberikan saran.
"Baiklah, Pa," Tifanny mengangguk mendengar arahan ayahnya.
Keesokan harinya, Tifanny bangun dini hari. Ia melihat Nino masih terlelap dalam tidurnya.
Tifanny berjalan mengendap-endap ke arah kamar mandi agar tidak membangunkan suaminya.
"Aku harap hasilnya seperti yang ku harapkan," Tifanny bergumam sesaat sebelum mencoba tespack itu.
Setelah di celupkan ke dalam wadah berisi urine, Tifanny mengangkat tespack itu. Matanya terpejam karena takut hasilnya akan mengecewakan.
"Mau tidak mau aku harus melihatnya," Tifanny membuka matanya.
"Garis dua," Tifanny tersenyum melihat hasil yang terpampang di tespack yang dicobanya.
"Garisnya lumayan jelas!!" Tifanny berteriak.
"Aku masih belum yakin. Aku coba lagi saja," Tifanny mencoba dua hasil tespack yang tersisa.
2 menit kemudian, Tifanny melihat hasilnya.
"Garis dua. Aku hamil!!" Tifanny berteriak kegirangan di dalam kamar mandi.
Nino yang mendengar istrinya berteriak di dalam kamar mandi pun terbangun dari mimpi indahnya. Dengan nyawa yang belum terkumpul, Nino bangkit dari kasur dan berlari menuju kamar mandi.
"Sayang, kau kenapa?" Nino mengetuk pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
Tifanny masih tersenyum melihat ketiga tespack yang ada di tangannya.
"Sayang, jawab aku! Jangan membuatku takut!" Nino menggedor pintu kamar mandi dengan lebih keras.
Tifanny terbuyar, ia pun membuka pintu kamar mandi dengan wajah yang berbinar. Tifanny menyembunyikan tespack itu di belakang tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa kan?" Nino menyentuh wajah Tifanny.
"Aku baik-baik saja," senyum di wajah Tifanny semakin merekah.
"Lalu, mengapa kau berteriak seperti tadi?" Nino merasa bingung.
"Karena ini," Tifanny memberikan ketiga tespack itu kepada Nino.
Nino menatap tespack itu dengan lama. Ia memperhatikan satu persatu ketiga tespack itu. Nino tampak berusaha mencerna apa yang ia lihat.
"Kau hamil?" Nino berkata dengan girang.
Tifanny pun mengangguk.
Nino meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat.
"Terima kasih ya tuhan! Aku akan jadi seorang ayah," Nino berkata dengan bahagia.
"Kau menangis?" Tanya Tifanny saat ia melepaskan pelukannya. Tifanny melihat mata Nino berkaca-kaca.
"Aku hanya terharu. Aku akan jadi orang tua," Nino mengusap sudut matanya yang basah.
"Terima kasih untuk kebahagiaan yang kau berikan. Aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik," Nino memeluk lagi tubuh Tifanny erat.
****
Pekerjaan baru Alden sekarang adalah mengikuti kemana pun Aiden pergi. Ia takut kakaknya itu bertemu dengan Bianca diam-diam di belakangnya.
Sesuai janji Aiden, hari ini ia akan mengantar Bianca untuk menyimpan lamaran di berbagai perusahaan yang sedang membutuhkan karyawan. Aiden menyarankan agar Bianca mencoba untuk melamar kerja di perusahaan-perusahaan besar saja.
"Kakak kau memang serigala berbulu kucing," Alden tampak geram ketika melihat kakaknya menjemput Bianca.
Alden pun mengikuti ke mana perginya Aiden dan Bianca. Mereka berdua terlihat menyimpan lamaran pekerjaan di berbagai perusahaan yang ada di kota Birmingham. Setelah selesai mengantarkan lamaran secara offline, Aiden mengajak Bianca untuk makan siang. Alden pun tetap konsisten mengikuti pergerakan kedua orang yang ada di depannya.
Alden yang terduduk di belakang mereka dengan menggunakan kaca mata hitam dan sweater besar pun membulatkan matanya. Ia tidak mengira Aiden akan berkata seperti itu. Tentu jika Bianca mau bekerja di perusahaan milik Aiden, mereka akan semakin dekat.
"Benarkah, kak?" Bianca tampak senang. Ia ingin mencari pekerjaan dengan tenaganya sendiri. Akan tetapi Bianca pun khawatir bekal uangnya semakin menipis dan habis, sementara ia harus segera bekerja kembali untuk membantu kedua keluarganya yang ada di kota Cambridge.
"Benar. Kau bisa memulai bekerja besok," Aiden mengangguk.
"Kakak benar-benar," Alden menggebrak meja. Kemudian ia berdiri dan menghampiri meja Aiden dan Bianca.
"Kalian ini sedang apa? Aku tidak setuju Bianca bekerja di perusahaan kakak," Alden berkata dengan nada tinggi seperti sedang memergoki istrinya berselingkuh dengan pria lain.
"Alden, kau ada di sini?" Aiden berpura-pura keheranan. Sebenarnya ia tahu belakangan ini adiknya sering mengikutinya secara diam-diam.
"Aku bilang aku tidak setuju dia bekerja di perusahaan kakak!!" Teriak Alden lagi dengan sengit.
"Kau ini kenapa?" Bianca merasa kesal melihat kedatangan Alden yang tak terduga. Apalagi pria itu menguping obrolannya dengan Aiden.
"Kak, kau ini sedang bersikap Nepotisme? Hey, jangan seperti itu! Kasihan calon karyawan lain yang sudah melamar dan menunggu panggilan darimu. Seleksilah karyawan dengan benar bukan dengan jalan pintas seperti ini. Aku yakin akan banyak karyawan yang lebih baik dari Bianca," Alden menatap Bianca.
"Kakak sudah membuat keputusan. Kakak akan memperkerjakan Bianca," Aiden menyimpulkan.
"Tapi kak dia ini tidak berkompeten," Alden berusaha membatalkan ide itu.
"Sudah!" Bianca menengahi.
"Kak, sepertinya aku tidak bisa bekerja di perusahaanmu. Aku akan mencari pekerjaan yang lain. Aku pulang duluan ya kak? Terima kasih teraktirannya," Bianca bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua kakak beradik itu.
"Bagus!" Alden tersenyum senang.
"Kata-katamu menyinggungnya!" Aiden tampak jengah dengan sikap adiknya itu
Aiden berusaha mengejar langkah Bianca, tetapi ia sudah tidak melihat keberadaan gadis itu.
"Aku susul saja ke rumahnya. Aku harus meminta maaf karena ucapan Alden," Aiden masuk ke dalam mobilnya. Alden pun dengan setia masih mengikuti mobil kakaknya dari belakang.
Saat Aiden tengah fokus menyetir, ponselnya berbunyi dan ia melihat nama Cassie di layar ponselnya.
"Ada apa dia menelfonku?" Gumam Aiden.
__ADS_1
Aiden pun menolak panggilan itu, tetapi Cassie tidak menyerah. Ia menghubungi Aiden terus menerus.
"Ada apa?" Akhirnya Aiden mengangkat telfon dari mantan tunangannya itu.
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Temui aku di taman biasa! Jika kau tidak datang, kau tidak akan melihatku di dunia ini lagi!" Ancam Cassie kemudian ia mematikan telfonnya.
Aiden pun memutuskan untuk menemui Cassie. Ia ingin tahu apa yang ingin wanita itu katakan.
"Ada apa?" Tanya Aiden dengan dingin saat ia sampai di taman. Sementara itu Alden yang mengikuti kakaknya tampak kaget ketika melihat Aiden dan Cassie bertemu. Alden pun mengendap-endap dan mendengar percakapan mereka.
"Honey, maafkan aku!" Cassie langsung memeluk tubuh mantan tunangannya.
"Untuk apa?" Aiden melepaskan pelukan wanita itu.
"Untuk yang ku lakukan padamu. Aku dibutakan oleh cinta yang salah," Cassie terisak.
"Lalu?"
"Aku ingin kembali padamu. Kau mau kan?" Cassie menatap Aiden dengan penuh harap dan air mata yang bercucuran.
"Semenjak kau meninggalkanku, aku sudah tidak memiliki perasaan padamu lagi. Terlebih kau meninggalkanku demi uang," Aiden tersenyum sinis.
"Maksudmu apa? Aku pergi karena aku pikir cinta sejatiku adalah adikmu," Cassie membantah.
"Tidak usah berbohong! Aku tahu kau membatalkan pernikahan kita karena perusahaanku sedang pailit dan aku mengatakan jika perusahaan papa dialih namakan menjadi nama Alden. Itu sebabnya kan kau berpaling pada adikku? Mengakulah!" Desak Aiden dengan tidak ramah.
"Baiklah, aku mengaku. Aku memang melakukannya karena itu. Kau pun tahu aku selalu dimanjakan oleh kedua orang tuaku. Aku tidak siap hidup susah apalagi harus tinggal di sebuah flat sewaan. Jadi aku memutuskan untuk bersama adikmu saja karena dia pewaris harta ayahmu. Aku tidak mencintai Alden. Sekarang aku ingin kau kembali lagi padaku. Aku tidak peduli bagaimana kondisimu," Cassie menghapus air matanya.
Sementara itu Alden yang mendengar mengepalkan tangannya geram mendengar pengakuan wanita itu.
"Aku seperti seekor Keledai," Alden tampak emosi karena mudah dipermainkan oleh wanita bernama Cassie.
"Kau pikir aku bodoh? Kau ingin kembali padaku karena kau sudah tahu jika perusahaanku tidak jadi bangkrut? Cas, aku tidak akan pernah mau lagi untuk mencoba memulai hubungan denganmu. Untung saja kita tidak jadi menikah. Dengan begitu aku tidak mendapatkan istri sepertimu," Aiden berujar dengan tegas.
"Aku yakin kau masih mencintaiku," Cassie masih berusaha.
"Tidak. Aku sudah menyukai gadis lain," Aiden melirik ke arah pepohonan yang bergoyang. Aiden tahu Alden sedang menguping pembicaraannya.
"Siapa wanita itu?" Tangis Cassie semakin menjadi.
"Dia Bianca," jawab Aiden dengan tenang. Alden pun terkesiap ketika mendengar kakaknya menyebut nama Bianca.
"Asisten adikmu itu? Kau gila? Aku berjuta juta lebih baik darinya!" Cassie tampak tidak terima.
"Kau salah. Dia gadis yang baik dan tidak gila harta sepertimu. Aku pergi!" Aiden meninggalkan Cassie yang masih menangis.
Alden pun berlari menyusul langkah kakaknya.
"Kak?" Alden menghadang jalan Aiden ketika kakaknya itu akan masuk ke dalam mobil.
"Kau di sini lagi? Kau mengikuti kakak?" Aiden berpura pura tidak tahu.
"Langsung saja, kak. Jangan dekati Bianca!" Alden menghunuskan tatapannya yang seolah membekukan Aiden.
"Kenapa?" Aiden menatap mata adiknya.
"Jauhi saja!" Alden berjalan meninggalkan Aiden.
"Kakak tidak akan menjauhinya. Kakak jatuh cinta padanya!!" Aiden berteriak.
Alden pun menoleh dan berjalan menghampiri kakaknya lagi.
"Aku hanya meminta kakak untuk menjauhi Bianca!!" Teriak Alden dengan emosi.
"Ya, karena apa? Kakak harus tahu apa motifmu menyuruh kakak menjauhinya!" Aiden mendesak.
"Karena aku mencintainya!" Aku Alden dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Detik ini aku akan berusaha mendapatkan hatinya lagi. Aku yakin dia pernah menyukaiku," lanjutnya.
"Kakak tidak akan kalah," Aiden memancing.
"Lihat saja! Aku akan berjuang mendapatkannya! Lebih baik aku mati dari pada melihat dia didapatkan oleh pria lain termasuk oleh kakak!" Kata Alden setelah itu ia meninggalkan Aiden.
"Akhirnya kau mengakuinya," gumam Aiden sambil menatap punggung adiknya yang kian menjauh.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1