Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Bimbingan Skripsi


__ADS_3

Saat Nino tengah berada di ruang kerjanya, ia mendapati sebuah pesan teks dari nomor yang tak di kenal. Nino mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas saat membuka pesan teks tersebut.


"Sudah ku bilang, dia akan menghubungi nomor istriku dengan nomor lain. Justin, kau tahu dia sudah bersuami, mengapa kau masih mendekatinya? Aku harus melakukan rencana darurat," Nino tersenyum menatap pesan teks dari Justin. Pesan teks itu memberitahukan jika bimbingan skripsi diadakan di rumah Justin dan waktunya malam hari.


Sore harinya....


"Kau sedang apa?" Nino memeluk Tifanny dari belakang.


"Sedang mencuci," Tifanny mulai membalikan telur dadar yang sedang ia masak.


"Aku lihatnya kau sedang memasak," Nino berkata dengan nada yang manja.


"Nah itu kau tahu, mengapa kau masih bertanya?" Tifanny mematikan kompor dan hendak mengambil piring. Tetapi pelukan Nino membatasi pergerakannya.


"Kan biar jelas," Nino menyandarkan kepalanya di bahu Tifanny.


"Nino, aku akan mengambil piring. Minggir dulu!".


"Baiklah," Nino mengalah dan melepaskan pelukannya.


Tifanny mengambil piring dari dalam lemari kaca. Kemudian ia mengangkat telur dari wajan dan menyimpannya di atas piring itu.


"Sepertinya telurnya enak," Nino menghirup aroma sedap dari piring telur itu.


"Kau mau?"


"Iya, aku mau cicipi sedikit."


"Baiklah," Tifanny mengambil sendok dan langsung menyuapi Nino.


"Bagaimana? Enak?" Tifanny menatap Nino yang tengah mengunyah telurnya dengan ekspresi yang tak terbaca.


"Enak. Kau mau mencobanya?"


"Iya, aku mau," Tifanny mengangguk.


"Biar aku ambilkan!" Nino mengambil telur itu dengan sendok dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Kenapa kau menyuapkan ke dalam mulutmu?" Tifanny menatap Nino dengan kesal.


Nino memegangi leher Tifanny dan mendekatkan wajahnya. Kemudian ia meraup bibir istrinya dan memasukan telur yang ada di dalam mulutnya ke dalam mulut Tifanny.


"Nino, kau ini jorok sekali!" Tifanny berteriak saat bibir Nino terlepas.


"Katanya kau ingin mencobanya," Nino tersenyum seolah tidak melakukan apapun.


"Ya, tapi tidak disuapi dengan mulutmu," Tifanny membulatkan matanya.


"Matamu seperti mata sapi jika melotot. Oh iya, Fann! Malam ini kau harus bimbingan skripsi di rumah Justin," Nino menginfokan pesan dari Justin dengan enteng.


"Aku tidak akan datang jika kau tidak nyaman, lagi pula mengapa harus di rumah?" Protes Tifanny.


"Datang saja!" Perintah Nino dengan raut wajah yang datar.

__ADS_1


"Kau tidak masalah aku datang ke rumah seorang pria?" Tifanny menatap Nino dengan kecewa.


"Iya, tidak masalah karena aku akan menemanimu langsung ke rumah Justin."


"Benarkah? Aku sangat senang," Tifanny berjinjit dan mencium pipi suaminya.


"Kalau begitu ayo kita makan! Setelah makan, kita berangkat ke rumah Justin," Nino mengelus rambut Tifanny dengan penuh kasih sayang.


"Tapi ganti bajumu dulu ya?"


"Iya. Aku ke kamar dulu," Nino balas mencium pipi Tifanny dan pergi dari dapur.


Setelah makan malam, Tifanny dan Nino langsung berangkat ke alamat Justin yang disebutkan di pesan teks. Perjalanan memerlukan waktu 20 menit menuju kediaman Justin.


"Sebentar!" Teriak seorang pria dari dalam saat Nino memencet bel.


Justin membuka pintu dengan senyum indah yang menghiasi bibirnya. Namun, senyum itu langsung pudar seketika ketika melihat Tifanny datang bersama suaminya.


"Hallo Justin!" Sapa Nino dengan ramah.


"Fann, kita akan bimbingan. Mengapa kau membawa dia?" Tunjuk Justin dengan matanya.


"Aku wanita Justin, wajar saja jika suamiku sendiri mengantarkan aku untuk pergi," timpal Tifanny dengan tenang.


"Kalau begitu jangan buang-buang waktu ya? Kasihan istriku," Nino langsung masuk ke dalam rumah Justin tanpa dipersilahkan.


"Justin, aku izin masuk!" Tifanny pun mengikuti langkah suaminya.


"Sial*n!" Justin menendang pintu rumahnya.


Justin memeriksa proposal itu dengan sorot mata yang penuh dengan amarah. Ia berharap bisa berduaan dengan Tifanny. Hanya Tifanny mahasiswi yang ia suruh untuk bimbingan ke rumahnya langsung. Sedangkan mata Nino tampak menjelajah ke dalam rumah Justin. Mata Nino menangkap sebuah dus kecil yang tergeletak di samping telfon rumah.


"Kau sangat berengs*k, Justin! Kau merencanakan untuk meniduri istriku! Lihat saja langkah apa yang akan aku ambil!" Nino menatap tajam sebuah benda yang sering ia lihat di rak depan minimarket maupun supermarket.


"Fann, ini kau salah menulis daftar pustaka!" Justin menunjuk ke halaman daftar pustaka.


Tifanny pun mendongkak dan melihat, Nino pun ikut-ikutan melihat.


"Sayang, kau salah menulis daftar pustaka! Harusnya tahun dulu, baru judul dan nama penulis harusnya di balik," Nino berucap sambil memeluk Tifanny yang duduk di sebelahnya.


Tifanny tersenyum saat mendengar Nino memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Aku lupa. Kan aku sudah lama tidak kuliah," Tifanny menoleh ke arah wajah Nino.


"Sayang, apa kau ingin aku ajari lagi? Akan ku ajari bagaimana menulis daftar pustaka yang benar. Aku akan mengajarimu di atas tempat tidur," Nino menggosokan hidungnya ke pipi Tifanny.


"Mengapa harus di tempat tidur?" Tifanny bertanya-tanya.


"Karena sesudah aku mengajarkanmu, kau harus memberikanku hadiah," Nino berucap dengan lantang. Tentu saja Tifanny langsung mengerti apa maksud hadiah dari Nino.


"Ehem. Apa aku mengganggu?" Tanya Justin dengan tatapan tidak suka melihat kemesraan yang ada di depan matanya.


"Maaf, Justin! Nino memang biasa seperti ini," Tifanny merasa tidak enak.

__ADS_1


"Jadi, mana lagi yang harus aku revisi?" Tifanny memusatkan perhatiannya kembali kepada kertas yang dicoret oleh Justin.


"Dan metode penelitian yang kau gunakan menurutku itu tidak relevan dengan judul. Mengapa kau tidak seperti dulu lagi? Dulu kau sangat pintar dalam memilih metode penelitian," sindir Justin.


"Ya, kau ini masa pura-pura tidak tahu. Tifanny kan berbeda dengan dulu, dulu dia masih gadis. Sekarang Tifanny sudah jadi ibu rumah tangga, setiap malam dia pun harus bekerja rodi untuk membuat sesuatu, sudah pasti perhatiannya terbelah. Iya kan, sayang?" Celoteh Nino dengan suaranya yang khas.


"Kerja rodi?" Tifanny tampak tidak mengerti.


"Sayang, jangan memancingku!" Nino menyandarkan kepalanya di bahu Tifanny.


"Kau ini sangat manja!" Tifanny mencubit pipi Nino dengan gemas.


"Sial*n! Mengapa aku jadi nyamuk di sini? " Umpat Justin dalam hati.


"Ya sudah, Fann! Itu saja yang harus kau revisi! Bimbingan hari ini aku akhiri," Justin menutup pertemuan mereka di hari itu.


"Baiklah, terima kasih, Justin," Tifanny membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja.


"Sayang, biar aku bantu!" Nino memasukan kertas itu ke dalam tas istrinya dan mengambil alih tas itu.


"Kau lucu sekali! Aku akan mengganti tasku dengan gambar Dora," Tifanny tertawa membayangkan Nino menggendong tas bergambar Dora.


"Jangan Dora! Spongebob boleh atau gambar Suneo juga boleh," Nino berjalan tanpa berpamitan kepada Justin.


"Kau ini!" Tifanny memeluk pinggang Nino dan berjalan ke luar dari rumah Justin.


"Sayang, kau tunggu di sini ya! Barangku ketinggalan di dalam rumah Justin!" Ucap Nino saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Baiklah," lagi-lagi Tifanny merasa senang ketika mendengar Nino memanggilnya sayang.


Nino masuk kembali ke dalam rumah Justin.


"Mengapa kau masuk lagi ke rumahku?" Tanya Justin dengan pedas.


Nino tidak menjawab, ia segera menarik kerah kemeja Justin.


"Aku tahu apa yang ada di dalam otak busukmu itu!" Nino menggeram.


"Jangan pernah berani untuk menggangu istriku!" Desis Nino dengan amarah yang bergumul di dadanya.


"Haha, aku hanya ingin merasakan tidur bersama istrimu. Saat kuliah aku menyukainya dan kebetulan aku bertemu dengannya di sini. Tenang saja aku hanya ingin merasakan saja, setelah itu aku akan mengembalikannya padamu!" Justin tersenyum menantang.


"Kau salah memilih lawan!" Nino menyeringai jahat.


"Kau kira aku tidak tahu? Sejak kuliah kau memang sudah berengs*k. Bahkan kau lebih berengs*k dariku! Aku tahu itu. Tapi kau selalu memakai topeng saat bertemu dengan teman-teman yang lain. Kau menjijikan!" Nino tersenyum mengejek.


"Haha, aku sudah tahu jika kau mengetahui sifat asliku. Kita sering bertemu di klub malam yang ada di Massachusetts," mata Justin menatap Nino dengan penuh kebencian.


"Saat Tifanny pergi, aku seperti kehilangan incaranku. Untungnya aku bisa mendapatkan sahabatnya, Elora. Dan sekarang aku bertemu lagi dengannya. Aku hanya masih penasaran," Justin seperti tidak takut kepada Nino.


"Justin, lihat apa yang akan aku lakukan padamu dan kariermu!" Nino melepaskan kerah kemeja Justin dan berlalu dari sana.


Justin merasa terusik mendengar perkataan Nino. Ia begitu tahu siapa Arley Walsh, ayah dari Nino.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2