
7 bulan kemudian...
Usaha toko kue yang digeluti oleh Alden dan keluarganya sudah sangat berkembang. Mereka kini mempunyai 3 toko cabang juga mempunyai karyawan kepercayaan yang dapat menghandle operasional toko kue.
Mengenai ngidam Bianca? Tidak usah di tanya. Selama 4 bulan pertama kehamilan, Alden terus dipusingkan dengan permintaan aneh istrinya. Bahkan tak jarang ia pun ikut merepotkan sahabatnya yang tak lain adalah Kaivan. Nino tidak dilibatkan, karena Alden tidak direpotkan oleh kehamilan Tifanny.
"Sayang, itu ada apa berisik sekali di luar?" Tifanny mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendengar suara gaduh di samping rumahnya.
"Aku tidak tahu," jawab Nino dengan suara khas baru bangun tidur. Tangannya masih melingkar di tubuh istrinya.
"Ayo bangun dan lihat!" Suruh Tifanny kepada Nino.
"Biarkan saja. Pasti orang pindahan," Nino memeluk Tifanny semakin erat.
"Sayang? Lihatlah! Takutnya tetangga kita membutuhkan bantuan," Tifanny melepaskan tangan Nino dari tubuhnya.
"Baiklah," dengan malas Nino keluar dari selimut yang membungkus tubuhnya.
"Padahal aku masih ingin tidur," Nino mengucek matanya. Musim dingin memang enaknya bergumul di dalam selimut yang tebal dan hangat.
"Kai?" Sapa Nino saat Kai ikut keluar dari rumahnya.
"Kau mendengar juga keributan yang ada di sebelah rumahku?" Tanya Nino.
"Tentu saja. Suaranya sangat mengganggu. Seperti tinggal di dekat klub malam saja. Ayo kita datangi pemilik rumah itu dan buat perhitungan!" Ajak Kai dengan wajah bantalnya.
Nino dan Kai pun berjalan ke arah rumah yang ada di sebelah rumah kanan Nino.
"Kejutan!!" Seru seseorang saat melihat Kai dan Nino datang.
"Alden??" Ucap Nino dan Kai bersamaan.
"Sedang apa kau di sini?" Kai bertanya dengan raut wajah khawatir.
Alden pun mendekat ke arah dua sahabatnya.
"Aku membeli rumah di sini. Jadi, aku tetangga baru kalian," Alden berjalan ke tengah-tengah dan merangkul bahu Nino dan kai.
"Tetangga? Oh tidak! Apa yang aku takutkan terjadi," Kai membulatkan matanya.
"Memangnya ada apa jika Alden tinggal bersama kita?" Tanya Nino dengan heran.
"Dengar tuh apa kata Nino! Sahabatmu pindah ke dekat rumahmu bukannya kau senang, malah ekspresimu seperti itu. Dengan kita tinggal berdekatan, persahabatan kita akan selalu terjaga," Alden mencebikan bibirnya.
"Benar apa kata Alden. Kita akan semakin dekat," Nino mengamini pernyataan Alden.
"Kau bisa berbicara seperti itu karena selama ini tidak tahu bagaimana kelakuan anak ini saat melibatkanku dalam acara mengidam istrinya," tandas Kai dengan nada yang agak tinggi.
"Memang apa yang Bianca minta?" Nino merasa penasaran.
"Aku tidak mau menjelaskan. Harga diriku seolah terkoyak," Kai berdecak kesal.
"Kai, melakukan sesuatu itu harus ikhlas!" Alden menepuk-nepuk bahu Kai.
"Ngomong-ngomong, kau sengaja pindah ke sini?" Nino menatap Alden.
"Iya. Aku sengaja. Toko kueku sangat berkembang dan mengalami kemajuan. Aku jadi bisa membeli rumah dan tidak menumpang di rumah mama lagi. Lagi pula aku tidak enak, di sana ada kak Aiden. Kau kan tahu, kak Aiden belum menikah. Takutnya aku mengganggu," papar Alden dengan panjang lebar.
__ADS_1
"Syukurlah jika kau tahu diri," Kai menyahuti.
"Bahasamu sungguh menyebalkan, Kai!" Alden melirik sahabatnya.
"Sudahlah, ini dingin sekali. Ayo masuk ke rumahku dan aku akan membuatkan kalian cokelat panas!" Ajak Nino kepada Alden dan juga Kai.
"Cokelat panas? Aku mau," Kai berkata dengan semangat begitu pula dengan Alden.
"Kapan-kapan kita berkemah bersama ya di taman perumahan ini," Alden merangkul kedua sahabatnya dan mereka pun masuk ke dalam rumah Nino untuk mencicipi cokelat panas guna menghangatkan badan.
****
"Ternyata ada tamu," Tifanny tersenyum saat melihat suaminya tengah berbincang hangat dengan Kai dan juga Nino.
"Iya. Aku tetanggamu sekarang," Alden memberitahu dengan riang.
"Benarkah? Syukurlah, aku bisa dekat dengan Bianca," Tifanny tersenyum bahagia.
"Iya, sayang. Kau tak akan kesepian," Nino menimpali.
"Sayang, kau yang membuat cokelat panas?" Tifanny memperhatikan tiga gelas cokelat panas di atas meja.
"Iya, Fann. Cokelat panas buatan suamimu sangat enak!" Kai menaikan gelasnya yang berisi cokelat panas.
"Dia memang sangat ahli membuat cokelat," Tifanny membenarkan.
"Halah, baru cokelat. Aku ahli membuat kue," Alden tidak mau kalah.
"Sepertinya aku mendengar seseorang kesakitan," Tifanny berkata kepada tiga pria yang tengah meneguk cokelat panasnya.
"Perasaanmu kali, Fann!" Alden mengambil kue jahe dan memakannya.
"Kau benar! Aku lupa meninggalkan Bianca. Dari tadi pagi dia mengeluh sakit perut," Alden berdiri dari duduknya.
"Aku pergi dulu!" Alden secepat angin berlari ke luar dari rumah Nino.
"Ayo kita susul!" Ajak Kai kepada Nino.
"Sayang, jaga Archie ya?" Nino menoleh ke arah istrinya kemudian ia mengikuti langkah Kai menyusul Alden.
"Ca, kau kenapa?" Alden menyentuh Bianca yang sedang mengerang kesakitan di atas sofa.
"Mengapa kau masih bertanya? Aku akan melahirkan," Bianca memejamkan matanya menahan sakit.
"Ca, ayo kita ke Rumah Sakit!" Alden mengambil mantel milik Bianca dengan terburu-buru.
"Tentu saja ke Rumah Sakit, masa iya ke tempat ski," cetus Kai yang mendengar perkataan Alden.
"Kai, aku tengah serius!" Alden memasangkan mantel di tubuh istrinya. Kemudian ia segera memangku tubuh Bianca dan memasukannya ke dalam mobil.
"Biar aku yang menyetir," Nino mengambil kunci mobil dari tangan Alden. Kai pun duduk di samping Nino. Sedangkan Alden dan Bianca berada di kursi penumpang.
"Ca, bertahanlah!" Alden memegang tangan Bianca.
"Sakit, aku tidak kuat!" Bianca mengerang kesakitan di dalam mobil. Ia menggenggam tangan Alden dengan sangat kuat.
"Genggam saja, Ca! Ini tidak ada apa-apanya dengan sakit yang kau rasakan," mata Alden berkaca-kaca.
__ADS_1
"Alden, jika aku tidak bertahan. Jangan menikah lagi!" Bianca berucap.
"Kau ini bicara apa? Kau akan melahirkan anak kita dengan selamat. Kita akan membesarkannya bersama-sama," Alden meneteskan air matanya.
Pegangan tangan Bianca pun melemah.
"Ca, aku mencintaimu!" Teriak Alden di dalam mobil.
"Aku seperti sedang menonton telenovela," celoteh Kai saat mendengar percakapan Alden dan Bianca.
"Kai, kau ini!" Nino mengingatkan.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Berpikirlah yang positif ya?" Kai menenangkan.
"No, cepatlah!" Alden berteriak kepada Nino yang sedang menyetir.
Mereka pun tiba di Rumah Sakit terdekat. Bianca segera di masukan ke dalam ruangan bersalin. Alden pun menemaninya di dalam.
"Sudah pembukaan sepuluh. Mengejanlah, Nyonya!" Perintah Dokter kandungan yang menangani Bianca.
"Alden, sakit!" Bianca mencubit tangan Alden.
"Cubit saja, Ca jika itu membuat sakitmu berkurang!" Lirih Alden kepada istrinya yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Dok, mengapa ada darah?" Alden berteriak.
"Namanya melahirkan, tuan!" Jawab dokter itu dengan ramah dan kemudian memusatkan perhatiannya kembali kepasa Bianca.
Tak lama, suara tangisan bayi pun memenuhi ruangan persalinan.
"Bayi anda perempuan, tuan!" Dokter memberitahukan.
"Aku menjadi seorang ayah?" Mata Alden berkaca-kaca.
Bayi Alden pun dibersihkan lalu diperiksa kesehatannya dan segera di berikan ASI yang pertama.
Alden keluar untuk memberitahukan keluarganya yang dari tadi sudah berdatangan.
"Ma, bayinya perempuan!" Alden mendekati Hannah. Tampak tubuhnya masih bergetar karena setengah syok melihat proses persalinan secara langsung.
"Sayang, selamat ya!" Hannah memeluk tubuh Alden.
"Selamat untukmu bocah nakal!" Kai menepuk bahu Alden.
"Selamat ya, Den! Sekarang kau sudah menjadi ayah!" Nino ikut memberikan selamat.
"Kemarilah!" Steve memeluk Alden.
"Selamat untukmu! Kakak tidak akan mengira hari ini akan datang," giliran Aiden memeluk Alden.
"Bianca mana?" Tanya Bobby dan keluarganya yang baru datang.
"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan, Pa!" Jawab Alden.
Di ruang perawatan....
"Ca, terima kasih. Aku mencintaimu dan anak kita," Alden mengecup kening Bianca yang masih terbaring di ranjangnya.
__ADS_1
"Sama-sama. Kita akan namakan siapa?" Tanya Bianca.
"Kita namakan Jasmine," jawab Alden sembari mengelus wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.