
"Nona, apa aku boleh duduk di sini?" Tanya seorang pria yang menghampiri Tifanny.
Tifanny menoleh ke arah sumber suara. Tampak seorang pria berpenampilan rapi dengan tasnya tengah tersenyum ke arahnya.
"Silahkan!" Jawab Tifanny. Ia pun memusatkan perhatiannya kembali kepada ponsel yang ada di tangannya.
"Nona, anda mahasiswi di sini?" Tanya pemuda itu. Ia mendudukan dirinya di kursi yang ada di dekat Tifanny.
"Bukan," jawab Tifanny dengan singkat.
"Aku kira anda mahasiswa di sini. Aku mahasiswa pasca sarjana di kampus ini," pemuda itu tersenyum memperhatikan Tifanny yang tengah bermain dengan gadgetnya.
"Oh. Jurusan apa?" Tifanny menjawab hanya sekedar untuk berbasa-basi.
"Jurusan Psikologi," jawab pria itu dengan ramah.
Tifanny pun hanya mengangguk-ngangguk. Pria itu tersenyum memperhatikan wajah Tifanny yang dirasa sangat manis dan anggun.
"Nona, apa boleh aku meminta nomor ponselmu?" Ucap pria itu dengan hati-hati.
"Tidak boleh," jawab seseorang yang tiba-tiba ada di belakang Tifanny. Tifanny sangat mengenali suara itu, suara yang sangat familiar baginya.
Tifanny menoleh, ia melihat Nino tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan menghujam.
"Sayang? Ayo kita pulang!" Nino tersenyum kepada Tifanny.
"Dia siapa, sayang?" Nino melirik ke arah pria tadi.
"Dia mahasiswa pasca di sini," timpal Tifanny dengan tenang.
"Anda sudah menikah, Nona?" Tanya pria itu ingin tahu.
"Iya. Aku suaminya," Nino menjawab dengan cepat.
"Oh begitu. Kalau begitu aku pamit pergi dari sini, Nona. Aku ada kelas," pria itu dengan tergesa menggendong tasnya dan pergi dari sana.
"Baru bermain-main ke kampus Meghan kau sudah berkenalan dengan seorang pria," Nino mendelik kesal ke arah istrinya.
"Berkenalan? Aku tidak berkenalan dengannya," Tifanny membantah.
"Itu tadi berkenalan!" Nino bersikukuh dengan penilaiannya.
"Aku tidak berkenalan dengannya. Mengapa kau tidak percaya padaku?" Mata Tifanny berkaca-kaca. Nino tersentak saat melihat mata istrinya berair.
"Sayang, maaf!" Nino merasa bersalah.
"Sudahlah, tidak perlu minta maaf. Akhir-akhir ini kau memang sudah bersikap berbeda kepadaku," Tifanny meneteskan air matanya.
"Berbeda bagaimana?" Nino tampak tidak mengerti.
Tifanny berdiri dan tidak menjawab pertanyaan dari suaminya. Ia berjalan di depan Nino dan meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung di tempatnya berpijak.
"Kak? Aku sudah selesai," Meghan berjalan cepat menghampiri Tifanny.
"Eh ada kak Nino. Kebetulan kalau begitu. Ayo kita pulang!" Meghan tersenyum saat melihat kakak iparnya. Setidaknya mereka tidak perlu mencegat dan naik taksi.
"Kakak kenapa?" Meghan memperhatikan Tifanny yang tengah menangis.
"Tidak. Mata kakak kelilipan!" Tifanny berjalan terlebih dahulu menuju area parkiran meninggalkan Nino dan juga Meghan.
Di perjalanan suasana tampak hening, Nino tidak berusaha membujuk istrinya karena ada Meghan di dalam mobil. Setelah sampai pekarangan rumah, Tifanny keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Nino dan Meghan.
"Kakak kenapa?" Tanya Meghan kepada Nino.
"Biasa mood ibu hamil naik turun," timpal pria bermata biru itu.
Nino dan Meghan pun keluar dari dalam mobil. Nino langsung menyusul Tifanny yang masuk ke dalam kamar.
"Sayang, maafkan aku!" Ujar Nino sambil memeluk Tifanny yang membelakanginya.
"Kau berubah," Tifanny terisak. Ia melepaskan tangan suaminya yang tengah melingkar di tubuhnya.
__ADS_1
"Berubah bagaimana?" Nino merasa bingung.
"Setelah aku tahu hamil, kau sudah tidak pernah menyentuhku. Apa sekarang aku membosankan bagimu?" Tifanny semakin tersedu.
"Sayang, mengapa kau berpikir ke arah sana? Semenjak kau hamil, aku mencari tahu mengenai info kehamilan. Aku membaca sebuah postingan di komunitas ibu-ibu hamil. Ada yang mengatakan jika berhubungan saat hamil dapat membahayakan janin. Maka dari itu, aku sekuat tenaga berusaha untuk tidak menyentuhmu dulu," Nino menjelaskan alasannya.
"Kau berbohong kan?" Tifanny tampak tidak mempercayai ucapan suaminya.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan anak kita baik-baik saja. Apalagi kehamilanmu baru menginjak trimester pertama," jelas Nino.
"Tidak hanya itu. Semenjak aku hamil kau selalu menyimpan guling di tengah kasur seakan tidak mau berdekatan denganku," Tifanny menyeka air matanya.
"Itu karena tidurku tidak bisa diam. Aku takut menendang perutmu atau yang lainnya maka dari itu akhir-akhir ini aku menyimpan guling di tengah-tengah kita."
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar lagi. Bawalah bantalmu ini dari sini!" Tifanny mengambil bantal dan melemparnya ke arah Nino.
"Sayang, kau menyuruhku tidur di luar?" Nino bertanya dengan sedih.
"Keluarlah! Aku ingin sendiri."
"Baiklah kalau begitu," Nino menghembuskan nafasnya kasar.
"Kau tidak berusaha untuk membujukku dulu? Mengapa kau pasrah begitu saja? Kau benar-benar tidak ingin tidur denganku?" Tifanny berteriak.
"Ya ampun, sayang!" Nino menjambak rambutnya sendiri.
****
"Apa? Kau menelannya?" Alden bertanya dengan wajah yang mulai frustasi.
"Iya, sepertinya aku menelan sebuah koin emas," Bianca mengagaruk rambutnya.
"Ya ampun! Ayo ikut aku!" Alden menarik tangan Bianca dari kursinya. Alden membawa Bianca ke wastafel yang biasa digunakan pengunjung untuk mencuci tangan.
"Muntahkan ayo!" Alden memijit tengkuk Bianca.
"Memangnya tadi aku menelan apa?" Bianca berkata dengan polos.
"Ah sudahlah. Muntahkan saja dulu!" Alden menaikan suaranya.
"Tidak keluar," ucap Bianca saat beberapa menit kemudian ia tak kunjung juga memuntahkan cincin yang disimpan oleh Alden di dalam mangkuk es krim.
"Memangnya kau menyimpan apa tadi?" Bianca menoleh ke arah Alden yang berdiri di belakangnya.
"Lupakan!" Alden pergi meninggalkan Bianca dan duduk lagi di kursinya.
5 menit kemudian, Bianca menyusul Alden. Ia melihat pemuda itu menekuk wajahnya.
"Ayo kita pulang!" Ajak Alden dengan tidak bersemangat.
"Tapi kan kita belum makan," protes Bianca.
"Bungkus saja!" Jawabnya.
Alden pun menyuruh waitress untuk membungkus semua makanan mereka. Lamaran yang sudah Alden rancang seketika sirna sudah.
"Alden?" Panggil Bianca saat mereka tengah di dalam perjalanan.
Alden tak juga menjawab pertanyaan Bianca.
"Jika kau mendiamkanku seperti ini, lebih baik kau turunkan saja aku di sini!" Bianca mulai hilang kesabaran dengan suasana hening yang menyelimuti mereka.
Alden pun menghentikan mobilnya.
"Sebenarnya apa yang ku makan tadi?" Bianca menoleh ke arah pria yang sedang duduk dengan tidak bersemangat di kursi pengemudi.
"Tidak ada," timpal Alden dengan wajah yang uring-uringan.
Bianca pun membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Kau memberikanku cincin?" Bianca memperlihatkan cincin yang ia telan tadi.
__ADS_1
Mata Alden pun membulat karena terkejut.
"Cincin itu keluar dari ususmu?" Alden menatap cincin itu dengan berbinar.
"Tentu saja tidak. Tadi aku berusaha untuk muntah lagi dan cincinnya keluar bersama es krim yang baru aku makan. Jadi, ini apa maksudnya?" Bianca bertanya lagi.
"Emm-itu-" Alden tiba-tiba canggung sendiri.
"Apa?" Desak Bianca.
"Kau kan lihat itu sebuah cincin. Apa lagi?" Alden merasa frustasi dengan sikap Bianca.
"Lalu? Untuk apa kau menyimpan cincin di sebuah mangkuk es krim. Kau ingin membuat aku tersedak?"
"Mengapa kau tidak mengerti juga?" Alden meninggikan suaranya.
"Mengapa kau selalu saja bersikap menyebalkan? Tadi mendiamkanku, sekarang kau membentakku. Aku turun saja di sini," Bianca melepas safety belt yang melingkar di tubuhnya dan keluar dari mobil Alden.
Alden mengusap wajahnya sendiri. Ia belum pernah melamar seorang gadis sebelumnya. Alden menatap Bianca yang berjalan menjauh dari mobilnya. Alden pun keluar dari dalam mobil miliknya dan mengejar Bianca.
"Sepertinya predikat wanita terbodoh layak disematkan untukmu!" Alden berteriak yang membuat langkah Bianca terhenti seketika.
"Apa maksudmu?" Bianca memasang wajah tak ramah.
Alden berjalan semakin dekat menghampiri Bianca.
"Iya kau sangat bodoh. Kau tidak mengerti sama sekali dengan apa yang aku lakukan malam ini. Aku mengajakmu dinner romantis, aku juga sudah memasukan cincin itu ke dalam mangkuk es krim milikmu. Mengapa kau tidak juga kunjung mengerti dengan ini semua?" Alden memegangi kedua bahu Bianca.
"Aku tahu," wajah Bianca berbinar.
"Pasti kau ingin mengajakku bermain teka-teki. Bukan begitu?" Bianca tersenyum.
"Ya ampun, Ca! Apa di dalam otakmu sekarang sedang terjadi badai hingga kau tidak kunjung mengerti?" Alden menggoyangkan bahu Bianca.
"Maksudmu seperti otak Squidward? Aku pernah menontonnya. Itu di episode Squidward menjadi ceria karena ia tersetrum perangkap yang ia pasang sendiri. Otaknya yang sedang badai tiba-tiba berganti menjadi pelangi," Bianca menceritakan scene kartun favoritnya.
"Bianca!!!!" Alden tampak gemas.
"Mana cincinnya?" Alden menadahkan tangannya.
Bianca pun menyimpan cincin itu di atas telapak tangan Alden. Secara mengejutkan, Alden bersimpuh di depan Bianca.
"Ca? Aku mengajakmu dinner, menyimpan cincin ini di dalam es krimmu karena aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Aku tidak ingin terjebak dalam sebuah hubungan yang semu, hubungan yang di dalamnya hanya kesenangan sesaat. Aku ingin merajut sebuah hubungan, di mana aku tidak hanya merasakan kesenangan, tetapi merasakan suka duka dan perjuangan bersama seseorang yang aku sudah pilih menjadi pendamping hidupku. Dan aku memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi nenek dari cucu-cucuku nanti. Ca, maukah kau berkembang biak bersamaku?" Alden mengambil tangan Bianca.
"Kau melamarku? Tunggu! Berkembang biak? Kau pikir aku ayam!" Bianca mengerucutkan bibirnya.
"Aku ralat. Maksudnya maukah kau menjadi istriku?" Alden tersenyum menatap gadis yang selama ini tidak pernah ia sangka ada dalam hidupnya.
"Kau benar-benar melamarku?" Bianca menutup bibirnya.
"Jawab saja!" Alden tidak sabar.
"Kan biar dramatis sedikit biar seperti di reality show itu lho," Bianca mendelik kesal.
"Jadi, ya atau tidak?" Alden tampak tidak sabar.
"Alden, memangnya kau sudah bersedia menerimaku? Menerima keluargaku? Kau tahu keluargaku tidak sejajar dengan keluargamu. Aku sendiri pun seorang gadis mantan office girl. Sedangkan kau adalah pemuda lulusan magister dan dari kampus terbaik dunia. Ayahmu pun bukan orang sembarangan," Bianca tersenyum getir.
"Aku tidak peduli itu semua. Aku tidak hanya menerimamu tetapi juga siap menerima seluruh keluargamu. Lagi pula orang tua kita bersahabat. Jadi, apa yang kau khawatirkan?" Alden berkata dengan lembut.
"Aku juga tidak peduli kau mantan office girl atau apapun itu. Aku memandangmu hanya sebagai Bianca, bukan mantan office girl atau yang lain," lanjut Alden.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Bianca penuh keingin tahuan.
"Kau melihatnya bagaimana? Jika aku bermain-main denganmu, aku pasti tidak akan melamarmu. Ayolah terima saja! Lututku sakit terkena batu kecil!" Alden menatap lututnya.
Bianca pun tertawa melihat raut wajah kekasihnya.
"Baiklah aku mau," Bianca mengangguk. Alden pun memasangkan cincin itu di jari manis calon istrinya.
"Terima kasih," Alden bangun dan menarik Bianca ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku berjanji akan membuatmu bahagia," bisiknya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...