
"Nino, aku-"
"Aku apa?" Nino menatap wajah wanita yang ada di bawahnya.
"Aku ingin ke toilet sebentar," Tifanny berkata dengan gugup.
"Baiklah," Nino bangkit dari posisinya.
Tifanny berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar.
"Kenapa lama sekali?" Nino tampak mondar mandir di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa tiba-tiba jadi panas begini?" Nino mengibas-ngibaskan tangannya dan segera ke luar dari kamar untuk mencari udara segar.
"Apa dia sudah ke luar?" Nino segera masuk kembali ke dalam kamar. Ia melihat Tifanny tengah minum.
"Mengapa tidak menyusulku ke luar?" Tanya Nino saat melihat Tifanny.
"Aku akan menyusulmu, tapi kau keburu masuk."
"Oh, ya sudah. Ayo kita tidur!" Nino menggandeng tangan Tifanny.
Dengan detak jantung yang sudah tak karuan, Tifanny membaringkan tubuhnya di atas kasur. Nino pun ikut berbaring di samping Tifanny.
"Fan, bagaimana?" Nino berbisik sambil melingkarkan tangannya.
"Harus sekarang?" Tanya Tifanny dengan hati-hati.
"Kau belum siap? Jika belum siap, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa," tutur Nino dengan lembut.
Tifanny pun membalikan tubuhnya menghadap Nino.
"Aku siap," Tifanny bergumam pelan.
"Siap apa?" Nino tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Nino, kau ini!" Tifanny langsung berbalik memunggungi suaminya. Nino tertawa melihat raut wajah malu istrinya.
"Kemarilah!" Nino menarik pinggang Tifanny dan memeluknya.
Tifanny pun berbalik lagi dan memandang wajah pria yang sudah berstatus suaminya itu.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?" Nino menatap wajah Tifanny dengan dalam.
"Aku hanya tidak menyangka kita akan menikah. Semuanya seperti mimpi. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."
"Bertanya apa?" Raut wajah Nino tampak penasaran mengenai pertanyaan yang akan di tanyakan oleh istrinya.
"Mengapa harus aku wanita yang kau nikahi? Maksudku, kau pun tahu keadaanku dan keluargaku seperti apa. Bahkan papaku psikisnya sedikit terganggu sebelum kita menikah. Sedangkan keluargamu adalah keluarga terpandang dan pemilik perusahaan teknologi yang sangat besar di negara kita. Mengapa kau tidak mencari wanita yang sederajat denganmu?" Tifanny menatap mata Nino penuh keingintahuan.
"Karena hanya kau wanita baik-baik di mataku," jawab Nino dengan tenang.
"Baik-baik? Kau yakin aku wanita baik-baik? Selama kita berpisah selama tiga tahun, aku sudah berubah dan bukan wanita baik-baik lagi," Tifanny tampak ingin mengetes Nino.
"Berubah seperti apa?" Nino menyipitkan kedua matanya.
"Benarkah? Kalau begitu aku yang akan memeriksanya," Nino bangun lagi dan memerangkap tubuh Tifanny dengan tangannya.
"Kau mau apa?" Tifanny bertanya dengan waspada.
"Aku akan membuktikan perkataanmu," Nino tersenyum menikmati ketakutan dari wajah istrinya.
"Tapi-"
"Tapi apa? Bukankah kau tadi mengizinkanku?" Raut wajah Nino berubah serius.
"Baiklah, aku siap," Tifanny memejamkan matanya
Nino mencium bibir Tifanny dengan lembut. Semakin lama, Nino semakin memagut bibir Tifanny dengan dalam. Tubuh Tifanny bergetar hebat. Ia memang tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
"Bernafas!" Nino menghentikan ciumannya dan tertawa melihat Tifanny yang mencari oksigen untuk bernafas.
__ADS_1
"Kau ini menyebalkan!" Tifanny memukul mukul dada Nino dengan tangannya.
"Aww, sakit! Jangan memukulku di dada sebelah kiri! Di sana letak jantung, jika aku mati, kau mau menjadi janda?"
"Bukankah pada akhirnya aku akan menjadi janda?" Tifanny bergumam pelan dengan sedih.
"Aku tidak akan menjadikanmu janda," Nino membenamkan bibirnya kembali di bibir Tifanny.
"Apa maksud dari kata-kata Nino? Apakah dia tidak akan jadi untuk menceraikanku? Tifanny Stuart, jangan berharap yang tidak-tidak! Persiapkan selalu hatimu untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi," Tifanny mengingkari perkataan Nino. Sedangkan bibir Nino mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya.
Nino menanggalkan semua pakaian miliknya dan milik Tifanny.
"Nino, sakit!" Tifanny mencakar bahu Nino dengan tangannya saat ia merasakan sesuatu menyakiti bagian sensitifnya.
"Tahan sebentar!" Dengan lembut Nino mencoba untuk menyatukan tubuhnya.
Tifanny pun hanya memejamkan matanya dan pasrah dengan semua perlakuan yang Nino lakukan padanya.
****
Nino memeluk tubuh istrinya saat mereka mengakhiri percintaan yang terasa memabukan itu. Keringat bercucuran dari kening keduanya.
"Terima kasih," Nino mencium kening Tifanny dengan lembut.
"Untuk?
"Karena aku adalah pria yang pertama untukmu," Nino mengusap rambut Tifanny yang tergerai ke depan wajahnya.
"Aku harus jawab apa? Aku harus jawab sama-sama? Seperti kita sedang bertransaksi saja," Tifanny menggaruk rambutnya.
"Kau ini mengapa sangat menggemaskan sekali? Ayo kita tidur! Besok kita harus pergi lagi untuk jalan-jalan," Nino mendekap tubuh Tifanny ke dalam dekapannya.
Sepanjang malam, Nino tidak benar-benar tidur. Ia terus memperhatikan wajah wanita yang ada di dalam dekapannya.
"Aku sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu dan aku tidak akan meninggalkanmu," bisik Nino.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...