Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Tercebur


__ADS_3

Nino dan Tifanny menoleh ke arah sumber suara.


"Fiona?" Gumam Nino saat melihat wanita yang dulu akan dijodohkan dengan dirinya.


"Nino, lama tidak bertemu ya?" Fiona bergelayut manja di tangan Nino.


"Nona, tolong lepaskan tangan suami saya!" Tifanny melepaskan tangan Fiona dengan paksa dari tangan Nino.


"Jadi, ini istrimu? Cantik aku ke mana-mana," Fiona tersenyum mengejek melihat penampilan Tifanny.


"Diamlah! Istriku lebih cantik dan lebih baik dari pada kau!" Jawab Nino.


"Sayang, dia siapa?" Bisik Tifanny kepada Nino.


"Sepertinya aku pernah melihatnya," Tifanny tampak berpikir.


"Aku wanita yang dijodohkan dengan Nino, tetapi semuanya batal gara-gara kau!" Fiona menunjuk Tifanny.


"Jangan dengarkan dia! Ayo kita pergi, sayang!" Nino menarik tangan istrinya.


"Nino, kau mau ke mana?" Fiona berteriak.


Sedangkan Nino tidak menjawab, ia terus membawa Tifanny menjauh dari Fiona.


"Sudahlah. Targetku sekarang adalah Alden. Dia kan belum menikah," Fiona mencari keberadaan Alden di pesta itu.


"Nah itu dia!" Fiona tersenyum senang.


"Baby?" Fiona menghambur memeluk Alden.


Bianca yang sedang memasukan makanan ke dalam tas pun langsung meninggalkan stand dan mendekat ke arah Alden.


"Nona, tolong lepaskan tuan Alden!" Bianca menarik tangan Fiona dengan kasar.


"Baby, kau masih memperkerjakan dia?" Fiona menunjuk Bianca.


"Sudahlah, Fi. Bukan urusanmu!" Alden berkata dengan malas.

__ADS_1


"Baby, aku merindukanmu!" Fiona lagi-lagi memeluk Alden.


"Jangan sentuh tuan Alden!" Bianca kembali menjauhkan tubuh Fiona.


"Kau benar-benar menyebalkan. Aku hanya ingin bersama kekasihku."


"Kekasih? Aku bukan kekasihmu lagi Fi," Alden menampik.


"Nah dengar kan? Sudah ya jangan ganggu Alden lagi!" Bianca menarik tangan Alden menjauh dari Fiona.


"Shit!" Maki Fiona.


Fiona pun berjalan dan memperhatikan para tamu undangan yang berlalu lalang.


"Pria itu tampan juga," Fiona tersenyum saat melihat Kai yang sedang berdiri di pinggir kolam renang.


"Hay, bolehkah aku berkenalan denganmu?" Fiona menyodorkan tangannya ke arah Kai yang sedang memakan kue.


Kai tampak tidak merespon dan memandangi sepasang pasangan yang sedang berbahagia malam ini.


"Tuan?" Fiona melambaikan tangannya di hadapan wajah Kai.


"Iya. Bisakah kita berkenalan?" Fiona tersenyum semanis mungkin.


"Oh, tidak bisa. Aku tidak ingin berkenalan dengan siapapun," Kai melanjutkan kembali aktifitasnya, yakni memakan kue yang ada di tangannya.


"Ayolah, tuan! Jangan jual mahal!" Fiona menggelayuti tangan Kai.


"Hey, apa yang kau lakukan dengan suamiku?" Teriak Alula yang baru datang setelah mengambil makanan.


"Suami? Anda sudah beristri?" Fiona tampak kaget.


"Sayang, sedang apa kau dengannya?" Tanya Alula kepada suaminya yang masih asik menikmati kuenya.


"Dia mengajakku berkenalan, sayang. Tapi aku tidak mau," jelas Kai dengan mulut yang dipenuhi dengan kue.


"Dasar wanita gatal!" Alula mendorong Fiona hingga tercebur ke kolam renang.

__ADS_1


Semua yang melihat pun menoleh dan tertawa melihat Fiona yang berada di dalam kolam renang. Fiona bersusah payah untuk naik dari kolam renang itu.


"Sayang, kau hebat!" Puji Kai kepada istrinya.


"Tidak ada satu pun wanita yang boleh mengganggumu!" Alula memelototkan matanya.


"I-iya, sayang. Jangan melotot ke arahku!" Kai berkata dengan gugup.


Alden yang melihat Fiona terjatuh pun berlari menghampiri Kai dan Alula.


"Baby, tolong aku!" Teriak Fiona yang masih berusaha naik dari kolam.


"Al, kau hebat! Ibu hamil memang mempunyai kekuatan ekstra," kata Alden dengan takjub.


"Harus begitu. Kita tidak boleh membiarkan wanita mana pun dekat dengan suami kita," Alula menyilangkan tangannya di dada.


"Al, kau selalu saja berbeda jika kau sedang hamil. Aku suka. Terus hamil saja ya, Al?" Alden bertepuk tangan.


"Diamlah! Atau aku suruh lagi kau membuat cupcake dan membeli boneka," Alula menatap Alden dengan beringas.


Alden pun langsung berlari menjauh dari Alula dan juga Kai.


Sementara itu Tifanny tampak berjalan menjauh dari suaminya.


"Sayang, jangan salah paham!" Nino mengejar langkah Tifanny.


"Dulu saat aku mengantar pizza. Aku pernah melihatmu bersama wanita itu. Bahkan posisi kalian sangat dekat," Tifanny memandang suaminya dengan tajam.


"Sayang, aku kan tidak menyukai dia. Makanya aku menikah denganmu," Nino berusaha menjelaskan.


"Jadi, kau menikahiku hanya murni karena tidak ingin dijodohkan dengannya? Tidak ada alasan lain?" Tifanny masih menatap Nino dengan berkilat amarah.


"Bukan seperti itu, sayang. Aku juga menginginkanmu, maka dari itu aku memaksamu untuk menikah denganku. Jangan marah lagi padaku ya? Besok kan kita akan berangkat ke Jerman? Masa kau marah denganku," bujuk Nino sambil memeluk pinggang istrinya.


"Benar kau tidak menyukai dia?" Tifanny memastikan.


"Benar sekali. Aku hanya menyukaimu. Jangan marah padaku lagi ya?"

__ADS_1


Tifanny pun mengangguk dan tersenyum kembali.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2