
Malam ini adalah malam pertunangan Aiden dan Cassie. Semua tampak hadir di pesta itu termasuk Tifanny, Nino, Kai dan Alula.
"Tifanny?" Alula berteriak saat melihat Tifanny. Kini perut Alula sudah semakin membesar.
"Alula?" Tifanny tersenyum senang saat bertemu kembali dengan istri Kai.
"Sayang, jangan berlari!" Kai menuntun tangan istrinya.
"Kita bertetangga tetapi jarang bertemu," Alula memeluk Tifanny.
"Iya, Al. Aku jarang ke luar rumah. Kandunganmu sudah semakin besar ya?" Tifanny mengelus perut Alula.
"Aku doakan semoga kau pun segera hamil ya?" Alula balas mengusap perut datar Tifanny.
"Kau ini bagaimana No? Masih belum berhasil menghamili anak orang?" Kai bertanya kepada Nino.
"Kami sedang menikmati berpacaran sambil menikah Kai," Nino tersenyum.
"Sayang, kau jangan seperti itu! Kau pun baru berhasil membuat hamil anak orang setelah tujuh bulan pernikahan," Alula mencubit pipi suaminya.
"Oh iya benar juga ya?" Nino tampak mengingat.
"Alden mana ya? Kai tampak mencari keberadaan seorang sahabatnya lagi.
"Pasti dia tengah patah hati sekarang," Nino berkata dengan iba.
"Patah hati kenapa?" Tifanny tampak penasaran.
"Jadi, tunangan kakaknya adalah wanita yang Alden sukai dari dulu."
"Kasihan sekali Alden. Bagaimana pun dia juga sangat baik kepadaku. Dia mau mewujudkan ngidamku dulu," Alula tampak prihatin.
"Semoga anak itu baik-baik saja," ucap Nino.
Kemudian acara segera di mulai. Nino dan Kai tak kunjung menemukan keberadaan Alden.
"Ke mana anak itu?" Nino mencari sosok Alden di acara pertunangan kakaknya.
Sementara di depan, Aiden sedang melingkarkan cincin di jari manis Cassie. Mereka kini sudah sah bertunangan. Pernikahan pun diumumkan dan akan digelar dalam jangka satu bulan lagi.
Sementara itu Alden sedang berada di dalam kamarnya bersama dengan Bianca.
"Ayo kita turun!" Bianca memandang Alden.
"Aku tidak mau," Alden menolak.
"Ayo! Berbahagialah untuk kakakmu!" Bianca menarik tangan Alden dan membawanya ke tengah rumah. Pesta pertunangan memang dilaksanakan di rumah Alden. Tepatnya di taman belakang rumah milik keluarga Alden.
Alden dan Bianca pun berbaur di antara para tamu lainnya.
"Bukankah itu Tifanny?" Bianca memperhatikan Tifanny yang tengah bersama Nino, Kai dan Alula.
"Fann?" Bianca berteriak.
"Hey, mengapa kau berteriak? Lihatlah orang-orang menoleh kepada kita!" Alden merasa kesal.
__ADS_1
"Itu sepupuku!" Bianca menunjuk Tifanny.
Alden pun terperanjat ketika melihat orang yang ditunjuk Bianca adalah Tifanny, istri dari sahabatnya.
"Tifanny? Kau mengenal Tifanny?" Alden memastikan.
"Tentu saja. Dia sepupuku. Ibunya adalah adik dari ayahku," jelas Bianca.
"Ya ampun, dunia ini begitu sempit ya?" Alden seolah tak percaya.
"Jika dia sepupu Tifanny, berarti Bianca juga pasti gadis baik-baik?" Alden menoleh kepada Bianca.
"Tunggu, kau kenal sepupuku?" Bianca tampak penasaran.
"Tentu saja. Tifanny adalah teman sekelasku saat kuliah di Amerika. Dia juga istri dari sahabatku."
"Oh, jadi tuan Nino adalah sahabatmu?" Bianca pun sama terkejutnya.
"Iya. Kita bersahabat dari kecil. Tunggu! Apakah papamu yang menggandeng Tifanny ke venue pernikahan waktu itu?" Alden tampak mengingat.
"Iya, itu papaku."
"Pantas saja saat melihat ayahmu di halte bus, aku familiar dengan wajahnya. Ternyata dia yang menggandeng Tifanny menuju venue pernikahan," timpal Alden.
"Ya sudah, ayo kita datangi mereka!" Bianca menarik tangan Alden lagi. Ia seolah takut Alden jauh darinya dan Alden meminum wine lagi.
"Tidak usah menarikku! Aku pun akan datang kepada sahabatku," Alden melepaskan cekalan tangan Bianca.
"Fannn?" Bianca segera berlari ke arah Tifanny.
"Sedang apa kau di sini?" Tifanny melepaskan pelukannya.
"Aku bekerja di sini, Fann."
"Bianca?" Sapa Nino.
"Hey, tuan Nino!" Bianca menjabat tangan Nino sebentar.
"Alden, akhirnya kami menemukanmu!" Kai menepuk bahu Alden yang kini berdiri di sampingnya.
"Jadi, dia mangsa barumu?" Kai melirik Bianca.
"Mangsa apa, sayang?" Alula tampak tidak mengerti.
"Kau jangan macam-macam! Dia sepupu istriku!" Nino memberikan ancaman.
"Jangan mempermainkannya! Cari gadis lain!" Tifanny ikut-ikutan menghakimi Alden. Tifanny pun begitu tahu sikap Alden karena dulu mereka sekelas bertahun-tahun lamanya.
"Wow, kalian ini kenapa? Bianca ini bekerja padaku, dia menjadi asisten pribadiku. Aku tidak mungkin memangsa gadis seperti dia," cebik Alden kesal.
"Halah, alasan! Nanti juga kau makan," Kai tidak percaya.
"Sayang, Alden memangnya seekor harimau ya?" Alula masih tidak mengerti.
"Sudahlah, sayang. Jangan berpikir terlalu keras! Kasihan anak kita," Kai mengelus perut istrinya.
__ADS_1
"No, kau belum berhasil membuat Tifanny hamil juga?" Alden bertanya blak-blakan.
Tifanny pun menunduk dan bersedih mendengar pertanyaan Alden.
"Sayang, jangan di pikirkan ya?" Nino menghibur istrinya.
"Mulutmu harus aku olesi apa ya?" Kai tampak mengerti dan memukul punggung Alden.
"Kenapa Kai?" Alden bertanya dengan polosnya.
"Hey, peraturan pertama adalah jangan tanyakan perihal anak kepada pasangan yang sudah menikah tetapi belum dikaruniai keturunan!" Kai berteriak.
"Sayang, tadi juga kau bertanya kan?" Alula lagi-lagi menyahut.
"Sayang, tadi kan hanya basa-basi," Kai berbisik.
"Kai, kau sama saja!" Alden menggerutu.
"Maafkan aku ya, Fann! Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Usaha lebih keras ya? Jika Nino masih tidak bisa, aku siap memberikanmu anak," Alden mengambil tangan Tifanny dan mengelusnya.
"Jangan sentuh istriku!" Nino menarik tangan Tifanny.
"Tuan, tolong bersikap yang sopan ya kepada sepupuku!" Bianca menjewer telinga Alden.
"Mangsamu marah Den!" Kai tertawa.
"Hey, gadis udik! Sakit!" Alden melepaskan tangan Bianca dari telinganya.
"Kau memanggil nona ini apa?" Alula bertanya dengan penuh selidik.
"Gadis udik. Memangnya kenapa?" Alden tampak tidak mengerti.
"Sayang, aku jadi ingat saat SMA kau memanggilku gadis udik!" Mata Alula berkaca-kaca memandang Kai.
"Sayang, itu masa lalu! Jangan di ungkit lagi ya?" Kai segera memeluk Alula untuk menenangkan.
"Oh iya, dulu Kai memanggil Alula si gadis udik dan si gadis aneh," Alden tertawa.
"Diamlah! Atau ku ceburkan kau ke kolam renang!" Nino memelototkan matanya ke arah Alden.
"No, kau juga dulu memanggil Alula gadis udik. Suamimu ini dulu jahat Fann!" Alden mengadu.
"Sayang, benarkah begitu?" Tifanny menatap Nino.
"Itu kan hanya sedikit kenakalan anak SMA, sayang," Nino menjawab dengan gugup.
"Sudahlah, lebih baik kita makan!" Bianca menghentikan obrolan mereka.
"Makan terus yang ada di otakmu!" Celetuk Alden.
"Ya karena bekerja sebagai asisten pribadimu itu membutuhkan tenaga dan kekuatan mental yang ekstra. Jadi, aku harus selalu menyiapkan amunisi dengan makan yang banyak."
Bianca pun berlalu ke stand makanan dan mengambil banyak makanan di sana. Sedangkan Nino dan Tifanny menjauh dan mengambil minuman. Saat Nino mengambilkan minum untuk Tifanny, tiba-tiba seorang gadis memanggilnya.
"Nino?" Panggil seorang gadis dengan lembut.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...