
Ujian proposal diadakan dengan terbuka. Jadi, mahasiswa dan umum pun bisa menyaksikan sidang itu secara langsung. Tifanny mencari keberadaan suaminya. Tadi pagi, Nino berjanji akan datang.
Sampai Tifanny dipanggil maju ke depan, ia masih belum melihat kehadiran suaminya. Tifanny pun mulai dicecar oleh dosen penguji mengenai proposal yang akan menjadi cikal bakal skripsinya kelak. Tifanny mengedarkan pandangannya, ia melihat Nino sedang menatapnya sambil tersenyum di deretan kursi yang paling belakang.
Semangatnya menguat saat melihat kehadiran suaminya. Tifanny dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik mengenai latar belakang, rumusan masalah maupun inti dari materi yang ia jabarkan. Setelah menjawab pertanyaan dari dosen penguji, Tifanny pun terduduk kembali di kursinya. Sebelum duduk, Tifanny melihat Nino keluar dari dalam ruangan.
"Nino mau ke mana ya?" Tifanny bergumam di tempat duduknya.
Setelah semua mahasiswa di uji, panitia pun segera mengumumkan nama-nama yang lulus dan tidak perlu mengganti judul. Nama Tifanny masuk ke dalam nama mahasiswa yang lulus sidang ujian proposal. Tifanny begitu lega, setelah ini ia akan benar-benar menekuni skripsinya. Tinggal satu langkah lagi yang harus ia hadapi, yaitu sidang sidang skripsi.
Ketua jurusan menutup sidang ujian proposal hari ini, mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangan untuk merayakan kelulusan mereka. Ada yang sudah ditunggu oleh kerabatnya dengan memberikan buket, balon dan juga selempang. Sementara itu, Tifanny masih mencari keberadaan suaminya.
"Nino ke mana?" Tanya Tifanny dengan sedih.
"Mungkin pulang duluan ya? Ya sudah, aku pulang naik taksi saja," Tifanny merasa kecewa dan langsung keluar dari gedung fakultas untuk pulang.
Saat ia baru selangkah keluar dari gedung fakultas, tiba-tiba terdengar lagu At My Worst di taman fakultas.
"Siapa yang menyetel lagu ini? Apa akan ada yang dilamar?" Tifanny bertanya-tanya.
Tak lama, beberapa orang datang ke hadapan Tifanny dan masing-masing memegang satu balon abjad di tangannya. Tifanny membaca tulisan balon itu.
"Congrats Tifanny!" Tifanny merangkai kata-katanya.
"Sayang, selamat untuk kelulusanmu!" Ucap seorang pria yang berdiri di dekat air mancur taman fakultas. Tifanny melirik sumber suara dan ia melihat suaminya di sana.
"Nino?" Tifanny tertawa.
Kemudian beberapa orang datang dan memakaikan selempang juga memberikan buket bunga kepada Tifanny.
Sementara mahasiswa dan mahasiswi mulai mengerubuni Tifanny dan ada yang mengabadikan momen itu untuk kebutuhan story di media sosialnya.
Nino pun berjalan ke arah Tifanny. Kemudian Nino berlutut di depan istrinya. Semua mahasiswa yang ada di sana pun berteriak histeris saat melihat Nino berlutut di depan Tifanny.
"Sayang, selamat untukmu. Aku harap langkahmu selalu dipermudah. Aku membawakan sesuatu untukmu," Nino membuka kotak cincin yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Saat kita menikah, aku tidak melamarmu dengan cara yang romantis. Maka dari itu, aku ingin memberikanmu selamat dengan cara ini," Nino memandang Tifanny dengan penuh cinta.
"Sayang, bangunlah! Aku terima cincinmu," Tifanny tersenyum senang. Nino pun memakaikan cincin itu di jemari istrinya. Lalu ia segera berdiri dan memeluk Tifanny. Semua mahasiswa yang ada di sana semakin histeris melihat adegan romantis di depannya. Tampak beberapa orang dosen pun keluar untuk melihat keramaian yang terjadi di taman fakultas.
"Maaf aku tidak memberikanmu buket dollar lagi," ucap Nino dengan senyum manisnya.
"Tidak apa-apa. Kau sudah memberikanku beberapa kartu," Tifanny menggenggam tangan suaminya.
"Kalau begitu, ayo kita berfoto!" Nino mengajak Tifanny ke sudut taman fakultas untuk berfoto bersama.
"Nanti aku akan datang lagi saat sidang komprehensif dan sidang skripsimu," tutur Nino dengan lembut.
"Baiklah, aku pegang janjimu."
***
Alden melajukan mobilnya untuk pulang tentu saja diikuti dengan Bianca di dalm mobilnya.
"Heh, wanita udik! Mengapa kau harus bekerja sebagai asisten pribadiku?" Alden menggerutukan giginya menahan rasa geram yang ada di dalam dirinya.
"Simple saja, seseorang bekerja karena membutuhkan uang," Bianca menjawab dengan datar.
"Aku tidak tertarik," timpal Bianca.
"Apa uang yang diberikan oleh sugar daddymu kurang hingga kau bekerja menjadi seorang asistenku?" Alden bertanya dengan geram.
"Sugar daddy? Maksudmu?" Bianca tampak tidak mengerti.
"Jangan berpura-pura!" Alden mendelik kesal.
"Aku tidak mengerti," jawab Bianca dengan tegas.
"Aku kenal wanita sok suci sepertimu. Lihat saja, aku akan membongkar kedok aslimu itu di hadapan mama!" Ancam Alden.
"Silahkan saja, tuan! Saya tidak sedang memakai kedok, ini wajah asli saya!" Bianca menunjuk wajahnya sendiri.
__ADS_1
Alden mencengkram setir kemudi menahan amarah pada dirinya. Sesampainya di rumah, Alden langsung berjalan ke arah dapur.
"Lebih baik anda segera tidur, tuan!" Bianca masih mengekori Alden.
"Kau duduklah! Aku sedang membuat minuman untukku dan untukmu."
"Baiklah," Bianca duduk di kursi yang ada di dapur. Ia memang cukup lelah karena tengah malam harus mengikuti pria yang ada di depannya.
"Dasar gadis udik! Gara-gara kau, aku harus menahan keinginanku. Sudah lama aku tidak melakukannya, saat aku akan melakukannya kau malah menggagalkannya. Kau harus menggantikan Fiona untuk memu*askanku," Alden diam-diam menaruh obat tidur yang ia beli untuk dirinya sendiri saat susah tidur ke dalam minuman Bianca.
"Ini untukmu," Alden memberikan segelas minuman yang sudah ia bubuhi obat tidur kepada Bianca.
"Terima kasih, tuan!"
"Lihatlah gadis udik! Aku akan bersenang-senang denganmu malam ini," Alden menyeringai jahat.
Bianca mengangkat gelas minuman itu untuk meminumnya.
"Tuan, anda tidak menutup pintu kulkasnya?" Bianca menunjuk kulkas yang masih terbuka.
"Oh iya," Alden berdiri dan menutup pintu kulkas itu.
Saat Alden berbalik, gelas Bianca tinggal separuh.
"Kau sudah meminumnya?" Alden memperhatikan wajah Bianca.
"Sudah, tuan. Terima kasih," Bianca meminum kembali minuman itu sampai habis. Alden pun terduduk dan segera meminum minumannya.
"Ngantuk sekali!" Alden menguap dan mengucek matanya.
"Aku tidak kuat. Aku lelah," Alden menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Bianca pun berdiri dari duduknya dengan senyuman mengejeknya.
"Alden, kau terlalu bodoh untuk mengelabuiku!" Bianca menepuk-nepuk kepala Alden yang sudah tertidur. Saat Alden menutup pintu kulkas, Bianca memang menukarkan gelasnya. Untungnya minuman mereka sama sama berisi minuman air mineral.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang ada di dalam otak kotormu itu. Tidur yang nyenyak di dapur ya? Sekarang aku bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak tanpa khawatir kau kabur lagi," Bianca berjalan meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...