Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pergi Lebih Jauh


__ADS_3

Tifanny berjalan ke arah kampusnya. Tekadnya sudah bulat untuk mengajukan cuti kuliah. Walau pun ini begitu berat, tetapi tak ada jalan lain saat ini. Mencari beasiswa saat detik-detik terakhir seperti ini sudah tidak mungkin, sementara perkuliahan semester 8 akan segera di mulai.


"Ini jalan yang terbaik. Aku tidak bisa pulang ke rumah itu lagi," Tifanny menatap surat yang berisi pengajuan cuti kuliahnya yang akan ia berikan kepada bagian akademik.


Tifanny menyimpan surat itu di fakultas dengan sedih. Ia selalu bermimpi untuk merampungkan gelar sarjananya di kampus terbaik ke 3 di dunia ini. Tapi apa daya, keadaan sudah tidak memihaknya lagi. Uang semester untuk semester depan tak mungkin secara instan Tifanny dapatkan. Belum lagi kebutuhan sehari hari dan kebutuhan sekolah Meghan yang harus ia penuhi.


Tifanny pun harus memikirkan tempat tinggal karena dirinya tidak bisa lama-lama berdiam diri di apartemen Elora. Kemarin saja, kedua orang tua Elora datang untuk menjenguk anaknya. Mereka seperti tidak suka ada orang lain yang menginap di apartemen putrinya.


"Aku berjanji. Aku akan kembali lagi!" Tifanny berbalik dan menatap kampus itu dengan pilu.


Setelah selesai mengajukan cuti kuliah, Tifanny segera berjalan untuk mencari pekerjaan. Biasanya toko-toko akan menerima karyawan baru di akhir tahun seperti ini.


Tifanny menyusuri toko demi toko untuk mendapatkan pekerjaan. Tifanny bertekad untuk mengumpulkan uang dan pulang kembali ke Inggris. Saat ia sedang berjalan ke arah restoran cepat saji, Nino melihat Tifanny dan menghadang jalannya.


"Aku menemukanmu!" Nino memegangi tangan Tifanny.


"Nino?" Tifanny tampak kaget melihat Nino ada di hadapannya.


"Ayo ku antarkan kau pulang!" Nino menarik tangan Tifanny menuju mobilnya.


"Aku tidak mau pulang!" Tifanny meronta dan memukul tangan Nino agar laki-laki itu mau melepaskannya.


"Selama 3 hari ini kau tinggal di mana?" Tanya Nino dengan raut wajah yang cemas.


"Bukan urusanmu," Tifanny hendak pergi dari sana, tetapi tangan Nino menahannya lagi.


"Di grup kelas bilang kalau kau cuti kuliah? Mengapa?" Nino menatap Tifanny dengan serius.


Tifanny tampak kaget mendengar ucapan Nino. Ia tidak memberitahukan perihal cuti kuliahnya kecuali kepada Meghan dan Elora.


"Kau tahu dari mana?"


"Tadi ada teman kita yang melihatmu saat kau mengantarkan surat pengajuan cuti kuliah ke fakultas. Mengapa kau harus mengambil cuti?"


"Aku sudah bilang, itu bukan urusanmu!"


"Kau belum membayar uang semester? Aku akan membayar uang semestermu," kata Nino.


"Tolong jangan ikut campur perihal kehidupanku! Semuanya begitu rumit saat aku dekat denganmu," Tifanny menatap Nino dengan sendu.


"Tolong jangan tambah bebanku lagi!" Lanjutnya.


"Aku tidak menambah bebanmu. Aku hanya ingin membantumu."

__ADS_1


"Tapi aku tidak butuh bantuanmu!"


"Mengapa kau ini sangat keras kepala? Aku akan membayar uang kuliahmu dan ayo kita tinggal di apartemen milikku!" Ajak Nino.


Tifanny pun memejamkan matanya dan tidak mengerti jalan pikiran Nino. Semenjak dekat dengan Nino, memang Tifanny mendapatkan perlakuan buruk 2 kali lipat dari keluarganya.


"Aku tidak mau. Tolong jauhi aku! Aku tidak ingin terkena masalah lagi bila terus dekat denganmu. Biarkan aku hidup tenang!"


"Kau sungguh tidak mau berdekatan denganku?" Tanya Nino dengan serius.


"Iya. Jangan dekat-dekat denganku lagi! Lagi pula aku hanya bahan taruhanmu kan?" Mata Tifanny berkaca-kaca.


"Kau pun memanfaatkanku untuk menyakiti Clara," Nino meninggikan suaranya.


"Kita sama-sama saling menyakiti. Maka dari itu jauhi aku! Anggaplah kita tidak pernah saling mengenal," Tifanny mulai menangis.


"Kau ingin begitu? Baiklah. Aku tidak akan pernah menemuimu lagi," Nino berbalik dan masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Ini yang terbaik. Aku tidak ingin semuanya menjadi tambah rumit," Tifanny menyeka air matanya.


Sementara David tak kunjung mencari anaknya. Saat David akan mencari Tifanny dan Meghan, Belinda selalu menahannya dengan alasan Tifanny dan Meghan belum pergi selama satu minggu. Setelah satu minggu, David boleh mencarinya.


Tifanny mulai berjalan kembali ke arah restoran cepat saji yang ada di depan. Ia masuk dan segera berjalan ke arah kasir. Tifanny pun menitipkan berkas lamaran pada kasir itu.


"Paman?" Tifanny terkejut melihat adik ibunya ada di kota ini.


"Fann? Paman mencarimu kemana mana," paman Tifanny yang bernama Bobby memeluk keponakannya.


"Ayo kita duduk!" Bobby menarik tangan Tifanny untuk duduk.


"Paman mengapa ada di kota ini?" Tanya Tifanny.


"Paman kan sudah bilang, paman mencarimu. Nenekmu menyuruh paman membawamu kembali ke Inggris. Sudah hampir satu bulan paman mencarimu. Paman mencarimu ke kampus, tetapi tidak pernah menemukanmu," jelas Bobby.


Tifanny seakan menemukan sebuah harapan untuk kembali ke negara kelahirannya.


"Di mana Meghan?"


"Dia ada di apartemen."


"Apartemen? Bukankah kalian tinggal di rumah ibu tiri kalian?" Bobby tampak tidak mengerti. Tifanny pun menceritakan semuanya kepada pamannya itu.


"Paman sudah mengira akan seperti ini. Maka dari itu nenekmu menyuruh paman untuk menyusulmu ke mari. Mari kita kembali ke Inggris dan biarkan papamu dengan keluarga barunya! Kau mau kan pulang dengan paman?" Bobby memastikan.

__ADS_1


"Iya, paman. Aku mau," Tifanny mengangguk dengan cepat. Ia sungguh rindu ingin bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga mendiang ibunya yang berada di Inggris.


"Baiklah, malam ini kita kembali ke Inggris!" Bobby memutuskan.


Bobby dan Tifanny pun segera pergi ke apartemen milik Elora. Tifanny memberi tahukan perihal rencananya pulang ke Inggris. Di apartemen Elora pun tampak ada Justin, karena Tifanny memberi tahukan kepergiannya juga kepada Justin.


"Kau yakin, Fann?" Elora memeluk Tifanny sembari menangis.


"Aku yakin, El. Lagi pula apa yang aku harapkan di kota ini? Semoga kehidupanku dan Meghan di Inggris lebih baik."


"Baiklah, jangan lupa selalu kabari aku!" Elora masih menangis.


"Pasti. Terima kasih sudah mau menampungku dan Meghan. Kau memang sahabatku!" Tifanny menitikan air matanya saat menatap Elora.


"Justin, aku pamit!" Tifanny menatap Justin.


"Padahal aku berharap kau menjadi kekasihku," Justin berkata jujur.


"Aku tidak ingin berpacaran," Tifanny tersenyum.


"Bolehkah aku memelukmu untuk perpisahan?" Harap Justin.


"Boleh. Pelukan sebagai seorang sahabat," Tifanny mengiyakan. Justin memeluk Tifanny dengan lembut. Ia memang sudah lama memendam rasa kepada Tifanny.


"Biarkan malam ini aku dan Elora mengantarkanmu ke bandara!" Pinta Justin saat ia melepaskan pelukannya.


"Baiklah."


Malam harinya...


Justin melajukan mobilnya menuju Bandar Udara Internasional Logan. Di dalam mobil ada Tifanny, Meghan, Elora dan juga Bobby.


"Aku akan merindukanmu. Aku akan menyusulmu ke Inggris setelah aku lulus kuliah. Berjanjilah untuk melanjutkan kembali kuliahmu!" Pinta Justin saat mereka sudah sampai di bandara.


"Aku tunggu," Tifanny tersenyum.


"Jaga dirimu baik-baik!" Mata Elora tampak sudah bengkak karena menangis sedari tadi.


"Meghan, jaga kakakmu!" Pinta Elora kepada Meghan. Meghan pun hanya mengangguk.


"Aku pergi!" Tifanny melambaikan tangan sembari menangis. Kemudian ia, Meghan dan Bobby segera berjalan ke arah tempat check in loket. Setelah check in, mereka langsung cek gate keberangkatan dalam boarding pass dan menunggu di ruang tunggu.


"Nino, maafkan aku! Aku pergi tanpa memberi tahumu! Memang sebaiknya seperti ini. Bahkan waktu yang pernah kita lalui seperti angan-angan yang tidak pernah terjadi. Semoga kita bisa bertemu kembali dan untuk papa, Tifanny doakan semoga papa bahagia dengan mama Belinda dan Clara. Tifanny izin membawa Meghan, agar kami tidak menjadi beban di keluarga baru papa," Tifanny menatap pemandangan kota Boston dari kaca ruang tunggu bandara.

__ADS_1


...Terus ikuti kisah Nino ya? Karena author akan segera memajukan alurnya ❤...


__ADS_2