
Tifanny, Nino dan Meghan sedang duduk di kursi meja makan untuk makan malam. Akan tetapi, ritual makan malamnya itu sedikit tertunda karena David belum juga pulang.
"Papa kenapa belum pulang? Meghan sangat lapar," resah Meghan saat ayahnya tak kunjung datang, padahal perutnya sudah sangat kelaparan dan tak bisa diajak berkompromi lebih lama lagi.
"Sabar ya, Meghan! Tidak enak jika kita makan duluan. Mungkin papa masih di dalam perjalanan," hibur Nino kepada adik iparnya.
Setelah beberapa lama menunggu, orang yang ditunggu pun akhirnya tiba di rumah.
"Maaf papa terlambat!" Dengan cepat David terduduk di kursi meja makan.
"Papa tumben pulang malam?" Tifanny menatap ayahnya.
"Ta-tadi ada pasien," David menjawab dengan gelagapan.
Tifanny pun tidak mempermasalahkan dan langsung mengambil piring untuk menyajikan makanan di piring suaminya.
"Makanlah yang banyak, sayang!" Tifanny menyajikan Lancashire Hotpot yang ia masak ke atas piring milik Nino.
"Padahal aku bisa memgambil sendiri," Nino tersenyum ke arah istrinya.
"Fanny ambilkan ya, Pa?" Tifanny pun mengambilkan makanan untuk ayahnya.
"Terima kasih, sayang," tutur David dengan tulus.
"Bagaimana, Pa? Papa sudah membeli jam tangannya?" Tifanny menatap David yang sedang mengunyah makan malamnya.
David langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan putrinya.
"Papa baik-baik saja?" Tifanny berdiri dan berjalan ke kursi ayahnya. Tifanny membantu menepuk-nepuk punggung David dan mengambilkan minum.
"Makannya pelan-pelan, Pa!" Nino tampak ikut cemas.
"Papa tidak apa-apa," ujar David setelah ia meminum air mineral yang ada di dalam gelas.
"Papa belum membeli jamnya," David bergumam tetapi masih terdengar oleh Tifanny, Nino dan Meghan.
"Jam tangan apa?" Meghan tampak tidak mengerti.
"Papa bilang ingin membeli jam tangan. Baguslah jika papa belum membelinya, nanti Tifanny temani papa untuk membeli jam tangan yang papa inginkan," pungkas Tifanny dengan semangat.
"Ti-tidak perlu, Fann! Papa bisa membelinya sendiri," David menjawab dengan tergesa.
"Kenapa, Pa?" Tifanny tampak kecewa.
"Kau harus berkonsentrasi untuk menyusun skripsi. Nanti papa membelinya sendiri saja sepulang bekerja."
"Benar?" Tifanny tampak ragu.
"Benar. Papa bisa membelinya sendiri," David berkilah.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
"Kak, maaf ya tadi saat kakak sidang Meghan tidak datang. Tadi ada jam kuliah mendadak yang dipindah ke sore hari," kata Meghan dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Tidak apa-apa, sayang."
"Fann, semoga kuliahmu lancar ya? Nanti saat sidang skripsi papa akan datang," David menimpali obrolan anak-anaknya.
"Iya, Pa. Terima kasih sebelumnya."
"Tadi Tifanny sangat hebat lho! Dia bisa menjawab pertanyaan dosen dengan tenang dan lancar," cerita Nino kepada Meghan dan David.
"Kau lebih hebat dariku, bisa lulus dari Harvard University," Tifanny menoleh ke arah Nino.
"Kan itu berkatmu, sayang! Kau yang membantuku mencarikan judul. Kau tidak ingat?" Tanya Nino dengan suaranya yang mendayu-dayu.
"Ya, tapi kau pun hebat bisa menyusun skripsinya," Tifanny tertawa.
David yang melihat keharmonisan rumah tangga anaknya tersenyum, tetapi tak lama senyuman itu memudar dari wajahnya.
"Papa sudah selesai. Papa ke kamar dulu ya? Papa ingin ganti baju dan beristirahat," pamit David kepada Tifanny, Nino dan Meghan.
"Papa ingin kubuatkan kue jahe?" Tawar Tifanny kepada David.
"Tidak usah, sayang. Papa akan langsung tidur. Papa lelah," tolak David.
"Baiklah, Pa. Selamat malam, tidur yang nyenyak!" Ucap Nino kepada ayah mertuanya. David mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya.
"Papa mungkin lelah. Ayo habiskan makanannya!" Perintah Nino kepada Tifanny dan Meghan.
Makan malam telah usai, semua sudah kembali ke dalam kamarnya masing-masing.
"Sayang?" Panggil Nino saat melihat Tifanny memunggunginya.
"Ada apa?" Tanya Tifanny dengan lunglai.
"Apakah sopan jika kau memunggungi suamimu?" Nino menusuk-nusukan jarinya di punggung Tifanny. Tifanny pun membalikan tubuhnya.
"Maafkan aku! Aku tidak menyadari keberadaanmu," timpal Tifanny dengan suara yang memberat.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?" Nino menatap mata istrinya yang terlihat sendu.
"Aku memikirkan papa. Seperti ada yang tidak beres," lirih Tifanny.
"Sayang, semua baik-baik saja. Lebih baik pikirkan dirimu sendiri ya? Aku buatkan cokelat hangat mau?" Tawar Nino kepada istrinya.
"Aku mau," Tifanny mengangguk cepat. Ia memang sangat suka meminum cokelat hangat sebelum tidur.
"Sebentar ya?" Nino bangun dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Nino masuk kembali ke dalam kamar dengan segelas cokelat hangat di tangannya. Udara memang terasa dingin karena musim gugur telah dimulai.
"Sayang, ini untukmu!" Nino memberikan segelas cokelat hangat itu kepada istrinya.
"Terima kasih," Tifanny langsung meminum cokelat hangat buatan Nino hingga tandas.
"Enak?" Nino menyeka sedikit keringat di rambut Tifanny.
"Sangat enak. Kalau begitu, ayo kita tidur!" Tifanny hendak merebahkan kembali tubuhnya, tetapi Nino mencegahnya.
"Ada apa?" Tifanny melihat gelagat mencurigakan dari suaminya.
"Aku sudah membuatkan cokelat hangat untukmu dan sekarang kau harus membayarnya!" Bisik Nino di telinga Tifanny.
"Mem-membayar apa?" Jantung Tifanny berdebar lebih cepat.
"Kau pun tahu," Nino mulai membuka kancing piyama istrinya satu persatu.
****
"Sayang, aku berangkat bekerja dulu! Hari ini kita tidak olahraga ya?" Suara Nino membangunkan Tifanny dari tidurnya.
"Ya ampun, aku kesiangan. Aku siapkan sarapan dulu ya?" Suara Tifanny terdengar serak.
"Tidak perlu. Aku sudah memasak dan tadi sudah makan bersama Meghan dan Papa. Kau juga segera makan ya? Aku sudah membuatkan untukmu salad buah," Nino terduduk di tepi ranjang.
"Sayang, terima kasih. Mulai besok aku tidak akan kesiangan lagi," Tifanny menatap wajah Nino dengan perasaan bersalah. Ia sungguh merasa gagal menjadi seorang istri.
"Apakah kau ingin aku menyewa asisten rumah tangga saja? Aku takut istriku terlalu lelah," Ucap Nino dengan mimik wajah yang serius.
"Tidak perlu, sayang. Aku masih mampu untuk melayanimu," Tifanny menolak gagasan Nino.
"Benar?"
"Iya. Segeralah berangkat!"
"Baiklah. Terima kasih untuk semalam! Kau sekarang mulai mahir ya?" Nino berbisik di telinga istrinya.
Wajah Tifanny seketika memerah ketika mendengar ucapan suaminya.
"Semalam kau-"
"Ninoo diamlah!" Tifanny berteriak. Nino tertawa melihat raut wajah istrinya yang merah padam menahan malu.
"Aku berangkat," Nino menunduk dan mencium kening Tifanny. Lagi-lagi Tifanny menghangat karena sikap romantis dari suaminya.
Tifanny mengenakan piyamanya kembali. Sebelum mandi, Tifanny merencanakan untuk mencuci terlebih dahulu. Ia berjalan ke arah ruangan khusus untuk mencuci. Suasana rumah tampak sepi karena semua orang sudah berangkat untuk urusannya masing-masing di pagi hari ini. Nino dan David sudah pergi untuk bekerja dan Meghan berangkat ke kampus karena ada kelas kuliah pagi hari.
Tifanny membawa cucian kotor miliknya, Nino dan ayahnya. Sedangkan untuk cucian milik Meghan, Meghan sendiri yang mencuci tanpa merepotkan kakaknya. Tifanny mencuci pakaian-pakaian itu secara terpisah, yang pertama ia mencuci pakaian miliknya dan milik Nino. Setelah selesai mencuci dan mengeringkan cucian miliknya dan Nino, Tifanny mengambil keranjang baju kotor milik David. Tifanny mengambil satu persatu pakaian ayahnya. Saat Tifanny mengambil jas kerja milik David, Tifanny mencium aroma parfum wanita yang sangat menyeruak di indra penciumannya.
__ADS_1
"Aku kenal parfum ini. Ini parfum Bvlg*ari," Tifanny mencium dalam-dalam aroma parfum dari jas putih milik ayahnya. Parfum Bvlg*ari adalah salah satu parfum wanita terbaik di dunia. Tak hanya sebagai salah satu parfum terbaik, tetapi parfum ini terkenal sangat mahal.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...