
Perhatian Nino kepada Tifanny semakin besar setelah tahu istrinya tengah hamil. Ia sudah sangat jarang untuk keluar rumah selain bekerja.
"Sayang, kau mau apa?" Tanya Nino kepada Tifanny yang sedang menonton TV di kamar.
"Aku tidak ingin apa-apa," Tifanny tampak fokus dengan remote yang ada di tangannya.
"Sayang, kau tidak ingin aku membuat cupcake atau yang lainnya?" Nino bertanya lagi.
"Tidak," Tifanny tersenyum menonton kartun kesukaannya.
"Atau kau ingin makanan apa? Biar aku belikan," Nino berusaha memancing lagi.
"Tidak. Aku tidak ingin," Tifanny menggelengkan kepalanya.
"Mengapa kehamilannya berbeda ya dengan Alula? Mengapa dia setenang ini?" Batin Nino. Nino sendiri sudah mempersiapkan mental untuk acara ngidam istrinya karena teringat kepada Alula yang melibatkan dirinya untuk memenuhi acara ngidamnya.
"Oh iya, aku ingin-" Tifanny menoleh kepada Nino.
"Ia, kau ingin apa?" Nino bertanya dengan semangat.
"Aku ingin pergi ke dokter spesialis kandungan untuk memeriksakan kondisi anak kita," jawab Tifanny.
"Ya ampun! Aku lupa akan hal sepenting itu. Maafkan aku. Bersiap-siaplah! Sekarang kita pergi ke dokter," dengan terburu-buru Nino membuka lemari dan mengambil mantel miliknya. Tak lupa ia mengambilkan mantel istrinya.
"Aku pakaikan ya?" Nino memakaikan mantel yang ada di tangannya.
"Aku bisa memakainya sendiri. Aku sedang tidak sakit."
"Kau kan sedang mengandung. Jadi, tidak boleh lelah," Nino mengambil sisir dan menyisir rambut Tifanny.
Nino pun mengambil sepatu dari rak sepatu istrinya.
"Tidak usah!" Cegah Tifanny saat Nino akan memakaikan sepatu di kakinya.
"Biar aku saja," Tifanny mengambil sepatu flat dari tangan Nino dan memakainya sendiri.
"Jangan memanjakanku terlalu berlebihan!" Lanjutnya.
"Aku hanya tidak ingin anak kita kenapa-kenapa," timpal Nino.
"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Tifanny menggandeng tangan suaminya.
Sesampainya di Rumah Sakit, Nino dan Tifanny langsung mendaftar lalu mengantri di ruang tunggu praktek dokter spesialis kandungan.
"Ayo sayang!" Nino berkata dengan semangat saat nama Tifanny dipanggil.
Dokter pun menanyakan perihal hari datang bulan terakhir dan pertanyaan dasar lainnya. Tak lupa, dokter melakukan cek kesehatan seperti penimbangan berat badan juga mengukur tekanan darah.
Setelah semua dilakukan dan hasilnya normal. Untuk selanjutnya, Tifanny diminta berbaring di ranjang pasien untuk dilakukan USG.
"Lihatlah tuan, Nyonya! Itu kantung janinnya," ucap Dokter kepada Nino dan Tifanny.
"Kira-kira berapa usianya, Dok?" Tanya Nino sambil menatap monitor yang menampilkan hasil USG.
"Jika dihitung dari hari terakhir haid, usia kandungan Nyonya Tifanny berusia 7 minggu."
Tifanny pun tersenyum menatap hasil USG yang terpampang di layar.
"Untuk usia kandungan 7 minggu ini merupakan kehamilan normal dan sehat," jelas dokter itu lagi.
"Apakah bayinya berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, Dok?" Tanya Tifanny dengan penasaran.
"Jenis kelamin bayi belum diketahui, Nyonya. Dikarenakan usia janin baru berusia 7 minggu," Dokter menjelaskan dengan ramah.
"Jangan pikirkan mengenai jenis kelamin bayi kita! Mau perempuan atau laki-laki yang penting sehat dan normal. Bukankah begitu?" Nino mengelus rambut istrinya.
__ADS_1
Tifanny pun mengangguk. Dokter mengakhiri pemeriksaannya dan menjelaskan apa yang harus dilakukan Tifanny untuk memenuhi gizinya dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tak lupa, dokter pun meresepkan sejumlah vitamin untuk Tifanny.
"Sayang, kita ke rumah mommy dan daddy ya?" Ajak Nino saat mereka sudah selesai melakukan pemeriksaan dan kini berada di dalam mobil.
"Iya. Pasti kau ingin memberitahukan tentang kehamilanku kan?"
"Iya. Pasti mereka akan senang sekali," Nino menyetir dengan wajah yang gembira.
"Sehat-sehat ya, sayang?" Tifanny mengelus perutnya. Nino pun tersenyum mendengar perkataan Tifanny. Ia masih belum menyangka sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
Mobil Nino memasuki pekarangan kediaman kedua orang tuanya. Terlihat beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka.
"Mommy dan Daddy mana?" Tanya Nino kepada asisten rumah tangga yang membuka pintu rumahnya.
"Tuan dan Nyonya di dalam," jawab asisten itu.
Nino pun menuntun tangan Tifanny masuk ke dalam rumah. Ia melihat kedua orang tuanya tengah bersantai di ruang keluarga.
"Nino? Fanny?" Eliana menyambut kedatangan putra dan menantunya.
"Mengapa kalian tidak bilang jika akan ke mari?" Tanya Arley yang ikut menyambut kedatangan mereka.
"Ya, ini mendadak," jawab Nino. Mereka pun terduduk di sofa.
"Mom, Nino ke mari ingin memberitahukan jika Mommy dan Daddy akan segera menjadi nenek dan kakek," beri tahu Nino kepada kedua orang tuanya.
"Maksudnya?" Arley tampak tidak mengerti.
"Tifanny hamil?" Eliana menutup bibirnya karena terkejut.
"Iya, Mom. Tifanny hamil," Tifanny membenarkan.
"Ya tuhan! Aku akan jadi nenek," seru Eliana dengan girang.
"Mengapa hal sepenting ini baru kau katakan?" Eliana menatap putranya dengan kesal.
"Ya, kan agar menjadi kejutan," Nino menjawab asal.
"Sayang, selamat ya?" Eliana menghampiri Tifanny dan memeluknya.
"Terima kasih, Mom," Tifanny membalas pelukan Eliana. Ia bersyukur mempunyai kedua mertua yang begitu menyayanginya. Bahkan mereka menerima diri Tifanny dengan baik, walaupun sebelum pernikahan Eliana dan Arley tahu kondisi Tifanny dan keluarganya yang serba kekurangan.
"Jaga cucu mommy baik-baik!" Eliana mengelus perut Tifanny yang masih datar.
"Daddy berharap putra kalian kembar agar Daddy bisa memangkunya seperti ini," Arley memeragakan sedang menggendong 2 bayi di kedua tangannya.
"Satu juga tidak apa-apa. Asal tahun berikutnya kau hamil lagi. Buatlah anak sebanyak mungkin agar rumah tidak sepi!" Pesan dari Eliana.
"Tuh buat yang banyak," Nino menoleh ke arah Tifanny. Tifanny hanya tersenyum kaku. Satu saja belum, sudah meminta yang banyak, begitu pikirnya.
*****
Alden membeli sebuket bunga mawar untuk Bianca. Alden pun pergi ke rumah Bianca dengan membawa bunga yang baru ia beli.
"Ca?" Alden mengetuk pintu rumah Bianca.
"Ada apa malam-malam begini kau ke mari?" Tanya Bianca dengan wajah yang tidak ramah.
"Aku membawa sesuatu untukmu," Alden menyerahkan buket bunga mawar yang ada di tangannya.
"Untuk apa? Aku tidak butuh bunga," tolak Bianca dengan ketus.
"Untuk apa saja. Terserah kau. Untuk mandi juga boleh," Alden menggaruk rambutnya.
"Itu saja? Terima kasih kalau begitu," Bianca merebut bunga itu dari Alden dan akan menutup pintu.
__ADS_1
"Ca? Kau tidak membiarkan aku masuk?" Alden menahan pintu yang akan tertutup dengan tangannya.
"Tidak. Ini sudah malam. Lebih baik kau pulang saja!"
"Aku tamumu. Jangan mengusirku seperti itu!" Alden memelas.
"Aku boleh masuk ya?" Rajuk Alden.
Bianca pun tampak berpikir.
"Baiklah. Asal jangan terlalu lama!" Bianca membuka pintunya dengan lebar.
Mereka terduduk di sofa dengan hening dan canggung.
"Ca, maafkan aku!" Alden memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Untuk apa?" Bianca memperlihatkan ekspresi yang dingin dan datar.
"Karena aku sudah memacari Cassie. Maafkan kebodohanku!"
"Mengapa kau meminta maaf padaku?" Bianca memberanikan diri menatap mata Alden.
"Aku bukan siapa-siapa untukmu. Jadi, mengapa kau harus meminta maaf padaku?" Lanjutnya.
"Aku merindukan momen saat kita bersama," Alden berkata dengan sendu. Ia sangat merindukan momen bersama gadis yang ada di hadapannya.
"Momen? Dulu hubungan kita hanya sebatas antara majikan dan asisten. Tidak ada yang spesial," Bianca mengalihkan tatapannya.
"Awalnya aku memang menganggap begitu. Tetapi, lama- kelamaan aku selalu senang saat bersamamu. Aku tidak pernah sesenang saat bersamamu."
"Alden, cukup! Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Pulanglah!" Bianca berdiri dari duduknya.
"Kau tidak memiliki rasa apapun kepadaku? Mengapa aku merasa kau memiliki rasa kepadaku?" Alden mencecar Bianca lagi.
"Aku bilang cukup! Pulanglah!" Bianca menunjuk pintu yang terbuka.
Alden pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Bianca.
"Aku ingin kau berada di dekatku lagi. Selalu. Kembalilah ke sisiku!"
"Sebagai asisten pribadimu lagi?" Bianca tersenyum kecut.
"Tidak. Tapi sebagai pendampingku," Alden memegangi bahu Bianca.
"Alden, bercanda ada batasnya! Lebih baik kau pulang! Aku mengantuk."
"Aku serius," ucap Alden.
"Terserah kau saja. Aku sudah mengantuk dan ingin tidur. Aku lelah," Bianca hendak berjalan menuju kamarnya.
Alden mengejar langkah Bianca dan memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi!"
"Kau ini kenapa? Lepaskan!" Bianca memberontak.
"Aku menyukaimu. Tidak, bukan itu. Aku-" Alden menggantung kata selanjutnya.
Bianca pun langsung terdiam mendengar kata-kata Alden. Mendadak jantungnya sangat berdebar dengan kencang.
"Aku apa?" Suara Bianca terdengar bergetar.
"Aku mencintaimu."
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1