Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Apartemen Alden


__ADS_3

"Tapi siapa? Kau ini membuatku penasaran," protes Kai yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Nino.


"Dia wanita yang dijodohkan oleh Mommy," jawab Nino kemudian.


Alden langsung membulatkan matanya, begitu pun dengan Kai.


"Jadi, kalian mencintai orang yang sama?" Kai menatap Nino dan Alden bergantian.


"Mencintai? Bahkan menyukainya pun tidak," timpal Nino ketika mendengar ucapan Kai.


"Sama, Kai. Dia hanya tempat untuk-. Ya kau tahulah!" Alden menepuk tangan Kai yang duduk di sebelahnya.


Kemudian Alden tertawa dengan sangat keras.


"Kau kenapa tertawa?" Nino bertanya dengan kesal.


"Aku hanya tidak menyangka kau akan mendapat bekasku. Di saat aku akan membuangnya, kau memungutnya dan menjadikan dia istrimu," Alden menghapus air mata di sudut matanya karena terlalu lepas tertawa.


"Diamlah! Itu tidak lucu, aku tidak akan menikahinya. Kau tahu? Dia berlaga menjadi gadis yang polos. Mommy bilang dia tidak pernah berpacaran."


"Dan kau percaya?" Alden tertawa lagi.


"Tentu saja tidak. Bahkan dia bilang jika dia tidak punya kekasih saat ini."


Kali ini Kai yang tertawa dengan keras.


"Kau kenapa?" Alden menatap Kai dengan kesal.


"Kasihan sekali kau, Den! Dia malu mengakuimu sebagai kekasihnya," Kai berkata dengan tawa yang lebih keras.


"Diamlah, Kai!" Alden mengerucutkan bibirnya.


"Polos dari mananya No? Saat pertama kali melakukannya, keadaannya sudah seperti jalan tol bebas hambatan," jelas Alden.


Mereka bertiga pun tertawa kembali bersama.


"Dan Fiona akan menjadi istrimu?" Celetuk Alden di sela-sela tawanya.


"Lalu, apa usahamu untuk menggagalkan perjodohan itu?" Tanya Kai kemudian.


"Aku punya rencana. Den, kau mau membantuku?" Nino menepuk bahu Alden.


"Tentu saja. Aku pun kasihan jika kau harus menikah dengannya."


"Kalau begitu apa rencanamu?" Kai menatap wajah Nino.


"Sini, aku bisiki!" Nino berbisik kepada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Mengapa bisik-bisikan seperti ini sih? Kita kan hanya bertiga?" Alden menggaruk rambutnya.


"Oh iya," Kai dan Nino pun ikut bingung.


"Ya pokoknya seperti itu saja. Jalankan rencananya ya?" Pinta Nino.


"Oke."


"Terima kasih ya, Den?" Nino berkata dengan tulus.


"Iya, aku pun kasihan jika Fiona jadi istrimu."


Mereka pun segera turun dari mobil dan berjalan-jalan di taman.


*****


"Mom?" Panggil Nino kepada ibunya.


"Apa sayang?" Jawab Eliana kepada putranya.


"Nino mau bertunangan dan menikah dengan Fiona," tutur Nino dengan senyum yang merekah di bibirnya


Eliana langsung menjatuhkan ponselnya ketika mendengar kata-kata Nino. Ia begitu terkejut akhirnya Nino mau menikah dengan Fiona.


"Terima kasih, sayang. Mommy sangat bahagia. Fiona adalah gadis yang baik untukmu," Eliana memeluk Nino dengan haru.


"Nanti kita beli cincin pertunangannya ya, Mom?" Ajak Nino kepada ibunya.


"Iya," Nino tertawa.


"Kalau begitu mommy hubungi dulu Fionanya terlebih dahulu," Eliana mengambil ponselnya yang terjatuh. Kemudian ia segera menelfon Fiona.


"Fi, Nino sudah setuju menikah denganmu. Dua minggu lagi kalian jadi bertunangan," Eliana langsung to the point saat Fiona menjawab panggilan telfonnya.


"Benarkah tante?" Jawab Fiona dengan riang.


"Tentu saja. Nanti dua hari lagi kami akan ke rumahmu untuk membicarakan semuanya," Eliana berkata dengan antuasias.


"Oke, tante," jawab Fiona dengan girang. Eliana pun mendengar Fiona berteriak karena terlalu senang.


"Ya sudah, tante akan membeli cincin unfuk pertunangan kalian dulu dengan Nino."


"Iya, tante. Sampai ketemu nanti!" Fiona mengakhiri percakapannya.


"Ayo mom!" Ajak Nino.


"Ayo sayang!" Eliana langsung menggandeng tangan putranya.

__ADS_1


Sementara itu Alden datang ke rumah Fiona.


"Baby, tumben sekali kau ke mari!" Ucap Fiona saat melihat kekasihnya datang.


"Aku ingin mengajakmu ke apartemenku," jawab Alden dengan jujur.


"Kau sedang ingin?" Fiona menyubit tangan Alden dengan gemas.


"Iya. Ayo!"


"Lakukan saja di sini, baby! Di rumah sedang tidak ada siapa-siapa."


"Aku tidak mau. Di sini ada asisten rumah tanggamu. Kau kan selalu berisik," Alden berkilah.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!" Fiona menarik tangan Alden.


"Wanita ini benar-benar!" Alden menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di apartemen Alden. Fiona langsung membuka kancing kemeja Alden satu persatu. Fiona pun mendorong Alden ke atas tempat tidur.


Alden segera meraup tubuh Fiona untuk memulai percintaan mereka.


****


"Mom, aku harus ke apartemen Alden terlebih dahulu," tutur Nino sembari mengemudikan mobilnya.


"Untuk apa? Lebih baik nanti saja. Kita pergi dulu membeli cincin," Eliana menolak.


"Mom, ponselku yang satunya tertinggal di apartemen Alden. Di sana ada jadwal meeting daddy."


"Ya ampun! Kalau begitu ayo cepat kita ambil ponselmu!" Eliana berkata dengan panik.


Nino pun membelokan mobilnya menuju apartemen milik Alden. Sesampainya di apartemen, Nino dan Eliana segera naik ke lift untuk mencapai kamar apartemen milik Alden.


"No, cepat ya?"


"Suara apa itu, mom?" Bisik Nino di telinga ibunya.


Mereka mendengar suara rintihan dari seorang wanita di dalam kamar. Nino segera membuka pintu kamar apartemen Alden. Ia melihat Alden dan Fiona tengah berc*nta.


"Fi? Kaukah itu?" Eliana membulatkan matanya dengan sangat sempurna ketika melihat Fiona tengah bergelut dengan Alden di bawah satu selimut yang sama.


"Tante? Nino?" Fiona bak di sambar petir melihat Eliana yang berdiri di ambang pintu kamar apartemen kekasihnya. Saat ini ia dan Alden sama sama tidak menggunakan sehelai benang pun.


Nyobain nyisipin Gift. Nyala ga ya?😂😂 Nino sama Alden nih waktu ngetawain si Fiona 🤣🤣


__ADS_1


Sumber gift : Instagram


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2