
Fiona sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi apartemen Alden. Beberapa jam yang lalu, Fiona kembali berc*nta dengan kekasihnya itu.
"Alden sangat liar, tapi aku suka," ucap Fiona saat ia membersihan dirinya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Fiona ke luar dari kamar mandi dan melihat Alden masih berbaring di kasurnya sambil memainkan ponsel.
"Baby, mengapa kau masih tiduran seperti ini? Kau ingin mengulanginya lagi?" Fiona membaringkan kembali tubuhnya yang masih terbungkus handuk di samping Alden.
"Kau ingin lagi?" Tanya Alden yang asik dengan ponselnya.
"Ayo kita lakukan lagi!" Fiona membuka handuk yang membungkus tubuhnya.
"Lain kali lagi ya, Fi. Aku ada urusan dulu," Alden berdiri dan langsung mengambil handuk. Alden langsung menyimpan ponselnya di atas nakas dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Oke," jawab Fiona dengan kecewa. Ia pun segera memakai baju miliknya.
"Dia benar-benar wanita yang gila!" Seru Alden saat ia mengingat percintaannya dengan Fiona tadi.
"Aku akan segera membuangnya nanti. Aku ingin berubah," Alden mengingat ibunya yang kini tengah sakit. Ibunya meminta agar Alden berubah menjadi pria yang baik.
*****
"No, antarkan ini ke rumah Fiona ya?" Eliana masuk ke kamar Nino sambil membawa sekotak makanan.
"Aku malas, mommy suruh supir saja untuk mengantar," jawab Nino dengan malas.
"Ayolah, No! Mommy sudah berjanji agar kau yang mengantar makanan ini ke rumah Fiona."
"Mengapa mommy menjanjikan hal yang tidak aku setujui?"
"Kali ini saja, No! Mommy akan malu jika kau tidak mengantarnya," Eliana masih berusaha.
"Aku tidak mau."
"Kalau kau tidak mau, mommy akan pergi sekarang juga!" Eliana berpura-pura ke luar dari kamar Nino.
"Oke, mom," Nino berdecak kesal. Nino tidak suka sikap ibunya yang selalu memaksa.
"Nah, seperti itu," Eliana tersenyum.
"Bawa ini juga ya?" Eliana memberikan buket bunga mawar kepada Nino.
Nino segera mengambil kotak makanan itu, tetapi Nino tidak mengambil bunganya.
"Aku pergi," pamit Nino dengan malas.
Nino segera pergi ke rumah Fiona yang lumayan tak jauh dari tempat tinggalnya.
"Hey calon suamiku! Ayo masuk!" Sapa Fiona saat melihat Nino di depan pintu.
Nino melihat tanda merah di leher Fiona. Fiona memang sudah memakai syal di lehernya, tetapi syal itu terlalu kecil dan tidak menutupi tanda merah itu dengan sempurna. Nino tersenyum ketika mengenali tanda itu.
"Mommy, benarkah kau akan menjadikan wanita ini istriku ?" Nino tersenyum sinis sembari terus memperhatikan tanda merah itu.
"Ayo duduk!" Fiona langsung menarik tangan Nino untuk masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Aku ke mari hanya sebentar, aku mengantarkan ini untukmu. Itu dari momny," Nino melepaskan tangan Fiona yang tengah menggenggamnya.
"Terima kasih. Duduklah! Aku akan membuatkanmu makanan yang enak."
"Tidak. Aku harus segera pulang," Nino membalikan tubuhnya.
"Kalau kau tidak mau, aku akan melaporkannya kepada tante El," ancam Fiona.
"Kau mengancamku?" Nino menyipitkan matanya.
"Ayolah! Aku hanya menyuruhmu untuk duduk bukan yang lain," Fiona kembali berusaha untuk bersikap semanis mungkin.
"Tidak akan lama," bujuk Fiona kembali.
Nino pun mengalah, ia langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Terima kasih kau mau repot-repot mengantarkan makanan ini kemari," Fiona terduduk dan merebahkan kepalanya di dada Nino. Sedangkan tangannya mengusap-ngusap leher Nino.
"Fi, apa yang kau lakukan?" Nino menjauhkan tubuhnya.
"Aku calon istrimu. Kau bisa bersikap bebas sesukamu. Kau boleh menyentuhku sesuka hatimu," Fiona memajukan wajahnya.
"Wanita ini benar-benar membuatku kehabisan kata-kata. Tunggu hingga aku memiliki bukti untuk melaporkan semuanya kepada mommy," Nino memperhatikan wajah Fiona yang mendekat padanya.
"Permisi!" Sapa seseorang yang berdiri di pintu pintu yang terbuka.
Fiona langsung menjauhkan wajahnya dan menatap orang yang datang. Nino begitu tersentak saat melihat itu adalah Tifanny. Tifanny pun ikut kaget, terlebih ia melihat adegan tadi.
"Mohon maaf, Nona. Saya kemari mengantarkan pizza pesanan anda. Saya mau ketuk pintunya, tetapi pintu rumah anda sudah terbuka," Tifanny menundukan wajahnya. Merasa canggung dengan apa yang ia lihat tadi.
Tifanny memperhatikan leher Fiona yang penuh dengan tanda merah.
"Apa mereka baru saja melakukan hal yang tidak-tidak?" Batin Tifanny.
"Mana pesanan pizzaku? Kau ini mengganggu saja!" Fiona menggerutu.
Tifanny langsung menyerahkan pizza pesanan Fiona.
"Kalau begitu saya permisi," Tifanny langsung membalikan tubuhnya dan segera berlalu dari sana.
"Sana pergilah! Dasar pengantar pizza pengganggu!" Fiona berteriak.
"Fann?" Teriak Nino.
"Kau mau ke mana?" Fiona mencekal tangan Nino.
"Aku harus segera pergi."
"Kalau kau pergi, aku akan melaporkannya kepada tante El," Fiona kembali mengancam.
"Terserah," Nino menepis tangan Fiona dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Ke mana dia pergi?" Mata Nino memperhatikan setiap sudut jalanan. Mencari keberadaan Tifanny.
"Itu dia," Nino melihat Tifanny tengah melajukan motornya di jalanan yang cukup sepi. Nino segera menyalip motor Tifanny dan memberhentikan mobilnya tepat di depan motor gadis itu. Nino segera ke luar dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Kau ingin mati?" Teriak Tifanny saat melihat Nino ke luar dari dalam mobil.
"Ayo ikut aku!" Nino langsung menggusur tangan Tifanny.
"Ke mana? Aku tidak mau," Tifanny melepaskan tangan Nino dari tangannya.
"Aku bilang ayo masuk ke dalam mobilku! Kita harus bicara."
"Aku tidak mau."
Nino mulai hilang kesabaran, ia langsung memangku tubuh Tifanny yang terasa ringan di tangannya.
"Nino, kau mau apa?" Tifanny berteriak dan memukul mukul punggung Nino saat pria itu menggendongnya dengan paksa.
Nino segera memasukan Tifanny ke dalam kursi penumpang. Nino pun ikut masuk dan mengunci pintu mobil.
"Kau mau apa?" Tifanny menyilangkan kedua tangannya di dada saat melihat Nino duduk di sampingnya.
"Lihat aku!" Nino meraup wajah Tifanny. Kini mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Aku ingin minta maaf untuk peristiwa yang telah terjadi, maafkan aku! Aku tidak bermaksud kurang ajar, aku hanya sedang kalut," Nino berkata dengan lembut.
"Lupakan kejadian itu! Anggap saja tidak pernah terjadi," jawab Tifanny.
"Dan satu lagi. Tadi aku tidak melakukan apapun dengan gadis itu."
"Kau mau melakukan apa pun, apa peduliku? Aku bukan siapa-siapamu."
"Kau tidak cemburu?" Nino mencondongkan tubuhnya. Tifanny dengan refleks mundur ke belakang sampai tubuhnya membentur pintu mobil.
"Tidak. Untuk apa aku cemburu?" Tifanny melihat wajah Nino yang semakin mendekat ke arahnya.
"Benar kau tidak cemburu?" Bisik Nino di telinga Tifanny.
"Aku ingin tahu seberapa jauh kau menjaga dirimu."
"Tidak. Aku tidak cemburu," Tifanny menjauhkan kepalanya.
"Lihat aku!" Nino memegang leher Tifanny. Nino memejamkan kedua mata dan memajukan wajahnya.
Tifanny mendorong tubuh Nino sekuat tenaga hingga Nino terjungkal ke belakang.
"Buka pintunya atau aku akan bertindak nekat!" Tifanny mengambil cairan lada yang ada di tasnya.
"Ayo buka!" Teriak Tifanny lagi.
"Oke, aku akan membukanya!" Nino mengalah.
Tifanny segera ke luar saat Nino membuka kunci mobilnya. Ia segera melajukan motornya meninggalkan Nino yang masih ada di kursi penumpang.
"Nah itu baru gadis yang belum bersentuh," Nino tersenyum melihat bayangan Tifanny yang kian mengecil.
Nino segera pindah ke kursi pengemudi. Ia akan segera pulang ke rumahnya. Saat Nino akan berangkat, ponselnya berbunyi. Nino segera mengangkat panggilan yang diketahui dari Alden.
"No, besok kita jadi dinner ya? Aku akan mengenalkanmu dengan kekasihku itu, aku harus mengenalkannya sebelum aku membuangnya," Alden tertawa renyah dari balik telfon.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...