Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Bianca


__ADS_3

Tifanny membuka matanya ketika dini hari ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.


"Apa itu Nino?" Wajah Tifanny berubah siaga.


Tifanny segera berjalan ke arah pintu dan mengintip dari kaca untuk melihat siapa yang datang.


"Bianca?" Tifanny tersenyum ketika melihat sepupunya datang.


Bianca adalah anak perempuan dari Bobby, paman Tifanny.


"Bi? Kau sudah datang?" Tifanny membuka pintunya.


"Ya, aku sudah datang makanya aku ada di depan rumahmu," Bianca langsung memeluk sepupunya itu.


"Ayo masuk! Aku bawakan," Tifanny membantu membawa barang-barang Bianca.


Bianca datang ke kota Birmingham adalah karena hari ini ia akan melaksanakan wawancara kerja.


"Fann, tidak apa-apa kan jika aku diterima kerja, aku tinggal di sini bersama mu dan Meghan?" Tanya Bianca saat mereka sudah berada di dalam rumah.


"Tidak apa-apa, Bi. Aku malah senang, rumah ini semakin ramai. Akhir-akhir ini Meghan sering menginap di rumah temannya, aku jadi kesepian di rumah. Oh iya Bi, bagaimana kabar paman?"


"Ayah baik-baik saja. Sekarang dia bekerja di pabrik cokelat," senyum Bianca hilang saat mengingat ayahnya.


"Semoga paman nanti bisa membuat toko kuenya sendiri lagi ya, Bi?" Tifanny mengelus tangan Bianca untuk menguatkan. Mungkin Bianca sedih mengingat nasib ayahnya. Toko kuenya gulung tikar dan sekarang Bobby harus bekerja di pabrik cokelat.


"Iya, Fann. Semoga ya. Semoga hari ini pun aku lolos wawancara kerja nya, agar aku bisa mengirim uang untuk ayah dan adik-adikku," ucap Bianca dengan semangat.


"Iya, aku doakan lancar ya. Hari ini kamu akan wawancara kerja di mana, Bi?"


"Hari ini aku akan wawancara kerja di apartemen Autumn Side. Aku melamar sebagai office girl. Ya, kamu kan tahu Fann, aku tidak melanjutkan kuliah," Bianca tampak murung. Ia menyesali keputusannya dulu untuk tidak melanjutkan kuliah saat Bobby masih memiliki uang.


"Bekerja sebagai apapun tidak masalah, Bi. Yang penting pekerjaannya baik dan istilahnya halal."


"Terima kasih ya, Fann untuk dukungannya? Kamu memang sepupu aku yang terbaik," Bianca berdiri dan memeluk Tifanny.


"Fann, ini masih pukul 3 pagi. Ayo kita tidur!" Ajak Bianca kepada Tifanny.


"Ayo. Kamarmu yang di sebelah sana ya?" Tifanny menunjuk kamar kosong.


"Baiklah," Bianca masuk ke dalam kamarnya.


*****

__ADS_1


"Bi, bangun! Bukankah kau harus pergi wawancara kerja?" Tifanny menggoyangkan pelan tubuh Bianca.


"Sebentar lagi, Fann! Aku masih mengantuk," gumam Bianca dari balik selimut.


"Ini sudah pukul 7 pagi, Bi."


"Ya ampun, mengapa kau tidak memberitahuku dari tadi? Wawancara kerjanya akan di mulai 40 menit lagi," Bianca segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Tetapi dia malah berlari ke kamar Tifanny.


"Kamar mandinya di sana, Bi!" Tunjuk Tifanny ke arah kamar mandi.


"Maklum Fann. Aku kan baru datang," Bianca segera berlari ke arah kamar mandi.


"Bi, kau tidak membawa handuk?"


"Tolong ambilkan ya, Fann!" Teriak Bianca dari dalam kamar mandi.


"Ya ampun, Bi," Tifanny menggelengkan kepalanya pelan dan langsung memgambilkan handuk milik Bianca yang ada di dalam kopernya.


Setelah bersiap, Bianca segera berlari ke luar dari rumah. Tetapi, beberapa menit kemudian dia masuk kembali ke dalam rumah.


"Ada apa lagi, Bi?" Tanya Tifanny dengan heran.


"Aku lupa. Aku harus naik bus apa?" Bianca menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Oh iya kan ada maps ya?" Bianca tertawa sendiri.


"Ya sudah, aku berangkat!" Bianca berlari kembali ke luar rumah menuju tempat untuk wawancara kerjanya hari ini.


Bianca langsung naik bus yang berwarna kuning dan matanya terfokus pada ponsel di tangannya. Bianca takut tempat tujuannya terlewat.


"Sepertinya ini!" Bianca turun di halte bus yang ada di dekat apartemen.


"Gawat! Waktunya 10 menit lagi," Bianca segera berlari masuk ke dalam kawasan apartemen.


"Sebentar, aku haus!" Bianca mengambil botol minum yang ada di dalam tasnya dan meminum air yang ada di dalam botol itu. Kemudian Bianca segera berlari lagi.


Saat Bianca berlari, seseorang tidak sengaja menyerempetnya. Bianca langsung terjatuh dan memegangi sikunya yang terluka.


"Aww!" Bianca memegangi sikunya yang tampak berdarah.


Orang yang mengemudikan mobil segera ke luar dari dalam mobilnya yang berwarna putih.


"Kau ini tidak punya mata?" Seorang pria melepaskan kaca mata yang bertengger di matanya.

__ADS_1


"Bukannya minta maaf kau malah memarahiku!" Bianca menatap geram pria yang ada di hadapannya. Pria itu memperhatikan tampilan Bianca yang tampak sangat sederhana. Dia pun tersenyum sinis.


"Aku tahu modus wanita sepertimu. Kau ingin ganti rugi kan? Baiklah, aku tidak punya banyak waktu!" Pria itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang pounds.


"Ambilah!" Ia mengambil tangan Bianca dan menyerahkan uang itu.


"Bukannya minta maaf kau malah merendahkanku!" Bianca melempar uang yang ada di tangannya.


"Uangnya kurang? Kau minta berapa? Mengapa kau tidak ju*l dir*i saja agar mendapatkan banyak uang?" Pria itu tersenyum sinis.


Bianca segera mengambil botol minuman yang ada di tasnya. Bianca menyiramkan air itu ke wajah pria yang ada di hadapannya.


"Kau ini kenapa?" Pria itu berteriak saat wajahnya basah kuyup karena di siram oleh Bianca.


"Aku tahu kau memiliki banyak uang. Tapi kau tidak bisa merendahkan orang kecil semaumu!" Bianca menunjuk-nunjuk pria yang sedang menatapnya dengan garang.


"Jika kau bukan wanita, aku sudah memukulmu dari tadi!" Ia menatap Bianca seolah seperti Elang yang menatap buruannya. Tatapan pria itu kemudian teralih saat ponselnya berdering. Pria itu segera membaca pesan masuk yang masuk ke dalam ponselnya.


"Urusan kita belum selesai. Aku akan mencarimu lagi!" Pria itu segera masuk kembali ke dalam mobil dan melaju meninggalkan Bianca.


Bianca melihat ke bawah. Ia melihat selembar kartu nama yang sepertinya terjatuh dari dompet pria tadi. Bianca memungutnya dan membaca nama pria itu.


"Jadi, nama pria itu Alden? Namanya sangat menyebalkan, persis seperti orangnya!" Bianca membuang kartu nama itu ke tong sampah yang ada di sana dan ia segera berlari lagi menuju apartemen untuk melaksanakan wawancara di bagian kantor pelayanan apartemen.


"Kau di terima bekerja di sini!" Ucap HRD yang mewawancarai Bianca.


"Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja dengan sangat baik," tutur Bianca dengan senyuman sempurna di wajahnya. Ia sangat senang karena mendapatkan pekerjaan. Bianca ingin membiayai sekolah adik-adiknya untuk meringankan beban Bobby.


"Kau bisa mulai bekerja hari ini. Ini kontrak kerjamu! Tolong baca dan pahami poin per pointnya," HRD itu memberikan surat perjanjian kerja.


Bianca membaca satu persatu point dan menandatangani perjanjian itu. Setelah menandatangi kontrak, Bianca segera diarahkan untuk memulai bekerja.


Di hari pertamanya bekerja, Bianca langsung di tugaskan untuk bersih-bersih di lantai 10.


"Bukankah itu pria menyebalkan tadi?" Bianca menatap Alden yang berjalan menuju kamarnya. Kemudian Alden segera masuk ke dalam apartemen miliknya.


"Mengapa dia tinggal di sini sih?"


...Visual Bianca...



Sumber : Instagram

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2