Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Keputusan


__ADS_3

Sebenarnya hari ini adalah hari pertemuan Arley dan Eliana bertemu dengan keluarga Fiona. Tetapi berhubung Arley ada urusan di luar negeri, terpaksa pertemuan itu di undur kembali. Nino bernafas lega karena ia masih mempunyai waktu untuk memaksa Tifanny.


Tifanny mendapatkan telfon oleh HRD tempat karaoke. Ia diminta untuk datang lagi ke tempat kerja karena Tifanny melanggar kontrak perjanjian.


"Fann, kenapa?" Tanya Bianca yang melihat raut was was dari wajah Tifanny.


Tifanny pun mau tak mau menceritakan semuanya pada Bianca.


"Ya ampun, Fann! Mengapa kau nekat mencari kerja di tempat itu?" Bianca berbisik, karena ia takut Meghan mendengar.


"Aku hanya teringat Meghan. Dia harus kuliah, Bi! Aku takut di denda," Tifanny mulai menangis.


"Ya, kalau itu pasti. Pasti kamu dapat finalty," Bianca membenarkan.


"Antar aku ke sana hari ini ya, Bi? Aku takut jika pergi sendiri," pinta Tifanny kepada Bianca.


"Iya, Fann. Aku akan mengantarmu hari ini sebelum berangkat bekerja," Bianca menyetujui.


"Terima kasih, Bi."


***


Tifanny berangkat ke tempat karaoke di mana ia bekerja kemarin, tentunya diantar dengan Bianca karena ia merasa takut. Bianca sendiri menunggu di luar ruangan HRD.


"Anda sudah melanggar kontrak kerja yang anda tanda tangani kemarin," tutur HRD dengan wajah yang tak ramah.


"Maaf, pak! Kemarin saya hampir di lec*hkan oleh pria tua," Tifanny ingin menjelaskan


"Tidak ada alasan. Yang pasti anda melanggar kontrak perjanjian. Anda tahu kan berapa nominal yang harus anda keluarkan? Kemarin anda sudah membacanya di bagian penalty," timpal HRD.


Tifanny menelan salivanya dengan berat. Ia hapal betul berapa jumlah finalty yang di maksud.


"Jika anda tidak membayar uang denda tersebut, terpaksa kami akan membawanya ke ranah hukum," ancam HRD itu.


"Tidak ada pilihan lain selain membayar?" Tanya Tifanny.


"Ada. Anda harus melanjutkan bekerja di sini!"


"Tidak, saya tidak mau," Tifanny menolak.


"Kalau begitu saya tunggu itikad baik anda untuk masalah uang finalty. Paling lambat besok anda harus membayar uang itu."


"Akan saya usahakan. Kalau begitu saya permisi," Tifanny berdiri dan keluar dari ruangan HRD.


"Bagaimana, Fann?" Tanya Bianca yang melihat raut bingung dari wajah sepupunya.


"Aku harus membayar, Bi," air mata yang sedari tadi Tifanny tahan akhirnya ke luar dari matanya.


"Jangan menangis di sini! Ayo kita ke luar!" Bianca menuntun tangan Tifanny untuk ke luar dari area karaoke.


"Aku harus bagaimana, bi?" Tifanny terisak.


"Di mana pun memang pasti ada kontrak kerja, Fann dan pasti ada pula resikonya. Mau tak mau kau memang harus membayar uang denda jika kau ingin lepas dari sana," jelas Bianca.


"Uang dari mana, Bi? Aku mempunyai sedikit tabungan pun untuk kuliah Meghan," Tifanny terus menangis.

__ADS_1


"Pakai saja dulu uang itu, Fann! Keadaanmu lebih mendesak. Jika mereka menuntutmu bagaimana? Bagaimana dengan Meghan?" Tanya Bianca.


"Baiklah kalau begitu," Tifanny pun memutuskan untuk menggunakan uang kuliah Meghan untuk membayar denda terlebih dahulu.


Keesokan harinya, Tifanny membayarkan sejumlah uang denda kepada tempat karaoke itu.


"Semoga aku bisa mendapatkan uang untuk kuliah Meghan," bisik Tifanny sembari terus berjalan. Hari ini ia akan melamar pekerjaan kembali.


***


Seminggu sudah Tifanny melamar pekerjaan. Akan tetapi belum ada yang membuahkan hasil. Tifanny sedang melihat aplikasi pencari kerja. Tifanny meng apply lamaran kerja juga dari aplikasi.


"Kakak!!!" Meghan berteriak dari dalam kamar.


"Meghan? Kau kenapa?" Tifanny langsung mendatangi kamar Meghan dengan panik.


"Kak, lihatlah! Aku diterima di jurusan kedokteran," Meghan memperlihatkan pengumuman di layar ponselnya.


"Ya ampun! Aku harus senang apa harus sedih?" Batin Tifanny saat melihat pengumuman itu.


"Kapan daftar ulangnya, sayang?" Tifanny berkata dengan setenang mungkin.


"1 minggu lagi kak," Meghan menjawab dengan antusias. Akan tetapi, raut wajahnya berubah menjadi sedih.


"Uangnya tidak ada ya kak? Jika tidak ada jangan memaksakan! Meghan bisa mengundurkan diri," Meghan berkata dengan lemas.


"Tidak, sayang. Jika kau mengundurkan diri, biasanya namamu akan di blacklist dan kau tidak akan bisa daftar lagi di tahun berikutnya. Kakak akan mencari uang untuk biaya kuliahmu. Kakak pergi dulu ya?" Pamit Tifanny kepada adiknya.


"Kakak mau kerja?" Tanya Meghan yang belum tahu jika Tifanny sudah kehilangan pekerjaan. Meghan hanya tahu Tifanny masih bekerja sebagai pengantar pizza.


"Iya."


"Kakak, pergi ya?"


"Iya, kak. Semangat ya?" Meghan menyemangati.


Tifanny pun berjalan dengan perasaan tak karuan. Bagaimana ia dapat membiayai biaya kuliah Meghan sementara uang tabungannya pun sudah habis untuk membayar denda?


Tifanny berjalan tak tentu arah. Saat ia melewati halte bus, ia melihat beberapa orang berkerumun.


"Ada apa ya di sana?" Tanya Tifanny pada seorang wanita yang melewat.


"Itu di sana ada seorang pria pingsan. Kasihan sekali!" Jawab wanita itu.


Tifanny pun berjalan mendekati kerumunan. Entah mengapa perasaannya begitu tidak enak.


"Permisi!" Tifanny menembus kerumunan orang-orang.


Tifanny pun menatap seorang pria paru baya tengah tergeletak.


"Papa?" Tifanny berteriak saat melihat ayahnya.


"Pa, bangun!" Tifanny berjongkok dan menangis melihat keadaan ayahnya yang menyedihkan.


"Tuan, tolong carikan taksi! Ini papa saya!" Teriak Tifanny kepada orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


Seseorang pun menyetop taksi. Orang-orang yang ada di sana mengangkat tubuh David ke dalam taksi. Tifanny pun segera naik ke dalam taksi dan membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat.


"Fanny! Meghan!" Teriak David saat ia sudah di dalam ruang gawat darurat.


Tifanny menunggu di luar dengan cemas saat ayahnya sedang diperiksa. Tak lupa, Tifanny pun menghubungi Meghan untuk segera datang.


"Kak, papa kenapa?" Tanya Meghan yang datang dengan berlari.


"Kakak tidak tahu," Tifanny menggelengkan kepalanya.


"Nona, anda putri dari tuan David?" Tanya seorang dokter.


"Iya, dok. Bagaimana keadaan ayah saya?" Tanya Tifanny dengan terisak.


"Papa anda sepertinya mengalami guncangan dan depresi karena kehilangan keluarga yang di cintainya. Sepanjang saya memeriksa tuan David, dia terus berteriak," Dokter membeberkan kondisi David.


"Untung saja depresinya termasuk ke dalam kategori ringan yang artinya 95% tuan David akan bisa normal lagi seperti sedia kala. Akan tetapi, anda harus rutin membawa papa anda ke psikiater untuk memulihkan kondisi psikisnya," lanjut dokter itu.


Tubuh Tifanny langsung lemas mendengar penjelasan dari dokter. Dari mana ia mendapatkan uang untuk biaya ke psikiater?


"Kalau begitu anda bisa melihat tuan David sekarang. Saya permisi," Dokter itu pergi dari hadapan Tifanny.


Tifanny berjalan ke arah tembok rumah sakit. Tubuhnya seketika merosot.


"Cobaan apa lagi ini?" Tifanny menangis lagi.


"Kak?" Meghan ikut menangis.


"Biarkan saja, papa! Meghan benci papa!" Meghan ikut menangis.


"Sayang, kau tidak bisa bersikap seperti itu! Papa adalah ayah kita," ucap Tifanny dengan parau.


"Papa datang hanya untuk menyusahkan kakak," kata Meghan dengan tersedu.


"Kakak tidak suka kamu berkata seperti itu! Dia papamu!" Tifanny sedikit membentak Meghan. Sementara Meghan hanya terus menangis.


"Maafkan kakak! Kemarilah!" Tifanny menarik Meghan ke dalam pelukannya.


"Seburuk-buruknya orang tua, tetaplah mereka orang tua kita. Sejak kecil papa merawat kita dengan penuh kasih sayang, walau akhirnya papa menyakiti kita. Jangan pernah membenci papa, ya?" Tifanny mengusap lembut rambut adiknya.


"Iya, kak."


"Ayo kita lihat, papa!" Tifanny dan Meghan berdiri dan langsung masuk ke dalam ruang gawat darurat.


"Fanny, Meghan? Maafkan, papa!" David berteriak sembari menatap kosong. Ia seperti tidak menyadari kehadiran Meghan dan Tifanny.


"Apa yang papa lalui hingga seperti ini?" Tifanny mendekat dan memeluk ayahnya.


"Fanny! Meghan!" Gumam David dengan lirih tetapi tidak memandang ke arah anak-anaknya.


"Fanny akan melakukan apapun agar papa bisa sembuh lagi," Tifanny menciumi wajah ayahnya.


"Meghan, kakak ke luar sebentar! Tolong jaga papa dulu!" Tifanny berpamitan kepada Meghan.


"Biaya kuliah Meghan, biaya perawatan papa, biaya hidup aku dan Meghan," lirih Tifanny saat ia menggerakan kakinya yang terasa berat.

__ADS_1


"Nino, aku harus menemui Nino," Tifanny menghapus air matanya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2