
4 bulan kemudian...
Awal-awal bekerja, Alden merasa sangat kesulitan untuk beradaptasi dengan pekerjaannya. Itu disebabkan karena sifat manjanya yang belum hilang. Tapi Kai tidak diam saja, ia terus menerus menempa mental sahabatnya itu agar kuat. Bahkan Kai melarang Alden membawa ponsel ke area kantor saat bekerja, tujuannya tak lain agar sahabatnya itu dapat serius dengan pekerjaannya. Kai pun tidak membedakan dan mengistimewakan sikapnya kepada Alden, ia selalu menegur keras jika sahabatnya melakukan kesalahan.
Setelah 2 bulan bekerja, Alden pun terbiasa dengan pekerjaannya. Hingga kini tak terasa, 4 bulan sudah ia bekerja bersama Kai. Alden tidak pernah datang terlambat lagi, ia pun sangat profesional di dalam pekerjaannya. Alden tidak pernah lagi bermain-main saat bekerja. Kai seperti melihat sisi lain dari sahabatnya itu. Kai pun merasa kecewa karena kontrak Alden akan berakhir selama seminggu lagi, Kai sangat puas dengan kinerja sahabatnya selama menjadi sekretaris pribadinya.
"Caaa!!!" Teriak Alden saat ia sampai di rumah. Alden membawa beberapa bingkisan karena ia baru saja mendapatkan gaji bulanannya.
"Sayang, kau sudah pulang?" Tanya Hannah dengan gembira. Ia sangat senang melihat putranya semakin bertanggung jawab dan dewasa.
"Mama?" Sapa Alden saat melihat ibunya.
"Kau sudah makan, Nak?" Tanya Hannah dengan penuh kasih sayang.
"Sudah, Ma. Lihatlah, Ma! Alden membelikan baju untuk mama, papa, kak Aiden dan untuk Bianca," Alden memperlihatkan bingkisan di tangannya.
"Kau baru gajian?" Hannah memperhatikan bingkisan itu.
"Iya, Ma."
"Sayang, tidak usah repot-repot! Lain kali lebih baik tabungkan saja uangmu untuk masa depan keluarga kecilmu. Apalagi jika Bianca sudah hamil, pasti kalian akan memerlukan biaya tambahan," Hannah memberikan nasehat.
"Tidak apa, Ma. Anggap saja ini hadiah dari Alden. Masih ada sisa untuk menabung," Alden memberikan tiga bingkisan kepada ibunya.
"Terima kasih, Nak!" Hannah memeluk putra bungsunya. Ia tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba, di mana anak yang selalu bersikap manja dan malas-malasan berubah menjadi pekerja keras.
"Mama menangis?" Alden memperhatikan sudut mata ibunya yang basah saat Hannah melepaskan pelukannya.
"Mama hanya terharu. Sekarang kau sudah benar-benar dewasa. Jadilah selalu kepala keluarga yang bertanggung jawab kepada keluargamu!" Hannah mengusap kepala putranya.
"Tentu saja, Ma. Terima kasih untuk didikan mama selama ini," Alden berkata dengan tulus.
"Sama-sama, sayang. Masuklah ke kamarmu dan berikan bingkisan itu untuk istrimu! Jangan lupa makan malam dulu ya sebelum tidur!"
"Iya, Ma. Alden masuk dulu ke kamar," Alden meninggalkan Hannah dan masuk ke dalam kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya tengah melipat baju.
"Ca?" Alden memeluk Bianca dari belakang.
__ADS_1
"Kau sudah pulang?" Bianca menghadap ke arah suaminya.
"Iya. Aku bawakan ini untukmu," Alden memberikan bingkisan itu kepada Bianca.
"Terima kasih ya? Terima kasih karena kau sudah berubah," Bianca mengusap dahi Alden yang sedikit basah karena keringat.
"Tidak usah berterima kasih, karena itu semua kewajibanku. Aku ganti baju dulu ya?" Alden membawa baju piyama miliknya dan mengganti baju kerjanya.
Setelah mengganti baju, Bianca membawakan makan malam untuk Alden ke kamar karena semua penghuni rumah sudah makan malam terlebih dahulu.
"Ca?" Panggil Alden saat mereka sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Iya?" Jawab Bianca. Kini mereka berbaring dengan saling berhadapan.
"Aku mulai berpikir untuk masa depan kita. Aku ingin mempunyai usaha sendiri. Walaupun aku bekerja bersama sahabatku, tapi tetap saja sepertinya mempunyai usaha sendiri lebih enak," Alden mengemukakan uneg-unegnya.
"Kau tidak betah bekerja bersama Kai?" Bianca menduga-duga.
"Tentu saja aku betah bekerja dengannya. Aku berubah seperti ini karena sifat Kai yang tegas. Aku tidak akan melupakan jasanya. Di sela-sela bekerja, Kai selalu menasehatiku, dia bilang cobalah untuk membuat usaha sendiri. Di saat kita bekerja pada orang lain, pasti di hari tua kita berhenti bekerja dan tidak memiliki penghasilan lagi. Tetapi saat kita mempunyai usaha sendiri, saat kita tua nanti, kita bisa meneruskannya kepada anak kita," papar Alden lagi.
"Bagaimana bila kita membuat toko kue saja? Papa pernah membuat toko kue. Kita bisa membawa papa ke sini dan mendirikan usaha bersama," Bianca memberikan ide.
"Terima kasih karena kau selalu ada untukku saat berkeluh kesah," Alden mengecup kening Bianca.
****
Kehamilan Tifanny sudah memasuki usia 9 bulan dan mendekati hari perkiraan lahir. Dari pagi hari, perut Tifanny sudah terasa mulas. Tetapi ia menghiraukan sakitnya itu karena berpikir itu hanya kontraksi palsu.
Nino pun memutuskan untuk tidak pergi ke kantor karena ia ingin siaga di saat istrinya melahirkan. Begitu pun dengan David dan Meghan yang memutuskan untuk di rumah menemani Tifanny.
"Nino!!!" Teriak Tifanny dari dalam kamar mandi.
"Ada apa?" Nino masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat Tifanny tengah terduduk di kamar mandi. Ia melihat kaki istrinya basah.
"Sayang, kau akan melahirkan!" Nino memberikan kesimpulan. Ia langsung menggendong Tifanny dan membawanya keluar dari kamar.
"Fanny akan melahirkan?" David berkata dengan cemas.
"Iya, Pa," Nino berjalan dengan cepat dan membawa Tifanny menuju mobilnya. Meghan dan David pun ikut mengantar Tifanny yang akan melahirkan.
__ADS_1
Nino melajukan mobilnya di atas rata-rata. Ia sangat khawatir akan kondisi istri dan calon anaknya.
"Nino!!! Sakit!!!" Tifanny meraung dan memejamkan matanya.
"Sabar, sayang!!" Nino menjawab dengan gemetar.
"Nino, tenanglah!" David menenangkan.
"Iya, Pa!" Nino mencoba untuk sedikit lebih tenang.
Sesampainya di Rumah Sakit, Tifanny langsung dibawa menuju tempat bersalin. Dokter mengatakan jika Tifanny sudah mengalami pembukaan 10.
Dokter pun langsung memberikan aba-aba kepada Tifanny untuk segera melahirkan anak pertamanya.
"Sayang, aku tahu kau kuat!" Nino memegangi tangan Tifanny. Matanya berkaca-kaca melihat istrinya kesakitan.
"Ini sangat sakit!" Tifanny menangis. Ia pun mengejan lagi dan berusaha untuk membuat anaknya lahir ke dunia.
"Tarik nafas dan buang!" Dokter memberikan arahan. Tifanny pun menuruti semua perintah dokter.
"Kepalanya sudah terlihat. Tarik nafas lagi Nyonya!" Seru Dokter yang menangani persalinan Tifanny.
"Sayang, berjuanglah!" Nino memegangi tangan Tifanny lebih kuat lagi.
Tifanny pun mengejan lagi, kemudian tangis seorang bayi yang baru lahir ke dunia memenuhi ruangan persalinan. Tifanny pun disuruh untuk mengejan lagi guna mengeluarkan plasenta yang bertugas untuk menjaga kehidupan bayi selama berada di dalam kandungan ibu.
Plasenta pun dapat keluar dengan alami tanpa menggunakan bantuan apapun.
"Bayinya laki-laki, tuan!" Jelas sang dokter kepada Nino. Nino pun menitikan air matanya saat ia melihat anak pertamanya telah lahir ke dunia dengan keadaan sehat.
"Anakku?" Gumam Tifanny dengan lemas saat ia melihat bayinya di gendongan dokter.
Dokter pun mengambil bayi Tifanny untuk dibersihkan dari lend*ir dan cairan ketuban. Perawat yang mendampingi dokter pun dengan sigap mengeringkan bayi dengan kain yang super lembut.
Dokter segera melakukan tes APGAR kepada bayi Tifanny. Tes ini bertujuan untuk mengobservasi keadaan bayi pada 5 menit pertama saat ia sudah terlahir ke dunia. Bayi Tifanny dan Nino pun mendapatkan nilai 9 yang artinya bayi tersebut sangat sehat. Dokter juga menimbang dan mengukur panjang bayi itu. Semuanya sehat, normal dan baik-baik saja.
"Sayang?" Nino menepuk pipi Tifanny saat istrinya itu memejamkan matanya lagi.
"Dok!!" Teriak Nino saat Tifanny tidak kunjung membuka matanya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...