Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Flashback


__ADS_3

Nino mengambil ponselnya, ia akan menelfon David sekaligus membuktikan apakah benar ayah mertuanya itu membuktikan perkataannya atau tidak.


"Pa, kau di mana?" Tanya Nino saat sambungan telfonnya diangkat oleh David.


"Papa di rumah sakit. Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Tifanny dan Meghan?" Tanya David dengan cemas.


"Tidak. Nino hanya ingin memastikan keadaan papa. Papa bekerja?"


"Iya. Papa sedang di rumah sakit."


"Apakah tante Belinda menemui papa lagi?"


"Tadi Belinda menemui papa, tetapi papa menghindarinya," timpal David.


"Bagus, Pa. Nino minta penuhi janji papa. Papa sudah memilih," Nino mengingatkan.


"Iya. Kalau begitu papa tutup dulu. Papa sedang sibuk."


"Baiklah, Pa. Semoga harimu menyenangkan!" Nino mengakhiri sambungan telfonnya.


"Papa tidak berbohong," Nino menatap pesan dari informannya yang mengatakan jika David bertemu dengan Belinda. Akan tetapi, tak lama David langsung masuk ke dalam rumah sakit.


Sore hari di apartemen...


"Bagaimana ini, Cla? David terus terusan mereject telfon dari mama," Belinda mondar mandir dengan resah sambil terus berusaha menelfon David.


"Ini bahaya, Ma! Mungkin sudah terpengaruh oleh Nino," Clara ikut cemas.


"Tapi mama tidak perlu terlalu khawatir. Kan ada cek yang diberikan oleh Nino. Kita pakai saja uang itu dulu, setelah uang itu habis. Kita pikirkan lagi bagaimana memancing simpati papa David lagi," Clara tersenyum licik.


"Kau benar, Cla! Kalau begitu ayo kita cairkan uang ini!" Belinda memasukan cek yang diberikan asisten Nino ke dalam handbagnya.


"Iya, Ma. Clara ingin segera belanja dan melakukan spa ke salon," Clara terlihat bersemangat.


"Iya, Cla. Mari kita makan lagi di restoran termewah yang ada di kota ini!" Belinda dan Clara pun ke luar dari apartemennya.


Sesampainya di halaman apartemen, ia melihat banyak orang di sana dan beberapa orang polisi.


"Anda nyonya Belinda dan Nona Clara?" Dua orang polisi mendekati Belinda dan Clara.


"Be-benar, ada apa ya?" Belinda terlihat panik. Sementara Clara bersembunyi di punggung ibunya.


"Anda kami tangkap karena tuduhan tindak perampokan terhadap tuan David Stuart dan perampokan terhadap istri dari saudara tuan Neil di Amerika Serikat."

__ADS_1


"Apa-apain ini? Kalian tidak memiliki bukti untuk menangkapku! Aku tamu di negara ini," Belinda meninggikan intonasi bicaranya.


Seorang polisi pun memperlihatkan seorang pria yang ada di dalam mobil dengan tangan diborgol.


"Kau?" Belinda tampak terkejut.


****


Flashback...


"Clara takut padanya, Ma. Lebih baik mama jauhi om Neil! Ayo kita cari papa David ke Inggris! Dia pasti mau menerima mama lagi," Clara membangunkan ibunya.


"Iya, ayo kita cari papa David kembali!"


Keesokan harinya Clara dan Belinda pun mengemasi barang-barang mereka untuk pergi ke Inggris.


"Cla, mama pergi dulu," Belinda melihat ponselnya dan bergegas memakaikan wig di kepalanya.


"Mama mau ke mana?"


"Mama ada urusan sebentar. Kau packing saja barang-barang kita!" Belinda berlalu dari rumahnya dan berangkat ke suatu tempat.


"Honey, ayo masuk!" Bisik seorang pria yang ada di dalam mobil.


"Neil, istrimu dan bodyguarnya tidak mengikutimu lagi?" Tanya Belinda saat ia masuk ke dalam mobil Neil.


"Kita mau ke mana?"


"Melanjutkan yang kemarin," Neil mendelik ke arah Belinda.


Belinda pun tampak mengerti dengan ucapan Neil.


"Kita pergi ke rumahku," Neil melajukan mobilnya ke arah perumahan elite yang ada di kota Massachusetts.


"Bagaimana jika asisten rumah tanggamu mengadu kepada istrimu?" Belinda tampak khawatir.


"Tidak akan. Aku menyuruh mereka semua beres beres di villa yang ada di dekat pantai Martha's Vineyard. Jadi, rumah aman dan kosong. Aku pun sudah mematikan semua cctv yang ada di rumah."


"Kau memang mengagumkan Neil!" Belinda mengelus pipi Neil dengan mesra.


Sesampainya di rumah, Neil membawa Belinda untuk bercinta di kamar miliknya dan istrinya.


"Aku harus membawa sesuatu yang berharga dari rumah ini. Aku perlu bekal untuk pergi ke Inggris," Belinda memakai bajunya kembali. Ia menoleh dan mendapati Neil masih tertidur pulas.

__ADS_1


Belinda mengendap-endap memeriksa seluruh isi kamar.


Tatapannya kemudian terpaku kepada sekotak perhiasan mewah yang ada di dalam laci meja hias milik istri Neil.


"Ini berlian. Ini pasti sangat mahal," Belinda tersenyum puas. Kemudian ia memasukan perhiasan itu ke dalam tasnya dan pergi meninggalkan rumah Neil. Tak lupa, ia pun memakai masker di wajah untuk menutupi identitas aslinya.


"Nyonya, anda siapa?" Tanya seorang penjaga yang melihat Belinda ke luar dari rumah Neil. Penjaga itu pun tampak baru menyadari kehadiran Belinda.


"Saya rekan bisnis tuan Neil, tadi kami baru membicarakan perihal bisnis. Tadi saya berangkat bersama tuan Neil, akan tetapi saya akan pulang sendiri, karena tidak enak apabila harus diantarkan oleh rekan bisnis saya. Bisa memancing asumsi negatif bagi yang melihat," Belinda tampak tenang.


"Mohon maaf kalau begitu, saya tidak tahu! Berhati-hatilah di perjalanan, nyonya!" Penjaga di rumah Neil mengangguk dengan sopan dan membukakan gerbang untuk Belinda.


Belinda pun dapat keluar dengan mudah dari rumah Neil dengan perhiasan yang baru ia ambil. Sebelum pergi, Belinda segera menjual perhiasan-perhiasan itu. Tak lama setelah menjual perhiasan, Belinda dan Clara pun terbang ke Inggris untuk mencari David.


Kota tujuan pertama mereka adalah kota Cambridge, terakhir yang Belinda tahu jika Tifanny dibawa pindah ke kota Cambridge oleh pamannya.


Di kota Cambridge, Clara dan Belinda hidup secara hedonis. Mereka menginap di hotel termewah dan setiap hari makan di restoran bintang 5. Tak hanya itu, setiap hari mereka berwisata dan menjadi turis VIP. Uang penjualan berlian memang sangat banyak, hingga mereka terus menerus berfoya-foya di kota Cambridge. Tak lupa, mereka belanja barang-barang branded di negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer itu.


"Sepertinya David tidak ada di kota ini," ucap Belinda kepada putrinya.


"Kita pergi ke kota Birmingham saja, Ma," usul Clara.


"Kau benar. Mari kita pergi ke sana!"


Di kota Birmingham, Belinda dan Clara pun kembali berfoya-foya. Hingga tidak terasa, uang mereka kini menipis.


"Bagaimana ini, Ma? Clara tidak mau hidup terlunta-lunta jika uang kita habis," resah Clara kepada ibunya. Mereka kini tengah berjalan kaki di dekat bank yang ada di kota Birmingham sembari memutar otak untuk mencari sumber penghasilan lain sebelum menemukan David.


"Tenang, sayang. Kita akan selalu hidup dalam kemewahan!" Belinda menenangkan putrinya.


"Ma, itukan papa David!" Clara menunjuk David dengan wajah yang gembira.


"Benar. Itu David."


"Ayo, Ma! Kita dekati papa!" Clara hendak berjalan ke arah David tetapi tangannya di cekal oleh Belinda.


"Tunggu! Mama mempunyai ide yang lebih baik. Sepertinya David sedang membawa banyak uang," Belinda tersenyum. Kemudian dengan sisa uang di tangannya, ia pun mencari seorang berandalan jalanan yang bisa ia bayar untuk merampok uang David. Clara pun setuju dengan ide ibunya.


Berandalan itu pun merampok uang David dan memberikannya kepada Belinda. Mereka mempunyai uang untuk melanjutkan kembali hidup hedonisnya.


"Ma, setelah uang ini habis bagaimana?" Tanya Clara saat mereka sedang melakukan perawatan di sebuah klinik kecantikan yang sangat mahal.


"Kita buntuti terus David. Kita lihat keadaannya bagaimana. Jika kehidupannya membaik, kita kembali lagi padanya."

__ADS_1


"Mama memang pintar," Clara tersenyum bangga.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2