Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Terjatuh


__ADS_3

Tifanny dan Justin pun segera merapat ke arah teman temannya yang sedang menonton Imagine Dragons yang tengah menyanyikan lagu. Band itu sedang menyanyikan lagu yang berjudul "Bad Liar". Tifanny ikut bernyanyi karena ia memang menyukai lagu itu. Sementara Nino, ia menjauh dari Clara setelah Tifanny pergi dari hadapannya. Nino kembali memperhatikan Tifanny yang tengah bersama Justin.


"Fann?" Panggil Justin.


"Apa? Tidak terdengar!" Tifanny berteriak. Suara dentuman musik memang begitu keras, hingga ia tidak mendengar ucapan Justin.


Nino yang melihat semakin panas melihat kedekatan mereka. Justin pun mendekat ke arah telinga Tifanny. Ia berbicara di dekat telinga gadis itu karena musik begitu keras. Sementara Nino yang melihat, sudah tidak mampu membendung perasaannya lagi. Ia menyangka Justin tengah mencium pipi Tifanny.


"Kurang ajar!" Nino menjauhkan Justin dan memukul wajah Justin dengan kepalan tangannya. Justin tersungkur ke atas kue ulang tahun yang ada di sampingnya. Tampak wajah Justin, penuh dengan kue. Semua orang yang ada di sana langsung menghentikan aktifitasnya ketika melihat keributan itu.


"Ada apa denganmu?" Justin berteriak.


"Jangan menyentuhnya!" Nino mencengkram kemeja Justin.


"Hentikan! Kau ini kenapa?" Tifanny melepaskan tangan Nino dan mendorong tubuhnya.


"Kau keterlaluan, apa salah Justin padamu?" Tifanny berteriak kepada Nino. Kemudian Tifanny membantu Justin berdiri dan mengelap wajah Justin yang penuh dengan kue.


Nino pun terdiam. Dia baru menyadari perbuatannya.


"Pergilah! Kau tidak pantas ada di pesta ini!" Hardik Nino dengan berang kepada Tifanny.


"Alden yang mengundangku, bukan dirimu! Lagi pula ini bukan acaramu!" Tifanny memandang Nino dengan amarah.


"Aku yang mewakili sahabatku untuk mengusirmu," Nino menatap ke sembarang arah. Ia tidak mau lagi melihat kemesraan Tifanny dengan pria lain.


"Kau tidak perlu mengusirku, aku pun akan pergi dari sini," Tifanny segera berjalan menuju pintu keluar.


"Fann, tunggu!" Justin dan Elora mengejar langkah Tifanny.


"Cla, saudara tirimu menghancurkan pesta Alden!" Cibir Arabella.


"Dia mempermalukanmu, Cla! Buatlah perhitungan padanya," Arabella memanasi.


"Dia memang kurang ajar!" Clara menatap Tifanny yang berlalu dengan berapi-api.


*****


Pagi harinya...


Tifanny hendak turun dari tangga untuk sarapan. David dan Belinda sudah pergi untuk bertemu dengan teman mereka. Sementara Meghan sudah berangkat untuk kumpul kegiatan ekstra kurikulernya.


"Heh, gadis kurang ajar!" Clara mencekal tangan Tifanny.


"Apa?" Tifanny melepaskan tangan Clara dari tangannya.


"Kau mempermalukanku semalam! Mengapa kau datang ke pesta itu?" Teriak Clara.

__ADS_1


"Mempermalukanmu? Memangnya aku melakukan apa?"


"Kau ini sungguh tidak tahu diri! Kau dan temanmu mengacaukan pesta," bentak Clara.


"Aku tidak menghancurkan pesta siapa pun, lagi pula aku berhak datang karena Alden yang mengundangku."


"Seharusnya kau tidak perlu datang. Kau hanya pembawa sial!"


"Apa urusanmu menyuruhku tidak datang? Memang kau yang membayar pesta ulang tahun itu?" Tifanny tersenyum sinis.


"Jauhi Nino!"


"Punya hak apa kau menyuruhku? Kau bukan siapa-siapaku!"


"Kurang ajar!" Clara langsung menjambak rambut Tifanny.


Tifanny pun berusaha melepaskan tangan Clara dari rambutnya.


"Lepaskan atau aku akan benar-benar marah!" Emosi Tifanny tampak sudah naik. Clara terus menjambak Tifanny, hingga tidak sadar ia mundur satu langkah ke belakang. Clara terjungkal ke belakang dan jatuh dari tangga.


"Clara?" Teriak Tifanny yang melihat Clara terjatuh dari tangga. Clara langsung pingsan karena benturan di kepalanya.


Tifanny segera menelfon ambulance, David dan juga Meghan. Setelah mobil ambulance sampai, Tifanny segera membawa Clara ke rumah sakit terdekat.


David, Belinda dan Meghan pun terlihat sampai di rumah sakit.


"Ada apa dengan Clara?" Tanya David dengan panik. Begitu pun dengan Belinda. Sementara Meghan hanya bersikap biasa saja. Ia seolah tidak khawatir dengan yang terjadi pada kakak tirinya.


"Kalian keluarga Nona Clara? Dia sudah siuman, silahkan masuk!" Lapor dokter yang menangani Clara.


"Pa, Tifanny ke kantin sebentar! Tifanny belum makan," izin Tifanny kepada ayahnya.


"Baiklah, Nak. Meghan temani kakakmu!" David menoleh ke arah Meghan.


"Baik, Pa."


Meghan dan Tifanny pun segera berlalu dari sana dan berjalan menuju kantin rumah sakit. Sedangkan David dan Belinda langsung masuk ke dalam ruangan perawatan Clara.


"Pa, Ma?" Clara menangis.


"Ada apa, sayang?" Belinda memeluk putirnya.


"Aku celaka karena Tifanny. Dia mendorongku dari atas tangga," Clara semakin mengencangkan tangis palsunya.


"Lihatlah kelakuan anakmu!" Belinda berteriak kepada David. David tampak kaget mendengar ucapan Clara.


"Ada apa dengan putrimu? Mengapa dia sangat membenci putriku?" Belinda masih berteriak. Sementara David hanya terdiam, ia merasa malu akan tingkah laku putri sulungnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Tifanny dan Meghan masuk ke dalam ruangan Clara. David segera mendekat dan menampar pipi Tifanny dengan keras.


"Pa, mengapa kau menamparku?" Tifanny berteriak ketika ayahnya.


"Papa tidak menyangka dengan kelakuanmu. Mengapa kau mencelakai Clara?" David berteriak.


"Aku tidak mencelakai Clara, Pa," Tifanny mengusap pipinya.


"Dia mendorongku dari atas tangga karena semalam Nino mencium pipiku, Pa," Clara berpura-pura merajuk.


"Dia bohong, Pa. Tifanny tidak mendorongnya."


"Papa sungguh malu memiliki anak yang berfikiran picik sepertimu," David masih berteriak. Sementara Belinda dan Clara hanya tersenyum.


David mengangkat tangannya kembali untuk memukul Tifanny.


"Pa, jangan sakiti kakak lagi!" Meghan memeluk Tifanny dan menangis.


David pun mengatur nafasnya dan menatap Tifanny. Ia begitu kaget melihat sudut bibir anaknya berdarah.


"Aku benar-benar membencimu, Pa! Bahkan kau tidak pernah percaya padaku. Clara jatuh sendiri bukan aku yang mendorongnya," Tifanny menangis dan segera ke luar dari ruangan itu. Meghan pun mengejar langkah kakaknya.


David mengusap wajahnya kasar. Merasa bersalah telah memukul Tifanny seperti tadi.


"Aku tidak berbohong, Pa. Tifanny yang mendorongku," Clara berkata dengan lemah.


*****


Tifanny dan Meghan segera naik taksi untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Tifanny segera masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan koper miliknya. Ia mengemasi semua pakaian dan benda-benda penting lainnya dengan tangis yang memenuhi sudut ruangan kamarnya. Tangisnya begitu terdengar pilu dan menyayat hati.


"Kak, kau mau ke mana?" Meghan menangis menatap Tifanny yang sedang mengemasi semua pakaiannya.


"Kakak sudah tidak kuat, kakak akan pergi dari rumah ini," Tifanny terus mengemasi barangnya.


"Kak, Meghan ikut!" Meghan memeluk Tifanny dari belakang.


"Jangan, sayang! Diamlah di sini!" Tifanny berbalik ke arah Meghan


"Kakak akan membiarkan aku berada di rumah yang bagaikan neraka ini? Kakak mau aku disiksa setiap hari oleh mereka?" Meghan menangis sesenggukan.


"Kakak tidak akan membiarkan mereka menyakitimu," Tifanny menatap pilu wajah adiknya.


"Kalau begitu, biarkan Meghan ikut."


"Baiklah. Kemasi semua barangmu!"


"Baik, kak," Meghan segera berlari ke kamarnya dan mengemasi semua barangnya. Tifanny pun mengemasi semua barang miliknya tanpa ada yang tersisa. Tekadnya sudah bulat untuk tidak kembali ke rumah penuh penderitaan ini.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel author yang satu lagi ya? Updatenya juga setiap hari 😍😍


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih....


__ADS_2