
Sepanjang perjalanan, Nino mau pun Tifanny diam membisu. Nino merasa bahagia malam ini karena ia akan mengutarakan perasaannya kepada gadis yang duduk di sebelahnya, tetapi Nino pun merasa risau, karena ia takut Tifanny akan menolaknya. Sementara Tifanny sangat deg-degan, ia takut Nino akan benar-benar mengutarakan perasaannya. Tifanny hanya bingung harus menjawab apa nanti.
"Aku akan mengatakan semuanya setelah Tifanny berhasil menjadi kekasihku. Aku akan berkata jujur perihal menjadikan Tifanny taruhan, tetapi aku akan menjelaskan jika sekarang, aku benar-benar jatuh cinta padanya," batin Nino.
"Fann?" Nino memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Iya?"
"Apa mamamu dan Clara tadi mencegahmu pergi?"
"Tidak, mereka sedang tidak ada di rumah. Aku tidak tahu mereka pergi ke mana, sepertinya liburan musim dingin."
Nino pun terdiam kembali.
"Shit! Mengapa aku sampai mati gaya seperti ini? Biasanya saat aku akan meminta seorang gadis untuk menjadi kekasihku, aku tidak pernah deg degan seperti ini," batin Nino dalam hatinya.
Mereka pun sama sama terdiam lagi hingga akhirnya mereka sampai di pelataran restoran sea food yang ada di kota Massachusetts.
Nino segera turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Tifanny. Mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran. Nino mengambil tangan Tifanny dan menggenggamnya, Tifanny pun tidak menolak.
"Ayo kita duduk di sebelah sana!" Nino menunjuk kursi yang ada di samping kolam renang. Terlihat ada panggung juga di area kolam renang itu.
"Ayo, viewnya lebih indah di sana!" Tifanny setuju.
Saat mereka berjalan, Nino melihat Kai dan Alden sudah terduduk di kursinya. Pandangan kedua sahabatnya itu menatap Nino dan Tifanny dengan intens. Nino pun tambah was-was, ia takut kalah taruhan malam ini.
"Fann, kau mau pesan apa?" Tanya Nino saat mereka sudah terduduk di kursi. Kursi mereka mengarah langsung kepada panggung yang berisikan beberapa orang tengah memainkan alat musik dan seorang wanita yang tengah bernyanyi menghibur pengunjung restoran.
"Aku ingin tiram dan lobster saja, lalu secangkir teh panas," Tifanny menunduk dan melihat menu. Waitress yang ada berdiri di depan meja mereka segera mencatat pesanan Tifanny.
"Aku ingin sup clam howder hangat, roti jagung dan mentega dan juga cappucino panas," Nino ikut memesan. Waitress pun segera mencatat pesanan Nino dan berlalu dari sana.
"Mengapa kolam renangnya tidak di penuhi salju?" Tifanny menatap kolam renang yang ada di sampingnya.
"Lihatlah ke atas!"
Tifanny segera menadahkan kepalanya ke atas.
"Pantas saja, ternyata memakai atap dari kaca," Tifanny tertawa.
"Mengapa kau sangat menggemaskan?" Nino mencubit pipi Tifanny.
"Kau senang sekali sepertinya mencubitku," Tifanny mengusap pipinya.
"Karena kau sangat menggemaskan!" Nino mengambil tangan Tifanny dan menggenggamnya.
Setelah beberapa saat menunggu, waitress datang membawa pesanan mereka. Tifanny segera melepaskan tangannya yang tengah di genggam oleh Nino.
"Selamat menikmati!" Ujar waitress itu kemudian ia segera berlalu dari sana.
__ADS_1
Tifanny memulai memakan makanannya.
"Cobalah sup ini hangat!" Nino menyodorkan satu sendok clam howder ke mulut Tifanny. Dengan canggung Tifanny membuka mulutnya saat Nino menyuapinya.
"Enak kan?"
"Iya, enak dan hangat."
Mereka pun terdiam kembali dan memakan makanannya dengan pikirannya masing-masing.
"Bolehkah aku menyumbang satu lagu?" Nino mengacungkan tangan dan berkata kepada seorang vocalist wanita yang tengah bernyanyi.
"Boleh, tuan. Silahkan naik ke atas panggung!" Seru wanita itu senang.
"Nino, kau akan bernyanyi?" Tifanny berbisik karena semua orang tengah melihat kepada mereka.
"Iya, aku naik ya?" Nino segera berdiri dan naik ke atas panggung.
"Kau ingin bernyanyi lagu apa, tuan? Tanya orang yang tengah bermain piano.
"Aku ingin menyanyikan lagu berjudul At My Wrost. Bolehkah aku yang memetik gitarnya?" Tanya Nino kepada pria yang sedang membawa gitar.
"Boleh, tuan. Silahkan!" Pemetik gitar itu senang karena ia bisa beristirahat sebentar. Nino segera mengambil gitar itu dan mulai memainkannya.
"Aku ingin menyanyikan lagu ini untuk seorang gadis yang duduk di sana!" Nino menunjuk Tifanny. Semua orang pun bersorak ketika mendengar ucapan Nino.
"Lagu ini untukmu!" Nino menatap Tifanny dan mulai menyanyi.
Let me show you love, oh no pretend, stick by my side even when the world is caving in, yeah!
Oh, oh, oh don't don't you worry! I'II be there whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst, know I'm not perfect but I hope you see my worth
Cause its only you, no body new I put you first And for you girl, I swear I'd do the worst," Nino bernyanyi dengan merdu.
Terjemahan:
"Bolehkah aku memanggilmu sayang? Bolehkah kau menjadi temanku? Bisakah kau menjadi kekasihku sampai akhir?
Biarkan aku menunjukan cinta oh, tidak berpura pura
Tetaplah di sisiku bahkan saat dunia ini menyerah
Oh, oh, oh jangan kau khawatir! Aku akan berada di sana kapan pun kau menginginkanku
Aku butuh seseorang yang bisa mencintaiku pada saat terburukku
Ketahuilah bahwa aku tidak sempurna tapi aku harap kau melihat nilaiku
__ADS_1
Karena hanya kau, tidak ada yang baru, aku mengutamakanmu
Dan untukmu sayang, aku bersumpah akan melakukan apapun."
Nino bernyanyi sembari terus memandang Tifanny. Tifanny tersenyum mendengar nyanyian Nino.
"Kai, lihatlah! Akting temanmu sangat bagus dan natural," Alden tertawa melihat Nino bernyanyi. Mereka terduduk tepat di belakang Tifanny.
"Dia begitu pandai merayu wanita," Kai ikut tersenyum melihat Nino yang sedang bernyanyi di atas panggung.
Setelah selesai bernyanyi, Nino segera menaruh gitarnya dan turun dari atas panggung. Nino menghampiri Tifanny. Dua orang yang sepertinya pelayan restoran yang dibayar Nino pun menghampiri Tifanny dengan membawa bunga, cokelat dan juga balon.
"Kemarilah!" Nino menadahkan tangannya ke arah Tifanny yang sedang terduduk.
Tifanny menyambut tangan Nino. Setelah Tiffany berdiri, Nino mengambil buket bunga itu dan berlutut di hadapan Tifanny.
"Aku jatuh cinta padamu. Maukah kau menjadi kekasihku?"
Semua orang yang ada di sana pun tampak bersurak mendengar pernyataan cinta Nino.
"Nino bangunlah!" Tifanny merasa malu menjadi pusat perhatian.
"Ambilah dulu bunganya!" Pinta Nino.
Tifanny segera mengambil bunga dari tangan Nino.
"Aku akan memberikanmu pilihan. Jika kau mau menjadi kekasihku, ambilah cokelatnya! Tetapi jika, tidak ambil balon dan lepaskan balon itu!"
Tifanny menatap kedua orang suruhan Nino yang tengah memegang cokelat berbentuk hati dan juga balon. Tifanny mendekat ke arah mereka. Dengan cepat, Tifanny mengambil balon yang di ikat dengan pita. Kemudian Tifanny melepaskan balon itu.
Nino pun langsung menatap Tifanny dengan sedih ketika gadis itu mengambil balon bukan cokelat.
"Kau menolakku?" Tanya Nino lirih. Ia sungguh tidak berfikir lagi mengenai taruhan itu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah ingin menjadikan Tifanny kekasihnya.
"Tidak, aku memang tidak menyukai cokelat. Aku menyukai balon, kau memberikan pilihan yang salah," Tifanny tersenyum.
"Jadi?" Tanya Nino lagi.
"Mari kita mencoba hubungan ini!" Tifanny tersenyum.
"Terima kasih, sayang!" Nino segera memeluk Tifanny. Orang orang pun bertepuk tangan melihat cinta Nino yang tidak bertepuk sebelah tangan.
Tifanny dan Nino pun segera terduduk di kursi mereka kembali. Tiba-tiba Kai dan Alden mendekat ke meja mereka.
"Wah, wah inilah sang casanova kita! Kau berhasil, kau menang taruhan ini! Ini kunci mobilku!" Alden melempar kunci mobilnya ke atas meja.
"Kau memang berbakat mendekati seorang gadis. Kau bahkan bisa meluluhkan gadis seperti dia, baiklah kau menang taruhan ini!" Kai ikut melempar kunci apartemennya ke atas meja.
"Taruhan? Apa maksudnya?" Tifanny bingung dengan keadaan yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Fann, aku bisa jelaskan?" Nino menatap Tifanny dengan panik.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...