Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Rencana Hannah dan Steve


__ADS_3

Alden membeli dua tiket dan juga pop corn untuk menonton film Stand By Me Doraemon 2. Saat ini ia sudah berada di area bioskop bersama Bianca.


"Lama sekali!" Gerutu Bianca saat melihat kedatangan Alden.


"Ya, aku harus antri tiketnya. Mengapa bukan kau saja yang mengantri?" Alden berkata dengan kesal.


"Sudahlah, ayo kita masuk! Kita kebagian studio 1. Sebentar lagi dimulai," lanjut Alden sambil melihat jam tangannya.


Bianca pun mengikuti langkah Alden dan masuk ke studio 1 untuk menonton film yang memiliki durasi 96 menit itu.


"Mengapa kita duduk di kursi yang paling bawah?" Bianca mengomel saat mereka mendapatkan kursi di deretan yang paling bawah dan terdepan.


"Yang penting kita bisa menonton di slot pertama. Jangan banyak protes! Nikmati saja filmnya!" Alden memakan pop corn yang ada di tangannya.


"Kau hanya membeli satu pop corn?" Bianca mendelik kesal dan langsung merebut pop corn dari tangan Alden.


"Ya ini kan pop cornnya besar. Bisa berdua," Alden merebut kembali pop corn miliknya.


Film pun diputar, mereka di suguhkan dengan adegan pernikahan Nobita dan juga Shizuka. Saat akan mengambil pop corn, tangan Alden dan Bianca bersentuhan. Mereka pun sama-sama menoleh.


"Kau lihat apa?" Teriak Bianca.


"Kau mengambil kesempatan kan untuk menyentuh tanganku?" Alden menggoda.


"Untuk apa menyentuh tanganmu? Tidak ada pekerjaan sekali!" Bianca membantah.


"Mengakulah! Kau mulai jatuh cinta dengan majikanmu kan?" Alden terus menggoda asisten pribadinya itu.


"Sssttt, Nona, Tuan? Tolong jangan berisik di dalam studio!" Orang-orang yang dibelakang tampak memperingatkan Bianca dan Alden.


"Maaf semuanya!" Bianca berkata dengan tidak enak.


"Kau sih!" Alden menyalahkan.


"Sudahlah, Bi. Jangan ladeni pria ini! " Batin Bianca. Mereka pun memusatkan perhatiannya kembali ke layar bioskop.


"Haha. Ternyata walau sudah dewasa, suara Giant masih saja tetap merdu," Bianca tertawa.


"Iya. Selalu menjadi ketakutan sahabat-sahabatnya," Alden ikut tertawa.


Tanpa terasa mereka sudah menghabiskan waktu 90 menit menonton. Tersisa 6 menit lagi.


"Aku tidak habis pikir. Mengapa Shizuka mau menikah dengan Nobita? Dia tidak pintar, malas-malasan dan tidak juga pandai berolahraga. Jika aku jadi Shizuka, lebih baik aku menikah saja dengan Dekisugi. Lihat! Sesudah dewasa dia jadi ilmuwan kan?" Bianca mengomentari film yang ditontonnya.


"Hey, jaga bicaramu! Walau Nobita tidak sepintar Dekisugi, tetapi dia punya hati yang tulus dan menyayangi teman-temannya," Alden tidak terima ketika tokoh favoritnya dijelek-jelekan oleh Bianca.


"Hati yang tulus apa? Bahkan dia suka mengambil barang Doraemon tanpa permisi. Ujiannya pun selalu mendapat 0. Pokoknya Dekisugi di hati. Nobita menikah saja dengan Jaiko harusnya," Bianca tertawa.


"Diamlah atau aku benar-benar marah! Nobita itu selalu berusaha untuk membuat orang-orang disekitarnya bahagia. Dia akan mengusahakan keinginan Shizuka dan satu lagi, Nobita tidak pernah memiliki rasa pendendam. Walau pun dia sering dipukuli Giant dan dirundung Suneo, tetapi Nobita tidak pernah dendam," bela Alden lagi.


"Ya, ya, ya. Ini kan hanya menurutku. Mengapa kau yang sewot?" Bianca mendelik.

__ADS_1


"Ya tentu saja aku kesal. Nobita itu tokoh kartun favoritku! Kau seperti Nino saja menyukai hal yang aneh. Nino menyukai tokoh Suneo dan kau menyukai Dekisugi. Oh ayolah! Nobita ini anak yang baik," cerocos Alden tidak mau kalah.


"Kau ayahnya Nobita ya?" Bianca semakin kesal.


"Bukan. Ayahnya Nobita itu Nobisuke Nobi," sahut Alden dengan polos.


"Nona, tuan? Kalian dari tadi mengganggu yang lain saja!" Seru seorang wanita yang terduduk di samping Alden.


"Lain kali menontonnya berdua saja, agar kalian bisa berdebat bebas dan berteriak sepuasnya!" Orang yang duduk di sebelah Bianca menimpali.


Lampu pun tampak dinyalakan kembali yang menandakan bahwa film sudah usai. Alden dan Bianca pun langsung memutuskan untuk pulang.


"Aku puas sekali menonton filmnya," Alden mulai menyetir sembari tersenyum.


"Sudahlah. Menyetirlah yang benar! Aku ingin segera sampai rumah dan menonton kartun lain," Bianca berdecak kesal.


"Kau ingin menonton apa?" Alden terlihat penasaran.


"Aku akan menonton film Avatar The Legend Of Aang. Aku dipinjamkan laptop oleh ibumu."


"Wah kau suka juga Avatar? Kau belum menontonnya?" Alden tampak antusias.


"Sudah, tapi aku menontonnya saat dulu dan lupa ceritanya makanya aku memutuskan untuk menonton lagi."


"Aku ikut nonton ya? Ku pikir kau bukan penggemar kartun-kartun Jepang!" Alden tersenyum senang.


"Aku suka kartun dari sana."


"Aku tidak suka Aang. Aku suka Zuko."


"Berarti kau akan berhadapan denganku. Ayo kita bertarung! Aku akan melawanmu dengan udara," Alden menoleh sebentar dan meniup wajah Bianca.


"Alden kau ini seperti anak kecil!" Bianca tertawa melihat kekonyolan pria yang ada di sampingnya.


Setelah sampai rumah, Bianca langsung menonton kartun yang ia maksud. Alden pun ikut menonton di sofa yang ada di kamar Bianca.


2 bulan kemudian....


Hubungan Alden dan Bianca semakin membaik dan dekat walau mereka selalu berselisih dan sering adu mulut untuk hal-hal yang remeh. Pernikahan Aiden dan Cassie pun akan dilaksanakan dalam 9 hari lagi. Sementara itu Hannah dan Steve tampak merencanakan sesuatu.


"Sebaiknya untuk seminggu ini kita mengirim Alden ke Norwegia. Ke rumah mendiang ibumu yang ada di sana," ucap Hannah kepada suaminya.


"Apa tidak apa-apa?" Tanya Steve dengan ragu.


"Tentu saja tidak. Kau ingat sebelum pertunangan Aiden? Alden menyembunyikan cincin pertunangan kakaknya. Aku takut dia menghancurkan resepsi pernikahan Aiden dan Cassie. Kita kirim Aiden selama seminggu dan dia harus pulang H-1 pernikahan Aiden," jelas Hannah.


"Baiklah asal Bianca menemaninya. Agar dia tidak kesepian," Steve menyetujui.


"Aku setuju."


****

__ADS_1


Tifanny dan Nino sedang berada di ruangan dokter spesialis kandungan untuk memeriksakan kesehatan Tifanny.


"Tuan, Nyonya? Kistanya sudah menghilang," Dokter menyimpan alat usg yang baru digunakan untuk memeriksa Tifanny.


Tifanny dan Nino pun tersenyum senang mendengar kabar baik itu.


"Saya sudah mengatakannya jika itu hanya kista fungsional dan tidak mengganggu. Kemudian akan menghilang dengan sendiri," papar dokter itu lagi.


"Jadi, saya bisa hamil kan, Dok?" Tanya Tifanny dengan raut wajah bahagianya.


"Tentu saja, Nyonya. Anda bisa memiliki anak," Dokter tersenyum.


"Baiklah, Dok. Terima kasih untuk perawatan dan terapinya selama ini," Nino menjabat tangan dokter senior itu


Tifanny dan Nino ke luar dari ruangan dokter dengah bahagia.


"Terima kasih ya karena sudah menanamkan pola sehat di hidupku," ucap Tifanny saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, sayang. Kau jangan bersedih lagi ya? Semoga kita segera mempunyai anak," jawab Nino.


"Bagaimana dengan Justin?" Tifanny berkata dengan khawatir.


"Sudah 2 bulan ini tidak ada tanda-tanda kehadirannya untuk mengganggu rumah tangga kita."


"Kau yakin? Aku takut Justin berbuat nekat," Tifanny merasa ragu.


"Tidak, sayang. Aku yakin dia tidak akan mengganggu kita lagi," Nino menenangkan.


"Kau sudah menyelidiki mengapa dia dipecat?"


"Iya. Aku sudah menyelidikinya. Itu pekerjaan mantan kekasihnya. Kabarnya wanita yang dicampakan oleh Justin menemui rektor dan membeberkan mengenai kelakuan Justin. Bahkan wanita itu mengirimkan video tidak pantasnya dengan Justin kepada rektor," beber Nino.


"Ya ampun, jadi maksudmu mereka merekam hal seperti itu? Dan berani-beraninya wanita itu memberikan video tidak pantas itu kepada rektor. Dari mana dia mendapatkan nomor rektor?" Tifanny merasa masih tidak mengerti.


"Aku pikir dari ponsel Justin. Dia kan seorang dosen, pasti memiliki nomor rektor. Mungkin wanita itu sudah mengantisipasi dari awal apabila dicampakan. Dan wanita itu mengancam akan menyebarkan videonya dengan Justin kepada semua mahasiswa. Rektor takut nama baik universitasnya tercoreng hingga mereka mengadakan rapat kode etik darurat dan memutuskan untuk memberhentikan Justin."


"Apa Justin tahu ini semua perbuatan mantan kekasihnya?"


"Aku tidak tahu. Jika Justin mencari tahu lebih detail, pasti dia akan tahu," timpal Nino dengan mata yang fokus pada jalanan di depannya.


"Aku hanya takut dia masih mengira ini perbuatanmu," Tifanny berkata dengan khawatir.


"Kau tidak perlu khawatir! Aku bisa menjaga diriku," Nino menepis rasa khawatir dalam diri istrinya.


"Lebih baik kau memikirkan esok hari! Besok kan sidang skripsimu."


"Kau akan datang kan?"


"Iya. Aku akan datang untuk istriku," jawab Nino yang mengakhiri percakapan di dalam mobil karena kini mobil yang mereka kendarai sudah sampai di halaman rumah.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2