Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Berkencan


__ADS_3

Sesuai permintaan dari ibunya, Nino mengajak Fiona untuk berkencan. Nino menjemput gadis itu ke rumahnya. Ia tidak masuk ke dalam dan hanya menunggu di luar rumah.


"Hey, No!" Sapa Fiona saat masuk ke dalam mobil Nino.


"Hey!" Nino tersenyum kaku dan langsung melajukan mobilnya.


"Kita akan ke mana?" Fiona menyenderkan kepalanya di bahu Nino.


"Jangan seperti ini! Aku sedang menyetir!" Protes Nino.


"Kau ini!" Fiona langsung meluruskan kembali tubuhnya.


"No, aku tidak menyangka jika kita dijodohkan oleh kedua orang tua kita. Kau ingin punya anak berapa nanti?" Fiona menoleh ke arah Nino yang duduk di sampingnya.


"Kau yakin mau menikah denganku?"


"Tentu saja. Aku sudah menyukaimu dari dulu," Fiona tersenyum menatap Nino.


"Aku sangat suka matamu," Fiona mengelus wajah Nino dan memajukan wajahnya.


"Diamlah! Aku sedang menyetir," Nino sedikit meninggikan suaranya.


"Mengapa gadis ini sangat agresif?" Keluh Nino di dalam hatinya.


"Maaf!" Fiona memelankan suaranya.


"It's oke. Saat ini kau sedang memiliki kekasih?" Nino berbasa-basi.


"Tidak. Aku tidak memiliki kekasih."


Nino melajukan mobilnya ke arah mall yang ada di tengah kota. Saat mereka sudah sampai di basement, Fiona langsung menggandeng tangan Nino untuk masuk ke dalam mall.


Nino melepaskan tangannya yang di genggam oleh Fiona. Entah mengapa, Nino merasa sangat tidak nyaman ketika bersama gadis itu.


"Aku harus ekstra sabar," Fiona menghela nafasnya.


"Aku lapar. Ayo kita makan di sana!" Fiona menunjuk sebuah cafe yang ada di dalam mall.


"Ayo!" Nino segera berjalan ke arah cafe itu tanpa menunggu Fiona.


"Semakin dia menolakku, semakin aku penasaran dengannya," gumam Fiona saat memandang punggung Nino yang menjauh.


Mereka pun terduduk di dalam cafe dan segera memesan makanan. Saat Fiona dan Nino menunggu pesanan mereka datang, Fiona melihat kekasihnya, yang tak lain adalah Alden sedang berjalan ke arah cafe.


"Shit! Mengapa ada Alden di sini? Bisa bisa aku ketahuan," Fiona membulatkan matanya. Ya, Alden adalah kekasih Fiona saat ini.

__ADS_1


"No, aku izin ke toilet sebentar ya?" Fiona meminta izin kepada Nino dengan wajah yang gugup.


"Iya," Nino tampak tidak mengerti dengan perubahan raut wajah Fiona.


Fiona segera berjalan dengan cepat menuju toilet wanita. Ia tidak mau tertangkap basah oleh Alden. Setelah Fiona pergi, Nino memperhatikan setiap sudut cafe. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke cafe ini. Saat Nino memperhatikan isi cafe, ia melihat Alden yang tengah mencari tempat duduk.


"Den?" Teriak Nino kepada Alden.


Alden langsung menatap Nino dan segera menghampirinya.


"Kau ada di sini?" Alden terduduk di samping Nino.


"Iya, aku sedang berkencan dengan gadis pilihan mommy," Nino menjawab dengan tidak semangat.


"Kasihan sekali!" Alden tertawa melihat raut wajah Nino.


"Ngomong-ngomong mana gadisnya? Aku ingin melihatnya," Alden tampak mencari wanita yang bersama dengan Nino.


"Dia sedang ke toilet wanita. Kau ke sini bersama siapa? Bersama kekasihmu yang liar itu?" Tanya Nino sembari tertawa.


"Aku ke sini bersama mama. Nanti malam kekasihku bilang, dia akan datang ke apartemen," jawab Alden.


"Gadis itu benar-benar gila!" Nino menggelengkan kepalanya mendenga cerita Alden.


"No, mamaku mengirim pesan. Dia mencariku. Tadi aku ke sini diam diam saat mama sedang memilih baju. Kalau begitu aku pergi dulu!" Alden berdiri dan menepuk bahu Nino.


"Jadi. Aku akan mengenalkan kekasihku padamu," sahut Alden. Kemudian ia segera pergi dari cafe.


Sementara itu Fiona tampak sedang berdiri di depan cermin dengan raut wajah yang gusar. Ia khawatir Alden akan memergokinya bersama Nino. Fiona sendiri tidak tahu jika Alden dan Nino bersahabat.


"Alden memang kekasihku, tetapi aku ingin menikah dengan Nino. Alden hanya tempat untuk memuaskanku saja. Pada akhirnya, aku hanya mau menikah dengan Nino. Aku menyukai dia dari dulu," Fiona memandang wajahnya dari pantulan cermin.


"Tapi aku tidak mau putus dengan Alden sekarang. Aku masih ingin bersenang-senang dengannya, setelah aku mendapatkan hati Nino. Aku akan membuang Alden," Fiona masih bergumam di dalam toilet wanita.


"Apa Alden sudah pergi? Sebaiknya aku segera kembali. Aku takut Nino curiga," Fiona segera ke luar dari toilet wanita.


Sebelum ia mendatangi Nino, Fiona terlebih dahulu melihat keadaan cafe, lebih tepatnya mencari keberadaan Alden.


"Alden sepertinya sudah pergi. Aku aman," Fiona segera mendekati Nino dan duduk di kursinya.


"Maaf aku lama. Tadi toiletnya penuh," ucap Fiona.


"Ya," jawab Nino singkat.


"Setelah ini kita nonton ya?"

__ADS_1


"Aku sedang tidak berselera untuk menonton. Setelah ini kita pulang saja ya? Aku sedang sedikit tidak enak badan," Nino berbohong.


"Baiklah," Fiona mengalah.


Setelah mereka menghabiskan makanan yang tersaji di meja, Nino dan Fiona segera meninggalkan mall. Nino mengantarkan gadis itu sampai ke depan rumahnya.


"Ayo masuklah dulu ke rumahku! Di rumahku sedang tidak ada siapa-siapa," Fiona merayu Nino.


"Lain kali saja."


"Kau yakin? Kau tidak ingin melepas lelah dulu?" Fiona mengelus dada Nino.


"Gadis ini benar-benar berani! Apa benar dia gadis baik-baik?" Nino mulai ragu akan ucapan kedua orang tuanya.


"Iya, aku ingin pulang," Nino melepas tangan Fiona dari dadanya.


"Baiklah, hati-hati!" Fiona hendak mencium bibir Nino.


"Fi, cepatlah turun! Aku ingin segera pulang," Nino menghindar saat wajah gadis itu mendekat kepadanya.


"Baiklah. Sampai ketemu lagi nanti ya?" Fiona tersenyum dan turun dari mobil Nino.


"Menarik, dia sangat jual mahal. Lihatlah nanti! Kau akan tergila gila padaku!" Fiona menatap mobil Nino yang bergerak menjauhi kediamannya.


"Aku lupa dengan Alden," Fiona mengambil ponselnya kemudian menghubungi kekasihnya.


"Hallo baby! Apa? Kau ingin mengajakku dinner? Oke, aku mau," jawab Fiona cepat.


*****


"Mengapa mommy menjodohkanku dengan wanita seperti itu?" Gumam Nino sembari terus menyetir menuju rumahnya.


"Aku harus berbicara kepada mommy dan daddy," Nino turun dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam rumah.


"Tuan?" Asisten rumah tangga Nino yang bernama Juli mendekati Nino.


"Ada apa, bi?"


"Tuan, ini ada undangan pernikahan!" Bi Juli memberikan sepucuk undangan kepada Nino.


"Siapa yang menikah?"


"Tu-tuan buka saja!" Perintah bi Juli dengan terbata.


Nino membuka undangan itu, ia begitu terkesiap saat melihat nama Odelia yang tak lain adalah cinta pertamanya menikah dengan pria lain.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2