Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pulang Lagi Ke Rumah


__ADS_3

"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Nino memeluk Tifanny yang tengah memandang pemandangan dari jendela kamar dengan tatapan kosong.


"Sudah mendingan," Tifanny melepaskan tangan suaminya.


"Besok kita pulang ya?" Nino mencoba membujuk istrinya.


"Aku tidak mau pulang."


"Sayang, papa merindukanmu. Kasihan Meghan juga, semua keperluan kuliah dia ada di rumah. Kau juga harus menyusun skripsimu lagi," Nino berbicara selembut mungkin.


"Papa tidak merindukanku. Dia sedang bersenang-senang dengan kedua wanita itu," Tifanny menundukan wajahnya.


"Kau salah. Tante Belinda dan Clara sudah pulang kembali ke Amerika."


"Mengapa mereka pulang lagi ke sana?" Tifanny mengangkat wajahnya dan menatap Nino.


"Karena papa lebih memilihmu dan Meghan."


"Tidak, kau berbohong. Papa lebih memilih mereka."


"Aku berkata dengan jujur. Papa memilihmu dan Meghan."


Tifanny menatap mata Nino. Tidak ada kebohongan di sana.


Hening untuk beberapa saat....


"Sampai kapan kau akan menghindari papa? Jika ada masalah bicaralah! Selesaikan baik-baik, jangan melarikan diri seperti ini! Kau tidak kasihan dengan papa? Dia hidup seorang diri di rumah. Bagaimana jika kondisi psikisnya menurun lagi?" Nino menasehati Tifanny.


"Aku tidak peduli," balas Tifanny.


"Aku tidak suka kau seperti ini. Terlebih papa adalah orang tuamu. Terlepas dari buruknya sifat papa di masa lalu, tetapi dia tetaplah ayahmu, darahnya mengalir di tubuhmu. Semua orang mempunyai kesalahan, dan papa sudah menyesali semua perbuatannya. Apalagi yang kau inginkan sekarang? Kau ingin papa depresi seperti dulu lagi? Hanya kau dan Meghan yang papa punya sekarang," Nino meninggikan suaranya.


Tifanny pun menangis mendengar ucapan Nino.


"Maafkan aku! Aku hanya kecewa pada papa," Tifanny menyenderkan kepalanya di dada Nino.


"Maka dari itu kau perlu berbicara dengan papa. Sayang, maafkan aku karena membentakmu! Sebagai suamimu, aku berhak untuk menasehatimu dan meluruskan pemikiranmu yang keliru. Berbaktilah kepada papa selagi dia masih ada. Sayang, kau tahu? Ada berapa banyak juta orang di dunia ini yang ingin orang tua mereka hidup kembali dan berbakti kepada mereka. Kau pun ingin mendiang mama mu ada di sisimu lagi bukan? Aku yakin jika papa sudah tidak ada, kau pun akan mengharapkan dia ada di sisimu lagi. Maafkanlah papa!" Nino mengelus punggung Tifanny.


"Iya, maafkan aku yang sudah bersikap egois! Aku hanya takut papa meninggalkanku lagi dan Meghan," Tifanny semakin terisak.


"Tidak ada yang meninggalkan dan tidak akan ada yang di tinggalkan, sayang. Mengapa kau ini selalu berpikiran buruk? Terkadang pikiran buruk menjadi sugesti untuk diri sendiri. Tak jarang pikiran buruk itu akan terjadi di kehidupan nyata."


"Aku tidak mau itu terjadi," timpal Tifanny dengan suara yang serak.

__ADS_1


"Maka dari itu rubahlah pikiran negatifmu menjadi positif. Kau mau pulang besok kan ke rumah papa?" Nino mengusap air mata di pipi istrinya.


"Tidak, aku tidak mau."


"Mengapa?" Nino tampak kecewa.


"Aku ingin pulang sekarang," Tifanny tersenyum.


"Nah itu istriku," Nino mengacak rambut Tifanny dengan gemas.


"Jangan diacak! Ini baru disisir," Tifanny mencebikan bibirnya.


"Kalau begitu. Ayo kita siap-siap untuk pulang!" Nino mengambil beberapa barang miliknya.


Tifanny, Nino dan Meghan langsung pulang ke rumah mereka. Mereka tidak berpamitan kepada Eliana, karena Eliana baru saja pergi untuk bertemu dengan teman lamanya.


Meghan sendiri tidak diberitahukan perihal masalah mengenai ayahnya. Nino dan Tifanny takut itu mempengaruhi kuliahnya.


Tifanny, Nino dan Meghan masuk ke dalam rumah. Setetes air mata terjatuh di pelupuk mata Tifanny saat melihat ayahnya tengah tidur di sofa sambil memeluk foto Tifanny dan Meghan.


"Papa?" Tifanny mendekat ke arah David.


David pun membuka matanya. Ia begitu terkesiap saat melihat kedua putrinya sudah pulang.


"Maafkan papa!" David menangis sambil terus memeluk Tifanny.


"Maafkan Fanny juga!" Tifanny ikut menangis.


"Sebenarnya ada apa?" Meghan tampak tidak mengerti.


"Kemarilah, sayang!" David menatap Meghan.


Meghan pun mendekat ke arah David. David memeluk kedua putrinya dengan bahagia.


"Papa tidak akan menyakiti kalian lagi," David menciumi wajah Tifanny dan Meghan.


"Kau juga anakku. Kemarilah!" David menatap Nino yang masih memandang mereka sambil tersenyum.


"Terima kasih sudah membawa mereka pulang," tutur David dengan tulus. Tifanny pun merengkuh tubuh Nino untuk berpelukan bersama.


"Kak, Pa? Kita seperti Teletubbies saja," celetuk Meghan yang masih tidak mengerti.


"Kak Nino Tinky Winkynya ya?" Kata Nino kepada Meghan.

__ADS_1


"Kalau begitu Meghan pilih Laa-Laa, jawab Meghan dengan bersemangat.


"Jangan, kau Poo saja! Laa-Laa itu kakak," Tifanny menyahuti.


"Sudahlah. Mengapa kalian ini seperti anak kecil?" Potong David yang melihat kelakuan ketiga anaknya.


"Jadi benar papa memilih Tifanny dan Meghan?" Tifanny memastikan.


"Tentu saja, sayang. Papa memilih kalian dan akan selalu bersama kalian. Maafkan papa!" David memeluk lagi Tifanny karena David berpikir anak sulungnya lah yang paling menderita selama ini.


****


Sore hari Bianca langsung pulang kembali ke rumah Alden untuk bekerja. Pengawasan di rumah Alden cukup ringan karena Hannah selalu ada di rumah. Sehingga itu meringankan pekerjaan Bianca.


Malam hari, Alden menelfon seorang supir agar datang ke dalam kamarnya.


"Pak, ada urusan apa, bapak hendak masuk ke dalam kamar Tuan Alden?" Tanya Bianca yang melihat supir Hannah dan Steve akan masuk ke dalam kamar Alden. Ia takut Alden menyuruh supir keluarganya untuk menyelundupkan wine atau yang lainnya.


"Tuan Alden ingin bicara perihal pekerjaan Nona," timpal supir itu.


"Oh begitu. Kalau begitu bapak bisa masuk," Bianca tidak curiga karena supir keluarga Alden tampak tidak membawa apapun.


"Ada apa, tuan?" Tanya supir itu saat sudah berada di dalam kamar milik Alden.


"Begini, mama dan papa tadi menyampaikan amanat. Besok kan hari libur, mereka ingin mengadakan makan bersama di rumah ini. Tahu kan, Pak?" Alden balik bertanya.


"Iya, saya tahu. Tadi nyonya menyuruh saya untuk mengantar belanja asisten yang ada di rumah ini."


"Nah, mama dan papa mengundang seorang temannya yang ada di kota Cambridge. Mereka ingin orang itu dijemput untuk mengikuti makan bersama kita," Alden membohongi supirnya.


"Jadi, saya yang menjemputnya? Tapi mengapa nyonya tidak menyuruh langsung kepada saya ya?"


"Iya. Mama lupa dan menyuruhku untuk memberitahukannya. Pagi-pagi sekali jemput teman mama dan papa ke kota Cambridge. Ini alamatnya!" Alden memberikan secarcik kertas berisi alamat Bobby.


"Baiklah, tuan. Saya akan menjemputnya," supir itu memasukan kertas yang berisi alamat Bobby ke saku celananya.


"Kalau begitu, saya izin pamit ya, tuan? Saya masih ada pekerjaan di belakang."


"Baiklah, Pak. Terima kasih," Alden tersenyum senang.


"Besok tamat riwayatmu gadis udik!" Alden tersenyum.


...Hari ini 1 episode dulu ya readers, otornya sedang ada urusan. Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2