
"Fann, aku bisa jelaskan?" Nino menatap Tifanny dengan panik.
"Diamlah! Alden tolong jelaskan padaku!" Tifanny meminta penjelasan kepada Alden.
"Jadi begini Fann, Nino menantang kami taruhan. Dia bilang dia bisa membuat semua gadis tergila gila padanya," Alden menjelaskan dengan berbunga-bunga.
"Hentikan, Den! Biar aku yang menjelaskan!" Nino berteriak kepada Alden.
"Lanjutkan penjelasanmu!" Ucap Tifanny dengan dingin. Senyuman yang ia ukir sedari tadi sudah musnah dan hilang seketika.
"Jika Nino menang, maka aku harus memberikan mobilku dan Kai harus memberikan apartemennya yang ada di Beverly Hills dan jika Nino kalah, dia harus mengerjakan skripsi kami," Alden kembali menjelaskan seolah olah ucapannya tidak menyakiti hati gadis yang ada di hadapannya.
"Diamlah!" Kai memukul punggung Alden. Tampaknya ia mengerti jika suasananya sedang tidak baik.
"Kenapa aku harus diam? Kan Tifanny meminta penjelasan. Ya, aku harus menjelaskan," Alden berkata lagi dengan wajah polosnya.
"Diam atau aku akan membunuhmu!" Kai menatap Alden dengan geram. Alden pun langsung menutup mulutnya.
"Fann, aku-" Nino berusaha menjelaskan.
"Jadi, ini tujuanmu mendekatiku? Kalau begitu selamat! Kau menang taruhan ini, ambilah mobil dan apartemen milikmu! Terima kasih makan malamnya," Tifanny tersenyum menatap Nino, lalu ia segera bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya yang ada di atas meja, Tifanny segera pergi meninggalkan Nino yang masih terduduk di kursinya.
"Fann?" Nino bangun dan berusaha mengejar Tifanny.
"Kau mau ke mana?" Alden menahan bahu Nino.
"Terima kasih telah membongkar taruhan kita kepadanya!" Nino menatap Alden tajam, seolah olah ia ingin memakan Alden hidup-hidup.
"Sama-sama," jawab Alden.
Nino segera melepaskan tangan Alden dari bahunya dan bergegas mengejar Tifanny yang berjalan ke luar dari restoran.
"Aku tidak boleh menangis!" Tifanny menahan air matanya agar tidak ke luar walau hatinya kini tengah bergemuruh hebat. Dadanya sangat sesak mengetahui selama ini Nino mendekatinya hanya untuk memenangkan taruhan yang ia buat dengan Kai dan Alden.
"Fann, tunggu! Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!" Nino menahan tangan Tifanny.
"Semuanya sudah jelas. Apa lagi yang harus dijelaskan?" Tifanny berkata dengan tegar.
__ADS_1
"Tolong, sekali saja! Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan! Bersikaplah adil, Fann! Aku pun perlu bicara," Nino menatap sendu wajah Tifanny.
"Baiklah. Jelaskan semuanya!" Tifanny memandang Nino dengan dingin.
"Aku memang menjadikanmu bahan taruhan. Aku sampai memutuskan Clara agar bisa mendekatimu dan memenangkan taruhan ini, semua itu aku lakukan agar aku tidak mengerjakan skripsi milik Kai dan Alden. Akan tetapi, setelah kita menghabiskan waktu bersama, aku terjebak dengan permainanku sendiri. Aku jatuh hati padamu, Fann. Tolong beri aku kesempatan! Aku ingin bersamamu," jelas Nino.
"Kau pikir setelah apa yang kau lakukan, aku percaya padamu?" Tifanny tersenyum. Mereka seolah tidak memperdulikan salju yang berjatuhan di atas kepalanya.
"Fann, aku mohon percaya padaku!"
"Dari awal kau mendekatiku, kau bersikap manis dan baik kepadaku agar kau bisa menang taruhan ini? Kau memang benar-benar buruk!" Tifanny menampar pipi Nino dengan keras. Sementara Nino memejamkan mata saat Tifanny menampar pipinya.
Tifanny pun segera berjalan kembali untuk mencegat taksi.
"Fan, aku mohon maafkan aku!" Nino masih memohon.
"Jangan pernah dekati aku lagi! Jangan pernah menampakan wajahmu di depanku lagi! Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi," kata-kata Tifanny begitu menusuk hati Nino dengan dalam.
Tifanny segera melambaikan tangan kepada taksi yang melintas, tak lama Tifanny segera masuk ke dalam taksi itu.
"Fann, kita perlu bicara lagi!" Nino menggedor kaca taksi yang Tifanny tumpangi.
"Fann, berhenti!" Nino berlari mengejar taksi yang Tifanny tumpangi.
"Arrrggghhhh!" Nino berteriak saat ia tak mampu lagi mengejar taksi itu. Ia pun berjalan kembali ke arah restoran untuk membayar dan mengambil kunci mobilnya.
"Kau kenapa? Mengapa wajahmu di tekuk? Harusnya kau senang karena sudah menenangkan taruhan ini," Alden menatap wajah frustasi Nino.
Buuggg...
Tanpa aba-aba Nino langsung memukul wajah Alden.
"Mengapa kau mengatakan dan menjelaskan padanya?" Nino berteriak sambil mencengkram kerah kemeja Alden.
"Lihatlah! Sekarang dia pergi meninggalkanku!" Nino masih berteriak.
"Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak pernah menggunakan hatimu, kau jatuh cinta padanya?" Alden masih bertanya dengan wajah yang bingung.
__ADS_1
"Ya, mengapa kau begitu bodoh?" Bentak Nino. Ia masih mencengkram kerah kemeja Alden.
"Ya, itu salahmu sendiri! Mengapa kau selalu mengelak saat kami menuduhmu jatuh cinta padanya! Coba saja jika kau jujur!" Alden ikut berteriak.
"Kalian kenapa?" Kai yang baru datang segera menengahi mereka.
"Kau pun sama, Kai! Kau malah mengatakan padanya!" Nino melepaskan Alden dan mencengkram kerah mantel Kai.
"Salah siapa kau tidak memberi tahu kami terlebih dahulu?" Kai melepaskan tangan Nino dari mantelnya.
"Aku menyesal bertaruh dengan kalian!" Nino segera masuk ke dalam restoran untuk membayar makanannya dan mengambil kunci mobilnya yang ada di sana.
"Ambilah!" Nino melemparkan kunci mobil milik Alden dan kunci apartemen milik Kai. Tak lama, Nino segera berlalu dari sana menuju rumah Tifanny.
****
"Aku tidak boleh menangis. Kuat Fann, kuat! Kau sudah terbiasa dengan keadaan menyakitkan seperti ini," Tifanny mengibas-ngibaskan tangannya, menahan air mata yang sedari tadi sudah ingin terjatuh.
Sepanjang perjalanan, Tifanny mengingat semua momen yang ia lalui bersama Nino beberapa bulan ini. Tifanny tersenyum getir karena selama ini, momen itu hanya semu dan bualan saja.
Setelah sampai di depan rumahnya, Tifanny segera membayar ongkos taksi dan langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Kak, bagaimana dinnernya?" Tanya Meghan saat ia membukakan pintu untuk Tifanny.
"Semuanya lancar," Tifanny memaksakan senyumnya. Ia sungguh tidak ingin membuat Meghan khawatir padanya.
"Syukurlah. Kak Nino mengungkapkan perasaannya kepada kakak?" Meghan bertanya dengan sangat antusias.
"Tidak, sayang. Kita hanya berteman dan akan selalu begitu. Kakak pamit dulu ke kamar ya? Kakak ingin segera istirahat."
Meghan tampak kecewa mendengar perkataan kakaknya, ia sungguh sangat berharap Nino menjadi kekasih Tifanny.
"Baiklah, kak. Beristirahatlah!" Tutur Meghan.
Tifanny pun segera naik ke atas tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Tifanny melempar tasnya, kemudian ia segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar. Tifanny menyalakan shower dan berjongkok di bawahnya. Tangis yang sedari ia tahan akhirnya pecah. Tifanny menangis tersedu-sedu. Ia menutup mulutnya agar tidak ada yang mendengar tangisnya.
"Kau jahat, No! Kau sama saja seperti papa. Saat aku mulai percaya kepada seseorang, mengapa mereka menghancurkanku dengan mudah?" Kata Tifanny lirih sembari terus menangis.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...