
"Kalian ke mana, Nak?" David terduduk di sofa sembari melihat foto kedua anaknya. David baru saja tiba di Amerika Serikat. Air matanya kembali menetes karena teringat dengan kedua anaknya yang sekarang entah ada di mana.
Sudah tiga tahun ini David mencari Tifanny dan juga Meghan. Informasi yang David dapatkan dari Elora, kedua putrinya kembali ke Inggris bersama pamannya yang bernama Bobby.
Setiap akhir bulan, David selalu meluangkan waktu untuk pulang ke Inggris dan mencari anaknya. Itu ia lakukan selama tiga tahun demi menemukan anak-anaknya. Akan tetapi, sekali pun David tidak pernah bertemu dengan mereka. Selama dua tahun, David selalu menyusuri kota Birmingham, karena ia yakin kedua putrinya ada di kota itu. Hati David pun sedikit lega karena Tifanny dan Meghan bersama dengan pamannya. Akan tetapi, satu tahun ini David mencari keberadaan Tifanny dan Meghan di kota Cambridge, karena David mendapat info jika Tifanny dan Meghan ada di kota Cambridge.
David berhasil menemui Bobby, tetapi Bobby berkata jika Tifanny dan Meghan sudah tidak bersamanya. David bertanya di mana kedua anaknya tinggal, tetapi Bobby selalu saja bungkam saat ditanya perihal keberadaan Tifanny dan Meghan. Bobby khawatir David kembali menyakiti kedua keponakannya yang sudah hidup tenang saat ini. Kehadiran David dikhawatirkan akan membuka luka lama mereka kembali.
"Kalau kau selalu pergi ke Inggris, uang kita akan habis. Biarkan saja! Mereka sudah dewasa, lagi pula kedua putrimu bersama dengan pamannya. Aku yakin mereka hidup dengan baik," lontar Belinda dengan geram.
"Aku yang mencari uang dan itu terserah padaku akan digunakan untuk apa. Aku merindukan kedua putriku dan sekarang mereka sudah tidak bersama pamannya," David memandang Belinda dengan tajam.
"Iya, tapi aku istrimu dan aku berhak untuk semua uangmu," bentak Belinda.
"Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku. Selama tiga tahun aku tidak bertemu dengan kedua putriku. Bagaimana jika itu terjadi pada kau dan Clara?" Mata David memerah.
"Kau terlalu berlebihan! Mereka akan baik-baik saja. Mereka tidak hidup berdua. Ada keluarga mantan istrimu yang tidak berguna itu," Belinda berteriak.
"Aku sudah bilang mereka tidak tinggal dengan pamannya lagi!!" David pergi dari hadapan Belinda dan masuk ke dalam kamarnya.
"Hallo Ma!" Sapa Clara yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ia menenteng begitu banyak tas belanjaan di tangannya.
"Setiap hari kau selalu saja pergi jalan jalan dan belanja bersama teman-temanmu, bukannya mencari uang. Kau sudah lulus kuliah di universitas ternama, tidak ada niatkah kau untuk bekerja dan menghasilkan uang untuk mama?" Belinda memarahi Clara.
"Ayolah, Ma! Untuk apa Clara bekerja? Kehidupan kita sudah enak. Suami mama dokter senior di kota ini. Ma, kau harus ingat, gaji dokter di negara ini tidak main-main. Kesejahteraan seorang dokter di negara ini sangat terjamin. Apalagi suami mama seorang dokter spesialis yang sudah memiliki reputasi yang sangat baik," Clara menyimpan belanjaannya di sofa.
"Tapi apa salahnya kau bekerja, Cla? Apalagi sekarang papa tirimu selalu menghabiskan banyak uang untuk mencari kedua anaknya yang tidak berguna itu. Selama tiga tahun ini, setiap akhir bulan dia selalu pergi ke Inggris. Kau tahu kan berapa harga tiket pesawat ke sana? Tabungan kita pun tersita untuk perjalanan papamu," Belinda melipat kedua tangannya di perut dan menatap Clara dengan kesal.
"Papamu? Dia bukan papaku, ma," Clara mengambil ponsel miliknya dan memainkannya.
"Jika mama berbicara jangan asik dengan ponselmu! Kau tidak khawatir dengan keadaan keuangan kita?" Belinda merampas ponsel anaknya.
"Jika saja waktu itu kau tidak berbohong Tifanny mendorongmu dari atas tangga, tentu anak itu tidak akan pergi dari sini!"
__ADS_1
"Jadi mama menyalahkanku? Bukankah mama pun senang mereka pergi dari rumah ini?" Clara berdecak kesal.
"Iya, mama pikir ayahnya tidak akan mencari mereka sampai seperti ini. Uang di rekening hampir terkuras habis untuk mencari mereka," Belinda berteriak kepada Clara.
"Ma, kau berlebihan! Suami mama masih bekerja sekarang, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagus juga kan dia tidak menemukan kedua anaknya? Clara malas sekali jika satu rumah dengan mereka lagi. Clara sudah cape-cape mengusir mereka dengan cara yang halus," Clara memutar kedua bola matanya.
"Kau bodoh, Cla! Coba saja waktu itu kau tidak berbohong mengenai Tifanny. Tentu dia tidak akan pergi. Padahal kita tunggu dia lulus kuliah, setelah dia mendapatkan pekerjaan pasti dia akan pergi dari rumah ini."
"Sudahlah, Ma. Kau pun selalu memperlakukan mereka dengan buruk di sini. Mama selalu memfitnah Tifanny dan adiknya kepada papa," Clara mengambil ponselnya kembali dari tangan ibunya.
"Apa maksud kalian?" David tiba-tiba muncul di hadapan Belinda dan Clara. Wajah Belinda dan Clara bak di sambar petir ketika mendengar suara David.
"Tidak ada apa-apa," Belinda tersenyum semanis mungkin.
"Jadi, ini kelakuan asli kalian?" Suara David memenuhi ruangan itu.
"Papa mendengar pembicaraan kami? Sejak kapan, Pa?" Clara bertanya dengan panik.
"Dari awal sampai akhir. Mengapa kalian tega pada putriku?" Wajah David memerah menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya.
"Itu tidak seperti yang kau dengar. Kau salah paham!" Belinda menyentuh tangan suaminya.
"Jangan pernah menyentuhku!!" David berteriak.
"Aku menyesal menikah denganmu. Anak-anakku jadi menderita karenamu!" Teriak David kembali.
"Papa tidak salah berkata seperti itu? Bukankah papa yang lebih menyakiti mereka?" Clara menimpali.
"Selama ini papa lebih percaya kepada kami dari pada Tifanny dan Meghan. Bukan kami yang membuat mereka menderita, tapi papa!" Imbuh Clara.
"Diam kau! Aku sudah memperlakukanmu seperti anakku sendiri. Bahkan aku selalu mengutamakanmu dari pada anak-anak kandungku, karena aku berfikir kau kehilangan kasih sayang dari seorang ayah," David menatap Clara dengan berang.
"Aku tidak pernah meminta untuk diperhatikan olehmu," dengan santai Clara terduduk kembali di sofa.
__ADS_1
"Clara benar. Kau yang memperlakukan mereka lebih buruk dari kami," Belinda tersenyum sinis.
"Tutup mulutmu! Aku akan pergi dari rumah ini. Dan nanti akan ada yang ke sini untuk mengurus perceraian kita!" David menatap Belinda dengan penuh amarah.
Belinda dan Clara langsung terkesiap mendengar ucapan David.
"Pa, kau berlebihan sekali!" Clara berdiri dan menyentuh tangan David.
"Mari kita bicarakan ini baik-baik!" Kata Belinda dengan panik.
David tidak mendengar ucapan mereka. Ia segera pergi menuju kamarnya dan membereskan semua barang-barang miliknya.
"Kau tidak bisa menceraikanku!" Belinda menyusul David ke kamar dan merebut koper milik David.
David tidak bergeming, ia terus mengambil semua barangnya tanpa sisa. David merebut koper miliknya dengan kasar dan kembali memasukan semua barang-barangnya ke dalam koper.
"Aku sudah muak denganmu! Aku menyesal sudah meninggalkan istriku untuk wanita sepertimu!" Hardik David. Kemudian ia segera menyeret kopernya menuju pintu ke luar.
"Pa, jangan tinggalkan kami!" Clara berpura-pura menangis dan menahan tangan ayah tirinya.
"Lepaskan! Kau sama jahatnya dengan ibumu!" David melepaskan tangan Clara dan langsung berjalan menuju mobilnya dan memasukan kopernya ke dalam bagasi.
"Oke, aku minta maaf sudah memperlakukan kedua anakmu dengan buruk. Aku akan memperbaiki semuanya jika kita menemukan mereka," Belinda menahan tangan David yang akan segera masuk ke dalam mobilnya.
David langsung menghempaskan tangan Belinda dan segera masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen yang ia miliki di kota ini.
***
3 minggu kemudian...
David sudah mengajukan pengunduran diri dari rumah sakit tempatnya bekerja. Tekadnya sudah bulat untuk menetap kembali di Inggris. Dengan begitu, kesempatannya semakin besar untuk menemukan Meghan dan Tifanny.
"Maafkan papa yang tidak berguna ini! Papa sangat merindukan kalian, sampai papa rasanya ingin mati," David menghapus air matanya. Kini ia sedang di dalam pesawat menuju negara asalnya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...