Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Nino mengantar Tifanny ke perusahaan tempatnya bekerja. Hari ini adalah hari perdana Tifanny bekerja di sebuah perusahaan jam tangan mewah yang ada di kota Birmingham.


"Sayang, selamat memulai pekerjaan baru. Semoga harimu menyenangkan," ucap Nino sebelum Tifanny turun dari mobilnya.


"Terima kasih, sayang. Semoga harimu juga selalu menyenangkan. Aku turun ya?" Tifanny mengecup bibir Nino dan turun dari mobil suaminya.


Nino melambaikan tangan dan melihat Tifanny sampai ia masuk ke dalam pintu masuk perusahaan itu.


"Aku berharap Tifanny bisa segera hamil," gumam Nino sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor tempat Tifanny bekerja.


Tifanny masuk ke dalam ruangan kerjanya. Di sana ia satu ruangan dengan dua orang wanita lainnya yang juga bekerja sebagai Accounting.


Seorang gadis yang ada di ruangan itu memberikan pengarahan dan mengajarkan mengenai pekerjaan yang akan di emban oleh Tifanny. Gadis itu bernama Cathy. Ia mengajari Tifanny dengan sabar dan juga ramah.


"Nona, terima kasih untuk pengarahannya," Tifanny tersenyum simpul.


"Iya. Kita kan teman sekantor," jawab Cathy.


Tifanny mulai bisa membuat laporan keuangan, membuat jurnal dan analisis pajak yang diajarkan oleh Cathy.


"Fann, ayo kita istirahat dulu!" Ajak Cathy.


"Aku membawa bekal makanan," Tifanny mengeluarkan kotak makanan dari tasnya.


"Baiklah, aku ke kantin dulu ya?" Cathy berpamitan dan meninggalkan ruangan.


Tifanny mengangguk dan mulai memakan bekalnya.


"Oh iya, aku belum mengabari Nino," Tifanny mengambil ponselnya dan melakukan video call dengan suaminya.


"Hai, sayang!" Sapa Tifanny dengan sumringah saat Nino mengangkat panggilan video callnya.


"Hai, sayang! Kau sedang beristirahat?" Nino tersenyum menatap istrinya yang tengah mengunyah.


"Iya. Bekal yang kubuatkan untukmu sudah kau makan kan?" Tanya Tifanny.


"Ini aku mau memakannya. Lihatlah!" Nino mengeluarkan kotak bekal yang dibekalkan oleh Tifanny.


"Oh iya. Bagaimana hari pertamamu bekerja?" Tanya Nino.


"Sejauh ini lancar dan tidak ada kesulitan berarti, sayang."


"Syukurlah," Nino menghela nafasnya lega.


Mereka terus berbincang sampai tidak terasa sudah melakukan video call selama satu jam penuh.


Sementara itu di ruangannya, Sean tampak menanyai asisten pribadinya.


"Bagaimana? Kau sudah mencari tahu tentang gadis yang kemarin?" Tanya Sean kepada asistennya. Sean adalah pemilik perusahaan tempat Tifanny bekerja.


"Sudah, tuan. Wanita kemarin bernama Tifanny Stuart. Dia baru saja diterima di perusahaan ini dan bekerja sebagai Accounting di Divisi Keuangan dan Accounting," lapor asisten pribadinya.


"Tifanny. Nama yang cantik," ucap Sean dengan senyumnya.


"Nona Tifanny sudah menikah, Tuan."


"Sudah menikah? Aku suka. Pasti dia sudah berpengalaman," Sean tersenyum penuh arti.


"Antarkan aku ke Divisi Keuangan dan Accounting sekarang," Sean beranjak dari duduknya.


"Mengapa tidak tuan suruh saja gadis itu ke ruangan tuan?" Tanya sang asisten.


"Aku ingin menemuinya langsung," Sean merapikan jasnya.


"Baiklah."


Sean dan asistennya berjalan menuju ruangan Tifanny bekerja. Semua karyawan yang melihat Sean langsung berdiri dari duduknya. Itu memang aturan dari perusahaan dan Sean yang menerapkan kebijakan itu. Ia ingin dirinya dihargai dan dibanggakan oleh semua karyawannya.


Tanpa mengetuk pintu, Sean langsung masuk ke dalam ruangan Tifanny. Cathy dan satu temannya langsung berdiri dengan wajah yang terkejut. Ia sangat tahu kedatangan Sean untuk apa, sudah pasti mengincar Tifanny sebagai karyawan baru. Sementara itu, Tifanny masih asik membuat laporan keuangan di komputernya.


"Hallo, Nona Tifanny!" Sean duduk di ujung meja Tifanny.


"Maaf anda siapa ya?" Tifanny menjawab dengan bingung. Ia melirik Cathy dan satu temannya yang masih berdiri.


"Kenalkan aku Sean. Aku pemilik perusahaan ini. Selamat bergabung di perusahaan kami," Sean tersenyum semanis mungkin.


"Terima kasih, Tuan," Tifanny tersenyum canggung.


"Mungkin aku hanya akan memperkenalkan diriku saja. Aku berharap nanti kita bisa makan siang bersama. Semoga Nona betah dan nyaman bekerja di sini," Sean berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan tempat Tifanny bekerja.


"Mengapa pria tadi sangat aneh?" Tifanny melirik ke arah Cathy dan temannya yang lain.


"Ssstttt.. Jangan bicara sembarangan! Dia pemilik tempat kita bekerja," Cathy menimpali.


"Fann, sepertinya tuan Sean menyukaimu. Mungkin kau adalah incaran dia selanjutnya," Cathy berbisik.

__ADS_1


"Incaran?" Tifanny menaikan alisnya. Merasa tidak mengerti dengan ucapan Cathy.


"Iya. Tuan Sean terkenal sangat playboy. Hampir gadis yang ada di kantor ini pernah menjadi korbannya," jelas Cathy lagi.


"Termasuk kau?" Tifanny menatap Cathy penuh keingintahuan. Gadis berambut cokelat itu pun mengangguk.


"Jangan tertarik padanya!" Cathy memberikan peringatan.


"Tertarik? Malah aku ilfeel melihat kelakuannya tadi. Lagi pula aku sudah menikah dan aku mencintai suamiku. Jadi kau tenang saja!" Tifanny tersenyum.


"Oh kau sudah menikah? Mengapa kau tidak memberitahuku?" Cathy tampak kaget.


"Kan kita baru satu hari bekerja bersama."


"Kalau begitu baguslah. Jangan tergoda olehnya ya?" Cathy memperingati untuk ke sekian kalinya.


"Iya. Tenang saja! Aku tidak akan mengkhianati suamiku, apalagi dengan modelan pria seperti itu. Suamiku berjuta-juta kali lebih segalanya," tukas Tifanny yang mengakhiri percakapan mereka.


*****


Ini adalah hari ke enam Alden dan Bianca berada di negara Norwegia.


"Ca, sepertinya aku tidak ingin pulang," ucap Alden yang saat ini tengah terduduk di depan perapian bersama Bianca.


"Tentu saja kau harus pulang. Kakakmu kan akan menikah," Bianca memakan cemilan yang ada di tangannya.


"Maksudku aku begitu menikmati suasana di sini sampai aku lupa tempat tinggal kita di Inggris."


"Oh begitu. Aku pun mulai nyaman dengan keadaan di sini," timpal Bianca masih dengan memakan cemilan yang ada di tangannya.


"Ca, nanti siang aku akan pergi ke kota untuk membeli tiket pesawat kita. Kau tidak apa kan diam di sini?" Alden melirik wajah Bianca.


"Iya. Tidak apa-apa," Bianca mengangguk.


"Kunci rumahnya ya? Jangan biarkan orang asing masuk jika aku tidak ada di rumah."


"Iya. Kau tenang saja. Aku bisa karate," Bianca menepuk dadanya.


Alden tidak menjawab. Ia terus memperhatikan gadis yang ada di hadapannya sembari tersenyum.


Siang harinya Alden pergi ke kota untuk membeli tiket pesawat. Rencananya mereka akan pulang esok hari.


Saat di dalam perjalanan, Alden melihat bunga Pyramidal Saxifrage. Bunga ini adalah bunga yang khas dari negara Norwegia. Alden terbayang wajah Bianca saat melihat bunga itu. Ia segera membeli sebuket bunga Pyramidal Saxifrage untuk Bianca.


"Ca, kau sedang apa? Merindukanku?" Bunyi pesan Alden.


"Tidak. Aku tidak merindukanmu," balas Bianca dengan emoticon menjulurkan lidah.


"Benar? Aku kira jika kita berjauhan kau akan merindukanku," Alden membubuhkan emoticon menangis di pesan balasannya untuk Bianca.


"Iya. Aku merindukanmu. Segeralah pulang!" Balas Bianca.


Alden pun tersenyum menatap pesan dari Bianca.


"Mengapa aku senang begini?" Alden menepuk pipinya.


Tibalah saatnya giliran Alden untuk memesan tiket pesawat. Ia memesan dua tiket first class menuju bandar udara internasional kota Birmingham. Setelah membayar, Alden bergegas pulang kembali ke Desa Reine.


Saat Alden berjalan menuju mobil yang ia sewa. Seseorang tampak memanggilnya, Alden melirik dan melihat orang yang memanggilnya.


****


Bianca tampak resah dan terus mondar mandir di dalam rumah. Sudah pukul 10 malam, tetapi Alden belum juga kembali. Panggilannya pun tidak kunjung di jawab oleh Alden.


Kekhawatirannya seketika sirna saat ia mendengar pintu di ketuk.


"Alden?" Bianca tersenyum senang dan membuka pintu. Tetapi senyumnya langsung memudar saat Alden datang tidak seorang diri.


"Nona Cassie?" Bianca bergumam saat melihat gadis itu di depannya.


Flashback...


Saat Alden berjalan menuju mobil yang ia sewa. Seseorang tampak memanggilnya, Alden melirik dan melihat orang yang memanggilnya.


"Cassie?" Alden terlonjak kaget saat melihat wanita yang pernah dicintainya itu ada di negara Norwegia.


"Akhirnya aku menemukanmu," Cassie merapikan rambutnya yang tersibak angin.


"Mengapa kau kemari? Mana kakak?" Alden masih terkejut dengan kedatangan wanita yang akan menjadi kakak iparnya itu.


"Aku datang sendiri. Aku perlu berbicara denganmu. Ayo kita mencari tempat untuk mengobrol!"


Alden dan Cassie pun masuk ke sebuah cafe.


"Jadi, mengapa kau datang ke mari?" Alden tampak tidak sabar menunggu penjelasan Cassie.

__ADS_1


"Tolong jujur padaku! Kau yang membuat surat ini!" Cassie memberikan kantong berisi surat-surat yang sangat banyak.


Pikiran Alden langsung menerawang kepada kejadian beberapa tahun lalu. Cassie adalah kakak kelasnya saat SMP dan SMA. Alden sudah menyukai Cassie sedari ia duduk di kelas 1 SMP. Alden berpikir itu hanya cinta monyet dan menyimpan rasa itu bertahun-tahun lamanya. Dari SMP Alden mulai berpacaran karena terpengaruh oleh Nino. Tetapi hatinya tetap menyukai Cassie.


Saat Alden menginjak kelas 2 SMA, ia memberanikan diri untuk membuat surat kepada Cassie. Alden selalu menyimpan suratnya di atas mobil Cassie beserta dengan setangkai bunga mawar. Tetapi harapannya sirna, saat Cassie terang-terangan menyukai Aiden, Aiden adalah kakak Alden sekaligus alumni di SMA Cassie dan Alden. Walau sudah menjadi alumni, tetapi Aiden aktif di sekolah sebagai pelatih salah satu ektrakurikuler.


"Bicaralah! Apa surat ini darimu?" Tanya Cassie lagi.


"Iya. Itu semua surat dariku," Alden memelankan suaranya.


"Kau tahu mengapa aku berpacaran dengan kakakmu? Karena aku mengira dia yang memberikan surat-surat ini untukku," Cassie menatap Alden dengan sedih.


"Lihatlah surat ini!" Cassie membuka surat pertamanya.


"Aku mendapat surat pertama ini saat hujan. Huruf L di sini pudar karena terkena air. Hurufnya seperti i. Nama Alden beubah jadi Aiden. Aku jadi mengira itu surat dari kakakmu. Waktu itu dia sempat melatih ekskul pramuka di SMA kita kan? Maka dari itu dugaanku semakin kuat."


"Surat-surat terus berdatangan hampir setiap hari. Tapi dari surat kedua, aku tidak menemukan nama pengirim lagi. Tetapi aku mengenal tulisan itu. Si penulis surat pertama. Aku begitu menyukai puisi dan diksi yang kau tulis di surat itu. Hingga akhirnya aku terbuai dan jatuh cinta kepada Aiden. Aku kira dia si penulis surat. Aku mulai mendekatinya. Akan tetapi bertahun tahun selama menjalin hubungan, setiap kali aku membahas surat, kakakmu seperti kebingungan," jelas Cassie lagi.


"Memang benar aku yang menulis surat-surat itu," Alden menatap Cassie.


"Kau tahu? Aiden baru jujur padaku hari kemarin. Dia mengatakan tidak tahu menahu tentang surat itu dan dia mengatakan jika itu adalah tulisanmu. Maka dari itu aku menyusulmu kemari," Cassie menangkup tangan Alden.


"Jadi, setelah kau tahu, apa yang kau inginkan?" Alden menatap tangannya yang di genggam oleh Cassie.


"Aku sudah membatalkan pernikahanku dengan Aiden. Harusnya orang yang aku cintai adalah kau. Aku ingin memulai semuanya denganmu. Apakah kau mau?" Cassie berharap.


"Bagaimana dengan kakak? Bagaimana dengan kedua orang tuaku?" Alden tampak resah.


"Aiden sudah melepaskanku dan dia bilang tidak masalah jika aku bersamamu. Tetapi aku tidak tahu dengan kedua orang tuamu. Kau mau?" Cassie berdiri dari duduknya dan memeluk Alden yang masih terduduk.


Alden begitu bimbang dan bingung hingga akhirnya ia berucap.


"Baiklah. Ayo kita memulai semuanya dari awal!"


Alden pun membawa Cassie ke desa Reine. Tak lupa, ia memesan satu tiket pesawat lagi untuk Cassie. Sepanjang perjalanan, hati Alden begitu berkecamuk tak karuan. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tetapi Alden pun ingin mencoba memulai sebuah hubungan dengan gadis yang pernah di impi-impikannya. Sesampainya di desa Reine, Alden mengetuk pintu dan melihat Bianca membuka pintu dengan gembira.


Alden melihat senyum di wajah gadis cantik itu berubah saat ia melihat Cassie datang.


"Nona Cassie?" Bianca bergumam saat melihat gadis itu di depannya.


"Mengapa anda ada di sini?" Tanya Bianca.


Cassie hendak menjawab, tetapi Alden memotongnya.


"Biarkan aku yang bicara padanya. Kau masuklah!" Alden memaksakan senyumnya.


"Ca, ayo kita bicara di luar!" Ajak Alden kepada Bianca.


"Jadi, mengapa Nona Cassie ada di sini?" Bianca langsung bertanya kepada Alden saat mereka sudah menjauh dari rumah.


Alden pun menceritakan semuanya termasuk masa lalunya yang mengagumi Cassie secara diam-diam dan mengenai kesalah pahaman Cassie mengenai pengirim surat cintanya.


"Kau ini seorang playboy, mengapa tidak kau utarakan dari dulu? Kau tidak kasihan dengan kakakmu?" Wajah Bianca tampak memerah. Bianca sendiri tidak tahu mengapa ia sangat emosional.


"Aku tidak mempunyai keberanian karena waktu itu hanya dia wanita yang ku sukai. Dengan gadis lain, aku dengan enteng meminta mereka menjadi kekasihku. Tetapi tidak dengan Cassie, aku tidak mempunyai keberanian untuk itu," Alden menunduk.


"Jadi, apa keputusanmu?" Tanya Bianca dengan suara yang bergetar.


"Aku akan mencoba memulai hubungan dengan Cassie," Alden memelankan suaranya.


"Di mana hatimu? Bagaimana dengan kak Aiden dan kedua orang tuamu?" Bianca mendorong tubuh Alden.


"Mengapa kau sangat emosional? Kak Aiden pun mendukung langkah Cassie untuk menemuiku. Mereka saja tidak pernah memikirkan perasaanku," Alden berteriak.


"Cassie bukan gadis yang baik untukmu. Jika dia gadis yang baik, tentu dia tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan juga mempermainkan dua hati adik kakak sekaligus. Di mana otakmu? Kau akan melihat penderitaan kak Aiden setiap hari," Bianca berteriak.


"Aku tidak peduli. Aku menginginkan Cassie," Alden menggeram kesal.


"Kau tidak menginginkannya. Percayalah padaku! Kau hanya terpaksa menerima Cassie karena ia sudah jauh pergi ke negara ini dan meninggalkan pernikahannya. Sadarilah hatimu!" Air mata tergenang di pelupuk mata Bianca.


"Jangan-jangan kau yang kecewa karena kau cemburu dan menyimpan perasaan untukku?" Alden tersenyum sinis.


"Kau jangan menyalah artikan kebaikanku selama ini. Aku tidak menyukaimu," tegas Alden.


"Mengapa sangat sakit saat mengucapkannya?" Batin Alden sambil melihat raut wajah Bianca.


"Untuk apa aku menyukai pria sepertimu? Pria yang hanya mementingkan perasaannya yang lembek itu. Jika aku jadi kau, aku akan menyuruh Cassie untuk pulang dan melanjutkan pernikahannya. Dia adalah gadis yang terlalu naif. Bukankah dia sudah berpacaran bertahun-tahun dengan kak Aiden? Omong kosong jika dia tidak mencintai kakakmu. Aku rasa dia memang bosan dan tidak mau menikah dengan kakakmu, lalu dia mencari pembenaran untuk membatalkan pernikahannya dengan mengungkit surat itu. Mengapa kau mau dipermainkan olehnya?" Bianca menunjuk-nunjuk Alden.


"Sudahlah. Aku pusing! Aku akan tetap memulai hubungan dengannya. Aku akan mencari kebahagiaanku," Alden berlalu dan masuk ke dalam rumah.


Air mata yang sedari tadi menggenagi pelupuk mata Bianca akhirnya merembes ke luar. Bianca pun terjatuh dari tempatnya berpijak.


"Mengapa sesakit ini?" Bianca memegangi dadanya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2