Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pernikahan Alden


__ADS_3

4 bulan kemudian....


Kandungan Tifanny sudah memasuki usia kehamilan 6 bulan. Kehamilannya sudah semakin terlihat dan membesar.


"Sayang, pakai baju ini ya?" Nino memberikan dress yang besar untuk Tifanny.


"Aku tidak suka warnanya, sayang!" Tifanny menolak.


"Kalau yang ini bagaimana?" Nino memberikan gaun berwarna peach untuk Tifanny.


"Nah itu aku suka," Tifanny mengambil long dress dari tangan suaminya.


Hari ini mereka akan datang ke pernikahan Alden dan juga Bianca yang diadakan di kediaman Alden. Rumah Steve dan Hannah memang sangat luas dan mempunyai halaman yang juga tak kalah luasnya. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta pernikahan Alden dan Bianca di rumah saja agar lebih sakral dan kental akan kekeluargaan.


Nino menggandeng tangan Tifanny saat mereka sampai di halaman kediaman Steve dan Hannah. Tampak dekorasi terlihat sangat elegan dan menyejukan mata.


Nino mengedarkan pandangannya saat ia dipanggil oleh seseorang. Orang itu tak lain adalah Kai dan istrinya. Kai terlihat sedang menggendong Jasper dan Alula menggendong anak keduanya.


"Fann?" Alula mendekat ke arah Tifanny. Mereka pun berpelukan hangat.


"Kehamilanmu sudah semakin besar ya?" Alula mengelus perut Tifanny.


"Iya, Al. Kimberly juga sekarang sudah berusia 4 bulan kan?" Tifanny mengusap pipi Kimberly yang sangat imut dengan gaun pinknya.


"Iya. Ku harap kau dan bayimu selalu sehat sampai persalinan nanti ya?" Alula mendoakan dengan tulus.


"Terima kasih, Al!" Sahut Tifanny.


"Ke mana orang tuamu, Kai?" Nino menoleh ke arah Kai.


"Mommy dan Daddy akan datang sebentar lagi. Katanya menyusul. Orang tuamu mana?" Kai balik bertanya.


"Mereka sudah di dalam. Mereka berangkat terlebih dahulu tadi bersama papa David dan Meghan," timpal Nino.


"Kalau begitu, ayo kita masuk!" Ajak Tifanny kepada yang lainnya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Alden. Nino dan Kai tertawa saat melihat foto prewedding Bianca dan Alden yang dipajang di pintu masuk. Konsep prewedding mereka bertema berkebun. Alden terlihat sangat lucu dengan topi pengembala di kepalanya.


"Dia terlihat sangat konyol!" Nino menunjuk foto Alden. Kai pun ikut tertawa.


Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Mereka menyaksikan acara inti di mana Alden akan secara sah mempersunting gadis pujaannya.


"Yeaaay! Sah!!!!" Alden berteriak kegirangan setelah ia resmi dinyatakan sah sebagai suami dari Bianca.

__ADS_1


Alden melompat-lompat kegirangan hingga membuat para tamu tertawa.


"Kai, itu sahabatmu kan?" Nino menutupi wajahnya.


"Tidak tahu. Tidak kenal," Kai ikut menundukan wajahnya.


Acara selanjutnya adalah potong kue. Alden menyuapi Bianca dengan potongan yang sangat besar. Bianca pun balas menyuapi Alden dengan potongan yang lebih besar.


"Mereka sama sekali tidak ada romantis-romantisnya," Tifanny tertawa melihat sepasang pasangan yang baru saja sah itu.


Jam berlalu dengan cepat hingga MC pun menutup acara pernikahan Alden. Semua tamu undangan pun bisa meninggalkan acara dengan tertib.


"Yess! Waktunya unboxing!" Alden berteriak kegirangan.


"Kai, sahabatmu benar-benar memalukan!" Nino mengusap bahu Kai untuk memberikan ketegaran.


"Sahabatmu itu!" Kai membantah.


Setelah berpamitan Kai, Nino dan yang lain pun meninggalkan tempat acara.


"Ma, Alden masuk dulu!" Alden berkata dengan riang kepada ibunya.


"Iya. Mama pun lelah," Hannah memijit pelipisnya.


"Siap apa?" Tanya Bianca.


"Masa kau tidak mengerti," Alden mencolek pipi Bianca dengan tangannya.


"Tapi hati-hati ya? Aku tidak berpengalaman," Bianca berkata dengan hati-hati.


"Tentu saja. Ayo!" Alden menarik tangan istrinya. Mereka pun menghabiskan malam yang panjang bersama. (Di skip ya, lagi bulan puasa wkwk) 🤣🤣


****


Seminggu sudah terlewati. Kehidupan rumah tangga Alden dan Bianca sangat manis semanis sirup m*rj*n. Semenjak menikah, Alden dan Bianca memang memutuskan untuk tinggal bersama Hannah dan keluarga. Hingga di suatu hari yang tenang, Hannah masuk ke dalam kamar putranya dengan membawa segayung air di tangannya.


"Bangun!!!" Hannah menyiram Alden dengan air yang ada di tangannya.


"Ma, apa yang kau lakukan?" Alden langsung terbangun dari tidurnya.


"Kehidupan pengantin baru sudah usai. Saatnya kembali kepada realita," Hannah berkacak pinggang di depan putranya yang masih menggosok matanya.


"Maksud mama?" Alden tampak tidak mengerti.

__ADS_1


"Dengarkan Mama! Sekarang kau sudah menjadi kepala rumah tangga. Mama dan papa sudah menyetop uang bulananmu. Saatnya kau mencari uang dan berdiri di kakimu sendiri!" Perintah Hannah dengan tegas.


"Alden kan bisa ikut di perusahaan papa," Alden berkata dengan enteng.


"Tidak ada. Kau tidak akan mandiri. Kemarin-kemarin pun saat kau mencoba bekerja di perusahaan papa, kau hanya bermain game di ruanganmu. Bangunlah dan saatnya kau gunakan ijazah yang sudah kau dapatkan!" Perintah Hannah lagi dengan suara yang menggelegar.


"Nanti saja, Ma. Dua minggu lagi ya?" Alden merengek.


"Tidak ada. Mama akan mengeluarkan peraturan. Kau tinggal di sini tidak gratis. Kau harus membayar makanan dan minuman yang kau dan istrimu makan dan minum!"


"Mama ini seperti ibu tiri saja," Alden berkata dengan sedih.


"Sudah untung mama mengizinkanmu tinggal di sini secara gratis dan tidak menarik iuran untuk kamarmu. Bangunlah dan cari pekerjaan! Tidak ada yang perlu kau takutkan! Ijazahmu dari Harvard University dan juga Manchester University," Hannah menarik tangan putranya.


"Iya, Ma. Iya," Alden berdiri. Alden pun mengambil handuknya yang tergantung dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Mencari pekerjaan? Ah itu gampang. Aku tinggal meminta kak Aiden untuk memasukanku ke perusahaannya, atau aku tinggal menghubungi Kai dan juga Nino," Alden tersenyum sembari membersihkan tubuhnya.


Hannah pun keluar, ia melihat Bianca ada di depan pintu.


"Bi? Kau dengar perkataan mama?" Hannah menatap Bianca dengan khawatir. Ia takut menyinggung perasaan menantunya.


"Iya, Ma," Bianca tersenyum kepada ibu mertuanya.


"Kemarilah!" Hannah menarik tangan Bianca agar menjauh dari kamar Alden.


"Sayang, maafkan mama ya? Mama terpaksa seperti itu agar suamimu bisa berpikir untuk mandiri. Mama hanya khawatir akan kehidupanmu dan cucu-cucu mama nanti ke depannya jika tingkah laku Alden tetap seperti itu. Siapa yang akan membiayai dan menopang kehidupan kalian jika Alden terus-terusan bermalas-malasan?" Hannah memberikan penjelasan.


"Ma, Mama tidak perlu menjelaskan. Bianca mengerti maksud mama. Bianca pun ingin Alden melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Bianca setuju dengan mama. Alden harus bertanggung jawab dengan keluarga kecilnya," Bianca berkata dengan lembut.


"Sayang, terima kasih sudah mengerti. Ini salah mama karena sejak kecil terlalu memanjakannya. Saatnya mama mendidik dia lebih keras. Mama dan papa tidak selamanya ada untuk Alden. Bagaimana kehidupannya jika kami sudah tiada? Mama ingin dia seperti Kai dan juga Nino yang mandiri dan juga dewasa. Mama juga tidak bisa mengizinkannya untuk bekerja di kantor papa. Dia akan selalu bermain-main di sana," ucap Hannah lagi.


"Iya, Ma. Bianca mengerti. Terima kasih untuk kasih sayang mama kepada suami Bianca."


"Sama-sama, sayang. Ayo kita pergi!" Ajak Hannah kepada menantunya.


"Pergi ke mana, Ma?"


"Kita jalan-jalan pagi di taman!" Hannah menggandeng tangan menantunya.


"Baiklah, Ma. Ayo!"


...Hallo readers, mohon maaf karena author tidak jadi update sore. Bukan tidak menepati janji, tapi kemarin saat akan update tiba-tiba mati lampu. Sedangkan naskah masih ada di laptop dan laptopnya sedang low karena tidak di charger. Sebagai gantinya author update 2 episode untuk kalian. Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2