
Tifanny beristirahat selama satu hari saja karena ia harus masuk kerja kembali. Keputusan Tifanny sudah final untuk resign dari perusahaan Sean. Ia begitu tidak nyaman dengan sikap Sean yang selalu saja mengganggunya. Tifanny sangat takut kepada pria itu.
Saat waktu istirahat tiba, Tifanny berjalan terburu-buru menuju kantin. Ia takut Sean masuk ke dalam ruangannya karena Cathy dan satu orang teman lainnya sudah meninggalkan ruangan.
Saat ia melewati lobby kantor, seseorang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Itu kan istri Nino? Sedang apa dia di sini?" Odelia bergumam saat melihat Tifanny.
Tak lama, ia pun melihat Sean mencegat jalan Tifanny. Tifanny secepat kilat menghindar dan berlari dari lobby itu.
"Sean?" Teriak Odelia saat ia melihat pria itu hendak mengejar Tifanny.
"Kau sedang apa di sini?" Sean tersenyum sinis melihat Odelia.
"Kau belum menandatangani surat perceraian yang aku ajukan. Tanda tangani ini!" Odelia melempar berkas perceraiannya.
Sean mendongkak dan mengambil surat itu. Ia pun merobek-robeknya.
"Akan aku pastikan perceraian kita tidak akan mudah," Sean menyeringai jahat.
Sean berlalu dari hadapan Odelia. Odelia pun merogoh tasnya dan mengirimkan pesan kepada Nino.
"Aku ingin menemuimu. Temui aku di Cafe Boston! Aku ingin membicarakan perihal istrimu. Ini penting," bunyi pesan Odelia kepada Nino.
Nino pun membaca pesan dari Odelia. Ia langsung mengambil mantelnya dan pergi dari kantor begitu membaca pesan yang dikirimkan Odelia. Nino datang karena Odelia membawa-bawa istrinya. Kebetulan ini adalah jam istirahat, jadi Nino bisa ke luar dari kantornya.
"Ada apa?" Tanya Nino ketika ia sampai di Cafe itu. Nino tampaknya tidak ingin berbasa-basi.
"Pesan makanan saja dulu! Kau pasti lapar. Ini jam makan siang," Odelia menyeruput teh hangat miliknya.
"Tidak. Aku ada pekerjaan lain setelah ini. Jadi, ada apa?" Tanya Nino lagi dengan tidak sabar.
"Ini tentang istrimu. Apakah dia bekerja di sebuah perusahaan jam tangan?" Tanya Odelia.
"Iya. Memangnya ada apa?" Nino tampak penasaran mendengar kata-kata Odelia selanjutnya.
"Begini, pemilik perusahaan itu adalah suamiku, emm maksudku sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku," Odelia berkata dengan penuh keseriusan.
"Suami? Jadi? Sean adalah suamimu?" Nino tampak terkejut.
"Pantas saja aku seperti pernah melihatnya," Nino akhirnya ingat saat ia melihat foto pernikahan Odelia di sosial media saat dulu.
"Iya. Tadi aku melihat Sean seperti sedang mendekati istrimu. Aku hanya ingin berkata, jagalah istrimu dari Sean! Dia pria yang sangat buruk," Odelia memperingatkan.
"Ya, aku tahu."
"Lalu, mengapa kau masih membiarkan istrimu bekerja di sana?"
"Dia akan resign minggu depan. Kau tenang saja!"
__ADS_1
"Baguslah. Semakin cepat semakin baik. Dia pria tidak normal," Odelia bergidik ngeri.
"Maksudmu?" Nino tampak tidak mengerti.
"Dia seperti mengalami kelainan. Dia pernah mengajak temannya untuk bertukar pasangan. Dia pun selalu menyiksaku. Aku dengar banyak karyawannya pun yang sudah menjadi korbannya."
"Korban?" Nino bergumam.
"Iya. Bahkan banyak karyawannya yang dilecehkan dan mereka tidak mempunyai keberanian untuk melaporkan hal itu."
"Jika aku mengusut kasus ini ke meja hijau, apa kau tidak keberatan?" Nino menatap Odelia. Bagaimana pun Odelia kini masih berstatus istri dari Sean.
"Tentu saja tidak. Aku malah mendukungmu. Akan lebih baik bila dia mendapat hukuman agar berhenti dari perbuatannya itu," Odelia berkata dengan geram.
"Baiklah. Terima kasih sudah memberi tahuku," Nino tersenyum.
"Iya. Sama-sama. Aku hanya takut istrimu menjadi korban Sean selanjutnya. Aku berharap pernikahanmu selalu bahagia," Odelia tersenyum. Baginya kini adalah melihat pria yang dicintainya bahagia sudah membuatnya cukup senang.
"Aku juga berharap demikian. Semoga kau menemukan pendamping yang baik. Kalau begitu aku pergi," Nino beranjak dari duduknya.
*****
Usai mengantar Cassie pulang, Alden pulang kembali ke rumahnya. Alden masuk ke dalam rumah tanpa menyapa kedua orang tuanya.
"Alden, mama ingin bicara kepadamu," Hannah menghentikan langkah kaki anak bungsunya.
"Nanti saja, Ma. Aku sedang tidak ingin bicara," Alden berjalan kembali untuk menuju kamarnya.
"Sedang apa dia di dalam?" Gumam Alden.
"Masa bodoh dia mau melakukan apa," Alden masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Alden berguling ke sana ke mari mencari posisi untuk membuatnya nyaman.
"Mengapa aku memikirkan dia?" Hati Alden begitu terusik mengingat perlakuannya kepada Bianca.
"Lebih baik aku segera tidur," Alden menaikan selimut sampai kepalanya.
"Mengapa aku tidak bisa tidur juga?" Alden berdecak pelan sambil menghentakan kakinya.
"Aku butuh udara segar," Alden beranjak dari kasurnya dan ke luar dari kamar.
"Mengapa dari tadi dia tidak ke luar?" Alden menatap pintu kamar Bianca.
"Sudahlah. Tidak penting," Alden masuk kembali ke dalam kamarnya.
Pagi harinya, semua orang tampak berkumpul untuk sarapan bersama.
"Kau mau ke mana? Sarapanlah dulu!" Kata Aiden saat melihat adiknya melewati meja makan.
__ADS_1
"Biarkan saja dia," timpal Hannah dengan ketus tanpa memandang Alden.
"Kemarilah sarapan bersama kami!" Steve menoleh ke arah Alden.
Alden pun memutuskan untuk ikut sarapan bersama-sama karena perutnya pun sudah sangat keroncongan. Alden terduduk di samping Aiden, ia menoleh ke arah Aiden yang sedang menyantap sarapan paginya.
"Mengapa wajahnya sangat tenang seperti itu?" Batin Alden.
Matanya menelisik ke kursi yang biasa Bianca duduki untuk sarapan bersama-sama. Memang Hannah dan Steve sangat memperlakukan Bianca dengan baik dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Bianca sering sarapan bersama-sama dengan Hannah dan keluarganya.
Hannah menatap raut wajah Alden yang tampak sedang mencari keberadaan seseorang. Tentu Hannah tahu siapa yang dicari oleh putranya itu.
"Bianca tidak ada. Dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya," Hannah meneguk air dari dalam gelas miliknya.
Alden tampak kaget mendengar kabar dari ibunya.
"Ma-maksud mama?" Alden masih memperlihatkan raut wajah terkejutnya.
"Dia sudah tidak bekerja di sini lagi. Bianca mengundurkan diri menjadi asisten pribadimu," jawab Steve.
"Mengapa dia harus mengundurkan diri? Apa masalahnya?" Alden bertanya dengan terburu-buru.
Hannah pun tersenyum sinis mendengar pertanyaan anaknya.
"Untuk apa bekerja padamu lagi? Dia tidak ingin seperti seekor keledai yang menunggui kedua orang yang tidak beretika berpacaran," sindir Hannah.
"Ma, sudahlah!" Aiden menengahi karena situasi mulai memanas.
"Dia tidak ingin mengganggumu. Bukankah sekarang ada Cassie? Kau bisa menjadikan mantan calon kakak iparmu itu asisten pribadimu," Steve ikut-ikutan menyindir dengan senyumnya yang mengejek.
"Aku kenyang," Alden menyimpan garpu dan sendoknya lagi.
Ia kemudian beranjak dari meja makan dan ke luar dari rumah. Alden mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang begitu kalut.
"Dasar gadis tidak beretika! Pergi pun tidak pamit kepadaku. Memang dia gadis yang udik. Tidak memiliki tata krama," Alden mencengkram kemudi mobilnya hingga kuku-kukunya memutih.
"Aku ke rumah Cassie saja," Alden mengarahkan mobilnya menuju kediaman Cassie.
Tetapi saat mobilnya sampai tepat di depan gerbang rumah kekasih barunya, Alden memutar balik mobilnya kembali. Ia mengemudikan mobilnya ke suatu tempat yang cukup jauh dari kota Birmingham.
"Mengapa aku ke sini?" Alden mengacak rambutnya saat mobilnya sampai di depan kediaman kedua orang tua Bianca, yaitu di kota Cambridge. Tampak rumah kedua orang tua Bianca sangat sepi.
"Untuk apa aku ke sini? Dasar Alden bodoh!" Alden memaki dirinya sendiri.
"Aku hanya merasa bersalah karena memperlakukan dia kemarin seperti itu. Tidak lebih. Aku tidak pernah menyukai gadis itu. Dia tidak selevel denganku," Alden menggelengkan kepalanya menepis rasa aneh yang hinggap di hatinya ketika tahu Bianca pergi.
Alden pun melajukan mobilnya lagi menuju kota Birmingham. Sesampainya di kota Birmingham, Alden memilih untuk ke apartemennya untuk menenangkan pikiran.
"Sebenarnya apa yang aku inginkan? Aku sudah mendapatkan wanita yang selalu aku impi-impikan. Lalu, mengapa hatiku begitu terasa kosong dan kesepian?" Alden menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...