Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Meminta Saran


__ADS_3

"Sayang, sepertinya siang-siang begini enak ya jika makan makanan pedas?" Tanya Nino kepada istrinya. Hari ini adalah akhir pekan, Nino tengah bersantai bersama Tifanny di ruang tengah rumahnya. Keadaan rumah cukup sepi, karena Meghan dan David tengah pergi bersama untuk berlibur di akhir pekan ini.


"Bukannya kau tidak terlalu suka makanan pedas?" Tanya Tifanny dengan bingung.


"Tapi saat ini aku ingin memakan makanan yang pedas. Bagaimana jika kau buatkan aku makanan pedas?" Pinta Nino kepada istrinya.


"Kau ingin makan apa?"


"Aku ingin makan makanan Thailand. Tom Yum udang enak sepertinya. Kuahnya yang pedas ya?" Request Nino lagi.


"Baiklah. Aku akan membuat makanan yang kau inginkan," Tifanny beranjak dari duduknya.


Nino pun menatap Tifanny yang akan berjalan ke dapur.


"Sayang?" Panggil Nino lagi.


"Ada apa lagi?" Tifanny menoleh.


"Tidak usah saja. Duduklah lagi di sini!" Nino merasa tidak tega melihat istrinya yang tengah hamil muda harus menyediakan makanan yang dia inginkan.


"Bukankah tadi kau ingin makan Tom Yum?" Tifanny terduduk lagi di samping suaminya.


"Iya. Tapi nanti aku buat sendiri saja. Terima kasih karena tadi sudah mau memasaknya untukku ya?" Nino tersenyum.


"Kalau begitu, kita menonton saja ya?" Nino mengambil remote dan menyalakan televisi.


"Sayang, aku ingin menonton ini!" Seru Tifanny saat melihat kartun kesukaannya.


"Aku kesal jika menonton kartun ini. Tom selalu saja kalah," cebik Nino dengan kesal.


"Ya namanya juga kartun," Tifanny mengambil cemilan yang ada di atas meja.


Saat mereka tengah asik menonton kartun yang menceritakan permusuhan kucing dan tikus, seseorang tampak masuk ke dalam rumah.


"Nino?" Seru orang itu yang tak lain adalah Kaivan, sahabat sekaligus tetangganya.


"Kai, ada apa kau ke sini?" Nino menoleh ke arah sahabatnya yang sudah masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan.


"Pertanyaanmu sungguh menyebalkan. Aku ingin mengunjungimu," Kai mendudukan dirinya di depan Nino dan Tifanny.


"Ke mana Jasper dan Alula?" Tanya Tifanny.


"Jasper sedang menginap di rumah Daddyku. Sedangkan Alula sedang berbelanja kebutuhan bayi bersama Mommy," Kai mengambil cemilan yang ada di atas meja.


"Calon anak keduamu perempuan atau laki-laki, Kai?" Tanya Nino dengan penasaran.


"Perempuan. Jadi sepasang. Tapi nanti aku ingin menambah lagi. Aku ingin memiliki anak 13," celetuk Kai masih dengan memakan cemilan yang ada di atas meja.


"Enak sekali dia berbicara!" Gerutu Nino saat mendengar ucapan Kai. Tiba-tiba senyum menghiasi wajah Nino saat ia memperhatikan sahabatnya.


"Kai?" Panggil Nino.


"Apa?" Kai menutup tutup toples cemilan.


"Bukankah dulu kau pernah membuatkanku Tom Yum saat aku dan Alden menginap di rumahmu?" Nino berkata dengan hati-hati.


"Iya, aku ingat. Lalu?" Kai tampak tidak mengerti.


"Aku ingin Tom Yum sekarang. Bisakah kau membuatkannya untukku?" Pinta Nino.


"Untuk apa aku membuatkanmu Tom Yum? Kau kan bisa membuatnya sendiri," Kai menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Aku ingin makan Tom Yum buatanmu. Tolonglah! Istriku sedang hamil," rengek Nino.


"Sayang, apa hubungannya denganku?" Tifanny merasa bingung.


"Tifanny hamil?" Kai tampak terkejut.


"Mengapa kau tidak memberitahuku? Fann, selamat untuk kehamilanmu ya? Aku harap kau dan anakmu selalu sehat," harap Kai dengan tulus.


"Terima kasih, Kai," timpal Tifanny.


"Jadi bagaimana, Kai? Kau akan membuatkannya untukku kan?" Tanya Nino lagi.


"Tidak. Kan yang sedang mengandung istrimu. Bayinya ada di perut Tifanny bukan di perutmu," Kai menolak.


"Kai, kau ini tega sekali kepada sahabatmu! Mungkin sekarang aku yang tengah merasakan ngidam karena Tifanny biasa-biasa saja."


Tifanny pun menoleh kepada Nino. Ia mulai paham dengan sikap suaminya. Memang ad istilah kehamilan simpatik di mana seorang suami juga merasakan mengidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti mual dan muntah.


"Sayang, sepertinya kau memang tengah mengidam," ucap Tifanny dengan serius.


"Iya. Sepertinya begitu," Nino merebahkan kepalanya di pundak Tifanny.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membuat Tom Yum untukmu," Kai mengalah. Ia teringat saat Nino menuruti semua keinginan istrinya saat mengidam dulu. Setidaknya Kai harus balas jasa atas kebaikan sahabatnya.


"Nah begitu dong dari tadi, Kai!" Seru Nino dengan gembira.


"Bahan-bahannya sudah ada kan?" Kai berdiri dari duduknya.


"Sudah lengkap, Kai," jawab Tifanny.


Kai pun berjalan ke arah dapur Nino. Ia mulai memasak Tom Yum untuk sahabatnya.


"Kai, yang pedas ya?" Teriak Nino.


"Kau ingin yang pedas? Baiklah," Kai menyeringai jahat. Ia mengambil banyak cabai segar yang ada di dalam kulkas dan memasukan semuanya kepada kuah yang tengah ia racik.


"Ini pasti akan pedas," seolah tidak puas dengan cabai segar, Kai menambahkan bubuk cabai ke dalam masakannya.


Setelah setengah jam berjibaku di dapur, Kai membawa maha karyanya ke ruang tengah.


"Baunya enak sekali," Tifanny menghirup aroma Tom Yum yang Kai buat.


"Kai, terima kasih," ujar Nino dengan ceria.


"Sama-sama. Cobalah!" Kai memberikan sendok kepada Nino.


"Cobalah! Aku ingin melihatmu merasakan kepedasan," kata Kai dalam hatinya sembari tertawa jahat.


Nino mengaduk-aduk kuah Tom Yum dan isinya yang Kai buat.


"Kai, aku ingin kau memakannya denganku!" Nino berjalan ke arah dapur dan mengambil sendok lagi.


"Ti-tidak. Aku tidak mau," Kai menolak.


"Bayi dalam perut Tifanny ingin melihat kau membantuku makan," Nino menaikan suaranya.


"Kau saja yang makan, aku tidak mau!" Kai menaruh sendok yang Nino bawa.


"Ayolah, Kai!" Bujuk Nino lagi.


Seketika bayangan ketika Nino menemaninya membeli boneka terlintas di pikiran Kai. Dulu Nino memang sangat dilibatkan dalam ngidam Alula.


"Baiklah. Aku akan menemanimu makan," Kai mengalah.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu ya? Aku harus merapikan kamar. Tadi belum sempat dirapikan," Tifanny berdiri dari duduknya.


Nino dan Kai pun mulai mencoba Tom Yum yang dimasak oleh Kai. Kai mengambil satu sendok kuah Tom Yum itu dan mencicipinya.


"Gila! Ini sangat pedas!" Kai mengambil air mineral yang ada di atas meja dan meneguknya sampai tandas.


"Ini enak, Kai!" Nino makan dengan lahap.


"Ayo makanlah yang lahap!" Paksa Nino kepada Kai.


Kai pun memakan kembali Tom Yum yang tadi ia masak dengan terpaksa.


"Setelah ini aku harus mencari obat untuk diare," keluh Kai dalam hatinya.


*****


Segala cara telah Alden lakukan untuk membuat Bianca menerima cintanya. Alden sudah bernyanyi di depan rumah Bianca, tetapi Bianca malah menyiram Alden karena pria itu bernyanyi saat tengah malam.


Alden pernah diam-diam masuk ke dalam rumah Bianca, akan tetapi ia malah diteriaki maling oleh gadis blonde itu. Alden mengikuti langkah Bianca ke mana pun gadis itu pergi, termasuk ketika Bianca masuk ke dalam toilet khusus perempuan. Akhirnya wajah Alden yang mempesona harus terkena pukulan dari beberapa wanita yang ada di toilet wanita. Alden seperti kehilangan akal saat ia mengejar Bianca. Ia seperti tidak ingin melepaskan gadis itu dari pandangan matanya.


Alden pun pernah memberikan cokelat-cokelat yang sangat banyak untuk Bianca saat gadis itu tengah mengalami sakit gigi yang hebat. Hasilnya hanya amukan yang Alden dapatkan dari Bianca.


Hari ini pikiran Alden dipenuhi dengan ide-ide brilian. Ia akan memberikan kejutan kepada gadis yang pernah berstatus sebagai asisten pribadinya itu. Alden akan menghias rumah Bianca dengan bunga agar membuat gadis itu tersentuh dan menerima cintanya.


Dari pagi hari, Alden diam-diam memperhatikan rumah Bianca. Ia melihat Bianca pergi keluar dari rumah dan meninggalkan kunci rumahnya di bawah keset.


Setelah Bianca pergi, Alden pun mengambil kunci rumah Bianca dan masuk ke dalam rumah. Alden menelfon beberapa orang suruhannya untuk membawa bunga-bunga pesanannya untuk menghias rumah Bianca.


Orang-orang suruhan Alden pun menghias rumah Bianca dengan bunga yang dipilih langsung oleh Alden. Wajah orang-orang suruhan Alden tampak bingung, tetapi mereka tidak berani bersuara, yang terpenting bagi mereka adalah pekerjaannya selesai dan mendapatkan upah.


"Ini untuk kalian," Alden memberikan bayaran untuk orang-orang suruhannya itu.


"Sekarang kalian pergilah! Aku ingin melakukan hal romantis bersama gadis yang ku cintai," Alden mengusir orang- orang itu. Mereka tampak saling menyikut dan berpandangan dengan bingung.


Alden pun terduduk di atas sofa. Ia menunggu kehadiran Bianca. Bianca yang baru pulang belanja makanan sehari-harinya pun tampak kebingungan ketika melihat rumahnya terbuka lebar.


"Apakah ada maling?" Bianca bergumam dengan khawatir. Ia memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Tatapannya terkunci ketika melihat rumahnya dipenuhi oleh berbagai macam bunga.


"Selamat datang, Ca!" Alden menyambut kedatangan Bianca dengan riang.


Bianca pun terpaku di tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Aku membuat kejutan ini khusus untukmu. Ini adalah ungkapan hatiku kepadamu," Alden mengambil sebuket bunga dan memberikannya kepada Bianca.


Bianca mengambil bunga itu dan ia menatapnya dengan sangat lama.


"Ini bentuk pengungkapan perasaanmu kepadaku?" Tanya Bianca dengan dingin.


"Iya. Kau suka?" Jawab Alden dengan sumringah.


"Dasar pria kurang ajar! Kau menyumpahi aku mati?" Bianca memukulkan buket bunga yang ada di tangannya secara membabi buta kepada Alden.


"Ca, kau kenapa?" Alden menghindar dari sabetan bunga yang dilayangkan Bianca.


"Keluar!" Teriak Bianca kepada Alden sambil terus memukulkan bunga itu.


Alden pun keluar dari rumah Bianca karena terus dipukuli. Bianca segera menutup pintu dan menguncinya.


"Dia kenapa?" Alden bertanya dengan heran.


Alden memutuskan untuk pergi ke rumah Kaivan untuk meminta nasehat dan tausiah cinta dari sahabatnya.


"Kau kenapa?" Tanya Alden saat melihat Kai memegangi perutnya.


"Aku sedang sakit perut," Kai meringis.


"Ternyata bakteri tidak takut hinggap di tubuhmu itu?" Alden tertawa.


"Diamlah! Ini semua ulah sahabatmu yang sedang mengidam," Kai menatap Alden dengan kesal.


"Siapa?" Alden tampak tidak mengerti.


"Nino, siapa lagi? Tifanny sedang hamil. Dia sepertinya mengalami kehamilan simpatik," jelas Kai.


"Kalian memang budak cinta akut. Lihatlah jika aku sudah menikah! Aku tidak akan mau memenuhi permintaan ngidam istriku," tekad Alden.


"Sekarang kau bisa berbicara seperti itu. Tapi lihatlah nanti! Jadi, ada apa kau ke mari?"


"Oh iya. Aku hampir lupa tujuanku datang ke mari," Alden menggaruk rambutnya.


Kemudian Alden pun menceritakan semuanya kepada Kai termasuk usahanya hari ini untuk merebut hati Bianca.


"Kau memberikan dia bunga apa?" Tanya Kai dengan penasaran.


"Bunga Anyelir, mawar putih dan juga bunga Lily putih," jawab Alden dengan polos.


"Dasar anak tidak berguna!" Kai memukul pelan kepala Alden.


"Kenapa?"


"Terang saja dia marah. Bunga Anyelir, mawar putih dan bunga Lily putih adalah bunga untuk melambangkan duka cita. Kau menyumpahi dia mati?" Kai merasa gemas dengan tingkah sahabatnya.


"Kau serius, Kai?" Alden tampak kaget.


"Iya. Aku serius. Masa hal begitu saja kau tidak tahu?" Kai semakin kesal.


"Ya, kau tahu kan? Aku tidak pernah memberikan bunga sebelumnya kepada seorang wanita. Karena wanita yang aku dekati sudah pasti langsung tergila-gila padaku. Aku pernah memberi Bianca bunga mawar dan juga bunga khas Norwegia yang tidak jadi aku berikan. Aku memilih bunga Anyelir, Mawar putih dan Lily putih agar terlihat tidak mainstream," Alden melakukan pembelaan.


"Mengapa kau tidak menanyakannya dulu kepada penjaga toko?"


"Sudahlah. Itu kan sudah berlalu. Sekarang berikan aku nasehat agar bisa mendapatkan dia dengan mudah?"


"Kau ingin tahu caranya?"


"Iya. Kau bisa membuat musuhmu alias istrimu tergila-gila padamu. Jadi aku yakin kau memiliki trik jitu untuk menaklukan hati wanita," ujar Alden.


"Abaikan dia! Jangan mengejar-ngejarnya! Aku yakin dia akan merasa kehilanganmu dan pada akhirnya dia akan mencarimu," Kai memberikan saran.


"Kau yakin?" Alden tampak ragu.


"Aku yakin. Itu trik yang jitu."


"Bukankah kau tidak pernah mengabaikan istrimu? Bahkan kau yang mencari dan memohon padanya ketika dia lari darimu?" Tanya Alden dengan blak-blakan.


Kai pun dibuat salah tingkah oleh ucapan Alden.


"Kau ingin mendapatkannya atau tidak?" Kai berteriak.


"Iya, aku ingin."


"Kalau begitu abaikan dulu dia! Dinginkan sikapmu padanya, lalu dia akan merasa kehilangan dan mencarimu."


Alden tampak berpikir.


"Baiklah, Kai. Aku akan mengikuti saranmu."

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2