
Nino menyetujui untuk mendampingi Tifanny dalam rangka mengikuti aktifitas David hari ini. Untungnya hari ini pekerjaannya tidak banyak, jadi Nino bisa pulang lebih awal ke rumah.
"Sayang? Jadi tidak?" Tanya Nino kepada istrinya saat ia baru tiba di rumah.
"Iya, ayo!" Tifanny menarik tangan Nino ke luar dari rumah.
Nino dan Tifanny berangkat menuju rumah sakit tempat David bekerja. Akan tetapi, tidak terlihat mobil David di pelataran rumah sakit. Nino memang meminjamkan sebuah mobil untuk David agar memudahkan pekerjaan ayah mertuanya.
"Mobilnya tidak ada," Nino menoleh ke arah Tifanny yang sudah sangat cemas karena tidak melihat mobil ayahnya.
"Aku masuk dulu untuk menanyakan jadwal praktek papa," Nino memegang tangan Tifanny untuk menguatkan. Kemudian Nino keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, Nino masuk lagi ke dalam mobil.
"Bagaimana?" Tanya Tifanny dengan tidak sabar.
"Bagian informasi bilang jika papa tidak ada jadwal hari ini," Nino lagi-lagi memegang tangan istrinya yang sudah terasa sangat dingin.
"Papa ke mana?" Tifanny berkata dengan cemas.
"Sayang, apakah kau menaruh GPS di mobil itu?" Tifanny bertanya dengan gusar.
"Iya. Kau ingin aku melacaknya?" Nino melihat kegundahan yang sangat jelas dari manik mata istrinya.
"Iya. Ayo segera lacak mobil yang dipakai papa!" Tifanny menggenggam tangan Nino. Nino merasakan tangan Tifanny berkeringat.
"Sayang, sebaiknya kita pulang saja ya? Besok kita teruskan," Nino tidak tega jika akhirnya istrinya akan kecewa. Ia tidak ingin melihat Tifanny menangis lagi. Semenjak ayah mertuanya meminjam uang padanya, sebenarnya Nino sudah membayar orang untuk menyelidiki David.
"Aku sudah tahu semuanya. Apakah kau akan mampu menerima kenyataannya? " Nino menatap Tifanny dengan sendu.
"Ayo, jangan membuang-buang waktu!" Tifanny tampak tidak sabar.
Nino pun melajukan mobilnya menuju apartemen yang David sewa. Ia tidak perlu repot-repot melacak David ada di mana, karena Nino sudah tahu David pergi ke mana belakangan ini.
"Itu mobil papa!" Seru Tifanny saat melihat mobil yang dipakai David terparkir di parkiran sebuah apartemen.
"Sayang, sebaiknya kita pulang saja," Nino masih berusaha untuk membujuk istrinya.
__ADS_1
"Kau ini kenapa? Kita sudah ada di sini. Ayo kita cari tahu papa ada di kamar apartemen yang mana!" Ucap Tifanny dengan nada yang kesal.
"Iya. Jangan marah padaku ya?" Nino menyentuh pipi Tifanny sebelum mereka keluar.
"Iya, maafkan aku! Aku hanya tidak sabar sebenarnya papa pergi ke mana dan bertemu dengan siapa," Tifanny menyentuh tangan Nino.
"Kalau begitu ayo kita ke luar!" Nino membuka pintu mobil.
Tifanny dan Nino berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Kamar apartemen atas nama tuan David lantai berapa ya? Saya anaknya ingin menemuinya," ucap Nino dengan sopan kepada bagian informasi apartemen.
"Di lantai 12. Kamar 87, tuan," jawab staff informasi dengan santun.
"Terima kasih."
Nino dan Tifanny masuk ke dalam lift untuk mencapai lantai 12. Tifanny menggenggam tangannya sendiri. Ia sudah sangat siap mengenai apa yang akan dilihatnya.
"Ini kamarnya," Nino menatap Tifanny saat mereka sudah sampai di kamar apartemen nomor 87.
Tifanny tidak menjawab, ia menyingkirkan tangan Nino dari bahunya dan memencet bel.
"Sebentar!" Teriak suara wanita dari dalam. Tifanny begitu mengenali suara wanita itu. Suara itu begitu familiar di telinganya. Tapi hatinya masih berharap jika wanita itu bukanlah seseorang yang dipikirkannya.
Pintu pun terbuka.
"Kau?" Tifanny menatap tajam pada Belinda, mantan ibu tirinya. Belinda dan David memang sudah resmi bercerai.
"Sedang apa kau di sini?" Belinda berteriak.
Tifanny menabrak tubuh Belinda dan ia segera masuk ke dalam apartemen. Ia melihat David dan Clara tengah makan siang bersama.
"Jadi, ini yang papa sembunyikan dariku?" Teriak Tifanny saat melihat ayahnya.
"Fann?" David tampak terkejut dengan kehadiran Tifanny yang tidak terduga dan datang secara tiba-tiba.
"Papa mengkhianatiku dan Meghan. Kenapa pa? Mengapa papa harus berurusan dengan mereka lagi?" Tifanny tidak bisa membendung lagi air matanya.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah!" Nino tampak menenangkan istrinya.
"Nino?" Clara tersenyum senang saat melihat kehadiran Nino.
"Datang-datang membawa keributan," gerutu Belinda dengan tatapan kesal.
"Apa kurangnya Fanny dan Meghan? Kami sudah merawat papa sebaik mungkin. Apa salah kami kepada papa? Mengapa papa kembali terlobat lagi dengan kedua wanita ini?" Tifanny semakin berteriak.
"Fann, dengarkan penjelasan papa dulu!" David berusaha menggapai tubuh putrinya.
"Jangan sentuh aku lagi! Aku benci padamu, Pa! Mengapa kau kembali pada mereka? Bahkan kau membohongiku perihal uang. Pa, kau tidak ingat karena siapa kita berpisah selama tiga tahun?" Tifanny menangis tersedu-sedu. Kemudian Tifanny berlari ke luar dari apartemen dengan tangisnya yang memilukan.
"Sayang?" Nino mengejar langkah kaki istrinya. David pun berusaha untuk mengejar Tifanny.
"Biarkan saja dia. Makanlah lagi!" Belinda menahan tangan David untuk pergi.
"Aku harus pergi menyusul putriku," David melepaskan tangan Belinda.
*****
"Ayo Meghan, kita pergi dari sini!" Tifanny menarik tangan Meghan yang sedang membaca buku di kamarnya.
"Ada apa, kak?" Meghan tampak bingung melihat Tifanny menangis.
"Ayo ikut saja!" Tifanny menarik lagi tangan Meghan. Kali ini tarikannya lebih kuat.
"Sayang, lebih baik kita bicarakan baik-baik!" Nino mencegah Tifanny untuk pergi.
"Aku muak dengan papa," Tifanny semakin terisak. Nino merasa sesak melihat istrinya menangis seperti itu.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah orang tuaku untuk sementara waktu!" Ajak Nino. Bagaimana pun Tifanny butuh waktu dan Nino merasa keadaan akan semakin runyam jika ia memaksa Tifanny untuk berbicara dengan ayahnya. Nino pun membawa Tifanny dan Meghan ke rumah kedua orang tuanya untuk sementara waktu.
Sementara itu, David tiba di rumahnya saat Tifanny, Nino dan Meghan sudah pergi.
"Fann, Meghan? Jangan tinggalkan papa lagi!" David menangis meraung di tengah rumah saat tidak mendapati kehadiran kedua putrinya di rumah megah itu.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1