Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Menutupi


__ADS_3

Nino dan Tifanny segera masuk ke dalam tempat karaoke minimalis yang masih ada di area time zone. Tempat karaoke di time zone memang berbeda dengan tempat karaoke pada umumnya. Di tempat karaoke time zone menggunakan koin. 1 lagu harus membayar dengan 20 koin.


Nino menutup pintu ruangan karaoke minimalis itu dengan tersenyum penuh maksud.


"Kau ingin lagu apa, No?"


"Terserah kau saja!" Nino tersenyum.


"Baiklah, ayo kita menyanyi lagu Baby!" Tifanny segera menyetel lagu itu.


"Ayo!" Tifanny menarik tangan Nino dan memberikan satu microfon untuknya.


"Baby, baby, baby ooh.... Like baby, baby, baby no Like, baby, baby, baby ooh.. thought you'd always be mine, mine..." Tifanny bernyanyi sembari meloncat loncat.


Nino tertawa melihat sisi lain dari gadis yang terkenal pendiam di kelasnya itu. Nino segera mengambil ponselnya dan merekam Tifanny yang tengah menyanyi.


"Benarkah dia Tifanny Stuart?" Tanya Nino sembari tersenyum.


"Ayo mengapa kau diam saja?" Tifanny menarik tangan Nino. Nino pun ikut bernyanyi tetapi matanya masih fokus memperhatikan Tifanny yang tengah bernyanyi dengan gembira.


Setelah menyanyikan 4 lagu, mereka pun ke luar dari area karaoke mini itu.


"Kau luar biasa! Cocok berduet dengan Ariana Grande," puji Nino dengan senyum yang tak memudar di wajahnya.


"Kau berlebihan!" Tifanny tertawa.


"Sebelum kita pulang, ayo kita makan dulu!" Ajak Nino kepada Tifanny.


"Boleh, masih ada waktu, asal jangan berlama lama ya?" Tifanny menoleh ke arah jam yang ada di tangannya.


"Iya, ayo!" Nino segera berjalan ke arah food court mall yang ada di dekat time zone.


"Aku lihat kau sangat senang ketika bermain basket tadi. Seperti tidak pernah ke time zone," tutur Nino saat mereka sudah terduduk di kursi food court. Makanan pun sudah tersaji di meja mereka.


"Sudah lama aku tidak bermain. Terakhir bermain saat aku SMP di Inggris. Nonton pun aku baru pertama kali lagi, biasanya aku akan menunggu film itu rilis di internet," Tifanny tersenyum lirih seraya mengaduk ngaduk mangkuk es krim yang ada di hadapannya.


"Benarkah? Apa ayahmu tidak pernah mengajakmu?" Nino merasa iba dengan gadis yang ada di hadapannya.


"Tidak," Tifanny menggeleng pelan.


"Aku lihat tuan David sering mengantarkan dan menjemput Clara jika berpesta. Mengapa aku tidak pernah melihat dia menjemput dan mengantarmu?" Nino bertanya ingin tahu.

__ADS_1


"Papa hanya sibuk saja," Tifanny menutupi.


"Bagaimana dengan ibu tirimu? Apakah dia memperlakukanmu dan Meghan dengan baik?"


"Iya, dia memperlakukanku dan Meghan dengan baik. Semuanya baik-baik saja," Tifanny kembali menutupi kehidupan keluarganya.


"Kau tidak pandai berbohong, Fann! Aku pernah melihat ibu tirimu menampar wajahmu saat kau memecahkan vas bunga miliknya. Waktu itu aku mengantarkan Clara ke rumah, tetapi kau tidak menyadari keberadaanku. Mengapa kau masih menutupi keburukan ibu tirimu?" Nino mengingat kejadian yang tak sengaja ia lihat itu.


"Bagaimana dengan Meghan? Apakah dia cukup bermain? Dia sedang di fase penuh keingin tahuan sekarang," tanya Nino kembali.


"Kau tidak perlu khawatir! Sesekali aku selalu mengajak Meghan berjalan jalan ke taman," Tifanny tersenyum.


"Aku harap kau dan Meghan selalu bahagia!" Nino mengusap tangan Tifanny lembut.


"Apakah aku akan membuatmu menangis saat nanti kau tahu aku mendekatimu hanya untuk bahan taruhan?" Nino bertanya dalam hatinya seraya mengaduk ngaduk es krim yang sudah mencair di wadahnya.


"No, mengapa kau tidak memakannya?" Tanya Tifanny saat melihat Nino hanya mengaduk es krim yang ada di depannya.


"Tidak. Aku hanya mendadak kenyang. Kau sudah selesai? Mari kita pulang!"


"Iya, ini sudah terlalu malam. Ayo kita pulang!" Tifanny berdiri dan mengambil tasnya yang ada di atas meja.


"Pegangan ya?" Nino mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"No, jangan ngebut!" Teriak Tifanny yang dihiraukan oleh Nino. Pada akhirnya Tifanny kembali memeluk Nino karena takut terjatuh.


"Terima kasih untuk malam ini," ucap Nino kepada Tifanny setelah mereka sampai taman. Tifanny memang sengaja meminta diturunkan di taman.


"Iya, terima kasih juga ya sudah mengajakku menonton film?" Tifanny tersenyum ceria.


"Kalau begitu aku pergi!" Tifanny melangkahkan kakinya untuk berjalan ke luar dari lingkungan taman.


"Fan, sebentar!" Nino menarik tangan Tifanny.


"Aku lupa menaruh ponselku. Bisakah aku meminjam ponselmu untuk melakukan missed call kepada ponselku?"


"Mengapa kau tidak bilang dari tadi? Ya sudah ini!" Tifanny segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.


Nino mengambil ponsel Tifanny dan segera memencet dan menelfon nomor ponsel miliknya. Tak lama terdengar suara ponsel dari saku celana Nino.


"Ini!" Nino menyerahkan kembali ponsel milik Tifanny.

__ADS_1


"Itu ponselmu ada di sakumu?" Tifanny mengernyitkan dahinya.


"Iya, aku kan ingin tahu nomor ponselmu!" Nino tersenyum tanpa merasa bersalah.


"Kau membohongiku?"


"Tidak. Aku hanya ingin tahu kontakmu saja. Oh iya satu lagi, kemarilah!" Nino menarik tangan Tifanny.


"Apa lagi?"


"Ayo kita berfoto!" Nino mengeluarkan ponselnya.


"Aku tidak mau!" Tifanny menolak.


"Kalau kau menolak, aku tidak akan membiarkanmu pulang!"


"Baiklah, satu saja ya?" Tifanny menyerah. Ia ingin segera pulang ke rumahnya.


"Iya, ayo!" Nino langsung merangkul bahu Tifanny dan mengarahkan ponselnya ke wajahnya dan Tifanny. Tifanny tersenyum menatap kamera. Dengan cepat, Nino mencium pipi Tifanny dan memotretnya.


"Kau ini mengapa sangat agresif?" Tifanny mengusap pipinya dan bertanya dengan raut wajah yang kesal.


"Hanya sedikit berpose," Nino tersenyum menatap hasil bidikan kameranya.


"Jangan lakukan itu lagi!" Tifanny menggeram kesal. Kemudian ia segera berjalan menjauhi Nino.


"Fann?" Panggil Nino lagi.


"Apa lagi?" Teriak Tifanny.


"Itu jaketku masih ada di tubuhmu," Nino menunjuk jaketnya.


"Oh iya aku lupa," Tifanny segera membuka jaket Nino yang tengah membungkus tubuhnya, kemudian ia melemparkannya ke arah Nino. Tifanny pun segera pergi dari taman menuju rumahnya.


"Sama sama, sayang!" Teriak Nino yang melihat Tifanny menjauh.


"Setelah ini aku tidak akan berhubungan lagi denganmu. Aku tidak boleh terbawa perasaan. Aku takut hatiku terluka, sudah cukup ayahku menyakiti hati ibu, aku dan Meghan. Aku tidak ingin seseorang menghancurkan hatiku lagi," batin Tifanny saat ia menyusuri jalan menuju rumahnya.


"Aku tidak boleh terbawa perasaan. Aku harus ingat ini semua demi taruhanku dengan Kai dan Alden. Fann, maafkan aku! Aku tetap harus menjadikanmu kekasihku, setelah aku menang taruhan, aku akan menjauhimu sejauh mungkin," batin Nino saat ia mulai melajukan motornya menembus keheningan malam.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment, fav, atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2