Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Memutuskan


__ADS_3

"Apa ini?" Eliana berkata dengan geram.


"Tante, Fiona bisa jelaskan!" Fiona menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.


"Fi, jangan di tarik!" Alden berteriak. Fiona pun tidak jadi berdiri dan masih duduk di kasur.


"Mom, padahal aku sudah mau bertunangan dengan Fiona. Tapi kelakuan dia malah seperti ini, terlebih dia melakukannya dengan Alden, sahabatku sendiri," Nino pura-pura bersedih.


"Sayang, jangan bersedih!" Eliana mengelus pipi Nino. Kemudian ia menatap Fiona kembali dengan tatapan penuh amarah.


"Saya sudah putuskan, saya membatalkan perjodohan kalian," kata Eliana sembari menautkan alisnya.


Sementara itu, Nino yang berdiri di belakangnya langsung tersenyum senang.


"Tan, kita sudah sepakat. Tante tega mempermainkan kedua orang tuaku? Tan, kedua orang tuaku akan sangat kecewa dengan keputusan ini," Fiona berkata dengan terisak.


"Mempermainkan kedua orang tuamu? Kau yang telah mempermainkanku. Aku akan melaporkan semua kelakuanmu kepada kedua orang tuamu. Kau telah mempermainkan anakku. Kau sudah membohongiku," bentak Eliana dengan wajah yang garang.


"Alden, pakai bajumu!" Eliana mengalihkan tatapannya kepada Alden yang tampak sedang menyimak peristiwa yang ada di hadapannya.


"Nanti saja tante, ada tante di sini," Alden menggaruk rambutnya. Masa saja ia harus berpakaian di hadapan Eliana dan Nino. Nino yang sedang berdiri di belakang Eliana langsung menahan tawa melihat raut bingung dari wajah Alden.


"Untung saja putraku belum menikahi wanita liar sepertimu. Kau benar-benar buruk! Kau sudah menipuku dengan berpura-pura menjadi wanita baik-baik," Eliana menunjuk Fiona.


"Tante, kau tidak bisa membatalkan perjodohan itu hanya karena hal kecil seperti ini!" Fiona menggelengkan kepalanya.


"Hal kecil? Ini hal yang sangat memalukan. Ayo Nino! Kita pergi dari sini!" Eliana langsung menarik tangan Nino seakan lupa apa tujuan mereka datang ke apartemen Alden. Mereka segera berlalu dari kamar Alden.


"Jadi, kau sudah di jodohkan dengan sahabatku? Mengapa kau tidak mengatakannya?" Alden berdiri dan memakai handuk kimononya.


"Mengapa kau tidak jujur kepadaku jika sudah di jodohkan dengan orang lain terlebih itu sahabatku? Kau tidak tahu kan? Aku dan Nino sudah bersahabat dari kecil," lanjut Alden kembali.


"Baby, bukan seperti itu aku-"


"Sudahlah, Fi. Kita akhiri saja hubungan ini. Ternyata kau hanya mempermainkanku selama ini. Aku hanya tempat untukmu bersenang-senang dan pada akhirnya kau menikah dengan orang lain," Alden pura-pura kecewa.


"Baby, aku hanya mencintaimu. Aku hanya terpaksa menerima perjodohan itu," kata Fiona dengan wajah yang memelas.


"Mencintai? Bahkan kau terlihat sangat bersemangat ketika akan di jodohkan dengan sahabatku," Alden berlalu dari hadapan Fiona dan masuk ke kamar mandi meninggalkan Fiona seorang diri.

__ADS_1


"Apa sekarang aku kehilangan semuanya? Tidak, aku tidak mau kehilangan Nino dan Alden," tangan Fiona mengepal.


****


"Maafkan mommy! Untung saja kau belum menikahi gadis liar seperti itu," Eliana mengelus pipi putranya yang tengah menyetir.


"Tidak apa-apa, Mom," Nino tersenyum kepada Eliana.


"Jadi, kita membeli cincinnya atau tidak?" Nino berpura-pura bertanya.


"Cincin apa? Perjodohan kalian dibatalkan. Mommy tidak akan menikahkanmu dengan wanita seperti itu," Eliana berteriak di dalam mobil.


"Syukurlah, rencanaku dan Alden berhasil," batin Nino.


Setelah mengantarkan Eliana pulang ke rumah, Nino datang kembali ke apartemen milik Alden.


"Fiona sudah pulang?" Tanya Nino yang langsung masuk ke dalam apartemen sahabatnya.


"Sudah. Baru saja. Dia merengek dan memohon agar aku tidak mengakhiri hubungan ini," tutur Alden yang kini sudah berpakaian dengan lengkap.


"Den, terima kasih ya?" Ucap Nino dengan tulus.


"Kau bahkan rela melakukan hal sampai sejauh ini," Nino langsung mendekati Alden dan meninju tangannya pelan.


"Iya, aku sangat malu sekali. Tadi tante El melihatku tanpa pakaian," Alden mencebikan bibirnya.


"Kau kan memakai selimut. Jadi mommy tidak melihat," timpal Nino dengan tawanya.


"Jadi, bagaimana? Perjodohan kalian di batalkan?" Alden mendudukan dirinya di sofa.


"Tentu saja mommy membatalkannya. Itu semua berkat kau."


"Kalau begitu teraktir aku makan."


"Kau ini anak dari orang kaya, masih saja meminta teraktir," Nino menggerutu.


"Ya, aku suka gratisan," Alden tertawa.


"Baiklah, aku akan mentraktirmu."

__ADS_1


Malam harinya....


Nino ke luar dari kamarnya untuk mengambil minum ke dapur. Saat ia melewati kamar kedua orang tuanya, Nino mendengar suara kedua orang tuanya tengah membicarakan perihal nasib perjodohannya dengan Fiona.


"Jadi, kau membatalkan perjodohan putra kita dengan Fiona secara sepihak?" Tanya Arley kepada istrinya.


"Iya. Aku melihat wanita itu tidur dengan Alden. Aku tidak ingin putraku mendapatkan wanita seperti itu," kata Eliana dengan tegas.


"Sayang, kau terlalu gegabah. Harusnya kau pikirkan dulu matang-matang," jawab Arley.


"Maksudmu? Kau masih ingin melanjutkan perjodohan Nino dengan Fiona? Di mana otakmu?" Eliana meninggikan suaranya.


"Sayang, kita sudah bersahabat baik dengan tuan Zane. Aku hanya tidak enak saja. Kelakuan Fiona mungkin sudah lumayan lumrah di negara-negara barat. Putra kita pun pasti pernah melakukannya," jelas Arley lagi.


"Daddy kenapa? Dia sepertinya masih ingin melanjutkan perjodohan ini. Ini sangat gawat," Nino bergumam dari balik pintu kamar kedua orang tuanya. Raut wajahnya berubah menjadi khawatir.


"Kau tidak melihatnya. Aku yang memergoki mereka langsung di tempat kejadian. Aku tidak rela anakku menikah dengan wanita seperti itu, terlebih pria itu adalah Alden, sahabat dari anak kita," tukas Eliana kembali.


"Bagus, mom. Bantah terus suamimu," bisik Nino dari balik pintu.


"Lalu, apa alasan yang bisa kita pakai kepada kedua orang tua Fiona untuk membatalkan ini semua?"


"Beberkan saja kelakuan putrinya. Mudahkan?"


"Aku tidak yakin mereka mau percaya akan hal itu, kecuali kita memakai alasan jika Nino sudah memiliki tambatan hatinya sendiri. Kita tidak bisa memaksa jika Nino memang sudah memiliki pilihannya sendiri. Aku hanya takut putraku tidak menikah jika tidak dijodohkan. Kau pun tahu dia selalu menghabiskan waktunya untuk bermain-main dengan Alden," sahut Arley yang terdengar jelas oleh Nino.


"Lebih baik kau pikirkan lagi tentang pembatalan perjodohan Nino! Apalagi setelah pernikahan Odelia, aku takut Nino menutup hatinya untuk wanita mana pun. Aku takut putra kita melajang seumur hidupnya," ucap Arley kembali. Eliana pun tampak mencerna perkataan suaminya.


"7 hari lagi mari kita datang ke rumah Fiona untuk membicarakan nasib perjodohan mereka!" Ajak Arley.


Sementara Eliana hanya diam, ia tidak mau Nino menikahi wanita liar sepertu Fiona, tetapi Eliana pun membenarkan perkataan suaminya. Ia takut Nino tidak membuka hatinya terhadap wanita mana pun setelah di sakiti oleh Odelia.


Nino langsung menjauh dari kamar kedua orang tuanya. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya lagi.


"Ini gawat. Bisa-bisa daddy melanjutkan perjodohan ini. Tidak, ini tidak boleh terjadi," Nino mondar mandir di kamarnya.


"Aku tahu," Nino menemukan sebuah ide.


"Aku harus memaksa Tifanny untuk menikah denganku. Dengan begitu, aku mempunyai alasan untuk benar-benar menggagalkan perjodohan itu," Nino mengambil jaketnya dan segera berangkat untuk menemui Tifanny ke rumahnya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2