
Nino membawa Tifanny, Meghan dan David untuk piknik di Beacon Hill yang merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang ada di kota Birmingham. Dari puncak Beacon Hill, pengunjung bisa melihat keindahan kota Birmingham yang merupakan kota terbesar kedua di Inggris Raya setelah kota London.
Nino menggelar tikar dan mengeluarkan makanan yang ada di dalam keranjang. Ia melihat sekitar, banyak sekali orang-orang yang datang untuk menikmati musim semi. Nino menoleh ke arah istrinya yang kini tengah merasakan hangatnya sinar matahari.
"Kau senang?" Tanya Nino.
"Iya. Ini sangat hangat. Aku suka," jawab Tifanny.
"Kalau begitu, makanlah!" Nino mengeluarkan beberapa makanan yang ia bawa dari rumah dan menyuapi Tifanny.
David dan Meghan hanya tersenyum melihat Nino sangat perhatian kepada Tifanny.
"Makanlah Pa, Meghan!" Tawar Nino.
"Iya kak," Meghan mengambil satu buah sandwich dan memakannya.
"Sayang? Setelah kau melahirkan, aku akan membawamu berlibur ke Skotlandia dan melihat lumba-lumba," ucap Nino sembari merapikan rambut Tifanny yang tersibak angin.
"Tidak usah. Setelah melahirkan, aku akan sibuk mengurus anak kita."
"Tidak apa-apa, Nak. Nanti biar papa dan Meghan yang menjaga anakmu," jawab David yang tengah memakan sandwichnya.
"Tidak, Pa. Fanny tidak ingin merepotkan," Tifanny menolak.
"Kalau begitu setelah anak kita agak besar, kita bisa membawanya berlibur," Nino memberikan ide.
"Nah begitu saja, kak," Meghan menyetujui.
"Sayang, aku ingin berfoto di miniatur castle," pinta Tifanny kepada Nino.
"Baiklah. Aku akan memfotomu," Nino berdiri dan menyambut tangan istrinya dengan hangat.
Mereka berjalan menuju miniatur castle yang berada di area Beacon Hill. Tifanny tampak bersemangat dan ia pun sedikit berlari karena tak sabar ingin berfoto di miniatur castle itu.
"Sayang, jangan berlari!" Nino mengejar langkah Tifanny.
Tifanny terus berlari hingga ia tidak melihat ada batu yang cukup besar di depannya. Tifanny terjatuh di atas bukit yang lumayan tinggi dan sedikit terguling ke bawah.
"Sayang??" Nino berteriak. Ia berlari dan dengan cepat menghampiri Tifanny.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Nino dengan panik.
"Perutku sakit," Tifanny memejamkan matanya.
"Ya tuhan! Ayo kita pulang!" Nino langsung memangku tubuh Tifanny dan berjalan cepat menghampiri Meghan dan juga David yang sedang terduduk di atas tikar.
"Fanny kenapa?" David berdiri dari duduknya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Kakak kenapa?" Meghan ikut panik.
"Tifanny terjatuh," jawab Nino sambil keluar dari area Beacon Hill dan terus berjalan ke area parkir. David dan Meghan pun mengikuti langkah Nino menuju mobil.
"Biar papa periksa," David memeriksa Tifanny saat di dalam mobil.
"Sakit, Pa!"
"Bagaimana, Pa?" Nino menyetir dengan gusar.
"Semoga janinnya tidak apa-apa," David berkata dengan cemas. Ia sendiri tidak bisa memastikan keadaan putrinya karena memerlukan alat seperti alat USG untuk memastikan keadaan anak Tifanny.
Nino pun segera mengarahkan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Nino langsung mengeluarkan Tifanny dari dalam mobilnya. Para staff medis pun siap siaga dengan membawa brankar. Nino membaringkan tubuh istrinya di atas brankar itu. Para staff medis pun mendorong brankar itu menuju Instalasi Gawat Darurat.
"Nino, sakit!" Tifanny memejamkan matanya. Ia merasa perutnya seperti di remas.
"Tolong lebih cepat!" Nino berteriak. Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Dua orang perawat yang berjaga pun langsung membawa Tifanny ke dalam ruangan Instalasi Gawat Darurat.
"Mohon untuk menunggu di luar, tuan!" Ucap salah seorang perawat saat Nino akan masuk ke dalam ruangan IGD.
"Bagaimana ini, Pa? Nino sudah lalai menjaga Tifanny," Nino mengutuki kebodohannya karena membiarkan Tifanny berjalan sendirian.
"Tenanglah! Papa yakin Fanny baik-baik saja. Berpikirlah yang positif!" David menenangkan.
"Tenanglah, kak!" Meghan merasa iba melihat kepanikan Nino.
__ADS_1
Setengah jam mereka menunggu, akhirnya seorang dokter keluar dan memberitahukan keadaan Tifanny.
"Bagaimana Dok keadaan istri dan anak saya?" Nino langsung bertanya dengan gundah.
"Nyonya Tifanny dan calon anaknya baik-baik saja. Benturannya tidak sampai membahayakan janin yang dikandung," jelas dokter itu.
Nino pun bisa bernafas dengan lega. Beban yang menghimpit dadanya seakan sirna seketika.
"Syukurlah," David ikut lega mendengar penjelasan dokter.
"Saya boleh masuk?" Nino bertanya dengan cepat.
"Iya boleh, tuan."
Nino pun masuk ke dalam ruangan IGD disusul dengan David dan juga Meghan. Mereka melihat Tifanny tengah berbaring.
"Anakku bagaimana?" Tifanny menyentuh perutnya yang masih rata.
"Dia baik-baik saja. Tenanglah! Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik! Harusnya aku tidak mengajakmu berlibur," Nino menatap Tifanny dengan perasaan bersalah.
"Bukan salahmu. Aku yang salah dan hampir membahayakan anak kita. Maafkan aku!" Tifanny merasa iba melihat wajah berantakan Nino.
"Tidak. Aku yang salah. Lain kali aku akan menjagamu lebih ekstra lagi. Kau tidak boleh keluar rumah jika tidak ada urusan yang penting," tegas Nino.
"Sayang, jangan berlebihan! Aku tidak ingin dikurung di rumah."
"Baiklah, aku akan membelikanmu kursi roda. Jika kau ingin ke luar rumah kau harus mau naik kursi roda. Ya?" Nino mengajukan syarat.
"Sayang, sekalian saja kau beli Brankar Rumah Sakit ini untuk membawaku keluar rumah!" Jawab Tifanny dengan kesal.
David dan Meghan yang mendengar pun hanya tertawa mendengar ucapan Tifanny.
*****
Bianca membuka pintu, ia menatap keadaan sekitar yang sudah menghangat. Musim dingin telah berganti dengan musim semi, di mana kita bisa melihat bunga-bunga bermekaran dan hewan pun terbangun dari hibernasinya.
Mata Bianca terbelalak saat ia melihat seorang pria tengah tertidur di kursi yang ada di halaman rumahnya.
"Alden? Sejak kapan dia di sini?" Bianca menatap Alden yang masih memejamkan matanya.
"Akhirnya aku dapat melihatmu lagi. Aku merindukanmu," batin Bianca saat menatap wajah damai Alden yang tengah terlelap dari tidurnya.
Alden pun membuka kedua kelopak matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memfokuskan penglihatannya yang masih buram karena baru bangun dari tidurnya.
"Ca?" Seru Alden sembari tersenyum riang.
Alden berdiri dari duduknya, ia langsung menarik Bianca ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu," Alden mendekap erat Bianca seolah-olah ia tidak ingin melepaskannya.
"Kau ini kenapa?" Bianca melepaskan tubuhnya dari pelukan Alden.
"Aku datang untuk menemuimu. Aku merindukanmu," ungkap Alden dengan lirih.
"Ke mana saja kau selama seminggu ini?" Bianca berkata dengan ketus.
"Aku ada di rumah, Ca."
"Bohong! Kau pasti sedang bersenang-senang dengan teman wanitamu itu. Iya kan?" Bianca meninggikan suaranya.
"Tidak. Aku benar-benar ada di rumah. Tapi tunggu! Kau cemburu?" Alden menggoda Bianca.
"Cemburu? Untuk apa?" Bianca berkata dengan gugup.
"Mengaku saja! Kau pasti cemburu," Alden tersenyum puas.
"Tidak. Aku tidak cemburu. Sudahlah pergi sana!" Bianca dengan cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu serta menguncinya.
"Dia menggemaskan sekali!" Alden tersenyum senang.
Alden hendak mengetuk pintu, tetapi suara dering ponsel miliknya mengalihkan perhatiannya.
"Wanita itu lagi!" Alden tersenyum sinis saat melihat Cassie menelfonnya.
Alden mereject panggilan dari Cassie. Tetapi, sebuah pesan teks masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
Alden pun membuka pesan itu. Ia membaca pesan dari Cassie.
"Temui aku sekarang! Kakakmu sedang bersamaku dan dia memohon untuk kembali padaku. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan," bunyi pesan teks Cassie.
"Kakak, kau kenapa mendatangi wanita ular itu lagi?" Alden berkata dengan kesal.
"Aku harus mencegah kak Aiden kembali kepada wanita licik itu lagi. Aku tidak ingin mempunyai kakak ipar seperti dia," Alden pun meninggalkan rumah Bianca dan akan pergi menemui Cassie.
"Ke mana dia?" Bianca keluar dari rumahnya. Ia pun memutuskan untuk mengikuti Alden. Ia begitu penasaran Alden akan pergi ke mana. Bianca menyetop taksi dan mengikuti mobil Alden.
"Jadi, mana kakakku?" Alden bertanya dengan dingin.
"Tidak ada kakakmu di sini. Justru aku ingin memintamu untuk membantuku agar aku bisa kembali kepada Aiden," Cassie meminta dengan wajah tanpa dosanya.
"Dasar wanita l*knat!" Alden menggeram penuh emosi karena berhasil dibohongi.
Ia segera pergi meninggalkan Cassie.
"Alden tunggu!" Cassie berteriak tetapi tidak diindahkan oleh Alden.
"Jadi mereka masih bertemu?" Bianca tersenyum getir.
Keesokan harinya, Alden datang lagi ke rumah Bianca dengan membawa makanan yang ia masak sendiri. Alden memasak dibantu oleh Steve, ayahnya.
"Ca, aku bawakan makanan ini untukmu!" Alden menenteng kotak makanan sembari tersenyum gembira.
Bianca memandang Alden dengan dingin.
"Untuk apa kau ke sini lagi?" Bianca bertanya dengan nada tinggi.
"Karena aku ingin bertemu denganmu," Alden menjawab masih dengan senyumnya.
"Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Pergilah dan jangan tampakan wajahmu di depanku lagi!" Bianca berteriak.
"Ca, kau kenapa?" Alden merasa bingung.
"Aku bilang tidak usah menemuiku lagi!!!"
"Kenapa?" Senyum Alden menyurut.
"Karena aku tidak menginginkan keberadaanmu sama sekali. Setiap kali melihatmu aku selalu terganggu. Ku mohon berhentilah mendatangiku!!" Bianca seolah naik pitam mengingat kemarin ia melihat Alden bertemu dengan Cassie.
"Kau serius?"
"Iya. Jangan temui aku lagi! Aku muak melihat wajahmu itu! Kau tidak pantas untukku. Aku benci pria yang menyakiti saudaranya sendiri."
"Ca, waktu itu aku khilaf dan mementingkan obsesiku. Sekarang aku di sini, untukmu. Kau sedang lapar. Ayo kita makan!" Alden menaruh kotak makanan yang ia bawa di atas meja.
"Aku tidak membutuhkan ini!" Bianca menepis kotak makanan itu hingga semua isinya berhambur ke lantai.
"Kau ini kenapa? Aku sudah memasak dari dini hari," Alden ikut tersulut emosi.
"Kau hanya menggunakan kedok saat mendekatiku. Diam diam kau pun selalu menemui wanita lain!!" Bianca membentak.
"Aku tidak pernah bertemu dengan wanita lain. Hanya kemarin bertemu dengan Cassie karena dia membohongiku. Dia berkata jika kakak sedang memohon untuk kembali padanya, maka dari itu aku datang untuk mencegah kakak kembali pada wanita licik itu. Sesampainya di sana, dia malah memintaku untuk membantu kembali kepada kak Aiden!!" Alden ikut berteriak.
Bianca pun tertegun mendengar penjelasan Alden.
"Jika kau tidak suka, tidak perlu bersikap seperti ini!" Alden berjongkok dan memunguti makanan yang berhambur di lantai. Ia memasukan makanan itu ke dalam kotaknya kembali.
"Alden, aku minta maaf!" Bianca meraih tangan Alden tetapi pria itu menepisnya.
"Sesuai perintahmu. Aku tidak akan pernah menemuimu lagi!" Alden menatap Bianca dengan tajam dan pergi dari sana.
Bianca pun mengejar langkah Alden yang akan masuk mobil.
"Minggirlah!" Alden masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Bianca.
"Alden, tunggu!!!" Bianca berteriak. Air matanya jatuh ketika mendengar Alden tidak akan menemuinya lagi.
Setelah cukup jauh meninggalkan rumah Bianca, Alden menepikan mobilnya. Ia menatap kotak makanan yang tadi ia pungut.
"Bagaimana actingku tadi ya? Apa natural?" Alden bercermin di kaca spion tengah mobilnya.
"Saat tadi aku memungut kotak bekal ini, itu sangat dramatis! Lihat saja, Ca! Kau akan disiksa penyesalan dan akhirnya akan mencariku. Yang aku lakukan sekarang adalah tidak menemuimu dulu," Alden cekikikan di dalam mobilnya.
__ADS_1
Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Pernikahan Karena Dendam 🤗
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...