Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengantarkan Sunblock


__ADS_3

Hari ini adalah akhir pekan, Tifanny sedang berada di kamarnya mencari referensi untuk judul skripsinya. Sedangkan Clara, hari ini dia pergi berpesta bersama teman-temannya di pantai yang ada di daerah Revere. Saat Tifanny asyik membaca berbagai jurnal untuk sumber referensinya mencari judul skripsi, seseorang tampak mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk!" Seru Tifanny sembari matanya masih fokus kepada monitor laptop.


"Fan?" David memanggil Tifanny.


Tifanny menatap David, kemudian ia membuang wajahnya.


"Sayang, maafkan papa! Kemarin papa hanya sedang emosi," David terduduk di kasur Tifanny.


"Fan, papa sedang berbicara padamu!" Ujar David saat Tifanny tak kunjung merespon ucapannya.


"Sudahlah, Pa. Mengapa harus meminta maaf? Toh, setelah ini papa akan kembali memukulku lagi. Aku bosan mendengar papa meminta maaf tetapi ujungnya melakukan hal yang sama lagi," jawab Tifanny tanpa menoleh kepada David.


David hanya terdiam mendengar ucapan putrinya.


"Nak, papa hanya tidak ingin kau bertindak terlalu jauh. Apalagi kau menggoda kekasih Clara. Dia saudarimu. Dan tolong, bersikaplah yang sopan kepada mama Belinda! Dia mamamu sekarang. Jangan kurang ajar padanya!"


"Ya, ya, ya. Clara memang segalanya untuk papa. Aku dan Meghan bukan siapa-siapa di sini. Mamaku hanya satu, dia bernama Grace, tidak ada yang lain. Sudahlah, aku sedang sibuk. Papa ke luar saja! Pastikan putri papa yang bernama Clara itu tidak kehilangan kekasihnya," Tifanny berpura pura mengetik di halaman word, padahal ia pun tidak tahu apa yang sedang ia ketik.


"Papa menyesal datang ke sini!" David beranjak dari duduknya dan segera ke luar dari kamar Tifanny.


Tangan Tifanny segera berhenti mengetik, kemudian ia berjalan dan menutup pintu kamarnya. Tubuhnya merosot di balik pintu itu. Air mata mulai menitik dari matanya.


"Kebahagiaan papa hanya mama Belinda dan Clara sekarang. Aku dan Meghan bahkan seperti tidak di anggap di rumah ini. Aku rindu mama," Tifanny menoleh ke arah bingkai foto yang menampilkan foto ibunya.


Tifanny berdiri dan mengambil foto itu.


"Andai mama masih ada, aku dan Meghan tidak akan berada di rumah terkutuk ini," Tifanny menangis sesenggukan saat menatap foto ibunya.


Dulu saat berada di Inggris, keluarga Tifanny adalah keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang dokter spesialis jantung dan ibunya adalah seorang dokter speasialis bedah plastik. Kehidupan mereka sangat harmonis sebelum Belinda masuk ke dalam kehidupan keluarganya dan menghancurkan segalanya.


Setelah Grace (ibu Tifanny meninggal), David segera menikahi Belinda, ia pun menjual semua asetnya yang berada di Inggris dan membawanya ke Amerika. Bahkan David pun menjual rumah ibu Tifanny yang merupakan peninggalan dari kakek Tifanny. David membawa Tifanny dan Meghan pindah ke Amerika Serikat. David pun melanjutkan kariernya sebagai dokter di negeri paman Sam itu.


Tak lama pintu terdengar diketuk kembali, Tifanny segera menghapus air matanya. Ia sungguh tidak ingin memperlihatkan sisi rapuhnya kepada orang yang ada di rumahnya. Tifanny membuka pintu dan ia melihat Belinda berdiri di sana.


"Ada apa?" Tanya Tifanny dengan dingin.


"Hari ini Clara sedang berpesta bersama teman-temannya untuk merayakan berakhirnya musim panas. Sunblock anakku ketinggalan. Tolong kau antarkan ini!" Belinda menyodorkan sunblock milik Clara kepada Tifanny.


"Aku tidak bisa. Aku sedang sibuk mencari judul untuk skripsi," Tifanny menolak.


"Baiklah, aku akan menyuruh Meghan untuk mengantarkannya," Belinda segera membelakangi Tifanny dan bergegas untuk pergi ke kamar Meghan.


"Tunggu! Biar aku saja yang mengantarkannya," Tifanny menyusul langkah Belinda.


"Baguslah. Kenapa tidak dari tadi?" Belinda segera memberikan sunblock itu ke tangan Tifanny.


Tifanny pun menghembuskan nafasnya kasar. Jika ia menolak suatu hal, pasti Meghan yang selalu dijadikan ancamannya. Tifanny segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket dan tas miliknya. Kemudian ia ke luar dari rumahnya dan naik taksi untuk sampai ke pantai yang ada di kawasan Revere.


Setelah beberapa puluh menit, Tifanny sampai di pantai itu. Ia melihat begitu banyak orang yang sedang berpesta di sana untuk merayakan berakhirnya musim panas.

__ADS_1


Tifanny melihat begitu banyak muda mudi yang sedang asyik menikmati pesta. Ada yang sedang meminum alkohol, bercium*n, berjoged joged di pinggir pantai dan hal hal tabu lainnya.


Tifanny bergidik ngeri melihat pemandangan itu, walaupun ia sudah cukup lama tinggal di negara yang menganut paham sekuler dan liberal seperti Amerika Serikat, tetapi tetap saja itu hal yang tabu, mengingat dirinya belum pernah menjalin kasih dengan pria manapun.


Tifanny memfokuskan matanya untuk mencari keberadaan Clara. Saat Tifanny berjalan semakin jauh masuk ke kawasan pantai, akhirnya dia menemukan keberadaan saudara tirinya itu. Tifanny melihat Clara sedang bersama Arabella dengan memakai bikini, tak lupa ada Alden dan juga Nino di sana.


Tifanny berjalan mendekat kepada Clara dan yang lain.


"Cla, ini sunblockmu!" Tifanny langsung to the point memberikan sunblock itu. Ia sungguh ingin segera pulang meninggalkan pantai ini. Nino tampak terkejut melihat Tifanny ada di pantai ini. Ia memperhatikan Tifanny dari ujung kaki sampai dengan kepala. Tifanny terlihat memakai jaket yang lumayan besar juga dengan celana olahraga panjang.


"Oh, iya. Terima kasih," Clara mengambil sunblock itu dari tangan Tifanny.


Tifanny segera membalikan badannya untuk segera pulang. Saat ia sedang berjalan, langkahnya terhenti saat seseorang menghadang jalannya.


"Kau mau ke mana? Lebih baik kau ikut berpesta bersama kami," ucap orang itu yang tak lain adalah Nino.


"Aku tidak tertarik," Tifanny mendorong tubuh Nino agar dia bisa segera berjalan kembali.


"Gadis yang menarik!" Nino tersenyum penuh arti.


Saat Tifanny sedang berjalan melewati para pemuda yang sedang menenggak minuman alkohol, tiba-tiba ada seseorang yang mencekal lengannya.


"Hey, sayang! Ayo ikut berpesta dengan kami!" Ucap pria itu.


"Tidak, terima kasih," Tifanny menghempaskan tangan pria yang masih mencekal lengannya.


"Tidak usah sok jual mahal, ayo temani kami minum!" Pria itu masih mencoba untuk merayu Tifanny.


Para pria lain yang ada di sana langsung mendatangi temannya yang sedang berusaha untuk merayu Tifanny.


"Ayolah, tidak usah berpura pura. Ayo bersenang senang sebentar bersama kami!" Kata salah seorang pria lainnya. Dia mencolek pipi Tifanny dan yang lain berusaha untuk menyentuh tangan Tifanny.


"Hentikan!" Tifanny berteriak.


Para pemuda yang lain semakin banyak berkerumun, ada yang merekam Tifanny karena mereka berfikir raut wajah ketakutan Tifanny sangat lucu untuk dijadikan lelucon.


Tifanny benar benar ketakutan saat dua orang pria mencekal lengannya.


"Lepaskan gadis itu!" Perintah seseorang dengan wajah yang tegas. Tifanny melirik orang itu, dia adalah Nino.


"Eh No. Aku hanya ingin mengajaknya bersenang senang," jawab salah seorang pria yang mengganggu Tifanny. Rupanya dia mengenal Nino.


"Lepaskan dia, dia kekasihku!" Perintah Nino kembali.


"Oh, kau kekasih Nino? Mengapa kau tidak bilang? Lepaskan dia!" Perintah pria itu kepada teman temannya. Mereka pun segera melepaskan tangan Tifanny.


Tifanny segera berlari untuk ke luar dari pantai ini. Nino pun ikut berlari dan menyusul langkah Tifanny.


"Biar ku antar kau pulang!" Nino menyentuh tangan Tifanny.


"Aku bisa pulang sendiri," jawab Tifanny dengan wajah yang pias. Ia sungguh masih sangat ketakutan atas peristiwa tadi.

__ADS_1


"Di sini jarang taksi. Kau ingin orang-orang tadi mengganggumu lagi?" Timpal Nino.


"Ayo, aku tidak akan macam macam padamu!" Nino menggusur tangan Tifanny menuju parkiran yang ada di dekat pantai.


Dengan berat hati, Tifanny pun segera masuk ke dalam mobil Nino. Nino mulai melajukan mobilnya untuk sampai di perumahan tempat tinggal Tifanny.


Tifanny mengambil tisu yang ada di atas dashboard mobil Nino. Ia segera mengelap tangannya dan wajah bekas colekan pria-pria tadi.


"Mereka tidak melakukan apapun padamu," Nino melirik ke arah gadis yang tengah mengelap tangan dan pipinya.


"Tadi menjijikan!" Tifanny masih mengelap pipinya dengan tisu.


"Benar-benar gadis lugu dan polos!" Nino tersenyum dalam hatinya.


"Bisakah kau memakai bajumu?" Tanya Tifanny tanpa melirik ke arah Nino.


"Mengapa? Kau takut tergoda denganku?" Nino tersenyum.


"Tergoda? Padamu? Yang benar saja?" Tifanny tersenyum kecut.


Nino pun menghentikan mobilnya sebentar, kemudian ia segera memakai baju miliknya.


"Kau tidak berterima kasih kepadaku?" Nino menoleh ke arah Tifanny.


"Berterima kasih untuk apa? Aku tidak meminta kau untuk menolongku."


"Gadis ini benar-benar unik!" Batin Nino dalam hatinya.


Tak lama terdengar suara ponsel Nino berdering dengan nyaring.


"Iya Cla? Aku pergi sebentar, ada urusan," jawab Nino. Kemudian ia segera mematikan telfonnya yang diketahui dari Clara, kekasihnya.


Tak lama, mobil Nino pun sampai di depan rumah Tifanny. Tifanny akan membuka pintu mobilnya, tetapi Nino menguncinya.


"Tolong buka unlocknya!" Pinta Tifanny kepada Nino.


"Aku tidak akan membukanya sebelum kau mau berkencan denganku," Nino menolak.


"Aku bilang buka pintunya!" Tifanny menaikan suaranya.


"Baiklah. Beri aku hadiah terlebih dulu!" Nino memajukan tubuhnya ke arah Tifanny yang duduk di sebelahnya. Ia bermaksud akan mencium Tifanny.


"Jangan sampai aku semprotkan cairan lada ini ke matamu!" Tifanny mengambil semprotan lada yang ada di dalam tasnya dan mengarahkannya ke wajah Nino.


"Wow, oke oke. Kau boleh ke luar!" Nino mengangkat tangannya kemudian ia segera membuka kuncian mobilnya.


Tifanny langsung membuka pintu dan segera ke luar dari dalam mobil milik Nino.


"Sama sama, sayang!" Nino berteriak saat Tifanny sudah ke luar dari dalam mobilnya.


"Gadis ini benar-benar susah untuk di dekati. Aku harus mulai menjalankan rencana darurat," Nino mengacak rambutnya dengan frustasi.

__ADS_1


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗


__ADS_2