
Pukul 4 pagi, keluarga Tifanny di jemput oleh supir pribadi keluarga Nino untuk dibawa ke tempat resepsi pernikahan. Nino dan Tifanny akan melangsungkan pernikahan di ballroom salah satu hotel termewah di kota Birmingham. Di sana ia akan di make up terlebih dahulu. Sedangkan yang akan menggandeng Tifanny ke venue pernikahan adalah Bobby. Bobby baru saja tiba di kota Birmingham pukul 1 dini hari tadi. David tidak bisa menggandeng Tifanny ke venue pernikahan karena kondisinya belum memungkinkan.
"Pa, papa nanti istirahat saja ya?" Tifanny menyenderkan kepalanya di dada ayahnya.
"Papa menyesal, hari penting seperti ini papa tidak bisa mendampingimu," David mengusap rambut putri sulungnya.
"Tidak apa-apa. Papa kan masih bisa menonton. Papa duduk saja nanti di kursi roda ya?" Tifanny mendongkak memandang wajah ayahnya. David pun mengangguk.
Setelah menghabiskan 20 menit di perjalanan, Tifanny dan keluarganya sampai di ballroom hotel tempat di selenggarakannya resepsi pernikahannya hari ini. Tampak hotel sudah di dekor dengan tema rustic yang membuat siapa pun betah di dalam ballroom itu.
Tifanny segera di sambut oleh beberapa orang yang merupakan staff dari wedding organizer. Tifanny dan keluarganya langsung dibawa ke kamar hotel yang sudah di sewa sebagai ruang make up
Wajah Tifanny, Meghan, Bianca segera di hias oleh MUA profesional yang sudah di sewa oleh keluarga Nino. Bobby dan David pun dibantu memakaikan jas oleh beberapa WO di sana.
Tifanny memandangi dirinya yang tengah di rias oleh seorang MUA. Ia masih tidak menyangka jika hari ini akan menikah dengan Nino, teman kampus sekaligus mantan pacarnya selama beberapa jam. Terlebih, ia menikah dengan Nino hanya semata-mata karena uang.
"Aku benar-benar buruk!" Tifanny tersenyum pedih memandangi wajahnya yang sudah terhias oleh make up yang cukup minimalis.
Setelah selesai di rias, MUA itu segera memasangkan gaun pernikahan yang sudah di siapkan, tentunya gaun itu adalah hasil rancangan dari Chelsea. Setelah memasangkan gaun, MUA segera mencepol rambut Tifanny dan memasangkan veil di kepalanya.
"Kakak, kau sangat cantik!" Meghan dan Bianca mendatangi Tifanny. Mereka pun sudah di hias dengan memakai baju bridesmaid.
"Meghan benar, Fan. Kau sangat cantik!" Bianca ikut memuji.
"Kalian berlebihan!" Jawab Tifanny dengan gugup. Bagaimana tidak gugup, hari ini ia akan menjadi istri dari seorang pria bernama Nino Walsh.
"Ayo, Nona! Kita pindah ke kamar sebelah sambil menunggu kedatangan calon suami anda dan keluarganya," ucap seorang staff WO.
Tifanny dan keluarganya pun di tuntun menuju kamar yang lain untuk menunggu kedatangan Nino dan keluarganya.
David menatap putrinya. Ia merapikan anting, kalung dan sarung tangan yang dipakai Tifanny. Air mata bahagia mengalir dari mata David saat ia merapikan sarung tangan di tangan putrinya.
__ADS_1
"Papa berharap kamu bahagia!" David semakin tersedu.
"Fanny akan bahagia!" Tifanny pun berkaca-kaca mendengar penuturan ayahnya. Ia ingin sekali menangis, tetapi MUA yang menghiasnya tadi mewanti wanti agar Tifanny tidak menangis dulu.
Sementara itu, Nino dan keluarganya sudah dalam perjalanan menuju ballroom hotel.
"Kau deg-degan?" Tanya Eliana yang melihat putranya terus menggosokan kedua tangannya.
"Hanya sedikit grogi," jawab Nino dengan raut wajah yang gugup.
"Tenang saja! Hari ini akan berjalan lancar!" Ucap Arley yang terduduk di depan.
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit, mobil Nino pun sampai di depan hotel, tempat di selenggarakannya acara. Para staff WO langsung mengarahkan dan memandu Nino dan keluarganya untuk sampai di venue pernikahan akan berlangsung.
Tampak seorang MC tengah memberikan sambutan-sambutan kepada pihak mempelai pria yang baru tiba. Dalam prosesi ini, hanya kerabat terdekat saja yang di undang oleh keluarga kedua belah pihak. Semua diminta untuk berdiri saat pengantin wanita akan memasuki venue pernikahan. Tampak Tifanny berjalan dengan digandeng oleh Bobby, pamannya. Sedangkan David, tampak terduduk di kursi roda dengan Meghan bersamanya.
Semua tampak tersenyum melihat mempelai wanita yang sangat cantik dan anggun hari ini. Nino pun ikut tersenyum melihat wanita yang akan menjadi istrinya hari ini. Bobby menyerahkan Tifanny kepada Nino.
Setelah sah menjadi suami istri, kedua pengantin dan keluarganya di minta untuk beristirahat terlebih dahulu untuk melaksanakan acara resepsi yang akan digelar nanti malam.
"Beristirahatlah denganku!" Nino menarik tangan Tifanny yang akan masuk ke kamar hotel yang ada di sebelah kamar Nino.
"Aku ingin dengan papa, Meghan dan Bianca dulu. Tidak apa-apa kan?"
"Baiklah, kalau begitu," Nino menjawab dengan sedikit kecewa.
"Nanti sesudah resepsi, kau bisa berduaan dengan istrimu," Arley menepuk bahu Nino pelan.
Pukul 7 malam...
Resepsi akan segera di mulai. Pengantin pun di pandu untuk masuk ke dalam tempat resepsi. Kali ini, semua tamu tampak hadir, termasuk sahabat-sahabat Nino yang bernama Kaivan dan Alden. Tak lupa, Nino pun mengundang semua teman SMA nya.
__ADS_1
Semua tamu dan keluarga kedua mempelai di persilahkan untuk memakan hidangan yang sudah disajikan.
Bianca berlari ke stand makanan untuk mengambil makanan yang tersedia. Ia mengambil semua makanan yang tersaji di stand dengan rakus.
"Kapan lagi aku makan enak?" Bianca dengan lahap memakan makanan yang ada di tangannya.
"Sebaiknya aku makan di sana saja bersama Meghan," dengan cepat Bianca memasukan banyak makanan ringan ke dalam tasnya. Tangannya pun sudah penuh dengan makanan.
Saat Bianca akan pergi ke arah kursi Meghan, seorang pria menabrak bahunya dengan keras, sehingga ia terjatuh dan semua makanan yang ada di tas dan di tangannya terhambur ke lantai.
"Kau?" Bianca berteriak saat melihat Alden yang menabraknya. Alden berdiri dengan tegak di posisinya. Mungkin karena benturan itu tidak mampu membuatnya terjatuh.
"Kau sedang mengambil makanan sisa di sini?" Alden menghina Bianca.
"Enak saja kau bicara! Aku adalah-"
"Ya, ya, ya. Kau menyusup kan masuk ke dalam hotel ini? Aku yakin, kau tidak punya kartu undangan!" Alden tersenyum sinis kepada Bianca yang masih terduduk di lantai.
"Enak saja kau bicara! Aku tamu legal di sini!" Bianca berdiri dan menatap Alden dengan kesal.
"Oh aku tahu, kau di sini hanya untuk numpang makan kan?" Alden lagi-lagi menghina Bianca dengan senyumnya.
"Tutup mulut tak bergunamu itu! Aku di sini karena aku keluarga dari pengantin," Bianca menatap Alden dengan tajam.
"Haha, kau pikir aku percaya! Mana mungkin pengantin mengenal orang sepertimu."
"Ya terserah kau saja mau percaya atau tidak, itu tidak penting untukku. Aku harap, aku tidak akan bertemu dengan spesies yang menyebalkan sepertimu lagi, aku sangat muak melihat wajahmu itu!" Bianca segera berlalu dari hadapan Alden. Ia sudah tidak mood untuk mengambil makanan lagi.
"Hey, memang siapa yang ingin bertemu denganmu lagi? Aku juga berharap tidak akan bertemu denganmu lagi. Dasar wanita udik!" Alden berteriak.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1