Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
New Zealand


__ADS_3

"Ya ampun, aku kesiangan!" Tifanny menepuk keningnya saat ia melihat jam dinding menunjukan pukul tujuh pagi.


"Aku harus memasak untuk Nino dan yang lain," Tifanny bangun dari tidurnya. Ia melihat Meghan sudah tidak ada di sampingnya.


Saat Tifanny ke luar dari kamar Meghan, ia terkejut ketika melihat koper miliknya sudah berada di luar kamar Nino.


"Apa ini? Apa Nino mengusirku karena semalam aku tidur dengan Meghan?" Tifanny segera berjongkok dan memeriksa isi kopernya.


Tifanny melihat baju dan peralatan miliknya di dalam koper itu.


"Ini benar, Nino mengusirku. Di mana aku, papa dan Meghan akan tinggal?" Air mata sudah tergenang di pelupuk matanya.


"Nino? Buka pintunya?" Tifanny mengetuk pintu kamar.


"Ada apa?" Nino membuka pintu kamar.


Tifanny memperhatikan penampilan Nino yang sangat berbeda. Hari ini ia tampak menggunakan setelan yang sangat rapi. Nino seperti bersiap akan pergi ke suatu tempat.


"Kau mau ke mana?" Tifanny masih memperhatikan penampilan Nino.


Tak lama, Nino pun menggusur koper miliknya yang berwarna hitam.


"Kita akan pergi bulan madu hari ini. Bersiaplah!" Nino menggusur koper miliknya ke luar dari kamar.


"Bu-bulan madu?" Tifanny tampak terkejut mendengar kata bulan madu.


"Iya, kita akan berbulan madu hari ini. Aku sudah bereskan semua barangmu agar kita bisa segera pergi. Cepatlah mandi! Atau ingin aku mandikan?" Nino tersenyum penuh maksud.


"Sebentar. Aku harus memberi tahu papa dan Meghan," Tifanny membalikan badannya dengan maksud pergi ke kamar Meghan dan ayahnya.


"Tidak perlu. Aku sudah memberi tahu mereka tadi," perkataan Nino seketika menghentikan langkah Tifanny.


"Kenapa mendadak? Ke mana kita akan pergi?" Tifanny tampak mengintrogasi Nino.

__ADS_1


"Kan ini kejutan. Kita akan pergi ke New Zealand/Selandia Baru," jawab Nino dengan tenang.


"New Zealand? Mengapa jauh sekali? Dan bagaimana dengan visanya? Mengapa tidak di benua Eropa saja? Dan dari mana uangnya?" Tifanny membrondong Nino dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Kau ini cerewet sekali!" Nino mendekati Tifanny dan mencium pipinya. Tifanny mengusap pipinya yang sudah dicium oleh Nino, ia belum terbiasa melakukan kontak fisik dengan Nino. Rasanya masih sangat aneh.


"Kita akan pergi ke New Zealand karena negara tersebut membebaskan visa untuk warga negara Inggris atau seseorang yang memegang paspor Inggris dan untuk masalah uang, aku masih memakai kartu dari Daddy, nanti aku akan memberikannya jika sudah mulai bekerja," Nino menjelaskan.


"Benar ya? Jangan membebankan mereka lagi! Oh iya, aku hampir lupa. New Zealand kan negara persemakmuran Britania Raya, jadi kita bisa bebas visa. Baiklah, ayo! Kita pergi," Tifanny menarik tangan Nino menuju ke luar rumah.


"Mengapa jadi kau yang tidak sabar? Kau belum mandi dan kita belum berpamitan kepada papa dan Meghan," Nino tertawa melihat tingkah Tifanny.


"Aku hanya tidak sabar pergi ke sana. Di sana kita akan melihat rumah hobbit kan?" Tanya Tifanny dengan semangat.


"Tentu saja. Di sana kita akan melihat tempat syuting film The Lord Of The Rings."


"Kalau itu aku semangat," Tifanny segera berlari menuju kamar untuk mandi.


****


"Kakak, hati-hati di sana ya? Pulangnya jangan lupa membawa oleh-oleh yang banyak untuk Meghan," Meghan dan David mengantar Tifanny dan Nino sampai di halaman rumah. Sementara Nino tampak sedang memasukan koper ke dalam bagasi mobil.


"Iya, nanti kakak bawakan oleh-oleh yang banyak untukmu," Tifanny mengacak rambut Meghan.


"Sayang, hati-hati di sana ya? Jangan berpisah dengan Nino!" David mewanti-wanti.


"Tentu saja, Pa. Papa jangan khawatir! Nino akan menjagaku. Papa jangan lupa untuk selalu tepat waktu meminum obatnya ya?" Tifanny memeluk David.


Baginya, inilah hal yang begitu ia rindukan. Dapat berkumpul kembali dengan ayahnya. David sudah mengalami masa-masa sulit. Saat ia mencari Tifanny, David menarik semua tabungannya dari rekening miliknya. David pergi ke kota Birmingham untuk mencari kedua anaknya, karena di kota Cambridge ia tak kunjung menemukan Tifanny dan Meghan. Saat David akan menyewa sebuah apartemen, tiba-tiba seseorang merampoknya dan membawa tasnya yang berisi uang dan barang-barang. Sejak dari itu, David hidup terlunta-lunta karena semua barangnya diambil oleh perampok itu. Ditambah dengan tidak kunjung menemukan kedua putrinya membuat psikis David sedikit terganggu. Untungnya, baru tiga hari ia menggelandang di jalan, Tifanny langsung menemukannya.


"Iya. Papa tidak akan telat meminum obat. Tolong jaga Tifanny ya, Nak! Jangan menyakitinya!" David memandang Nino dengan lirih.


"Iya, Pa. Papa tenang saja! Nino akan menjaga Tifanny sebaik mungkin," Nino menenangkan David.

__ADS_1


"Meghan, kakak titip papa ya?" Tifanny memandang wajah adiknya.


"Iya, kak. Meghan akan menjaga papa. Cepat pergilah! Nanti kalian ketinggalan pesawat," Meghan mendorong tubuh Tifanny ke arah mobil.


"Kakak pergi dulu! Jaga papa dan jaga rumah!" Nino menitip pesan kepada Meghan. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya.


"Aku akan merindukan kalian!" Tifanny berteriak saat mobil bergerak meninggalkan halaman rumah.


Saat Nino mengemudikan mobilnya menuju bandara, suara ponselnya berdering. Nino pun langsung telfonnya dengan menggunakan bluetooth handsfree ketika mengetahui jika Kai yang menelfon.


"Kau berbulan madu tetapi tidak memberitahuku ya? Sahabat macam apa kau?" Kai berteriak saat Nino mengangkat telfonnya.


"Maaf Kai, tadi rumahmu sepi! Kau pun dulu tidak memberitahuku saat kau berangkat bulan madu! Sahabat macam apa dirimu?" Nino membalikan kata-kata Kai.


"Hehe saat itu aku lupa," Kai terkekeh dari balik telfon.


"Pokoknya buatkan aku keponakan ya? Jasper ingin memiliki dede gemes," lanjut Kai dengan nada yang usil.


"Iya. Aku akan membuatkan keponakan untukmu, tenang saja!" Nino menjawab dengan ringan.


"Baiklah, good luck, No! Nikmati bulan madumu!" Kai mengakhiri panggilan telfonnya.


"Oke, Kai," Nino pun segera melepaskan bluetooth handsfree dari telinganya.


"Ke-keponakan? Maksudmu kau merencanakan untuk memiliki anak dariku?" Tifanny bertanya kepada Nino.


"Bukankah kita hanya akan menikah selama sembilan bulan saja? Bukankah kau yang mengatakannya sebelum kita menikah?" Tifanny menatap Nino yang tengah menyetir.


"Ah, kita sudah sampai!" Nino mengalihkan pertanyaan dari Tifanny. Nino berharap saat sembilan bulan itu telah berakhir, Tifanny akan tetap melanjutkan rumah tangga bersamanya.


"Awalnya aku tidak ingin berkomitmen untuk berumah tangga dengan siapa pun. Aku ingin hidup bebas tanpa bayang-bayang pernikahan dan terikat pernikahan dengan siapa pun. Tetapi, saat aku akan menikahimu, aku bertekad ingin terus menjalani rumah tangga kita. Semoga kau bisa menyembuhkan luka di hatiku sepenuhnya karena Odelia. Mari kita mulai semuanya dari awal! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi," batin Nino sebelum ia keluar dari dalam mobilnya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2