
Belinda mengenali pria yang terduduk di dalam mobil dengan tangan diborgol. Pria itu adalah berandalan jalanan suruhannya untuk merampok uang David.
"Kau mengapa membawa-bawaku?" Teriak Belinda seperti orang kesetanan.
"Dia yang menyuruhku untuk merampok seorang pria paruh baya," lapor berandalan yang ada di dalam mobil.
"Kau memang kurang ajar!" Maki Belinda.
Mobil Nino sampai di halaman apartemen, ia keluar dan menghampiri Belinda dan Clara.
"Aku sudah bilang jangan bermain-main denganku!" Nino menyeringai jahat.
Nino memang menyuruh orang bayarannya untuk menyelidiki Belinda dan sepak terjangnya selama berada di negara ini. Semua mulai terkuak saat berandalan yang dibayar oleh Belinda untuk merampok David tertangkap oleh orang-orang suruhan Nino.
"Aku pun ingin menambah laporan. Mereka sudah melakukan pemerasan kepadaku. Tolong periksa tas mereka!" Perintah Nino kepada polisi-polisi yang ada di hadapannya.
"Maaf, Nyonya tolong bersikap koperatif!" Salah satu polisi memegangi Belinda dan seorang lagi merampas tasnya dengan paksa.
Polisi itu pun mengeluarkan cek milik Nino yang belum sempat dicairkan.
"Ini milik anda, tuan?" Polisi memperlihatkan cek milik Nino.
"Benar, itu cek milikku. Aku memberikan cek itu di bawah ancaman mereka!" Nino menunjuk Belinda dan Clara.
"Baiklah, tuan. Untuk sementara kami amankan terlebih dahulu cek ini sebagai barang bukti tindakan pemerasan yang dilakukan nyonya Belinda," ucap polisi dengan profesional.
"Baiklah. Berikan mereka ganjaran yang setimpal!"
Polisi-polisi itu pun memasukan Belinda dan Clara ke dalam mobil patroli.
"Nino, lihatlah! Kau akan menyesal telah melakukan semua ini," Belinda berteriak dan meronta. Sementara Clara menangis ketakutan saat digiring oleh polisi menuju mobil.
Dua hari kemudian, polisi memanggil David sebagai saksi sekaligus korban dari perampokan yang didalangi oleh Belinda. David pun sangat terkejut dengan fakta yang ada di depan matanya.
Karena Belinda dan Clara adalah bukan warga negara Inggris, di tambah Belinda pun mempunyai kasus kriminal di negaranya yakni perampokan perhiasan milik istri Neil. Maka dari itu, kepolisian Inggris memutuskan untuk melakukan ekstradisi. Ekstradisi adalah pengembalian seorang tersangka kepada negara asal untuk disidang sesuai dengan kesepakatan yang ada. Polisi pun mengembalikan cek milik Nino yang dijadikan sebagai barang bukti.
"Aku benar-benar bodoh!" David mengutuki kebodohannya sendiri. Ia menangis tersedu di dalam mobil.
"Papa tenanglah!" Nino yang terduduk di samping David tampak cemas akan kondisi psikis ayah mertuanya.
__ADS_1
"Papa tertipu untuk ke sekian kali," David meremas rambutnya.
"Papa rindu Tifanny dan Meghan," David semakin terisak.
"Nino berjanji akan membawa mereka. Tetapi tidak hari ini, 2 hari lagi Nino akan membawa mereka pulang."
"Berjanjilah!" David memegang tangan Nino. Nino merasakan tangan ayah mertuanya gemetar.
"Nino berjanji!"
****
Malam hari Nino baru pulang ke rumah. Ia langsung masuk ke dalam kamar miliknya. Ia begitu lelah karena selama beberapa hari ini mengurusi Belinda dan Clara.
"Sayang?" Panggil Nino kepada Tifanny yang sedang memejamkan matanya di atas kasur. Tetapi tidak terdengar sahutan dari istrinya.
Nino mendekat dan melihat raut wajah Tifanny yang memucat.
"Sayang, kau kenapa?" Nino berkata dengan panik saat ia menyentuh kening Tifanny yang sangat panas.
"Kepalaku pusing!" Gumam Tifanny.
Sementara Tifanny hanya menggelengkan kepalanya. Beberapa hari ini Tifanny memang tidak berselera makan dan tidak nyenyak tidur. Ia terus memikirkan David yang kembali berhubungan dengan Belinda.
"Mengapa kau menyiksa dirimu?" Nino berteriak kepada istrinya. Ia pun segera mengambil makanan ke dapur.
"Kau harus makan terlebih dahulu!" Nino membangunkan tubuh Tifanny dan menyenderkannya di pinggiran tempat tidur.
"Aku tidak lapar," Tifanny berkata dengan lemas.
"Jangan membantahku!" Nino meninggikan suaranya.
Nino pun memaksa Tifanny untuk makan walau hanya beberapa suap.
"Ayo kita pergi ke dokter!"
"Aku tidak mau ke dokter," Tifanny menolak.
"Kau ini mengapa sangat keras kepala?"
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau ke dokter," Tifanny takut bertemu lagi dengan David.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Nino keluar dari kamar dan ia masuk kembali dengan membawa handuk kecil dan air hangat untuk mengompres tubuh Tifanny.
"Ku mohon segeralah sembuh!" Nino mengompres tubuh istrinya dengan telaten. Tak lupa Nino memasangkan kaos kaki di kaki Tifanny agar ia tidak kedinginan.
"Demamnya sudah lumayan turun walau tubuhnya masih panas," Nino melihat termometer yang baru ia gunakan untuk memeriksa suhu tubuh istrinya.
Nino tetap terjaga untuk menjaga Tifanny. Tampak keringat memenuhi kening istrinya.
Nino pun merebahkan dirinya di samping Tifanny dan memeluknya.
"Tularkan saja demammu padaku, asalkan kau bisa segera sembuh! Lebih baik aku yang sakit. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," Nino berkata dengan sendu sambil terus memeluk tubuh istrinya yang masih panas.
****
Di tempat lain atau di kediaman milik Alden.
"Bu, esok hari saya izin karena ada urusan yang mendesak di kota Cambridge," kata Bianca kepada Hannah.
"Berapa hari, Bi?"
"Hanya satu hari. Sore harinya saya akan pulang lagi."
"Baiklah, Bi. Kami tunggu kau pulang!" Jawab Steve.
"Aku harus mengikutinya. Pasti dia bertemu dengan sugar daddy itu," Alden menguping pembicaraan mereka.
Keesokan harinya, Bianca pergi ke kota Cambridge dengan naik bus. Ia mendapat telfon jika Bobby sedang sakit, Bianca ingin memastikan keadaan ayahnya. Terlebih ibu dan adik-adiknya sedang pergi ke kota Durham untuk menghadiri pesta pernikahan kerabat mereka.
Alden pun mengendap-endap ke luar dari rumah dan mengikuti Bianca pergi.
"Sudah ku bilang, dia pergi menemui sugar daddynya," Alden tersenyum ketika melihat Bianca berpelukan dengan Bobby di teras rumahnya. Bobby menciumi wajah Bianca karena rindu dengan putri sulungnya itu.
"Tapi mengapa sugar daddynya seperti itu ya? Tampak sedikit kumuh dan rumahnya pun sangat biasa," Alden menggaruk kepalanya.
"Sudahlah. Itu tidak penting. Yang pasti aku sudah menemukan cara agar kau ditendang oleh mama menjadi asisten pribadiku. Aku akan membawa pria itu ke hadapan mama dan menyuruhnya untuk mengaku bahwa kau bukanlah gadis baik yang bisa diandalkan untuk menjadi asisten pribadiku," Alden tersenyum senang.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1