
"Meghan, bagaimana dengan hari pertamamu kuliah?" Tanya Nino saat mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.
"Sangat menyenangkan, kak. Aku menemukan teman yang sangat baik di hari pertama perkuliahan. Dosen hari ini juga memberikan kesan yang baik saat pertemuan pertama," Meghan menjawab dengan makanan yang memenuhi mulutnya.
"Kunyah dulu, sayang!" David yang duduk di sebelah Meghan menepuk pelan punggung putri bungsunya.
"Kakak senang mendengarnya. Kuliah dengan rajin ya? Jangan titip absen!" Tifanny memberikan nasihat.
"Tentu saja, kak. Aku tidak akan mengecewakan kakak dan kak Nino yang sudah membiayaiku. Oh iya, bagaimana dengan hari pertama kakak kuliah?" Meghan balik bertanya.
"Hari pertama menyenangkan dan-" Tifanny menggantung kata-katanya.
"Dan apa?" Nino tampak penasaran.
"Dan aku langsung betah," sambung Tifanny. Ia ingin memberi tahu mengenai pertemuannya dengan Justin, tetapi akan lebih baik jika mereka berbicara berdua saja.
"Syukurlah jika kau langsung betah. Aku jadi rindu satu kelas denganmu," Nino tersenyum mengingat masa-masa kuliahnya dulu saat satu kelas dengan Tifanny.
"Nino?" Panggil David kepada menantunya.
"Iya, Pa?"
"Terima kasih untuk semuanya. Kau sudah membiayai pendidikan kedua putriku terutama Meghan. Papa sangat tahu berapa biaya kuliah kedokteran. Papa akan selalu mengingat semua jasamu," David berucap dengan tulus.
"Tidak usah di pikirkan, Pa! Meghan adalah adikku sekarang, jadi itu sudah menjadi tanggung jawabku," jawab Nino dengan ramah.
"Tifanny memang tidak salah memilih suami," David berkata dengan lega karena Tifanny menikahi pria yang menyayangi keluarganya.
"Oh iya, setelah Papa dinyatakan sembuh, Papa ingin melamar kerja lagi sebagai dokter ya?" David memandang Tifanny dan Nino bergantian.
"Papa yakin masih kuat?" Tifanny tampak khawatir.
"Tentu saja."
"Biarkan saja, Fann! Kasian papa. Pasti papa bosan berdiam diri di rumah setiap hari," Nino menimpali.
"Iya, papa bosan sekali. Andai saja papa sudah mempunyai cucu, pasti papa akan betah di rumah," jawab David dengan tersenyum penuh makna.
"Papa benar. Meghan juga ingin cepat mempunyai keponakan," Meghan ikut menyahuti dengan semangat.
Nino langsung menatap Tifanny yang tengah menatapnya. Dengan gugup, Tifanny mengakhiri tatapannya terlebih dahulu. Tidak ada percakapan lagi setelah itu, hanya terdengar suara alat makan yang berdentingan. Setelah makan malam bersama, Tifanny langsung membereskan piring dan membawanya ke wastafel.
"Kak, biar Meghan saja yang mencuci!" Meghan hendak mengambil pekerjaan kakaknya.
__ADS_1
"Biar kakak saja. Temani saja papa ngobrol ya?"
"Oke, kak," Meghan langsung berlari menuju kamar David.
"Kau sedang apa?" Nino memeluk Tifanny dari belakang.
"Kau mengagetkanku!" Tifanny menyentuh dadanya.
"Aku akan mencuci piring. Tunggulah di kamar!" Sambungnya.
"Biar aku bantu," Nino masih melingkarkan tangannya.
"Bantu bagaimana? Kau malah menghambat pekerjaanku," keluh Tifanny yang mulai membersihkan piring-piring kotor dengan spons.
"Seperti ini," Dari belakang Nino memegang tangan Tifanny dan ikut menggerakan tangannya membersihkan piring.
"Jika seperti ini akan sangat lama," Tifanny tertawa melihat kelakuan suaminya.
"Biar saja. Aku ingin membantumu," hembusan nafas Nino begitu terasa di ceruk leher Tifanny.
Setelah selesai mencuci piring, Tifanny dan Nino membersihkan tangannya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Tifanny. Saat ini mereka saling berhadapan.
"Semuanya berjalan dengan lancar. Hanya saja, aku jadi ingin memiliki perusahaan sendiri tanpa bergantung dari orang tua," Nino bergumam pelan.
"Kau benar! Aku akan bekerja sambil belajar," Nino tersenyum.
"Fann?" Bisik Nino.
"Iya?" Tifanny mulai salah tingkah saat Nino memandangnya semakin dalam. Nino mendekatkan wajahnya dan menutup matanya, dengan refleks Tifanny pun ikut menutup matanya.
"Kalau bercint*a jangan di dapur!" Seru seseorang yang membuat Tifanny dan Nino langsung membuka matanya dengan terkejut.
"Kai? Mengapa kau ada di sini?" Tanya Nino saat melihat sahabatnya ada di dapur.
"Aku ke mari ingin menitipkan Jasper. Aku akan mengantar Alula untuk melakukan cek kandungan ke dokter. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Bibi May (asisten rumah tangga di rumah Kai) sedang cuti. Tadi aku sudah mengetuk pintu dan memencet bel, tapi tidak kunjung ada yang membuka pintu. Ya sudah aku masuk saja karena aku khawatir ada apa-apa di dalam," jelas Kai.
"Tidak apa-apa kan aku langsung masuk?" Kai memastikan.
"Tidak apa. Kau bukan orang asing, bukannya aku pun selalu begitu saat ke rumahmu?" Jawab Nino.
"Kalau begitu, biarkan Jasper bersama kami," Tifanny berjalan ke arah Kai dan langsung menggendong Jasper.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Fann? Oh iya, kau sudah cocok untuk menjadi seorang ibu," Kai memperhatikan Tifanny yang tengah menggendong putranya dengan baik.
"Iya, Kai. Sama sama," jawab Tifanny tanpa menjawab ucapan Kai yang lain.
"Tuh dengar, Fan! Kai bilang kau sudah cocok menjadi seorang ibu," Nino ikut memperhatikan Tifanny yang tengah menggendong Jasper.
"Sudah ada tanda-tanda?" Tanya Kai ingin tahu.
"Tanda apa?" Nino tampak tidak mengerti.
"Tanda-tanda kehamilan."
"Belum, kami saja baru menikah beberapa hari, masa iya sudah hamil?" Nino menggaruk rambutnya.
"Ya, bisa saja kalian-" Kai menghentikan perkataannya.
"Kalian apa?" Tifanny tampak tidak mengerti.
"Ya, Nino kan menjawab kalian melakukan first kiss di kamar," Kai menyambung ucapannya.
Tifanny pun tampak malu saat Kai mengungkit peristiwa itu.
"Nino, Kai? Aku bawa Jasper ke kamar ya?" Tifanny mengalihkan perhatian.
"Baiklah, aku nanti menyusul ya?" Nino tersenyum.
Tifanny mengangguk dan berjalan menuju kamar.
"Jangan melakukannya di depan anakku ya?" Kai menyipitkan matanya.
"Tentu saja. Kau gila?" Nino tertawa.
"Kalau begitu, aku pergi! Nanti aku jemput Jasper lagi sesudah dari dokter."
"Iya, Kai. Berhati-hatilah! Aku harap anak keduamu selalu sehat ya?"
"Setelah menikah kau jauh lebih bijak," Kai menyipitkan matanya.
"Entahlah, mungkin sedikit banyak pernikahan mengubah jalan pikiranku. Aku harap Alden mengikuti jejak kita ya?" Harap Nino.
"Aku tidak yakin anak itu akan berubah. Dia malah semakin menggila. Saat kau bulan madu, aku menjemputnya ke klub. Dia mabuk parah. Semenjak kak Aiden pulang, dia jadi murung. Mengapa kita jadi membahas anak itu? Ya sudah, aku pergi!"
"Aku jadi ingat saat kau menjemputku juga dari klub. Dari tadi aku pergi, aku pergi tapi kau tak kunjung pergi," Nino tertawa.
__ADS_1
"Jangan mabuk lagi! Itu tidak baik. Kalau begitu, aku benar-benar pergi!" Kai melangkahkan kakinya ke luar dari dapur Nino untuk mengantar istrinya ke dokter kandungan.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...